Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Pengaruh Pelatihan Terhadap Pengambilan Keputusan Skrining Kanker Serviks Berdasarkan The Precaution Adoption Process Model Vina Vitniawati; Yanti Hermayanti; Titis Kurniawan
Jurnal Ilmiah Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Vol 15, No 2 (2020): October
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Hang Tuah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.92 KB) | DOI: 10.30643/jiksht.v15i2.103

Abstract

Decision making for taking screening is an important component in preventing cervical cancer, but still many women who have not yet done it due to a lack of knowledge and decision-making ability.  Development of intervention tailored to the stages of decision-making based on the Precaution  Adoption  Process  Model,  such as training,  is able to improve decision-making ability to do the screening. This study aimed to determine the differences in the effect of training on decision-making for cervical cancer screening based on PAPM in the UPT Griya Antapani Health Center Bandung. This quasi-experimental study with two group pre-test post-test design involved  84  women aged  30-49  years who were chosen by purposive and proportional cluster sampling from two villages divided into  42  respondents each. Group  A received training with PowerPoint media,  leaflets,  videos, and WhatsApp while group  B received training with PowerPoint media, leaflets, and videos. The data of decision-making was collected using the  Precaution Adoption Process Model checklist:  before,  after training, and  15  days after training then analyzed using  Friedman test and  Mann  Whitney test.  The results showed that there were differences in decision-making in each group before and after training with p <0.001 but Mann Whitney test showed that there was no difference in decision-making between groups after training (p = 1,000 and p = 0.316). This depicted that any method and media can be used to change decision-making. Providing training and counseling is needed according to the stages of decision-making taking into account the factors that influence it.  Keywords: Cervical Cancer, Decision-making, Screening, the Precaution Adoption Process Model
STATUS MENTAL EMOSIONAL KARYAWAN UNIVERSITAS BHAKTI KENCANA SAAT MENJALANI WORK FROM OFFICE Vina Vitniawati; Anggi Jamiyanti
JURNAL PSIKOLOGI INSIGHT Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Departemen Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/insight.v5i1.34248

Abstract

AbstractThe world is currently experiencing a pandemic due to COVID-19. Indonesia is one of the countries affected and affected by this virus. Government policies as a measure to prevent and handle COVID-19 ranging from Large-Scale Social Restrictions (PSBB) to policies in the New Normal Era. This policy has an impact on employees who were previously Work From Home (WFH) to Work From Office (WFO). Working in pandemic conditions and situations raises worries at work so that it has an impact on mental and emotional status which affects work productivity. The purpose of this study was to determine the emotional mental status of the Bhakti Kencana University employees while undergoing a work form office. This research method uses descriptive method on employees who undergo Work From Office as many as 69 people using the SRQ 29 instrument. The results show that long Underwent work from office as much as 29.0 percent experienced symptoms of anxiety and depression, 15.9 percent experienced psychotic disorders, 68.1 percent experienced post-traumatic stress disorder, 17.4 percent did not experience changes in mental emotional status and none experienced any disturbances. psychoactive and drug use. The mental and emotional changes of employees during work from office will affect employee work productivity, besides the physiological impact when the body experiences psychological disorders will reduce immunity, thereby increasing the risk of COVID-19 transmission. The results showed that there was a change in the mental emotional status of employees during work from office. Improved coping mechanisms by increasing knowledge about Covid 19, health protocols at work, flexibility at work and health insurance for employees can reduce the psychological impact while working from office in the era  the COVID-19 pandemic  AbstrakDunia saat ini mengalami pandemic akibat COVID-19. Indonesia merupakan salah satu negara yang terkena dan terdampak akibat virus ini. Kebijakan pemerintah sebagai langkah pencegahan dan penanganan COVID-19 mulai dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sampai kebijakan di Era New Normal. Kebijakan ini berdampak pada karyawan yang sebelumnya Work From Home (WFH) menjadi Work From Office (WFO). Bekerja dalam kondisi dan situasi pandemic meberikan kekhawatiran saat bekerja sehingga berdampak pada status mental dan emosional yang mempengaruhi produktivitas bekerja. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui status mental emosional karyawan Univeritas Bhakti Kencana saat menjalani work form office. Metode Penelitian ini menggunakan metode deskriptif pada karyawan yang menjalani Work From Office sebanyak 69 orang menggunakan instrument SRQ 29. Hasil penelitian menunjukan selama menjalani work from office sebanyak 29,0 persen mengalami gejala cemas dan depresi, 15,9 persen mengalami gangguan psikotik, 68,1 persen mengalami post-traumatic stress disorder, 17,4 persen  tidak mengalami perubahan status mental emosional dan tidak ada yang mengalami gangguan psikoaktif dan penggunaan narkoba. Perubahan mental dan emosional saat menjalani work from office akan berpengaruh secara fungsi fisiologi sehingga meningkatkan kerentanan penularan dan berdampak produktivitas pekerjaan. Sehingga institusi harus meningkatan mekanisme koping dengan meningkatkan pengetahuan tentang COVID-19, mempertahankan protokol Kesehatan, fleksibilitas dan jaminan kesehatan saat bekerja di era pandemic COVID-19. 
Hubungan Lama Menderita Diabetes Mellitus dan Kadar Gula Darah dengan Sensitivitas Kaki Sri Mulyani Rahayu; Vina Vitniawati; Asep Aep Indarna
Jurnal Keperawatan Vol 15 No 1 (2023): Jurnal Keperawatan: Maret 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.692 KB) | DOI: 10.32583/keperawatan.v15i1.685

Abstract

Diabetes jangka panjang menyebabkan kerusakan pembuluh darah, saraf, dan struktur internal lainnya, menyebabkan suplai darah perifer (kaki dan tangan) semakin tersumbat, mengakibatkan neuropati, yang ditandai dengan hilangnya sensitivitas kaki. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara lama menderita diabetes melitus dan kadar gula darah dengan sensitivitas kaki penderita diabetes.Metode penelitian dengan deskriptif korelasi, populasi 40 orang, teknik sampling purposive, jumlah sampel 30 responden. Data dikumpulkan dengan cara wawancara, pemeriksaan gula darah, dan melakukan test sensitifitas kaki. Analisa data menggunakan uji Fisher’s Exact Test. Hasil penelitian ada hubungan antara lama menderita diabetes melitus dengan nilai sensitifitas kaki pada penderita diabetes melitus dengan p value 0.003 , α < 0,05 dan tidak ada hubungan antara kadar gula darah puasa dengan nilai sensitifitas kaki pada penderita diabetes melitus dengan p value 0.446 , α > 0,005. Hiperglikemia yang berkepanjangan mengakibatkan terjadinya reaksi glikosilasi. Degradasi glikosilasi protein mengarah pada pembentukan advanced glication end products α-dikarbonil dan 3-deoxyglucosone, yang pada akhirnya menyebabkan neuropati perifer diabetik, dan proses kerusakan saraf terkait dengan konsentrasi glukosa yang tinggi dalam darah, yang dapat menyebabkan kerusakan kimia pada saraf dan mengganggu saraf sensorik normal
E, Efektifitas EFEKTIFITAS TERAPI RENDAM KAKI DENGAN REMPAH TERHADAP KUALITAS TIDUR IBU BEKERJA Sri Mulyati Rahayu; Vina Vitniawati
Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 15 No. 2 (2022): Jurnal Ilmiah Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48144/jiks.v15i2.1150

Abstract

Stres banyak terjadi pada ibu bekerja, karena tuntutan menyelesaikan pekerjaan di rumah juga pekerjaan.kantor. Dampak negatif stres kerja berupa gangguan kualitas tidur yang mengakibatkan penurunan produktivitas kerja. Kualitas tidur yang buruk mengakibatkan gangguan keseimbangan fisiologi dan psikologis, sedangkan kualitas tidur yang baik menimbulkan perasan senang, energik, tubuh lebih bugar, dan meningkatkan imunitas. Upaya untuk memperbaiki kualitas tidur diberikan rendam kaki dengan rempah, karena selain dapat merilekkan otot-otot kaki setelah seharian bekerja, juga wangi rempah-rempah merangsang kerja syaraf melalui nervus olfactorius untuk menekan kerja retikulo activiting system. Tujuan penelitian untuk mengetahui efektifitas terapi rendam kaki dengan rempah terhadap kualitas tidur ibu yang bekerja. Metode yang dilakukan dengan pre-experiment dengan one group pre-post test desain. Responden berjumlah 30 orang ibu bekerja dengan teknik purposive sampling. Instrumen kualitas tidur yang digunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) versi bahasa Indonesia. Analisis bivariat dengan uji Wilcoxon. Hasil penelitian pemberian terapi rendam kaki dengan rempah efektif dalam meningkatkan kualitas tidur ibu bekerja dengan nilai p-value 0,002 < α (0.05). Untuk itu perlu dilakukan edukasi kepada masyarakat yang lebih luas yang memiliki masalah kualitas tidur, seperti edukasi melalui media poster tentang pemberian terapi rendam kaki dengan rempah yang memiliki manfaat dalam meningkatkan kualitas tidur.
Upaya Peningkatan Peran Masyarakat dalam Pencegahan dan Pengendalian Dampak Diabetes Mellitus Vina Vitniawati; Novitasari Tsamrotul Fuadah; Widyawati Widyawati; Santi Puspitasari; Dedep Nugraha
JPPM (Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat) VOL. 8 NOMOR 1 MARET 2024 JPPM (Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/jppm.v8i1.20277

Abstract

Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit kronik yang membutuhkan penatalaksanaan yang tepat. DM merupakan penyakit yang dapat dicegah dan dapat dikendalikan, pencegahan dilakukan bagi masyarakat terutama untuk yang belum teridentifikasi DM sedangkan pengendalian dampak terutama ditujukan bagi yang sudah menderita DM. Skrining dan edukasi DM  diperlukan untuk meningkatkan kesadaran terhadap resiko adanya DM serta diharapkan adanya perubahan perilaku masyarakat terkait DM. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran serta pengetahuan masyarakat untuk mencegah dan mengendalikan dampak DM di wilayah Desa Cileunyi Kulon. Sasaran dalam kegiatan ini adalah masyarakat Desa Cileunyi Kulon. Metode pengabdian pada masyarakat dilakukan dengan melakukan skrining Diabetes melitus dan edukasi dengan media power point  dan leaflet. Kegiatan dilakukan secara bertahap mulai dari skrining, hasilnya didapatkan 57% masyarakat memiliki kadar gula darah normal, 9% hiperglikemia, dan 34% hipoglikemia. Terjadi peningkatan pengetahuan dari sebelumnya 12,8 %  menjadi 25,6%. Diharapkan masyarakat melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk penegakan diagnosis agar dapat dilakukan pengobatan yang tepat serta kader mengaktifkan program Posyandu Lansia (Posbindu) di RW 08 sebagai upaya pencegahan DM dan komplikasi DM bagi warga yang sudah menderita DM.
ANALYSIS OF RISK FACTORS OF DIABETIC FOOT ULCER IN DIABETES MELLITUS PATIENTS Vina Vitniawati; Sri Mulyati Rahayu; Irisanna Tambunan
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 14, No 2 (2023): JURNAL ILMU KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jikk.v14i2.2051

Abstract

Diabetes Mellitus (DM) is a chronic metabolic disorder caused by the pancreas not using insulin effectively, if the management is not good, one of the risks of complications in DM patients is Diabetic Foot Ulcer. Behaviors at risk for causing Diabetic Foot Ulcer are smoking activities, physical activity, use of poor footwear, body mask index and glycemic control. The behavior of DM patients greatly influences the incidence of Diabetic Foot Ulcer, therefore it is very important to analyze the behavioral factors of DM patients who are at risk for Diabetic Foot Ulcer. The aim of this research is to analyze the behavioral factors that are at risk for the occurrence of Diabetic Foot Ulcer and to look for the most dominant factors that are at risk of causing Diabetic Foot Ulcer. The research was conducted using a descriptive method on 30 respondents using a total sampling technique. The data collection process used questionnaires about smoking activities, physical activity, use of poor footwear, body mask index and glycemic control. The results obtained for risk behaviors for Diabetic foot ulcers were 70% normal BMI, 93.7% had non-smoking habits, 50% did physical activity, 66.67% used footwear, 66.67% went on a diet and 100% did glycemic control . The behavior of DM patients who are at risk of developing Diabetic Foot Ulcer are all indicators only if sorted from the most dominant, namely Physical Activity, Diet and Use of Footwear, BMI, Smoking Habits and Glycemic Control. Suggestions for the pronalis program to provide education that emphasizes behavior that is at risk of developing diabetic foot ulcers. Key Word : Behavioral, Diabetes Mellitus, Diabetic Foot Ulcer,
Masyarakat SIAP Sehat: Pemberdayaan Masyarakat dalam Tanggap Darurat dan Perawatan Luka Ringan Inggrid Dirgahayu; Lia Nurlianawati; Vina Vitniawati; Sumbara Sumbara
Kolaborasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 6 No 3 (2026): Kolaborasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/kolaborasi.v6i3.886

Abstract

Introduction: Communities, particularly vulnerable groups such as adolescents and community volunteers, often face limitations in knowledge and skills when dealing with health emergencies and disasters. Low preparedness can increase the risk of complications in emergency cases, including wound care, adolescent reproductive health, and the need for basic first aid. Therefore, empowerment-based community interventions are necessary to enhance the capacity of individuals and communities. Objective: The purpose of this service was to improve the knowledge and skills of teenagers and RW 04 cadre in Cibeet Village, Ibun, Bandung Regency, in dealing with health emergencies and disasters. Method: This public service was conducted using educational methods, demonstrations, and simulations covering wound care, disaster identification, prevention of reproductive health emergencies in adolescents, and Basic Life Support (BLS). Before and after the activity, pre-tests and post-tests were conducted to measure the participants' knowledge level. Result: The evaluation results showed a significant increase in knowledge among adolescents and cadres after the activities, reflecting the effectiveness of participatory learning methods in community empowerment. These activities contributed to strengthening community resilience, particularly among vulnerable groups, through enhanced capacity in prevention, early management, and health emergency response. Conclusion: There was a significant increase in knowledge among adolescents and cadres after the activity, reflecting the effectiveness of participatory learning methods in community empowerment.
Perception of Diabetic Patients Toward the Risk of Diabetic Foot Ulcers Sri Mulyati Rahayu Rahayu; Vina Vitniawati; Ali Hamzah
Jurnal Keperawatan Profesional (KEPO) Vol. 7 No. 1 (2026): Volume 7 Nomor 1 Mei 2026
Publisher : Sarana Ilmu Indonesia (salnesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36590/kepo.v7i1.1847

Abstract

The increasing prevalence of Diabetes Mellitus in Indonesia raises concerns about long-term complications such as diabetic foot ulcers, which can lead to amputation, disability, and reduced productivity and quality of life. Despite the availability of health education and promotive-preventive services, 79.1% of Diabetes Mellitus patients have poor foot care practices. Therefore, this study aimed to analyze Diabetes Mellitus patients' perceptions of the risk of diabetic foot ulcers. The method used was descriptive phenomenological, through in-depth interviews and focus group discussions. The sampling technique used purposive sampling until data saturation was achieved. The sample size was 15 DM patients, and the research locations were Riung Bandung Community Health Center and Bandung City Hospital. Data were analyzed using the Colaizzi method. The results showed a negative emotional response at the initial diagnosis that developed into acceptance through family and spiritual support. The perception of diabetic foot ulcers was the most frightening, affecting independence. Preventive behavior was influenced by knowledge, experience, fear of amputation, and access to education. In conclusion, patients perceive diabetic foot ulcers as dangerous, difficult to heal, at risk of infection, and even leading to amputation. Patients' recommendations call for concrete, empathetic, interactive, and ongoing education from healthcare professionals.
Combined Foot Care and Motivational Interviewing in Preventing Diabetic Foot Ulcers Vina Vitniawati; Tuti Suprapti
Jurnal Keperawatan Profesional (KEPO) Vol. 7 No. 1 (2026): Volume 7 Nomor 1 Mei 2026
Publisher : Sarana Ilmu Indonesia (salnesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36590/kepo.v7i1.1858

Abstract

Type II diabetes mellitus is a chronic metabolic disease with increasing prevalence and a high risk of Diabetic Foot Ulcers, leading to morbidity, amputation, and reduced quality of life. Prevention requires proper foot care and continuous education, yet low patient knowledge and motivation remain major barriers. Motivational Interviewing may improve patient motivation and adherence to self-care. This study aimed to evaluate the effectiveness of combining foot care education and Motivational Interviewing in patients with type II diabetes mellitus. A quasi-experimental pretest-posttest design without a control group was conducted among 15 participants of the Chronic Disease Management Program at Riung Bandung Community Health Center for three months. Interventions included face-to-face education, foot care practice, and motivational counseling. Outcomes were assessed using Diabetic Foot Ulcer risk scores, knowledge, and adherence instruments. The results demonstrated a significant improvement in patient knowledge, but no significant changes in adherence or Diabetic Foot Ulcer risk. The intervention enhanced patients’ understanding of diabetes complication prevention; however, behavioral and clinical outcomes remained unchanged. Future studies should apply longer interventions, involve family support, and include larger samples with control groups.
Optimalisasi Uks Untuk Meningkatkan Literasi Kesehatan Remaja Tentang Kegawatdaruratan Dan Perawatan Luka Sumbara; Inggrid Dirgahayu; Lia Nurlianawati; Vina Vitniawati
Mega Buana Journal of Innovation and Community Service Vol. 5 No. 1 (2026): Juli 2026
Publisher : LPPM Universitas Mega Buana Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59183/vhsa9y88

Abstract

Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) merupakan salah satu strategi penting dalam meningkatkan literasi kesehatan remaja di lingkungan sekolah, khususnya terkait kegawatdaruratan dan perawatan luka. Remaja merupakan kelompok yang rentan mengalami cedera ringan dan kondisi darurat kesehatan akibat aktivitas sehari-hari, sementara literasi kesehatan dan kesiapsiagaan pertolongan pertama masih terbatas. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan literasi kesehatan remaja melalui optimalisasi program UKS dengan pendekatan edukasi, demonstrasi, dan simulasi. Metode yang digunakan meliputi pemberian pendidikan kesehatan, demonstrasi perawatan luka sederhana, serta simulasi Bantuan Hidup Dasar (BHD) bagi awam. Evaluasi efektivitas program dilakukan menggunakan desain pre-test dan post-test pada 100 peserta yang terdiri dari siswa, guru, dan pengurus UKS di SMP Negeri 66 dan SMKN 6 Kota Bandung. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan tingkat pengetahuan dan kesiapsiagaan peserta setelah intervensi, ditandai dengan pergeseran seluruh peserta ke kategori pengetahuan sangat baik pada post-test. Temuan ini menunjukkan bahwa optimalisasi UKS dengan metode pembelajaran aplikatif mampu meningkatkan literasi kesehatan dan kesiapsiagaan kegawatdaruratan di lingkungan sekolah. Disarankan agar program edukasi kegawatdaruratan dan perawatan luka diintegrasikan secara berkelanjutan ke dalam kegiatan rutin UKS untuk memperkuat ketahanan kesehatan sekolah.