Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Pendampingan dan Pelatihan Pembuatan Krupuk Cabe, Krupuk Tomat, pada UMKM Sekar Wangi, Kelurahan Pudak Payung, Kecamatan Banyumanik Kota Semarang Ni Komang Ayu Artiningsih; Dyah Ilminingtyas W H; Bambang Hermanu
Jurnal Suara Pengabdian 45 Vol. 4 No. 1 (2025): Maret: Jurnal Suara Pengabdian 45
Publisher : LPPM Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/pengabdian45.v4i1.2489

Abstract

Saat ini penggemar krupuk di Indonesia cukup lumayan besar dan banyak, krupuk merupakan cemilan yang banyak disukai dimanapun keberadaannya, karena rasa dan tesktur yang dimunculkan cukup enak dan renyah bila di nikmati. Saat ini petani di Indonesia juga banyak menghasilkan hasil pertanian yang kadang cepat memusuk karena tidak tahan lama, salah satunya adalah cebe dan tomat. Manakala hasil pertanian ini berlimpah maka wajib membuat inovasi dalam proses pengolahannya. Salah satu yang dilakukan adalah mengolah cabe dan tomat di olah menjadi krupuk yang tentunya mempunyai harga jual yang lumayan bila dilakukan kontinyu dan dipasarkan oleh UMKM secara kontinyu. Tujuan; adalah untuk mengurangi limbah dari cabe dan tomat, sehingga bisa menjadi inovasi baru bagi UMKM. Metode kegiatan yang dilakukan untuk tercapainya tujuan Pengabdian Kepada Masyarakat ini adalah dengan metode langsung peraktek pembuatan krupuk dari bahan baku cabe dan tomat, kemudian dilakukan tanya jawab kelebihan dan kekurangan pada saat pembuatan krupuk tersebut, dan Pemberikan materi, Peraktek langsung pembuatan krupuk / Partisipasi UMKM dalam praktek, Pendampingan dalam pembuatan krupuk yang dilakukan oleh dosen-dosen, Kegiatan dan solusi dalam penyelesakan masalah, Luaran yang dihasilkan (Laporan hasil Pengabdian).
Pengelolaan Limbah Makanan (Food Waste) Berwawasan Lingkungan Environmentally Friendly Food Waste Management Bambang Hermanu
Jurnal Agrifoodtech Vol. 1 No. 1 (2022): Juni: Jurnal Agrifoodtech
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/agrifoodtech.v1i1.52

Abstract

Fenomena food waste di Indonesia mencapai 300 kg sampah makanan per orang setiap tahun, sehingga menempatkan Indonesia pada posisi peringkat kedua di dunia dalam jumlah food waste kategori besar. Keadaan tersebut menjadi sangat memprihatinkan, karena akan memicu kontra produktif dimana satu sisi terjadi ketersediaan makanan yang berlebih, sementara di sisi lain masih didapatkan kondisi sebagian masyarakat yang masih kekurangan makanan, sehingga terkesan ada indikasi perilaku yang menyia-nyiakan makanan. Oleh karena itu melalui penelitian ini berdasarkan pendekatan kebijakan yang ada, bagaimana membangun pengelolaan sampah yang baik dan efektif, khususnya sampah makanan dengan cara melakukan perubahan gaya hidup (life style) terhadap makanan yang dikonsumsi secara bijak yang ramah lingkungan namun tidak membebani dengan sampah makanan (food waste) yang berlebihan sebagai dampak dari perilaku hidup konsumtif masyarakat dengan kebiasaan-kebiasaan yang tidak memberikan daya dukung terhadap penguatan ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan yang berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif (normative legal research), serta dengan mengkaitkan sikap dan perilaku masyarakat terhadap kebiasaan-kebiasaan dalam keseharian. Hasil penelitian menunjukkan adanya kecenderungan inefisiensi pada pola konsumsi dan produksi bahan makanan telah melahirkan timbunan sampah makanan yang mengakibatkan pemborosan sumberdaya dan pencemaran lingkungan.
EKSISTENSI SERTIFIKASI PRODUK PANGAN HALAL DALAM PERSPEKTIF IMPLEMENTASI SISTEM KEAMANAN TERPADU Hermanu, Bambang; Kartikawati, Diah; Hartoyo, Budi
Jurnal Agrifoodtech Vol. 4 No. 1 (2025): Juni : Jurnal Agrifoodtech
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/1dkjr526

Abstract

Artikel ini menganalisis hubungan simbiotik antara sertifikasi produk pangan halal dan Sistem Keamanan Pangan Terpadu (SKPT) di Indonesia. Dalam hal ini, meskipun memiliki fokus yang berbeda antara kehalalan dan keamanan pangan secara umum, namun keduanya pada dasarnya dapat saling melengkapi dan memperkuat dalam membangun kepercayaan konsumen. Keberadaan sertifikasi halal dengan persyaratannya yang ketat dapat meningkatkan aspek keamanan pangan dalam SKPT, sementara SKPT menyediakan kerangka kerja keamanan pangan yang menjadi prasyarat kehalalan. Dengan mengidentifikasi potensi sinergi antara kedua sistem, menyarankan harmonisasi standar, penguatan kerjasama antar lembaga, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam menciptkan sistem pangan yang aman dan terpercayan bagi seluruh konsumen.
Implementasi Perlindungan Konsumen Terhadap Peredaran Produk Pangan Yang Melebihi Batas Waktu Layak Edar (Daluwarsa) Bambang Hermanu
Jurnal Agrifoodtech Vol. 1 No. 2 (2022): Desember : Jurnal Agrifoodtech
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/agrifoodtech.v1i2.302

Abstract

Fenomena yang sering dilihat dan didengar, tidak sedikit kasus yang terjadi terkait dengan pencantuman tanggal daluwarsa pada produk makanan. Masih banyak ditemukannya produk-produk kemasan yang tidak mencantumkan label tanggal kadaluarsa terutama produk industri rumah tangga, yang tentunya akan sangat merugikan bahkan dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan konsumen. Perlindungan konsumen harus mendapatkan perhatian yang lebih, tidak saja terhadap barang-barang berkualitas rendah, akan tetapi juga terhadap barang-barang yang membahayakan kehidupan masyarakat. Undang-undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan  merupakan landasan hukum bagi pengaturan, pembinaan, dan pengawasan terhadap kegiatan atau proses produksi, peredaran  dan atau perdagangan pangan. Peraturan yang mengatur tentang  produk pangan sampai saat ini sebenarnya sudah dirasakan cukup memadai, namun permasalahannya adalah sampai seberapa jauh para produsen pangan mampu menerapkan atau menindaklanjuti setiap ketentuan dimaksud. Perlindungan terhadap konsumen dipandang dari aspek materiil maupun formal makin terasa sangat penting dan sangat dibutuhkan, mengingat produk pangan yang beredar luas di masyarakat ada indikasi tidak memenuhi standar sebagai produk yang tidak layak.  Dalam rangka mengejar dan mencapai kedua hal tersebut akhirnya baik langsung maupun tidak langsung perlu adanya upaya-upaya untuk memberikan perlindungan yang memadai terhadap kepentingan konsumen. Peran  BPOM  terhadap  konsumen  dan pembinaan  kepada  pelaku  usaha  merupakan  bentuk  perlindungan  hukum  kepada  masyarakat  melalui  proses  sosialisasi,  pembinaan,  pemeriksaan,  dan  pengawasan  terhadap peredaran produk pangan yang beredar di pusat atau sarana pembelanjaan konsumen. Tujuan dari review ini adalah untuk mengetahui penerapan undang-undang perlindungan konsumen  terhadap  produk  pangan  daluwarsa  dan  bagaimana  upaya pengawasan dan pencegahan  produk pangan / makanan  dan  minuman daluwarsa  yang  beredar  di  masyarakat. 
Pengaruh Lama Fermentasi dan Penambahan Ekstrak Bunga Telang (Clitoria ternatea L) pada Sifat Fisik “Black Soyghurt” Afrida, Milu; Purwati Nurlaili, Enny; Hermanu, Bambang
Jurnal Agrifoodtech Vol. 1 No. 2 (2022): Desember : Jurnal Agrifoodtech
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/agrifoodtech.v1i2.435

Abstract

Soyghurt adalah minuman probiotik yang terbuat dari sari kedelai dengan penambahan bakteri asam laktat. Pembuatan Black Soyghurt yang berbasis sari kedelai hitam dengan penambahan ekstrak bunga telang dan starter yoghurt. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji pengaruh lama fermentasi dan penambahan ekstrak bunga telang terhadap sifat fisik black soyghurt. Metode penelitian menggunakan faktorial (2x2) dua faktor dengan dasar RAL (Rancangan Acak Lengkap) dan dibandingkan dengan produk komersial sebanyak 3 kali ulangan, sehingga didapatkan 15 unit percobaan. Faktor pertama lama fermentasi 10 jam dan 15 jam. Faktor kedua penambahan ekstrak bunga telang 8% dan 13%. Hasil analisis statistik apabila menunjukkan berbeda nyata maka akan dilakukan uji lanjut Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian pada sifat fisik black soyghurt nilai viskositas 75,00-475,00 mPas, pada uji warna L* 50,81-53,19, a* 10,87-16,06, b* (-1,60)-3,39. Simpulan penelitian ini adalah pengaruh lama fermentasi dan penambahan ekstrak bunga telang tidak berpengaruh terhadap sifat fisik. warna L * kecerahan (putih-hitam) dan warna b* (biru-kuning), tetapi berpengaruh terhadap viskositas warna a* (hijau-kemerahan).
Karakteristik Fisik dan Sensori Kue Semprit dari Formulasi Tepung Pati Garut (Maranta arundinacea L) dan Tepung Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L) Purnomo, Sigit; Kartikawati, Diah; Hermanu, Bambang
Jurnal Agrifoodtech Vol. 2 No. 1 (2023): Juni : Jurnal Agrifoodtech
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/agrifoodtech.v2i1.1034

Abstract

Kue semprit adalah salah satu jenis kue kering jenis biskuit berlemak (rich biscuit) karena menggunakan lemak setengah dari berat tepung yang berbahan tepung, lemak, telur, dan gula. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji karakteristik fisik (nilai warna L*,a*,b*) dan sensoris (warna, aroma, tekstur dan rasa) kue semprit dari tepung pati garut dan tepung ubi jalar ungu. Rancangan penelitian ini menggunakan Rancangan Acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan, yaitu S1 = (tepung pati garut 100% : 0% tepung ubi jalar ungu), S2 = (tepung pati garut 87,5% : 12,5% tepung ubi jalar ungu), S3= (tepung pati garut 75% : 25% tepung ubi jalar ungu), S4 = (tepung pati garut 62,5% : 37,5% tepung ubi jalar ungu), S5 = (tepung pati garut 50% : 50% tepung ubi jalar ungu). Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali, sehingga diperoleh 15 unit percobaan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji Anova dan uji lanjut menggunakan DMRT. Hasil penelitian menunjukkan nilai warna kecerahan L* kue semprit berkisar antara 35,690-55,594. Warna a* kue semprit berkisar antara 11,213-18,181. Warna b* kue semprit berkisar antara 1,632-7,900. Adanya tanpa penambahan tepung ubi jalar ungu meningkatkan nilai warna L* (hitam-putih) dan b* (biru-kuning) kue semprit. Kadar abu kue semprit berkisar antara 1,000-1,750%, kadar air kue semprit pada kisaran 3,16 – 4,83 % dan berbeda nyata antar formulasi. Panelis menyukai warna dan aroma kue semprit pada formulasi tepung pati garut dan tepung ubi jalar ungu 50% dengan nilai skor berturut-turut 4,300 dan 3,600. Panelis menyukai tekstur dan rasa kue semprit pada formulasi tepung pati garut 75% dan tepung ubi jalar ungu 25% dengan nilai skor 3,800 dan 3,867.
Penguatan Legalitas Produk Pangan Halal Pada UMKM Menuju Terwujudnya Ketahanan Pangan Bambang Hermanu
Jurnal Agrifoodtech Vol. 2 No. 2 (2023): Desember: Jurnal Agrifoodtech
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/agrifoodtech.v2i2.1376

Abstract

The improvement of food resilience in Indonesia, especially in the context of Micro, Small, and Medium Enterprises (UMKM) household industries, is a primary focus to achieve optimal food resilience. This write-up is a literature review related to the empirical phenomenon surrounding the issue of halal food products, discussing the strengthening of the legal aspects of halal food products in MSME household industries as a strategic step towards optimal food resilience. Halal food products are an essential need for Muslim communities, and government efforts to promote the halal industry align with the plan to become the world's halal industry center by 2024. The government has implemented policies to certify halal products through various agencies, such as the Technical Implementation Unit (UPT) of the Ministry of Industry and the Halal Product Assurance Organizing Agency (BPJPH) under the Ministry of Religious Affairs. The mandatory halal certification, starting with food and beverages in 2024, is a strategic step to strengthen the domestic industry's competitiveness in the global market. By reinforcing the legality of halal food products, it is expected to enhance consumer trust, develop the halal industry, and ultimately achieve optimal food resilience in Indonesia.
Karakteristik Snack Bar Kombinasi Tepung Jawawut (Setaria italica L. P. Beauv.) dan Tepung Garut (Maranta Arundinacae L.) Qonitah Setiajulihana; Diah Kartikawati; Bambang Hermanu
Jurnal Agrifoodtech Vol. 3 No. 1 (2024): Juni : Jurnal Agrifoodtech
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/agrifoodtech.v3i1.1970

Abstract

Snack bar is a stick-shaped snack made from flour, seeds and nuts. This research aims to determine snack bar products made from a mixture of millet flour ad arrowroot flour with the addition of walnuts, including physical properties (L*a*b* color values), chemical properties (water, ash, fat, protein and crude fiber contents), and sensory properties based on hedonic test. This study was experimental using Complete Randomized Design (CRD) with the percentage ratio treatments of millet flour and arrowroot flour consisting of formula S1 ((20%:80%); S2(30%:70%); S3(40%:60%); and S4(50%:50%). The data obtained were processed using the Variance Analysis with a confidence level of 95% (α=0,05), and Duncan’s follow-up test. Snack bars have color values L* 41,660-52,580; color a* 6,6317-9,0667; color b* 19,9017-23,9667. The results of proximate analysis showed that snack bars contains 13,7176-17,8433 of water; 0,8459-1,4455% of ash; 5,8175-7,3264% of protein; 20,5320-24,2649% of fat; 48,7558-50,1120%; and 3,6339-5,1826% of crude fiber. Millet flour increases ash and protein content, but fat and crude fiber content decrease. Based on the hedonic test, it is known that panelists liked the taste and texture of S4 snack bar with an average score 3,94 and 3,68; while for the aroma in the treatment of S3 snack bar with an average score of 3,97 and the color in the treatment of S2 snack bar with an average score of 3,97 (hedonic test scale 1=very dislike, 2=dislike, 3=neutral, 4=like, 5=very like). Snack bars combination 30% millet flour:70% arrowroot flour have the best chemical characteristics (value 1,167) and the best sensory characteristics on snack bars from combination of 50% millet four:50% arrowroot flour (value 0,745) based on the DeGarmo effectiveness index test.