Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Lumbricus Rubellus Earthworm Extract Hydrogel for Treatment of Diabetic Ulcer Wounds Diana Tri Lestari; Muhamad Jauhar; Eko Retnowati
Journal of Pharmascience Vol. 13 No. 1 (2026): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v13i1.22880

Abstract

A diabetic ulcer is a complication that requires serious treatment because it is the highest cause of amputation. This condition has an impact on the morbidity, mortality, and socioeconomics of people with diabetes. Therefore, accuracy is needed in managing diabetic ulcers, one of which is natural ingredients that have potential as topical ulcer medicines, namely the Lumbricus rubellus earthworm. This study aims to find out the most effective formula for the treatment of diabetic ulcer wounds. The formula for this drug candidate is made using the hydrogel preparation formulation using an HPMC 940 base with variations in the active ingredient of lumbricus worm extract of 20%, 50%, and 80% to obtain the desired hydrogel preparation. The candidate drug will be tested, namely physical tests including organoleptic tests, homogeneity tests, pH tests, viscosity tests, spreadability tests, and adhesive tests. After that in vivo trial using Wistar rat experiments. The results of the organoleptic test showed that the three formulas were in gel form with a distinctive extract odor, but the three preparations showed different colors, namely brownish yellow, dark brown, and blackish brown. The three formulations appear homogeneous, having a pH between 4.36 and 4.44 and a viscosity between 5,376 cp and 5,894 cp. The spreading power in formulas 2 and 3 is good, and formula 2 has good adhesion. The results of this study demonstrate that the group treated with 50% L. rubellus topical extract experienced the most significant and rapid wound healing among all intervention groups. L. rubellus extract can be used as a topical gel preparation for wound care, with the best formulation at a concentration of 50%.
EDUCATION ON INITIAL HANDLING OF RESPIRATORY SYNCYTIAL VIRUS INFECTION IN MOTHERS OF KRAPYAK VILLAGE, TAHUNAN, JEPARA Anisah Nurussyifa; Eko Retnowati; Ulviani Yulia Husna
Abdi Dosen : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 10 No. 2 (2026): JUNI
Publisher : LPPM Univ. Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/abdidos.v10i2.3451

Abstract

Respiratory Syncytial Virus (RSV) is one of the main causes of lower respiratory tract infections in children under five years old. Limited public knowledge regarding transmission, prevention, and early management of RSV increases the risk of severe complications, especially in rural areas such as Krapyak Village. This community service activity aimed to improve mothers’ knowledge regarding the early management of RSV infection through a health education program. The activity used a pre-experimental one-group pre-test post-test design involving 53 mothers with toddlers at Posyandu Mawar 6, Krapyak Village. The intervention included health education sessions, animated videos, interactive discussions, and leaflet distribution. Data were collected using a validated questionnaire and analyzed using the Wilcoxon signed-ranks test and N-Gain score. The results showed a significant increase in respondents’ knowledge after the intervention, with most participants achieving a good level of knowledge and an average N-Gain score in the moderate category. The program was effective in improving mothers’ understanding of early RSV management and is expected to support better preventive practices among toddlers in Krapyak Village.
ANALISIS INTERAKSI OBAT PADA PASIEN TB KOMORBID HIV DI RAWAT JALAN RSI SUNAN KUDUS Alifta Dwi Fara; Eko Retnowati; Ulviani Yulia Husna
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i2.11962

Abstract

Tuberkulosis (TB) dan Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah dua penyakit menular yang kerap muncul bersamaan dan menjadi tantangan kesehatan di tingkat global, termasuk di Indonesia. Koinfeksi TB dan HIV memerlukan pengobatan kombinasi antara Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dan Antiretroviral (ARV), yang dapat menyebabkan interaksi obat. Interaksi ini dapat memengaruhi efektivitas pengobatan serta meningkatkan kemungkinan munculnya efek samping, sehingga perlunya analisis lebih mendalam. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai kemungkinan terjadinya interaksi obat, jenis interaksi, serta tingkat keparahan interaksi antara OAT dan ARV pada pasien TB yang juga mengidap HIV di instalasi rawat jalan RSI Sunan Kudus. Penelitian ini mengadopsi metode kuantitatif dengan desain observasional analitik pendekatan cross sectional. Sampel penelitian melibatkan 45 responden yang diambil melalui teknik total sampling dengan berdasarkan data rekam medis pasien TB-HIV. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif menggunakan rekam medis pasien selama bulan Januari – Oktober 2025. Analisis data dilakukan baik secara univariat maupun bivariat. Penelitian menunjukkan bahwa karakteristik responden didominasi oleh laki - laki sebanyak 55,6% dan perempuan 44,4%. Dari segi usia, mayoritas berada pada kisaran usia 41-60 tahun sebesar 40,0%. Dari pendidikan, sebagian besar memiliki latar belakang pendidikan tidak sekolah dan smp masing-masing dengan persentase 26,7%. Sekitar 95,6% pasien memiliki riwayat terapi lebih dari enam bulan. Sebelum analisis interaksi obat dilakukan. Berdasarkan tingkat keparahan, interaksi obat dengan kategori moderete adalah yang paling umum ditemukan, mencapai 82,8%, diikuti oleh interaksi mayor yang tercatat sebesar 17,2%. Dari segi mekanisme, interaksi yang bersifat farmakokinetik minimal/ tidak bermakna klinis lebih mendominasi dengan persentase sebesar 53,3%, sementara farmakokinetik mencakup 46,7%. Analisis perbandingan sebelum dan sesudah menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam identifikasi interaksi obat yang sebelumnya tidak terdeteksi menjadi terdeteksi pada sebagian besar pasien. Kesimpulan dari studi ini menunjukkan bahwa mayoritas pasien TB-HIV menghadapi potensi interaksi obat, dengan interaksi pada tingkat moderete serta mekanisme farmakokinetik minimal/ tidak bermakna klinis yang paling sering terjadi. Oleh karena itu, sangat penting untuk melakukan pemantauan terapi secara ketat guna menghindari efek samping dan meningkatkan efektivitas pengobatan.
Analisis Pengaruh Efek Samping Kemoterapi terhadap Quality of Life Pasien Kanker di RSUD R.A. Kartini Yahya Adi Alfatih; Eko Retnowati; Intan Adevia Rosnarita
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i2.12677

Abstract

The increasing global cancer incidence has positioned it as a major public health challenge, particularly in Indonesia where chemotherapy remains the primary treatment modality, frequently accompanied by significant side effects that can potentially reduce patient quality of life. This study aimed to analyze the influence of chemotherapy side effects on quality of life among cancer patients at RSUD R.A. Kartini Jepara. An observational analytic study with a cross-sectional design was conducted on 120 cancer patients undergoing chemotherapy in 2025 using purposive sampling. Side effects were measured using the CTCAE v5.0 questionnaire (Cronbach Alpha = 0.882) and quality of life was assessed using the EORTC QLQ-C30 (Cronbach Alpha = 0.994). Chi-Square analysis revealed no statistically significant relationship between chemotherapy side effects and patient quality of life (p = 0.510). The majority of respondents experienced mild side effects (53.9%) with adequate quality of life (75.7%). The most frequently reported side effects were nausea (84.3%), vomiting (77.4%), and diarrhea (59.1%). Patients receiving imatinib mesylate therapy showed the highest proportion of mild side effects. (60.0%), while all cisplatin patients experienced severe effects. These findings suggest that cancer quality of life is influenced by multiple factors beyond chemotherapy toxicity alone, including social support, therapy type, and patient adaptability, necessitating a holistic, patient-centered oncology care approach.
Analisis Need Assessment Pengembangan Aplikasi Digital Self-Monitoring Efek Samping Kemoterapi pada Pasien Kanker Payudara Ila Aisyi Uliyati Noor; Eko Retnowati; Istianatus Sunnah
Generics: Journal of Research in Pharmacy Vol 6, No 2 (2026): Generics : Journal of Research in Pharmacy
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/genres.v6i2.31795

Abstract

Kanker payudara merupakan tumor ganas yang menjadi salah satu penyebab utama kematian wanita di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Tingginya angka kejadian dan dampak signifikan efek samping kemoterapi terhadap kualitas hidup pasien menyoroti urgensi self monitoring yang efektif melalui aplikasi digital. Penelitian bertujuan menganalisis kebutuhan dan preferensi pasien kanker payudara terhadap penggunaan aplikasi digital. Metode penilitian menggunakan metode cross sectional dengan pendekatan prospektif melibatkan 65 pasien yang ditentukan melalui rumus slovin. Kriteria inklusi meliputi perempuan (20-80 tahun) dalam masa kemoterapi 2024-2025, pengguna smartphone, komunikatif, stabil secara psikologis, komorbid, serta bersedia menandatangani informed consent. Sedangkan kriteria eksklusi yaitu pasien hamil dan menyusui. Pengumpulan data menggunakan data primer dari hasil pengisian kuesioner dan data sekunder dari rekam medis pasien. Pengolahan data dilakukan menggunakan Microsoft Office Excel dan dianalisis dengan program SPSS versi 27, melalui uji validitas, uji reliabilitas, dan analisis univariat. Hasil penelitian menunjukkan 53,8% pasien memiliki kebutuhan tinggi terhadap aplikasi digital self monitoring, diikuti kategori sedang 41,5%, dan rendah 4,6%. Pasien memiliki preferensi positif terhadap fitur aplikasi yaitu pencatatan gejala, pengingat jadwal minum obat dan kemoterapi, edukasi kesehatan, serta konsultasi dengan tenaga kesehatan. Penelitian menyimpulkan bahwa pasien memiliki kebutuhan yang tinggi terhadap aplikasi digital self monitoring untuk memantau efek samping secara mandiri.
Analisis Need Assessment Pengembangan Aplikasi Digital Self-Monitoring Efek Samping Kemoterapi pada Pasien Kanker Payudara Ila Aisyi Uliyati Noor; Eko Retnowati; Istianatus Sunnah
Generics: Journal of Research in Pharmacy Vol 6, No 2 (2026): Generics : Journal of Research in Pharmacy
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/genres.v6i2.31795

Abstract

Kanker payudara merupakan tumor ganas yang menjadi salah satu penyebab utama kematian wanita di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Tingginya angka kejadian dan dampak signifikan efek samping kemoterapi terhadap kualitas hidup pasien menyoroti urgensi self monitoring yang efektif melalui aplikasi digital. Penelitian bertujuan menganalisis kebutuhan dan preferensi pasien kanker payudara terhadap penggunaan aplikasi digital. Metode penilitian menggunakan metode cross sectional dengan pendekatan prospektif melibatkan 65 pasien yang ditentukan melalui rumus slovin. Kriteria inklusi meliputi perempuan (20-80 tahun) dalam masa kemoterapi 2024-2025, pengguna smartphone, komunikatif, stabil secara psikologis, komorbid, serta bersedia menandatangani informed consent. Sedangkan kriteria eksklusi yaitu pasien hamil dan menyusui. Pengumpulan data menggunakan data primer dari hasil pengisian kuesioner dan data sekunder dari rekam medis pasien. Pengolahan data dilakukan menggunakan Microsoft Office Excel dan dianalisis dengan program SPSS versi 27, melalui uji validitas, uji reliabilitas, dan analisis univariat. Hasil penelitian menunjukkan 53,8% pasien memiliki kebutuhan tinggi terhadap aplikasi digital self monitoring, diikuti kategori sedang 41,5%, dan rendah 4,6%. Pasien memiliki preferensi positif terhadap fitur aplikasi yaitu pencatatan gejala, pengingat jadwal minum obat dan kemoterapi, edukasi kesehatan, serta konsultasi dengan tenaga kesehatan. Penelitian menyimpulkan bahwa pasien memiliki kebutuhan yang tinggi terhadap aplikasi digital self monitoring untuk memantau efek samping secara mandiri.
ANALISIS EFEK SAMPING OBAT NONSTERIODAL ANTI-INFLAMMATORY DRUGS(NSAID) PADA PASIEN BATU GINJAL DI RUMAH SAKIT ISLAM KUDUS Andien Nisa Dita Ryandini; Eko Retnowati; Ulviani Yulia Husna
JOURNAL OF BAJA HEALTH SCIENCE Vol. 6 No. 02 (2026): Journal of Baja Health Science
Publisher : Universitas Banten Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47080/joubahs.v6i02.4612

Abstract

Batu ginjal merupakan salah satu penyakit urologi dengan prevalensi yang cukup tinggi dan sering menimbulkan nyeri kolik akut yang memerlukan terapi analgesik. Nonsteroidal Anti-Inflammatory Drugs (NSAID) merupakan terapi lini pertama dalam penatalaksanaan nyeri pada pasien batu ginjal karena kemampuannya menghambat sintesis prostaglandin sehingga dapat menurunkan nyeri dan inflamasi. Penggunaan NSAID memiliki risiko menimbulkan efek samping, terutama pada saluran gastrointestinal, ginjal, dan hati, sehingga pemantauan keamanan penggunaannya sangat diperlukan. Data mengenai efek samping NSAID pada pasien batu ginjal di tingkat rumah sakit masih terbatas, khususnya di Rumah Sakit Islam Sunan Kudus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efek samping obat NSAID pada pasien batu ginjal di Rumah Sakit Islam Sunan Kudus meliputi karakteristik pasien, pola penggunaan NSAID, jenis dan tingkat keparahan efek samping berdasarkan Common Terminology Criteria for Adverse Events (CTCAE) versi 5.0. Penelitian observasional dengan desain deskriptif retrospektif menggunakan data rekam medis pasien batu ginjal yang menerima terapi NSAID pada periode Januari 2024 hingga September 2025. Sampel sebanyak 132 pasien ditentukan dengan teknik purposive samplingsesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik demografi pasien, jenis dan durasi penggunaan NSAID, serta kejadian dan tingkat keparahan efek samping obat. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan bantuan perangkat lunak Statistical Package for the Social Sciences(SPSS) pada tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efek samping yang paling sering terjadi adalah gastrointestinal, dengan kejadian mual sebesar 25,0% dan nyeri ulu hati sebesar 18,9%, diikuti efek samping renal sebesar 15,1%, hepatik 3,8%, dan dermatologi 4,6%. Tingkat keparahan efek samping didominasi kategori moderate sebesar 87,9% dan mayor sebesar 12,1%. Analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara jenis NSAID dengan tingkat keparahan efek samping (p<0,05), sedangkan variabel usia, jenis kelamin, pekerjaan, lama diagnosis, dan durasi terapi tidak menunjukkan hubungan yang bermakna (p>0,05). Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi dasar dalam penguatan praktik farmakovigilans serta mendukung peningkatan keamanan dan rasionalitas penggunaan NSAID pada pasien batu ginjal di rumah sakit.
ANALISIS COST EFFECTIVENESS TERAPI KOMBINASI ANTIHIPERTENSI DAN ANTIDIABETES ORAL PADA PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT HERMANA LEMBEAN MINAHASA UTARA Ni Made Astina Dwiyanti Astina Dwiyanti; Eko Retnowati; Fahrudin Arif
JOURNAL OF BAJA HEALTH SCIENCE Vol. 6 No. 02 (2026): Journal of Baja Health Science
Publisher : Universitas Banten Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47080/joubahs.v6i02.4800

Abstract

Penyakit tidak menular atau bisa disebut sebagai penyakit degeneratif yang menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat pada abad ke-21 karena tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi secara global. Hipertensi merupakan penyakit tidak menular kronis yang ditentukan oleh tingkat tekanan darah. Diabetes melitus adalah penyakit yang ditandai dengan kenaikan kadar gula darah diatas nilai normal yang berlangsung lama. Obat-obatan antihipertensi dan antidiabates memiliki harga yang sangat bervariasi, oleh karena itu diperlukan suatu pendekatan farmakoekonomi untuk mengevaluasi antara biaya dan efektivitas terapi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas biaya terapi kombinasi antihipertensi dan antidiabetes oral pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Hermana Lembean Minahasa Utara. Penelitian ini merupakan observasional analitik dengan rancangan cross-sectional secara retrospektif menggunakan pendekatan farmakoekonomi metode cost-effectiveness analysis (CEA) dengan data sekunder yang telah tersedia sebelumnya dan diperoleh dari rekam medis pasien yang menjalani pengobatan rawat inap di RS Hermana Lembean Minahasa Utara. Sebanyak 60 pasien hipertensi dan diabetes mellitus sebagian besar adalah perempuan dan berusia 60-74 tahun. Dengan terapi antihipertensi dan antidiabetes kombinasi dua obat, tiga obat dan empat obat. Terapi kombinasi tiga obat lebih cost-effective dengan nilai ACER sebesar Rp. 24.576,04. Analisis cost effectiveness terapi diperoleh nilai ICER antara kelompok A dan kelompok B dengan peningkatan efektivitas terapi sebesar 1% diperlukan tambahan biaya sebesar Rp. 33.627,64 Nilai ICER negatif pada perbandingan kelompok A terhadap kelompok C sebesar Rp. -31.913,39 serta kelompok B terhadap kelompok C sebesar Rp. -245.379,42 menunjukkan adanya dominan.
TINGKAT KEPATUHAN PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI TERHADAP TEKANAN DARAH PADA WANITA DI DESA BANJARHARJO KABUPATEN BREBES Hyang Ayuning; Eko Retnowati; Galih Kurniawan
JOURNAL OF BAJA HEALTH SCIENCE Vol. 6 No. 02 (2026): Journal of Baja Health Science
Publisher : Universitas Banten Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47080/joubahs.v6i02.4801

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi tinggi dan menjadi salah satu penyebab utama komplikasi kardiovaskular. Pengendalian hipertensi dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah kepatuhan penggunaan obat antihipertensi. Di Desa Banjarharjo Kabupaten Brebes masih ditemukan wanita penderita hipertensi yang belum patuh dalam penggunaan obat antihipertensi sehingga berpotensi menyebabkan tekanan darah tidak terkontrol. Menganalisis hubungan antara tingkat kepatuhan penggunaan obat antihipertensi dengan tekanan darah pada wanita di Desa Banjarharjo Kabupaten Brebes. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 150 responden wanita penderita hipertensi. Tingkat kepatuhan diukur menggunakan kuesioner Medication Adherence Rating Scale (MARS-10), sedangkan tekanan darah diukur menggunakan tensimeter digital tervalidasi. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Sebagian besar responden memiliki tingkat kepatuhan sedang sebanyak 70 responden (46,7%) dan kepatuhan rendah sebanyak 69 responden (46,0%), sedangkan kepatuhan tinggi hanya 11 responden (7,3%). Sebagian besar responden memiliki tekanan darah tidak terkontrol sebanyak 129 responden (86,0%) dan tekanan darah terkontrol sebanyak 21 responden (14,0%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara tingkat kepatuhan penggunaan obat antihipertensi dengan tekanan darah (p=0,021) dengan kekuatan hubungan termasuk kategori lemah.
HUBUNGAN PERSEPSI PENYAKIT DENGAN TINGKAT KEPATUHAN TERAPI OBAT PADA PASIEN  HIPERTENSI DI DESA LIMBANGAN WETAN KECAMATAN BREBES,  KABUPATEN BREBES Ummi Asila; Eko Retnowati; Bintari Tri Sukoharjanti
JOURNAL OF BAJA HEALTH SCIENCE Vol. 6 No. 02 (2026): Journal of Baja Health Science
Publisher : Universitas Banten Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47080/joubahs.v6i02.4802

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit kronis yang menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia. Kepatuhan dalam menjalani terapi obat sangat penting untuk mencapai pengendalian tekanan darah yang optimal. Salah satu faktor yang diduga memengaruhi kepatuhan terapi adalah persepsi pasien terhadap penyakit yang dideritanya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan persepsi penyakit dengan tingkat kepatuhan terapi obat pada pasien hipertensi di Desa Limbangan Wetan, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan potong lintang. Sampel penelitian berjumlah 150 pasien hipertensi yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Persepsi penyakit diukur menggunakan Brief Illness Perception Questionnaire, sedangkan kepatuhan terapi obat diukur menggunakan Medication Adherence Report Scale. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki persepsi penyakit kategori kurang (70,0%) dan tingkat kepatuhan terapi obat kategori tidak patuh (88,0%). Analisis bivariat menunjukkan nilai p sebesar 0,742 (p>0,05), yang berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi penyakit dengan tingkat kepatuhan terapi obat. Disimpulkan bahwa persepsi penyakit bukan merupakan faktor yang berhubungan dengan kepatuhan terapi obat pada pasien hipertensi. Edukasi dan intervensi yang mempertimbangkan faktor lain perlu dilakukan untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan pasien hipertensi.