Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Correlation of Age and Paracetamol Administration with AEFI Reactions Post Moderna Vaccination at Puskesmas Mojosongo Boyolali Syah Fillia Nurul Maslahah; Nining Lestari; Nida Faradisa Fauziyah; Siti Soekiswati
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 15th University Research Colloquium 2022: Mahasiswa (Student Paper Presentation) A
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.859 KB)

Abstract

Many moderna vaccine recipients complain about the presence of AEFI (Adverse Events Following Immunization). Based on CDC data, the frequency of AEFI is higher in the 18-64 year age group. Some studies explain that minor AEFI reactions are managed with paracetamol and subside about 1-2 days after administration of the vaccine. This study aims to determine the relationship between age and administration of paracetamol with AEFI reactions after moderna vaccination at Puskesmas Mojosongo Boyolali. This study used an analytic observational survey research with a cross sectional research design which was carried out with quantitative methods. The data source used is primary data with a g-form questionnaire. This research was conducted at Puskesmas Mojosongo Boyolali, Central Java. The sampling technique in this study was non-random sampling with purposive sampling. The number of respondents is 72 people. The results of the logistic regression test of the relationship between age and AEFI reaction obtained the value of Exp(B) or OR=1.118 (p=0.883). Logistic regression test of the relationship between the administration of paracetamol with the AEFI reaction obtained the value of Exp (B) or OR = 1.949 (p = 0.452). The results of multivariate analysis showed that the variables of age and administration of paracetamol did not have a significant relationship with the reaction of AEFI after moderna vaccination.
Seorang Perempuan Usia 28 Tahun dengan Tinea Cruris Et Corporis: Laporan Kasus Syah Fillia Nurul Maslahah; Eddy Tjiahyono
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Thalam
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tinea kruris dan korporis merupakan jenis dermatofitosis tersering yang menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Indonesia merupakan negara berkembang dengan iklim tropis yang menjadi faktor predisposisi terjadinya dermatofitosis. Faktor predisposisi penyakit ini adalah negara dengan iklim tropis, pekerjaan basah dan berat yang memicu keringat, dan sering terjadi pada wanita usia dewasa muda. Kelembaban tubuh yang tinggi menjadi faktor utama pencetus dermatofitosis. Laporan ini memaparkan kasus pasien seorang perempuan usia 28 tahun dengan tinea cruris et corporis di poliklinik kulit dan kelamin RSUD dr. Sayidiman Magetan. Pasien datang dengan keluhan utama berupa bercak kemerahan disertai gatal yang terletak di kedua tungkai bawah, pantat, perut, dan lipatan paha. Keluhan tersebut dirasakan pasien sejak 1 bulan sebelum pasien periksa. Pada pemeriksaan fisik dermatologi didapatkan gambaran klinis berupa makula/ plakat, eritem, bulat, skuama, dengan tepi aktif meninggi, dan central healing. Pasien kemudian diberikan terapi ketokonazole 1 x 200 mg, loratadine 1 x 10 mg selama 4 minggu, dan krim racikan yang berisi ketokonazole krim 10 gr dan gentamicyn krim 10 gr yang dioleskan 2 x sehari (pagi dan malam) selama 4 minggu pada lesi.
Anak Usia 5 Tahun dengan Diare Akut Dehidrasi Ringan Sedang: Laporan Kasus Putri Rahayu Warseno; S Sudarmanto; Syah Fillia Nurul Maslahah; Izzah Tsaqoofah Jati
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Apgar)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diare akut adalah buang air besar lebih dari 3 kali dalam sehari, disertai perubahan konsistensi tinja menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah yang berlangsung kurang dari satu minggu. Diare masih merupakan penyebab kematian utama di dunia menempati urutan ketiga sebagai penyebab kematian terbanyak untuk anak-anak dibawah lima tahun setelah Pneumonia dan penyakit bawaan. WHO melaporkan pada tahun 2017 terdapat 1,7 miliar angka kejadian kasus diare secara global di seluruh dunia. Berdasarkan derajat dehidrasinya dapat dibagi menjadi Diare tanpa dehidrasi, diare dehidrasi ringan sedang, dan diare dehidrasi berat. Menurut IDAI diare dapat disebabkan oleh Infeksi baik itu oleh virus, bakteri dan parasit. Virus, terutama Rotavirus merupakan penyebab utama (60-70%) diare infeksi pada anak, sedangkan sekitar 10-20% adalah bakteri seperti bakteri E coli, aeromonas hydrophila dan kurang dari 10% adalah parasit seperti giardia lamblia, dan trichuris trichiura. Kami melaporkan seorang anak laki-laki berusia 5 tahun dengan keluhan muntah sebanyak 10x dan BAB cair. Berdasarkan keluhan dan pemeriksaan fisik pasien didiagnosis diare akut dengan dehidrasi ringan-sedang dan mendapatkan tatalaksana Infus D5 ½ NS 12 tpm, injeksi cefotaxime 3x300, injeksi Ondansentron 3x1/3 ampul, Zinc syr 1x1 cth, L Bio dan Ambroxol syr 3x1 cth.
Laporan Kasus: Seorang Wanita 33 Tahun dengan Asma Bronkial Eksaserbasi Akut disertai Obesitas Syah Fillia Nurul Maslahah; Ida Nurromdoni; Izzah Tsaqoofah Jati; Reza Khairunnisa; Putri Rahayu Warseno
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Apgar)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Asma menjadi penyebab kematian keempat di Indonesia pada tahun 2017. Asma merupakan penyakit inflamasi kronis saluran nafas dengan hiperaktivitas dan obstruksi bronkus. Pasien berusia 33 tahun datang ke IGD RSUD dr. Sayidiman Magetan dengan keluhan sesak nafas sejak 2 hari sebelumnya. Pasien memiliki riwayat penyakit asma sejak usia 5 tahun dan sering kambuh. Pasien memiliki riwayat alergi dingin dan debu. Pemeriksaan fisik didapatkan retraksi subcostal dan pada auskultasi paru terdengar suara wheezing yang meningkat di akhir ekspirasi dan ronkhi di kedua lapang paru pasien. Pemeriksaan laboratorium didapatkan peningkatan kadar leukosit, gula darah sewaktu, bilirubin direk, kreatinin, dan peningkatan asam urat. Hasil USG abdomen adalah fatty liver dan kolelithiasis multipel. Pasien didiagnosis dengan asma bronkial eksaserbasi akut disertai obesitas. Pasien diberikan terapi oksigen 3 lpm dengan nasal canul, infus NaCl 20 tpm, diphenhidramin injeksi 10 mg/ 24 jam, cefoperazone injeksi 1 gr/ 12 jam, dexametasone injeksi 1 gr/ 12 jam, solvinex injeksi 2 mg/ 12 jam, pantoprazole injeksi 40 mg/ 24 jam, nebulasi ventolin dan meprovent 2,5 mg/ 6 jam. Diberikan obat oral codein 10 mg, cetirizine 10 mg, metylprednisolone 2 mg, salbutamol 1 mg, dan aminophilin 50 mg. Prognosis pada kasus ini adalah dubia ad bonam.