Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Implementasi Backward Chaining untuk Mendeteksi Tingkat Stres Belajar Siswa SMK Kamase, Hamka Witri; Salim, M; Pnua, Salma
Jurnal Informatika Polinema Vol. 11 No. 3 (2025): Vol. 11 No. 3 (2025)
Publisher : UPT P2M State Polytechnic of Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jip.v11i3.7245

Abstract

Stres belajar merupakan salah satu permasalahan psikologis yang umum dialami siswa, terutama di tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang memiliki beban akademik dan praktik kejuruan secara bersamaan. Keterbatasan waktu dan sumber daya menyebabkan proses deteksi tingkat stres secara manual oleh guru Bimbingan Konseling (BK) menjadi tidak optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sebuah sistem pakar berbasis web yang mampu mendeteksi tingkat stres belajar siswa SMK secara cepat dan akurat menggunakan algoritma backward chaining. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan pengumpulan data melalui observasi dan wawancara bersama guru BK untuk menyusun basis pengetahuan berupa gejala dan aturan inferensi. Sistem dirancang menggunakan bahasa pemrograman PHP dan basis data MySQL, serta diuji melalui white box dan black box testing untuk memastikan keakuratan logika dan fungsionalitas sistem. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem mampu mengklasifikasikan lima tingkatan stres secara tepat berdasarkan input gejala siswa, serta memberikan saran penanganan sesuai tingkat stres yang terdeteksi. Sistem ini terbukti efisien dan relevan digunakan sebagai alat bantu guru BK dalam proses identifikasi awal stres belajar siswa. Penelitian ini berkontribusi pada pemanfaatan sistem pakar dalam bidang pendidikan, khususnya dalam pengambilan keputusan berbasis gejala psikologis siswa. Di masa mendatang, sistem ini dapat dikembangkan lebih lanjut melalui integrasi teknologi mobile dan kecerdasan buatan berbasis data historis
Optimalisasi Pelestarian Budaya Lokal menggunakan Augmented Reality sebagai Media Pembelajaran Inovatif Generasi Muda Salma P Nua; Muhammad Isla; Citra Yustitya Gobel; Risti P. Sari Hunowu
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 1 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Enam (6) Negara: Indonesia, Malaysia, Chin
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v12i1.7722

Abstract

Daerah Gorontalo memiliki kekayaan budaya lokal yang terbentuk dari perpaduan adat istiadat, nilai keislaman, dan warisan leluhur. Budaya ini tercermin dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari bahasa, kesenian, pakaian adat, arsitektur rumah tradisional, hingga upacara adat. Urgensi Penelitian ini adalah Pelestarian budaya lokal sedang menghadapi tantangan terutama dikalangan generasi digital yang mulai kehilangan minat dan keterikatan terhadap nilai budaya Lokal karena dipengaruhi oleh Budaya Asing. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran akan pudarnya identitas budaya daerah yang menjadi bagian penting dari kekayaan bangsa. Tujuan Penelitian adalah melakukan Optimalisasi Pelestarian Budaya Lokal menggunakan Augmented Reality sebagai Media Pembelajaran Inovatif  untuk Mendorong integrasi teknologi dalam pelestarian budaya melalui pendekatan edukatif, sesuai dengan karakteristik generasi digital dan Memberikan rekomendasi pengembangan pembelajaran dalam konteks pendidikan formal dan informal.  Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif untuk menggukur pengetahuan generasi muda terhadap respon pemanfaatan tekologi AR untuk pelestarian budaya lokal. Sedangkan Metode kualitatif sebagai pemahaman mendalam untuk mengeksplor pemanfaatan Desain Augmented Reality sebagai media pembelajaran. Hasil perhitungan mnggunakan skala Likert terhadap 121 responden, diperoleh nilai mean sebesar 4,33 termasuk dalam kategori “Sangat Baik”. Interpretasi menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki sikap sangat positif terhadap pelestarian budaya lokal menggunakan Augmented Reality. Hasil perancangan Augmented Reality dilakukan pada Rumah Adat Dulohupa, Bantayo Poboide, dan budaya lokal lainnya dengan hasil validasi visualisasi objek budaya dalam bentuk model tiga dimensi (3D) yang dipadukan dengan informasi tambahan berupa teks dan audio mampu meningkatkan pemahaman pengguna terhadap nilai sejarah, filosofi, arsitektur, dan makna budaya yang terkandung di dalam setiap objek. Teknologi AR terbukti mempermudah proses penyampaian informasi budaya yang sebelumnya bersifat statis menjadi lebih dinamis, kontekstual, dan mudah dipahami oleh generasi muda. Hal ini memvalidasi bahwa pemanfaatan Augmented Reality tidak hanya berfungsi sebagai media visualisasi, tetapi juga sebagai sarana edukasi inovatif yang efektif dalam mendukung upaya pelestarian budaya lokal.