Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Hubungan Intensitas Membaca Al-Qur'an dengan Stres Akademik pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unisba yang Sedang Mengerjakan Skripsi Tahun 2023 Iva Nurfadilah; Caecielia Makaginsar; Ariko Rahmat Putra
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10352

Abstract

Abstract. Final year medical students face more academic demands than students in other majors because at the same time as working on their thesis, medical students are also faced with a large academic workload and exams. Considering that there are so many impacts caused by academic stress, a method is needed to overcome it. One way to reduce stress through a religious approach is to increase the intensity of reading Al-Qur’an. The aim of this research is to analyze the description and relationship between the intensity of reading the Al-Qur'an and academic stress among Unisba Medical Faculty students who are working on their thesis in 2023. The sample in this research consisted of 163 respondents using a total sampling technique. The research was conducted with an analytic descriptive type design using a cross-sectional method. The data analysis techniques used in this research are univariate analysis and bivariate analysis using the chi square test. The research results showed that the majority of respondents 87,7% with the intensity of reading the Al-Qur'an were in the moderate category, while almost all respondents with academic stress levels were in the moderate category. The results of statistical tests using the chi square test at a confidence level of 95% show that the prob. (0,000) < α (0,05), indicating that there is a significant relationship between the intensity of reading the Al-Qur'an and academic stress in Unisba Medical Faculty students who are working on their final project in 2023. Abstrak. Mahasiswa tingkat akhir kedokteran mendapat tuntutan akademik yang lebih dibanding mahasiswa jurusan lain karena bersamaan dengan pengerjaan skripsi, mahasiswa kedokteran juga dihadapkan pada beban tugas akademik yang banyak serta ujian-ujian. Mengingat begitu banyak dampak yang diakibatkan oleh stres akademik, maka diperlukan suatu metode untuk mengatasinya. Salah satu cara menurunkan stres melalui pendekatan agama adalah dengan meningkatkan intensitas membaca Al-Qur’an.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis gambaran dan hubungan intensitas membaca Al-Qur’an dengan stres akademik pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Unisba yang sedang mengerjakan skripsi pada tahun 2023. Sampel pada penelitian ini berjumlah 163 responden menggunakan teknik total sampling. Penelitian dilakukan dengan desain jenis descriptive analytic melalui metode cross-sectional. Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat dan analisis bivariat dengan menggunakan chi square test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden 87,7% dengan intensitas membaca Al-Qur’an berkategori sedang, sedangkan tingkat stres akademik hampir keseluruhan responden dengan stres akademik terkategori sedang. Hasil uji statistik menggunakan chi square test pada derajat kepercayaan 95% diketahui bahwa nilai prob. (0,000) < α (0,05), menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara intensitas membaca Al-Qur’an dengan stres akademik pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Unisba yang sedang mengerjakan skripsi tahun 2023.
Gambaran Tingkat Kecemasan pada Korban Pasca Bencana Tanah Longsor Berulang di Desa Sawangan Kecamatan Punggelan Kabupaten Banjarnegara Jawa Tengah Febriana Faridatu Amalia; Siska Nia Irasanti; Ariko Rahmat Putra
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10520

Abstract

Abstract. Anxiety is a type of mental disorder that often occurs. Landslide disasters can be a stressor and have an influence on the level of anxiety in the victims. Banjarnegara Regency is one of the districts in Central Java that often experiences landslides. This research was conducted with the aim of determining the level of anxiety experienced by victims of repeated disasters in Sawangan Village. This research is a descriptive study with a cross sectional approach. The sampling technique was consecutive sampling and involved 115 research subjects who were victims of repeated landslides in RW 02 Sawangan Village. Data collection was carried out by asking questions and answers to research subjects and using the Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). The research results showed anxiety with the majority having a severe level of anxiety, 37 people (37%). Subjects experienced the most anxiety in late adulthood (36-45 years), were female, had low education, did not work, and had a low income, namely less than the same as RP. 2,500,000.00 and lived in Sawangan Village for more than 2 years. Victims of repeated landslides are vulnerable to experiencing anxiety due to repeated stressors. Abstrak. Kecemasan merupakan salah satu jenis gangguan mental yang sering terjadi. Bencana tanah longsor dapat menjadi stresor dan mempunyai pengaruh terhadap tingkat kecemasan pada korban bencana. Kabupaten Banjarnegara merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang sering mengalami bencana longsor. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kecemasan yang dialami oleh korban bencana berulang di Desa Sawangan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel secara consecutive sampling dan melibatkan 115 subjek penelitian korban bencana longsor berulang di RW 02 Desa Sawangan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara tanya jawab kepada subjek penelitian dan menggunakan kuesioner Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Hasil penelitian menunjukkan kecemasan dengan mayoritas memiliki tingkat kecemasan berat yaitu 37 orang (37%). Subjek paling banyak mengalami kecemasan pada usia dewasa akhir (36-45 tahun), berjenis kelamin perempuan, berpendidikan rendah, tidak bekerja, dan berpenghasilan rendah yaitu kurang dari sama dengan Rp. 2.500.000,00 dan tinggal di Desa Sawangan selama lebih dari 2 tahun. Korban bencana tanah longsor yang berulang rentan mengalami kecemasan akibat stresor yang berulang.
Efektivitas Pemberian Metformin terhadap Perbaikan Manifestasi Klinis pada Pasien Sindrom Polikistik Ovarium Maulani Nurmuji Atmapratiwi; Lelly Yuniarti; Ariko Rahmat Putra
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10975

Abstract

Abstract. Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS) is a common endocrine disorder characterized by ovulatory dysfunction, hyperandrogenism, and the presence of polycystic ovaries. Metformin, which is an insulin sensitizer agent, is the most widely used therapy in the management of PCOS. This research aims to explore and analyze articles discussing the effectiveness of metformin in improving clinical manifestations in polycystic ovarian syndrome patients. This research is a Scoping Review of articles published in 2012-2022 from the Pubmed, Springer Link, ScienceDirect, and Taylor and Francis databases that meet the criteria of Population (women with PCOS), Intervention (administration of metformin), Comparison (therapy other than metformin), Outcome (improvement of ovarian dysfunction and size of polycystic features, improved fertility, reduced body weight, reduced insulin resistance, improved menstrual cycle, hyperinsulinemia, hyperandrogenism, and abnormal metabolic disorders), Study (randomized controlled trials). The PRISMA diagram method was used in this research. From the four databases, 7,389 articles were obtained, which were then screened according to the inclusion criteria, feasibility test, and critical review according to the Joanna Briggs Institute checklist, resulting in 11 articles. Based on the results of the analysis of 11 articles, 10 articles stated that single metformin therapy was superior in reducing BMI, waist circumference, blood glucose, HOMA index, and improving the menstrual cycle compared to myoinositol therapy, rosiglitazone, letrozole, oral contraceptive pills, clomiphene citrate, cupping fennel seeds, and ovaries. There is 1 article that states that metformin therapy can improve ovulatory dysfunction. Abstrak. Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS) merupakan gangguan endokrin umum yang ditandai dengan disfungsi ovulasi, hiperandrogen, dan adanya polikistik pada ovarium. Metformin merupakan agen sensitizer insulin adalah terapi yang paling banyak digunakan dalam penatalaksanaan PCOS. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengeksplorasi dan menganalisis artikel yang membahas efektivitas metformin terhadap perbaikan manisfestasi klinis pada pasien polycystic ovarian syndrome. Penelitian ini merupakan Scoping Review artikel yang terbit tahun 2012-2022 dari database Pubmed, Springer Link, SienceDirect, dan Taylor and Francis yang sesuai dengan kriteria dengan Population (wanita penderita PCOS), Intervention (pemberian metformin), Comparison (terapi selain metformin), Outcome (perbaikan disfungsi ovarium dan ukuran gambaran polikistik, perbaikan fertilitas, menurunkan berat badan, mengurangi resistensi insulin, memperbaiki siklus menstruasi, hyperinsulinemia, hiperandrogenisme, dan kelainan metabolisme abnormal), Study (randomized controlled trials). Metode diagram PRISMA digunakan dalam penelitian ini, dari keempat database didapat 7,389 artikel yang kemudian dilakukan skrinning sesuai dengan kriteria inklusi, uji kelayakan, dan telaah kritis sesuai dengan checklist Joanna Briggs Institute dihasilkan 11 artikel. Berdasarkan hasil analisis dari 11 artikel terdapat 10 artikel yang menyatakan bahwa terapi metformin tunggal lebih unggul dalam menurunkan BMI, lingkar pinggang, glukosa darah, HOMA indeks, dan memperbaiki siklus menstruasi dibandingkan dengan terapi myoinositol, rosiglitazone, letrozole, pil kontrasepsi oral, clomiphene citrate, bekam biji adas dan ovarium. Terdapat 1 artikel yang menyatakan bahwa terapi metformin dapat memperbaiki disfungsi ovulasi.