Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

MENAKAR NASIB AYAH RASULULLAH SAW.(Studi Terhadap Pendapat Yusuf al-Qaradlâwî dalam Kitabnya “Kayf Nata’âmal Ma’a al-sunnah” Tentang Validitas dan Makna Hadis Shahih Muslim “Sesungguhnya Ayahku dan Ayahmu di Neraka”) Sholeh, Moh. Jufriyadi
Reflektika Vol 10, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/reflektika.v10i2.139

Abstract

Kitab Shahîh Muslim merupakan salah satu kitab hadis yang dinilai para ulama dari banyak kalangan sebagai salah satu kitab yang memiliki otentisitas dan validitas tidak diragukan lagi. Akan tetapi dalam perjalanannya, ada sebagian ulama yang meragukan, bahkan menolak sebagian hadis yang ada di Shahîh Muslim tersebut. Di antara hadis yang mendapat gugatan atau penolakan yaitu hadis yang dinarasikan oleh Anas ra.: bahwasannya ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, dimanakah )tempat( ayahku (yang telah meninggal sekarang berada( ?”. Beliau menjawab : “Di neraka”. Ketika orang tersebut hendak beranjak, maka beliau memanggilnya lalu berkata : “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka”. Yûsuf al- Qaradlâwî merupakan salah seorang dari sederetan ulama’ yang ikut meragukan validitas hadis ini dalam kitabnya “Kayf Nata’âmal Ma’a al-Sunnah”. Di dalam kitab ini, al-Qaradlâwî meragukan validitas hadis Shahîh Muslim tersebut dengan pertanyaan, apa dosa yang telah diperbuat oleh Abdullah bin Abd al- Muthallib sehingga harus masuk  neraka, sedangkan ia termasuk ahli fatrah, yaitu orang-orang yang selamat (dari siksa neraka)?. Dengan alasan tersebut, al-Qaradlâwî akhirnya lebih mengambil sikap tawaqquf. Ia tidak berani menerima hadis tersebut dan juga tidak berani menolaknya. Padahal hadis tersebut merupakan hadis sahih, baik sanad maupun matan-nya. Sedangkan ypaman Nabi. Penggunaan kata “ayahku” dalam hadis tersebut dengan makna paman merupakan ungkapan majaz. Makna majaz ini diambil setelah tidak mungkin memberikan makna hakiki, karena ayah kandung  Rasul meninggal di masa fatrah yang tidak ada seorang utusan pun yang datang kepadanya, ia tidak mungkin masuk neraka.ang dimaksud ayah Rasul yang divonis masuk neraka adalah Abû Thâlib,
TAFSIR AL-QURTUBI: METODOLOGI, KELEBIHAN DAN KEKURANGANNYA Sholeh, Moh. Jufriyadi
Reflektika Vol 13, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/reflektika.v13i1.173

Abstract

“Al-Jāmi’ li Ahkām al-Qur’ān wa al Mubayyin limā Tadlammanah min al-Sunnah wa Āy al-Furqan” karya Imam Al-Qurtubi merupakan salah satu kitab tafsir yang sangat fenomenal. Kitab ini menjadi kitab tafsir yang paling lengkap dalam membahas fiqih di eranya. Tulisan ini merupakan artikel konseptual dan menghasilkan beberapa temuan.  Pertama, kitab tafsir ini bercorak fiqih karena lebih banyak mendiskusikan persoalan-persoalan fiqih dari pada persoalan-persoalan yang lain. Penulisnya memberikan ruang ulasan yang sangat luas dalam masalah fiqih dengan kajian lintas madzhab. Kedua, sebagai karya ulama besar yang berwawasan luas, kitab ini memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan kitab-kitab yang lain. Ketiga, di samping beberapa kelebihan itu ada beberapa catatan sebagai kritik atas karya ini dan menjadi bagian dari kekurangannya.      
The Development of Arrum Haji Products at Pegadaian Syariah: Empirical Evidence from The Sumenep Branch Office Rafiqi, Iqbal; Kharida, Qanita Aulia; Faizah, Maftuhatul; Sholeh, Moh. Jufriyadi; Yaqin, Muhammad Nurul
Masyrif : Jurnal Ekonomi, Bisnis dan Manajemen Vol 6, No 2 (2025): Masyrif : Jurnal Ekonomi, Bisnis dan Manajemen
Publisher : Universitas Al-Amien Prenduan Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/masyrif.v6i2.2468

Abstract

This study aims to evaluate the business development and growth trajectory of the Arrum Haji product at the Pegadaian Syariah Sumenep Branch Office. Employing a qualitative research design, data were gathered through comprehensive observation, in-depth interviews, and meticulous documentation. The analytical framework involved data reduction, data display, and conclusion drawing, with methodological triangulation utilized to ensure data validity. The findings reveal a consistent upward trend in the overall performance of the Sumenep Branch from 2019 to 2023. Specifically, the customer base expanded from 46,633 to 48,092, while the annual turnover surged from IDR 523,037,920,000 to IDR 595,126,415,270, representing a significant 115% growth. Regarding the Arrum Haji product, the branch successfully acquired 50 customers during the same period. Despite the steady progress, the penetration rate for Arrum Haji remains relatively modest. This limited adoption is primarily attributed to the product’s nascent stage in the market. This research provides strategic insights into the early-stage adoption of Sharia-compliant pilgrimage financing within the pawnshop industry.
DISTINGSING BID’AH DAN BUDAYA LOKAL DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN DAN AL-SUNNAH Sholeh, Moh. Jufriyadi; Yaqin, Muhammad Nurul; Rafiqi, Iqbal
Reflektika Vol 20, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/reflektika.v20i2.2399

Abstract

This journal article discusses the distinction between bid'ah (innovation) and local culture from the perspective of the Qur'an and Sunnah. This study was motivated by the interaction between Islam and various local cultures, which often raises questions about their compatibility with Islamic teachings, where there are concerns that local traditions may obscure the purity of the teachings. The method used is qualitative with a thematic (maudhu'i) analysis approach to verses of the Qur'an and Hadith, as well as a literature study of the views of scholars. This study finds that bid'ah, which is essentially an innovation in worship that has no shar'i basis, is firmly rejected based on the principle of the perfection of Islam. Meanwhile, local culture ('urf) can be accommodated as long as it does not conflict with the principles of tawhid, sharia values, and qath'i arguments, and contains benefits. The distinction between bid'ah and tradition is not just a matter of terminology, but concerns a way of religious thinking that determines whether the ummah will be inclusive or exclusive towards social reality. By examining the arguments from the Qur'an and Hadith and understanding maq??id al-syar?‘ah, it appears that cultural innovations can be accepted in Islam if they fulfill the conditions of maslahat and do not violate sharia.