Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

TELAAH PEMETAAN HADIS BERDASARKAN KUANTITAS SANAD Moh. Jufriyadi Sholeh
Bayan lin-Naas : Jurnal Dakwah Islam Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Dakwah Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/bayanlin-naas.v6i1.700

Abstract

ABSTRAK: hadis-hadis Nabi mulai dibukukan oleh para ulama pada abad ke satu hijriah atas gagasan khalifah Umar bin Abdil Aziz. Pada abad kedua dan ketiga hijriah para ulama melakukan pembukuan besar-besaran terhadap hadis-hadis Nabi, sehingga kitab-kitab induk hadis yang menjadi rujukan primer dalam kajian hadis merupakan hasil pembukuan para ulama pada kedua abad tersebut. Dilihat dari jarak waktu antara masa Rasulullah sebagai pemilik hadis dan masa para ulama yang membukukan hadis-hadis beliau, tentunya ada mata rantai periwayatan karena penulis yang membukukan hadis tidak semasa dengan beliau. Dari banyaknya para ulama yang membukukan hadis dengan jalur periwayatan mereka masing-masing, maka sebuah hadis bisa jadi memilki dua , tiga, empat, lima jalur sanad atau lebih, walaupun dalam faktanya juga ada yang hanya memiliki satu jalur sanad. Dari fakta ini, para ulama hadis melakukan pemetaan macam-macam hadis ditinjau dari kuantitas  sanad atau banyak tidaknya jalur sanad yang dimiliki. Pemetaan hadis berdasarkan kuantitas sanad sangat urgen dalam kajian kualitas hadis, karena kualitas sebuah hadis juga banyak yang ditentukan bedasarkan kuantitas sanad yang dimilikinya. Dari pemetaan yang dilakukan oleh ulama menyatakan bahwa hadis dilihat dari kuantitas sanad secara garis besar dibagi dua yaitu, hadis mutawatir dan ahad. Hadis mutawatir adalah hadis yang memiliki jalus sanad yang sangat banyak, sedangkan hadis ahad adalah hadis yang memiliki jalur sanad yang lebih sedikit. Apabila memiliki tiga jalur sanad tiga atau lebih selama tidak sampai pada batas mutawatir maka hadis ahad tersebut dikenal dengan hadis masyhur, kalau memiliki dua jalur sanad diistilahkan dengan hadis aziz dan kalau hanya memiliki satu jalur sanad saja maka dikenal dengan hadis gharib.
Tipologi Kodifikasi Hadis-Hadis Nabi Muhammad Saw Moh. Jufriyadi Sholeh
Dirosat : Journal of Islamic Studies Vol 5, No 1 (2020): Dirosat: Journal of Islamic Studies
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/dirosat.v5i1.923

Abstract

Given his position and urgency in religion, the hadiths of the Prophet continued to be guarded by Muslims, so that in the first century of the Hijriyah there was a big idea from the caliph Umar bin Abdul Aziz to collect the hadiths of the Prophet. The Caliph's suggestion was immediately accepted by the scholars, so since then efforts to compile and codify hadith have been carried out. With the support from the government and the sincerity of the scholars in safeguarding this second source of Islamic teachings, the collection of hadiths went well, even in the second, third and fourth centuries of the Hijriyah there was a large-scale codification of hadiths carried out by great hadith scholars. With different typologies in codifying the hadiths of the Prophet, hundreds of thousands of hadiths of the prophet with their sanads were successfully preserved by the scholars in book form. So since then, hadith scholars have focused more on studying hadith through existing hadith books, because hadith books which were codified in the second, third and fourth centuries became the main books of hadith. However, the problem for the novice generation in hadith studies is how to study and trace hadith through these main books, bearing in mind the different typologies of writing. But for those who know the typology, it will be easy to find out the collections that are compiled in one main hadith book. The typologies of the hadith books are, 1) al-Jawámi' which is arranged based on religious themes, 2) as-sunan, al-muwattaha' and mushannaf which are arranged based on fiqh themes, 3) al-masanid which is arranged based on the narrators of the companions and the hadiths collected in one group without classifying the themes, 4) al-ma'ajim compiled based on the musnad of the companions or compiled based on the names of the codifying teachers, based on hijaiyah letter order. 
STUDI KITAB HADIS: TIPOLOGI KITAB SUNÃN, MUWATṬA’ DAN MUṢANNAF Moh. Jufriyadi Sholeh
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v4i2.934

Abstract

Sebagai sumber ajaran Islam, hadis selalu mendapat perhatian khusus dari para ulama dari generasi ke generasi; baik dari aspek riwâyah (periwayatan) dan dari aspek dirâyah (studi hadis). Hal tersebut dilakukan dalam rangka menjaga eksistensi hadis agar tetap terjaga dan tidak hilang, ini dari aspek riwâyat. Adapun dari aspek dirâyah, ulama-ulama hadis tidak pernah berhenti melakukan kajian tentang otentisitas dan validitasnya.Salah satu upaya ulama untuk melestarikan hadis adalah membukukannya menjadi sebuah kitab dengan tipologi dan metodologi penulisan sesuai dengan keinginan penulisnya. Dalam artilel ini stresing penulis menganalisa tipologi dari kitab As-Sunân, Al-Muwatṭa’ dan Al-Muṣannaf karena ketiga tipe dari kitab hadis ini dilhat dari daftar isi kitabnya memiliki kesamaan, tetapi pada realitasnya ada perbedaan yang sangat signifikan dari ketiganya. Kesimpulnnya, Kitab As-Sunân, Al-Muwatṭa’ dan Al-Muṣannaf kesamaan yaitu penyusunan hadisnya sama-sama disusun berdasarkan kajian fiqih dan koleksi hadisnya hanya tertentu pada hadis-hadis fiqih atau hukum. Adapun letak perbedaannya terletak pada koleksi hadisnya dari sisi hadis berdasarkan pada tipe penyandarannya. Kitab As-Sunân mengoleksi hadis-hadis marfû, dan jarang ditemukan hadis-hadis non marfû' di dalamnya, sedangkan Kitab Al-Muwatṭa’ dan Al-Muṣannaf tidak hanya mengoleksi hadis-hadis marfû saja, tetapi di dalamnya juga banyak mengoleksi hadis-hadis mauqûf dan maqhṭu’. 
TELAAH PEMETAAN HADIS BERDASARKAN KUANTITAS SANAD Moh. Jufriyadi Sholeh
Bayan lin-Naas : Jurnal Dakwah Islam Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Dakwah Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/bayanlin-naas.v6i1.700

Abstract

ABSTRAK: hadis-hadis Nabi mulai dibukukan oleh para ulama pada abad ke satu hijriah atas gagasan khalifah Umar bin Abdil Aziz. Pada abad kedua dan ketiga hijriah para ulama melakukan pembukuan besar-besaran terhadap hadis-hadis Nabi, sehingga kitab-kitab induk hadis yang menjadi rujukan primer dalam kajian hadis merupakan hasil pembukuan para ulama pada kedua abad tersebut. Dilihat dari jarak waktu antara masa Rasulullah sebagai pemilik hadis dan masa para ulama yang membukukan hadis-hadis beliau, tentunya ada mata rantai periwayatan karena penulis yang membukukan hadis tidak semasa dengan beliau. Dari banyaknya para ulama yang membukukan hadis dengan jalur periwayatan mereka masing-masing, maka sebuah hadis bisa jadi memilki dua , tiga, empat, lima jalur sanad atau lebih, walaupun dalam faktanya juga ada yang hanya memiliki satu jalur sanad. Dari fakta ini, para ulama hadis melakukan pemetaan macam-macam hadis ditinjau dari kuantitas  sanad atau banyak tidaknya jalur sanad yang dimiliki. Pemetaan hadis berdasarkan kuantitas sanad sangat urgen dalam kajian kualitas hadis, karena kualitas sebuah hadis juga banyak yang ditentukan bedasarkan kuantitas sanad yang dimilikinya. Dari pemetaan yang dilakukan oleh ulama menyatakan bahwa hadis dilihat dari kuantitas sanad secara garis besar dibagi dua yaitu, hadis mutawatir dan ahad. Hadis mutawatir adalah hadis yang memiliki jalus sanad yang sangat banyak, sedangkan hadis ahad adalah hadis yang memiliki jalur sanad yang lebih sedikit. Apabila memiliki tiga jalur sanad tiga atau lebih selama tidak sampai pada batas mutawatir maka hadis ahad tersebut dikenal dengan hadis masyhur, kalau memiliki dua jalur sanad diistilahkan dengan hadis aziz dan kalau hanya memiliki satu jalur sanad saja maka dikenal dengan hadis gharib.
LIVING HADIS: KONTRUKSI SOSIAL NILAI-NILAI TAHĀDŪ TAHĀBŪ DALAM TRADISI TONGEBAN Moh. Jufriyadi Sholeh
Hudan Lin Naas: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 4, No 2 (2023): Jurnal Hudan Linnaas Vol 4 No. 2, 2023
Publisher : Al-Amien Prenduan University, Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/hudanlinnaas.v4i2.1313

Abstract

Cultural values and traditions in Muslim society cannot be separated from the values of the teachings of the Koran and the hadith of the Prophet. Every local culture and custom that exists during their lives will continue to be maintained with legality expressed or implied in the instructions of the Al-Qur'an and Hadith. The tongeban tradition among Madurese Muslims, which was built in the spirit of returning the visit of the male in-law's family by bringing a cake, is part of the living hadith in the form of implementing the values of the Prophet's hadith "tahadu tahabu", which recommends giving each other gifts to build mutual relationships. love. Life in marriage in Madura, especially in Sumenep, appears more harmonious when connected with the medium of tongeban. This tradition becomes a medium and forum for society to create a harmonious social life and conditions with an atmosphere of brotherhood. This tradition provides a strong encouragement to people to always help each other, respect each other, and care for each other. The tongeban tradition is a tradition and culture that has been passed down from generation to generation by the Madurese people, especially in Sumenep and has become a social fact. The continuity of this tradition continues from generation to generation, so it is a sign that the Madurese people, especially Sumenep, have realized the concept of social life exemplified by the Prophet and his companions in the form of harmony in life which includes all manifestations of good morals in various types of human relationships. Interdependence and cooperation in social piety and compassion, mutual give and take, at the individual, family and group levels.
KONTER IBNU RUSYD TERHADAP KRITIK IMAM GHAZALI TENTANG FILSAFAT Moh. Jufriyadi sholeh
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v6i1.642

Abstract

Semenjak adanya gerakan terjemah buku-buku filsafat Yunani ke bahasa Arab, filsafat Yunani telah menjadi bagian yang mempengaruhi perkembangan filsafat Islam. Hal ini menimbulkan pro-kontra di tengah internal ilmuwan muslim dalam memandang filsafat. Banyak ilmuwan muslim dan tokoh-tokoh agama yang menyatakan sikap penentangan terhadap filsafat. Menurut mereka, filsafat telah menyelewengkan keyakinan Islam dan orang-orang yang berkompeten di dalamya (filosof muslim) merupakan ahli bid’ah, bahkan, mereka divonis sebagai orang yang kufur. Di antara ulama besar yang menyatakan filosof telah kufur adalah Imâm Al-Ghazâli dalam kitabnya Tahâfut Al-Falâsifah. Menurut Ibn Rusyd, polemik pemikiran antara al-Ghazali dan para filosof  merupakan polemik di ranah ijtihadi  yang pelakunya sama-sama mendapat penghargaan dari Allah. Di ranah ini tidak sepantasnya para ulama saling mengkafirkan. Terlebih masalah yang digugat oleh al-Ghazali merupakan masalah-masalah penamaan dan istilah yang tidak disebutkan dengan eksplisit dalam teks-teks al-Qur’an. Istilah qidam, ḥuduts dan ilmu juzîyyât merupakan istilah yang di munculkan oleh mutakallimîn. Sedangkan masalah hari kebangkitan (ma’âd) wajib diimani, adapun perbedaan menyikapi bentuk atau sifat kebangkitan itu tidak harus saling mengkafirkan.
STUDI KITAB HADIS: TIPOLOGI KITAB SUNÃN, MUWATṬA’ DAN MUṢANNAF Moh. Jufriyadi Sholeh
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v4i2.934

Abstract

Sebagai sumber ajaran Islam, hadis selalu mendapat perhatian khusus dari para ulama dari generasi ke generasi; baik dari aspek riwâyah (periwayatan) dan dari aspek dirâyah (studi hadis). Hal tersebut dilakukan dalam rangka menjaga eksistensi hadis agar tetap terjaga dan tidak hilang, ini dari aspek riwâyat. Adapun dari aspek dirâyah, ulama-ulama hadis tidak pernah berhenti melakukan kajian tentang otentisitas dan validitasnya.Salah satu upaya ulama untuk melestarikan hadis adalah membukukannya menjadi sebuah kitab dengan tipologi dan metodologi penulisan sesuai dengan keinginan penulisnya. Dalam artilel ini stresing penulis menganalisa tipologi dari kitab As-Sunân, Al-Muwatṭa’ dan Al-Muṣannaf karena ketiga tipe dari kitab hadis ini dilhat dari daftar isi kitabnya memiliki kesamaan, tetapi pada realitasnya ada perbedaan yang sangat signifikan dari ketiganya. Kesimpulnnya, Kitab As-Sunân, Al-Muwatṭa’ dan Al-Muṣannaf kesamaan yaitu penyusunan hadisnya sama-sama disusun berdasarkan kajian fiqih dan koleksi hadisnya hanya tertentu pada hadis-hadis fiqih atau hukum. Adapun letak perbedaannya terletak pada koleksi hadisnya dari sisi hadis berdasarkan pada tipe penyandarannya. Kitab As-Sunân mengoleksi hadis-hadis marfû, dan jarang ditemukan hadis-hadis non marfû' di dalamnya, sedangkan Kitab Al-Muwatṭa’ dan Al-Muṣannaf tidak hanya mengoleksi hadis-hadis marfû saja, tetapi di dalamnya juga banyak mengoleksi hadis-hadis mauqûf dan maqhṭu’. 
HAKIKAT MAKNA FITNAH LEBIH KEJAM DARI PEMBUNUHAN PERSPEKTIF PENAFSIRAN WAHBAH AZ-ZUHAILI Sholeh, Moh. Jufriyadi; Firdaus, Hendri Happy
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v8i2.1722

Abstract

One important topic in the Quran is fitnah, which has serious consequences, especially when it comes to someone's reputation. This emphasizes the importance of a proper understanding of the nature of fitnah, especially in the modern era. Although murder is considered a more serious crime in the legal realm, the detrimental effects of fitnah cannot be ignored. This research attempts to uncover the essence of fitnah, often considered trivial compared to murder, based on the perspective of Wahbah al-Zu?ayl? in his interpretation. Misunderstandings when interpreting Quranic verses highlight the importance of historical context, interpretation, and understanding of religious terminology. Referring to exegetes and scholars can help better understand the Quran. Thus, this research aims to delve deeper into Allah's message through the Quran, especially in dealing with fitnah, which is often considered trivial but has profound impacts. Further with the focus of this research, it will at least address two objectives: first, to understand Sheikh Wahbah al-Zuhayli's perspective that fitnah is more severe than murder, and second, to explain the relevance of fitnah being considered more severe than murder to current phenomena, with the hope that society can correctly understand the message conveyed by the researcher. This research uses a literature research method, utilizing sources such as the Quran, hadiths, interpretations, books, journals, and manuscripts related to Quranic verses about fitnah. Sheikh Wahbah Zuhayli's interpretation that fitnah is more severe than murder has strong relevance in the contemporary context. Fitnah, according to his perspective, involves physical threats or torture but encompasses various forms such as social pressure, conflicting ideologies, or worldly temptations. The relevance of this interpretation is evident in the modern context, where fitnah can manifest in various forms such as social pressure, ideological conflicts, and temptations of worldly life. Careful understanding of Quranic verses, along with an understanding of historical context and religious terminology, is a crucial key in facing the challenges of fitnah.
KONSEP MUBAHALAH DALAM AL-QUR’AN DAN HADIS PERSPEKTIF WAHBAH AL-ZUHAILI Sholeh, Moh. Jufriyadi; Nasrin, Nasrin
Bayan lin-Naas : Jurnal Dakwah Islam Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/bayanlin-naas.v8i2.1856

Abstract

ABSTRAKMengumpat merupakan praktik yang sudah lama dikenal dalam masyarakat Arab sejak zaman dahulu. Saat itu, makian sudah menjadi hal yang lumrah dalam kehidupan mereka, digunakan sebagai sarana penguatan atau penegasan ketika mereka berbicara tentang suatu kebenaran atau sesuatu. Ada yang menyebut kaum Nasrani dari Najran yang menolak ajaran Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa Nabi Isa AS adalah seorang hamba. Meski Nabi Muhammad SAW telah memberikan dalil dan bukti untuk menjelaskan hal tersebut, namun mereka tetap menolak kebenaran tersebut. Kemudian turunlah firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 61. Allah SWT menurunkan ayat tersebut kepada Rasulullah, untuk melakukan mub?halah sebagai salah satu cara untuk membantah pernyataan kaum Nasrani Najran. Dengan konteks penelitian ini maka fokus pembahasan yang akan dikaji adalah bagaimana penafsiran QS.Ali-Imran ayat 61 tentang mub?halah dalam Al-Qur'an menurut Wahbah Al-Zu?ayl? dengan pendekatan penafsiran RUU ma'tsur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (Library Research) yang mana penelitian kepustakaan ini digunakan untuk mencari bahan penelitian tentang tafsir Al-Mun?r dan menggunakan metode analisis-deskripsi. Kesimpulan penelitian ini ditemukan bahwa Ayat QS. Surat Imran ayat 61 menjadi landasan utama pelaksanaan mub?halah sebagai cara pembuktian kebenaran. Wahbah Al-Zu?ayl? mengatakan bahwa dalam ber mubalah harus menghadirkan orang-orang terdekat dan adanya ilmu. M ub?halah dihubungkan dengan bukti keteguhan iman dan keimanan terhadap Tauhid. Mub?halah tidak dibahas secara khusus dalam literatur fikih dan hukum Islam, namun relevansinya dapat ditemukan dalam konsep makian dan makian. Sumpah digunakan sebagai alat pembuktian di pengadilan. 
TRADISI OGHEM DI SUMENEP (Studi Living Qur’an Penyelesaian Masalah Dengan Istikhara Mokka’ Oghem) Sholeh, Moh. Jufriyadi
Reflektika Vol 15, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/reflektika.v15i1.393

Abstract

As the holy book for Moslems and also the big miracle (Mukjizat Kubro) for prophet Muhammad, al-Qur’an has been a part of life for Moslem society that has many functions and penetrate in any parts of their life. It’s not only as the source of the study of Islamic law, al-Qur’an has been also fulfilling the part of tradition, culture and religion routines through their cultures. Al-Qur’an has been also being the parts of Moslem’s social activity, not only for religious activity. Reciting al-Qur’an is not only as a dialy routine activity that they hope reward from God, but also as an activity that they hope can treat any diseases and solve any problems for personal life, family or relatives and also social society. Along the times flow and many problems of life, Moslem society always do some efforts to make al-Qur’an as a media to solve their problems of life that it may come from a massive group or community or personal, not only a guideline of law and worship. Among the efforts to make al-Qur’an as media of problem solving in Moslem life is Mokka’ Oghem by using Al-Anbiya’. Al-Anbiya’  is a book that consists of the stories of prophets and preceding Moslems that has been told in al-Qur’an and tafsir . The tradition of Mokka’ Oghem has been used by Moslem society of Sumenep as the way to make a decision or istikhara when they face any problems or difficult choises.Many people give positif respond to the result of istikhara oghem, it's known when they help each other when one of them have any problem so that they attend oghem. So, the tradition of oghem is still exis until now.