Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Analisis Fenomenologi Interpretatif Pengalaman Menjadi Pelayan Pastoral bagi Penyandang Disabilitas di Bhakti Luhur Jumilah, Bernadeta Sri; Gultom, Andri Fransiskus; Kuin, Maria Aquilina
Jurnal Moral Kemasyarakatan Vol 10 No 1 (2025): Volume 10, Nomor 1 - Juni 2025
Publisher : Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21067/jmk.v10i1.11778

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman penanggung jawab wisma dan perawat yang menjalankan peran sebagai pelayan pastoral bagi penyandang disabilitas di Bhakti Luhur. Subyek penelitian ada sepuluh orang yang terdiri dari penanggung jawab wisma dan perawat yang berinteraksi langsung dengan penyandang disabilitas. Data penelitian diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis tematik dengan prinsip-prinsip fenomenologi interpretatif. Penelitian ini menemukan bahwa terdapat empat aspek keempat aspek dalam pelayanan: motivasi menjadi pelayan pastoral, tantangan selama menjalani pelayan pastoral, cara mengatasi tantangan dalam pelayanan, dan strategi pelayanan berkualitas. Keempat aspek tersebut memunculkan teologi kehadiran menjadi syarat utama dalam pelayanan pastoral yang lebih inklusif serta berbasis kasih. Penelitian ini memberikan rekomendasi praktis untuk meningkatkan kualitas pelayanan pastoral bagi para penyandang cacat di Bhakti Luhur dan lembaga serupa. Rekomendasi ini mencakup strategi untuk memenuhi tantangan layanan, memperdalam hubungan mental dalam layanan, dan pendekatan terintegrasi yang menghormati martabat masing -masing individu.
Filsafat Gotong Royong di Era Global: Transformasi Filantropi Keagamaan menjadi Solidaritas Kewarganegaraan Andri Fransiskus Gultom
In Theos : Jurnal Pendidikan dan Theologi Vol. 5 No. 7 (2025): Juli
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/intheos.v5i7.4178

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk merekonseptualisasi filsafat Gotong Royong sebagai jembatan antara praktik filantropi keagamaan dan solidaritas kewarganegaraan di tengah arus individualisme global. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi filosofis, penelitian ini membedah transformasi nilai-nilai altruisme religius menuju aksi sipil yang inklusif dalam bingkai Pancasila. Kebaruan penelitian ini terletak pada tawaran konsep "Solidaritas Teo-Sivik", di mana filantropi tidak lagi dipandang sekadar sebagai kewajiban teologis privat, melainkan sebagai instrumen politik kewarganegaraan yang memperkuat kohesi sosial di masyarakat multikultural. Hasil kajian menunjukkan bahwa digitalisasi filantropi keagamaan di Indonesia telah menggeser batas-batas eksklusivitas komunal menjadi gerakan kemanusiaan lintas iman yang berbasis pada keadilan sosial. Revitalisasi filosofis Gotong Royong, dalam penelitian ini krusial untuk mencegah segregasi sosial, sekaligus memosisikan Pancasila sebagai sistem etika global yang mampu mensinergikan identitas transenden dengan tanggung jawab imanen sebagai warga negara. Konsep ini memberikan kontribusi teoretis baru dalam studi kewarganegaraan pasca-sekular. Secara praktis, temuan ini menawarkan peta jalan bagi penguatan resiliensi nasional melalui sinkronisasi antara kebijakan publik dan energi spiritual di era global.
Civic Education as a Means of Preserving and Empowering Iko-Iko Cultural Heritage in the Sapeken Islands Delvi Fitria Ningsih; Yulius Rustan Effendi; Andri Fransiskus Gultom
At-Tarbawi: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Kebudayaan Vol. 12 No. 1 (2025): At-Tarbawi: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Kebudayaan
Publisher : the Faculty of Education and Teacher Training of the Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/tarbawi.v12i1.10861

Abstract

This study examines the role of civic education as a strategic instrument in efforts to preserve and empower the Iko-Iko cultural heritage in the Sapeken Islands. Through a qualitative approach using a case study method, the study revealed that integrating local cultural values into the civic education curriculum can create synergy between strengthening national identity and preserving local wisdom. The research findings show that Iko-Iko culture-based learning not only increases students' awareness and pride in their cultural heritage but also strengthens the cultural resilience of the Sapeken community in the face of globalisation. The integrated learning model developed has succeeded in transforming civic education practices from a conventional approach to empowering contextual learning. The implementation of this model encourages the active participation of the younger generation in efforts to conserve and develop the Iko-Iko tradition as a national cultural asset. The study concludes that revitalising civic education based on local wisdom is an effective strategy in maintaining the sustainability of cultural heritage while building the character of citizens with cultural identity
Pengalaman Kolaboratif dalam Membangun Ruang Inklusif melalui Program Eco-Heroes Day Out di Hutan Kota Malabar Ludovikus Bomans Wadu; Andri Fransiskus Gultom; Susmita Dian Indiraswari; Dimas Emha Amir Fikri Anas; Ralditya Fito Viant Babo
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026): Volume 6 Nomor 2 Tahun 2026
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/jpkm.v6i2.4638

Abstract

Permasalahan sampah memerlukan partisipasi aktif masyarakat yang tidak hanya berorientasi pada pelestarian lingkungan, tetapi juga mampu membangun nilai-nilai inklusivitas dalam kehidupan sosial. Program Eco-Heroes Day Out diselenggarakan sebagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat untuk menciptakan ruang kolaboratif antara masyarakat umum, Komunitas Difabel Pecinta Alam, dan komunitas pegiat lingkungan melalui aksi peduli lingkungan di Hutan Kota Malabar. Kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif yang meliputi aksi bersih lingkungan, pemilahan sampah, permainan kolaboratif, dan sesi refleksi. Evaluasi dilakukan menggunakan angket sebelum dan sesudah kegiatan berbasis skala Likert serta pertanyaan terbuka untuk menggali pengalaman peserta. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa peserta telah memiliki persepsi awal yang positif terhadap kegiatan inklusif dan mengalami penguatan pengalaman kolaboratif setelah mengikuti seluruh rangkaian program. Peserta juga memberikan penilaian yang sangat baik terhadap pengalaman bermakna, kualitas interaksi, empati, serta keterkaitan antara kepedulian lingkungan dan nilai kemanusiaan. Program ini menunjukkan bahwa aksi peduli lingkungan dapat menjadi media efektif dalam membangun ruang inklusif melalui pengalaman kolaboratif yang bermakna.
Toward a Transformative Multicultural Pedagogy: The Role of Cultural Empathy in University Andri Fransiskus Gultom
Didactica : Jurnal Kajian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 5 No. 2 (2025): Volume 5 Nomor 2 Tahun 2025
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/didactica.v5i2.4175

Abstract

In the context of increasing global diversity, universities are challenged to implement educational paradigms that not only acknowledge cultural plurality but also foster meaningful intercultural understanding. This research offers a novel contribution to the field by articulating cultural empathy not merely as an affective disposition but as a transformative pedagogical praxis with structural implications. While existing literature often treats multiculturalism as a policy framework, this study investigates its operationalization through the lens of empathy-based engagement within a university setting. Utilizing a qualitative approach at Universitas PGRI Kanjuruhan Malang, data were analyzed through the Miles and Huberman interactive model. Findings reveal that multicultural education is integrated through a shared ethos of human dignity, formal curriculum embedding, and institutionalized policy commitments. Furthermore, five dimensions of empathy-based pedagogy emerge: content integration, collaborative knowledge construction, experiential prejudice reduction, equitable educational relationships, and cultural empowerment through embodied expressions like culinary arts and dance. By shifting the paradigm from surface-level diversity management to deep intercultural competency, these results provide a replicable framework for global higher education institutions. Ultimately, the study advocates for reorienting multicultural pedagogy toward transformative frameworks that institutionalize empathy as a critical competency for social justice.
Navigating Existential Literacy in the Age of Anxiety: A Failosophical Critique of Overthinking and the Crisis of Digital Citizenship Andri Fransiskus Gultom
Konstruksi Sosial : Jurnal Penelitian Ilmu Sosial Vol. 5 No. 4 (2025): Volume 5 Nomor 4 Tahun 2025
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/konstruksisosial.v5i4.4132

Abstract

This study aims to examine the phenomenon of overthinking (OVT) among Generation Z in Indonesia through the lenses of "Existential Literacy" and "Failosophy." This study critiques how pathological anxiety and individual failure impact the subject's capacity as an authentic and resilient citizen amidst digital disruption. This study uses a qualitative approach with critical literacy analysis methods and philosophical reflection. The author integrates Elizabeth Day's thoughts on failure (via negativa) and Søren Kierkegaard's concept of "Fear and Trembling" to map the subject's psychological state against current social realities. The analysis shows that the rate of overthinking, which reaches 50% in Indonesian society, especially young women and the unemployed, is rooted in the failure to make an "existential leap" in the face of future absurdities. The data shows a correlation between excessive social media consumption (up to 15 hours per day) and the emergence of FOMO, FOPO, and rumination phenomena that paralyze decision-making. Existential literacy is proposed as a pedagogical strategy to transform failure from a mental burden into "fuel" for authentic existence. From a philosophy of citizenship perspective, existential resilience is a prerequisite for active citizenship. Individuals who are able to reconcile with failure and manage their OVT will have the courage to decide and take responsibility for their position in the public sphere, rather than being lost in the chaotic flow of information. This study offers novelty by conceptualizing overthinking not simply as a clinical-psychological problem, but rather as a failure of existential literacy that hinders individual agency in fulfilling the role of conscious and independent citizens.
Revitalizing Pancasila as Living Philosophy: Socratic-Based Classroom Experimentation to Foster Critical Thinking Skills Andri Fransiskus Gultom
Paidea : Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia Vol. 5 No. 2 (2025): Volume 5 Nomor 2 Tahun 2025
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/paidea.v5i2.4174

Abstract

Traditional Pancasila education often suffers from dogmatic rote learning, distancing the state ideology from students' lived realities. This research aims to transform Pancasila from a static doctrine into a "Living Philosophy" through Socratic-based classroom experimentation. Using a qualitative case study approach, this research engaged 80 university students in dialectical sessions focused on ethical-political dilemmas. The findings reveal that Socratic inquiry fosters critical thinking by dismantling ideological passivity. The study identifies a significant shift toward "Civic-Maieutics," a new pedagogical state where students function as "intellectual midwives" for constitutional values. This process facilitates "Pancasila-Aporia," a creative cognitive tension that forces learners to bridge the gap between abstract principles and complex social realities, rather than merely memorizing them. This research introduces the concept of "Ethico-Dialectical Citizenship," a framework where critical questioning becomes a primary civic virtue. This study contributes to the global discourse on transformative pedagogy by demonstrating how classical philosophical methods can modernize national ideological education in post-truth democratic societies.
The Civil Religion Debate: Is Pancasila a Substitute for or a Protector of Traditional Faiths? Andri Fransiskus Gultom; Genoveva Mari
KASTA : Jurnal Ilmu Sosial, Agama, Budaya dan Terapan Vol. 5 No. 3 (2025): Desember
Publisher : Lembaga Bale Literasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58218/kasta.v5i3.2427

Abstract

The conceptualization of Pancasila as Indonesia’s state ideology often oscillates between being a political umbrella and a potential civil religion. This debate has intensified as global populism and religious conservatism challenge the traditional boundaries of national identity. This study aims to philosophically and sociologically investigate whether Pancasila functions as a substitute for traditional faiths or strictly as a protector of religious pluralism (a neutral arbiter). Employing a qualitative approach with a phenomenological-hermeneutic design, this research was conducted between January to December 2024 across three strategic loci: Jakarta, Yogyakarta, and Manado. Data were gathered through in-depth interviews with 15 key informants. The findings reveal a Third Way paradigm: Pancasila does not substitute the transcendental essence of traditional religions but acts as a Sacred Civic Framework. The novelty of this research lies in the discovery of Civic-Religious Synchronicity, where Pancasila facilitates the sacralization of civic duties without secularizing the faith itself, effectively preventing the totalitarianism of belief often found in theocracies. This study implies that strengthening Pancasila as a Protector rather than a Substitute is vital for democratic resilience.
Melampaui Legalitas Administratif: Sintesis Etika Magnis-Suseno dalam Menakar Integritas Kebijakan Makan Bergizi Gratis Andri Fransiskus Gultom
De Cive : Jurnal Penelitian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 6 No. 1 (2026): Volume 6 Nomor 1 Tahun 2026
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/decive.v6i1.4353

Abstract

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah idealnya menjadi wujud kehadiran negara dalam menjamin kesejahteraan rakyat. Namun, munculnya berbagai polemik seperti kasus keracunan makanan dan inefisiensi anggaran mengindikasikan adanya krisis etika di tingkat pengelola. Penelitian ini bertujuan membedah nihilnya etika normatif dalam tata kelola kebijakan tersebut melalui perspektif filsafat moral Franz Magnis-Suseno. Metode penelitian menggunakan kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap tiga informan (orang tua murid, siswa, dan pengamat sosial) serta observasi terhadap fenomena polemik kebijakan di ruang publik. Teknik analisis data menggunakan pembacaan tekstual, verstehen, dan interpretasi filosofis untuk mensintesis data empiris dengan karya Etika Dasar. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa kegagalan kebijakan berakar pada hilangnya "rumah etika" di hulu pengambilan keputusan yang merusak martabat manusia demi ambisi teknokratis. Novelty penelitian ini terletak pada tawaran restorasi moral melalui reprioritasi anggaran berbasis etika kepedulian dan internalisasi nilai filosofis sebagai solusi atas dehumanisasi birokrasi dalam program MBG.