Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

SOCIAL-EMOTIONAL LEARNING PROGRAMS IN ELEMENTARY SCHOOLS: ENHANCING STUDENT COMPETENCIES AND ACADEMIC OUTCOMES Romli, Faiz; Prima, Ellen; Dharin, Abu
JURNAL PENDIDIKAN DASAR Vol. 13 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : STKIP Melawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46368/jpd.v13i2.4722

Abstract

Abstract: Elementary education has increasingly recognized social-emotional learning (SEL) as a vital pedagogical framework for promoting comprehensive student growth. SEL encompasses processes through which children acquire knowledge, attitudes, and skills to understand emotions, achieve goals, demonstrate empathy, maintain relationships, and make responsible decisions. This narrative literature review investigates contemporary evidence regarding SEL efficacy, influences on socioemotional capabilities and educational performance, and implementation factors in primary settings. A purposive review of 26 peer-reviewed articles spanning 2017-2025, focused on research from Scopus, ERIC, Google Scholar, and PubMed, synthesized findings thematically. Converging meta-analytic evidence indicates SEL programs positively influence social-emotional development across competency domains. Research documents positive associations between SEL participation and academic outcomes (effect sizes d = 0.17-0.35). However, effectiveness varies substantially based on implementation quality, teacher factors, organizational context, and student characteristics. Whole-school approaches show particular promise for sustainable impact. SEL represents valuable evidence-based strategy requiring adequate teacher preparation, ongoing professional development, organizational support, and contextual attention for successful implementation. Keywords: academic achievement, elementary school, implementation, program effectiveness, social-emotional learning Abstrak: Pendidikan dasar semakin mengakui pembelajaran sosial-emosional (SEL) sebagai kerangka pedagogis vital untuk pertumbuhan siswa komprehensif. SEL mencakup proses dimana anak memperoleh pengetahuan, sikap, dan keterampilan untuk memahami emosi, mencapai tujuan, menunjukkan empati, memelihara hubungan, dan membuat keputusan bertanggung jawab. Tinjauan literatur naratif ini menyelidiki bukti kontemporer mengenai kemanjuran SEL, pengaruhnya pada kemampuan sosioemosional dan kinerja pendidikan, serta faktor implementasi dalam lingkungan pendidikan dasar. Tinjauan purposif terhadap 26 artikel peer-review periode 2017-2025 dari Scopus, ERIC, Google Scholar, dan PubMed, mensintesis temuan secara tematik. Bukti meta-analitik konvergen menunjukkan program SEL mempengaruhi positif perkembangan sosial-emosional lintas domain kompetensi. Penelitian mendokumentasikan asosiasi positif antara partisipasi SEL dan hasil akademik (ukuran efek d = 0,17-0,35). Namun, efektivitas bervariasi substansial berdasarkan kualitas implementasi, faktor guru, konteks organisasi, dan karakteristik siswa. Pendekatan seluruh sekolah menunjukkan janji khusus untuk dampak berkelanjutan. SEL merupakan strategi berbasis bukti berharga yang memerlukan persiapan guru memadai, pengembangan profesional berkelanjutan, dukungan organisasi, dan perhatian kontekstual untuk implementasi sukses. Kata kunci: efektivitas program, implementasi, pembelajaran sosial-emosional, prestasi akademik, sekolah dasar
MOTIVASI BELAJAR SISWA YANG DOMINAN DALAM MENCAPAI TARGET HAFALAN 3 JUZ DI KELAS TAHFIDZ MTS MUHAMMADIYAH 1 PURBALINGGA Nur Asyifa, Rida; Prima, Ellen
Merdeka Indonesia Jurnal International Vol 6 No 1 (2026): MIJI : Merdeka Indonesia Journal International
Publisher : Merdeka Indonesia Jurnal International

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69796/miji.v6i1.495

Abstract

Program Tahfidz Al-Qur’an merupakan metode penting dalam membina akhlak peserta didik. Program ini bertujuan untuk menghafal ayat-ayat Al-Qur’an dan menanamkan kedisiplinan, kesabaran, serta ketekunan, yang secara langsung membentuk karakter peserta didik. Dalam proses menghafal Al-Qur’an tentunya Siswa harus memiliki motivasi yang menjadi penggerak atau pendorong untuk selalu bersemangat dalam murojaah dan menambah hafalan. Namun kenyataannya beberapa Siswa masih memiliki rasa malas pada diri mereka untuk menyetorkan hafalan. Perkembangan teknologi dan pesatnya pengunaan gawai dianggap menjadi faktor yang berkontribusi pada kesulitan siswa dalam membagi waktu antara aktivitas menghafal Al-Qur’an dan penggunaan gawai, yang berpotensi menurunkan motivasi belajar mereka. Tantangan ini menunjukkan bahwa faktor motivasi belajar siswa terhadap pencapaian target hafalan 3 juz perlu diidentifikasi dan diukur secara sistematis. Oleh karena itu, identifikasi terhadap jenis motivasi (intrinsik dan ekstrinsik) serta besaran pengaruh faktor-faktor yang mempengaruhinya menjadi sangat penting untuk memahami akar masalah secara terukur dan merumusakan strategi intervensi yang berbasis data. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif dengan teknik pengambilan data menggunakan kuesioner. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa tingkat motivasi intrinsik siswa tidak sama dengan tingkat motivasi ekstrinsik siswa tergantung faktor internal dan eksternal masing-masing.
Peningkatan Perilaku Prososial Anak Usia Dini melalui Implementasi Model Pembelajaran Kolaboratif dalam Kegiatan Kelompok Terstruktur Ganjar Idea Surya, Siti; Prima, Ellen
Murhum : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 7 No. 1 (2026): Juli In Progress
Publisher : Perkumpulan Pengelola Jurnal (PPJ) PAUD Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/murhum.v7i1.2079

Abstract

Penelitian ini bertujuan menilai efektivitas model pembelajaran kolaboratif dalam meningkatkan perilaku prososial anak usia dini. Penelitian menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis & McTaggart yang dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing terdiri dari beberapa pertemuan dengan tahapan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah anak kelompok B berjumlah 20 anak. Data dikumpulkan melalui observasi perkembangan sosial, dokumentasi, dan wawancara guru, kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif untuk menilai perubahan perilaku prososial. Hasil penelitian menunjukkan penerapan model pembelajaran kolaboratif meningkatkan perilaku prososial secara signifikan, dengan skor observasi sosial meningkat dari 58% pada pra-siklus menjadi 74% pada siklus I dan 89% pada siklus II. Peningkatan terlihat pada kemampuan berbagi, partisipasi dalam kerja kelompok, kesediaan membantu teman, dan penyelesaian konflik secara sederhana. Selain itu, interaksi antaranak menjadi lebih harmonis dan ketergantungan pada guru dalam menyelesaikan konflik berkurang. Temuan ini menunjukkan bahwa model pembelajaran kolaboratif efektif dalam menstimulasi interaksi positif dan perkembangan sosial-emosional anak usia dini secara berkelanjutan.
From Family to School: Dual Protection from Fathers and Teachers for Children’s Mental Health Prima, Ellen
Psikologi Prima Vol. 9 No. 1 (2026): Psikologi Prima
Publisher : unprimdn.ac.id

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/psychoprima.v9i1.8284

Abstract

Mental health in children is a critical issue that requires specialized attention, particularly during the preschool years. This study investigates the negative impact of maternal authoritarian parenting on the social-emotional development of preschoolers, specifically examining the mediating role of emotion regulation and the moderating effects of father-child and teacher-child relationships. Involving 412 preschoolers from kindergartens in Purwokerto, along with their parents and teachers, the research utilized a longitudinal design with a six-month interval. Data were analyzed using Polynomial Curved Surface Fitting (PCSF) to validate a double moderative mediation model. The results indicate that maternal authoritarian parenting significantly reduces children’s emotion regulation (β = -.211, p < .001), which in turn correlates with mental health issues (r = -.175, p < .01). However, positive relationships with fathers (β = .163, p < .05) and teachers (β = .145, p < .001) act as synergistic protective factors that buffer these adverse effects. These findings offer strategic implications for educational interventions and policies aimed at safeguarding early childhood psychological well-being.