Eka Yudha Rahman
Departemen Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Hubungan Relative Fat Mass dengan Volume Kelenjar Prostat pada Pasien Benign Prostatic Hyperplasia Alexandro Manurung; Eka Yudha Rahman; Oski Illiandri
Homeostasis Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.698 KB)

Abstract

Abstract: More than 70 million cases of degenerative diseases in men are benign prostatic hyperplasia (BPH). Relative fat mass (RFM) is a method of measuring body fat that more accurate than body mass index (BMI). Increased fat mass in BPH patients have risk to increase  prostate proliferation more quickly. The aimed of this study was to determine the associations of Relative Fat Mass with prostate gland volume in Benign Prostatic Hyperplasia patients. This research used analytic observational method with cross-sectional approach. Samples were taken by purposive sampling technique with the number samples of this study were 34 samples. Data analysis using linear regression test. The results of average prostate volume was 33.45 ± 5.55 cc and the average RFM value was 28.16 ± 3.93. There is a significant associations (r = 0.381; p = 0.026) with a weak degree of correlation. between RFM and prostate volume in BPH patients.  Keywords: BPH, RFM, prostatic volume  Abstrak: Lebih dari 70 juta kasus penyakit degeneratif pada laki-laki adalah benign prostatic hyperplasia (BPH).Relative fat mass (RFM) merupakan metode pengukurannya lemak tubuh yang memiliki hasil lebih akurat dibandingkan body mass index (BMI). Peningkatan massa lemak pada pasien BPH dapat mengalami risiko meningkatkan proliferasi prostat lebih cepat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan Relative Fat Mass dengan volume kelenjar prostat pada pasien Benign Prostatic Hyperplasia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel diambil dengan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel penelitian ini didapatkan 34 sampel. Analisis data menggunakan uji regresi linear.. Terdapat hubungan yang bermakna (r=0.381; p=0.026) dengan derajat korelasi lemah Kata-kata kunci: BPH, RFM, volume prostat
Literature Review: Hubungan Usia, Keparahan Benign Prostate Hyperplasia (BPH) dan Kejadian Disfungsi Ereksi Winda Wati; Eka Yudha Rahman; Lena Rosida; Hendra Sutapa; Roselina Panghiyangani
Homeostasis Vol 4, No 1 (2021)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.236 KB)

Abstract

Abstract: Benign prostate hyperplasia (BPH) is considered a degenerative disease. A problem that often occurs in men as they get older, BPH can cause erectile dysfunction in patients. This literature review generally aims to see the relationship between age and severity of BPH and the incidence of erectile dysfunction. The search was carried out on articles in English and Indonesian published between 2011-2020 in the Pubmed, Science Direct and Google Scholar databases. The articles used in this literature review are 22 articles. The results of literature review show that there is a relationship between age and BPH, with increasing age the incidence of BPH is also higher, besides that there is also a relationship between the severity of BPH and the incidence of erectile dysfunction. The incidence of erectile dysfunction increases significantly with the severity of BPH and the higher the IPSS score, the lower the IIEF 5 score will be. Keywords: Benign Prostate Hyperplasia (BPH), Lower Urinary Tract Symptoms (LUTS), erectile dysfunction. Abstrak: Benign Prostate Hyperplasia (BPH) dianggap sebagai penyakit degeneratif. Permasalahan yang sering terjadi pada pria seiring dengan pertambahan usia, BPH dapat menyebabkan terjadinya disfungsi ereksi pada pasien. Tinjauan literatur ini secara umum bertujuan untuk mengetahui hubungan usia dan keparahan BPH dengan kejadian disfungsi ereksi. Penelusuran dilakukan pada artikel berbahasa Inggris dan Indonesia yang diterbitkan antara tahun 2011-2020 pada database Pubmed, Science Direct dan Google Scholar. Artikel yang digunakan dalam tinjauan literatur ini sebanyak 22 artikel. Hasil tinjauan literatur menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara usia dengan terjadinya BPH, semakin bertambahnya usia maka insidensi menderita BPH juga semakin tinggi, selain itu terdapat pula hubungan antara keparahan BPH dengan kejadian disfungsi ereksi. Insidensi disfungsi ereksi meningkat secara signifikan sejalan dengan keparahan BPH dan semakin tinggi skor IPSS maka skor IIEF 5 akan semakin menurun. Kata-kata kunci: Benign Prostate Hyperplasia (BPH), Lower Urinary Tract Symptoms (LUTS), disfungsi ereksi.
Hubungan Kadar Glukosa Darah Puasa dengan Volume Prostat pada Pasien Benign Prostatic Hyperplasia Flora Gracia Rumenta Siagian; Eka Yudha Rahman; Oski Illiandri
Homeostasis Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.147 KB)

Abstract

Abstract: Benign prostatic hyperplasia (BPH) is a common disorder in older men as the incidence increases with age. There are various theories mentioning risk factors of  BPH, one of them is hyperglicemia and insulin resistance. The purpose of this study was to determine the relationship of fasting blood glucose levels with prostate volume in BPH patient. This research used analytic observational method with cross-sectional approach. Samples were taken by purposive sampling technique with the number samples of this study were 31 samples. Data analysis using Spearman correlation analysis. The result shows that the average prostate volume was 41.7 ± 11.3 cc. The average fasting blood glucose is 105.35 ± 17.03 mg / dl. There is a significant relationship between levels of fasting blood glucose with prostate volume in BPH patients with a weak degree of correlation. (r = 0.043, p = 0.366).  Keywords: BPH, fasting blood glucose, prostate volume  Abstrak: Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) adalah penyakit yang umum diderita oleh pria usia tua dengan prevalens yang meningkat seiring pertambahan usia.  Terdapat beragam teori mengenai faktor risiko yang berhubungan dengan BPH salah satunya adalah keadaan hiperglikemia dan resistensi insulin. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan kadar GDP dengan volume kelenjar prostat pada pasien BPH Penelitian ini menggunakan metode penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel diambil dengan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel penelitian didapatkan 31 sampel. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian didapatkan rerata volume prostat di dapatkan 41.7 ± 11.3 cc. Rerata GDP didapatkan 105.35 ± 17.03 mg/dl. Terdapat hubungan yang bermakna antara kadar GDP dengan volume prostat pada pasien BPH dengan derajat korelasi lemah. (r=0.043, p=0.366). Kata-kata kunci: BPH, RFM, volume prostat
Literature Review: Analisis Efikasi ESWL sebagai Tatalaksana Nefrolitiasis Yana Mastionita Br Damanik; Eka Yudha Rahman; Istiana Istiana
Homeostasis Vol 4, No 3 (2021)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.252 KB)

Abstract

Abstract: Extracorporeal Shockwave Lithotripsy (ESWL) is the first-line treatment for nephrolithiasis which is minimally invasive with a clearance rate of 85.3%. In its implementation, ESWL is influenced by many factors, which make many variations in its effectiveness. The literature review aims to analyze the efficacy of ESWL to treat nephrolithiasis in terms of age, sex, size and location of stones. Writing is done by analyzing related journals obtained through a database of medical journals, namely PubMed, Google Scholar, Cochrane, and DOAJ. Journals in English with publication time of 2006-2020, a total of 13 journals were obtained. The results consisted of the highest ESWL efficacy level, stone size = 6 mm (93.6%), stone location (upper calyx) by 100%, women (90.3%), men (85.5%), ages 31- 40 years (89%) . The lowest level of efficacy obtained related to the factors studied was stone size> 15 mm (54.9%), stone location (lower calyx) by 30.81%, women (66%), men (78%). and aged ≤ 65 years (69.2%). The conclusion was that stone size and stone location tended to affect the efficacy of ESWL (p <0.05) while age and sex tended not to affect efficacy (p> 0.05). Keywords: nephrolitiasis, efficacy factor, ESWL Abstrak: Extracorporeal Shockwave Lithotripsy (ESWL) menjadi first-line treatment nefrolitiasis yang bersifat minimally invasive dengan clearance rate 85.3 %. Dalam pelaksanaannya, ESWL dipengaruhi oleh banyak faktor, yang membuat banyak variasi keefektifannya. Literature review bertujuan menganalisis efikasi ESWL sebagai tatalaksana nefrolitiasis terkait faktor usia, jenis kelamin, ukuran dan lokasi batu. Penulisan dilakukan dengan menganalisis jurnal terkait yang didapatkan melalui database jurnal kedokteran, yaitu PubMed, Google Scholar, Cochrane, dan DOAJ. Jurnal dalam bahasa Inggris dengan waktu publikasi 2006-2020, total didapatkan 13 jurnal. Hasil berupa tingkat efikasi tertinggi ESWL secara berurutan, ukuran batu =6 mm (93.6%), lokasi batu (kaliks atas) sebesar 100 %, wanita (90.3%), pria (85.5%), usia 31- 40 tahun (89%). Tingkat efikasi terendah yang didapat terkait faktor yang diteliti adalah ukuran batu >15 mm (54.9%), lokasi batu (kaliks bawah) sebesar 30.81 %, wanita (66%), pria (78%). dan usia ≤ 65 tahun sebesar (69.2 %). Kesimpulan didapatkan bahwa ukuran batu dan lokasi batu cenderung mempengaruhi efikasi ESWL (p<0.05) sedangkan usia dan jenis kelamin cenderung tidak mempengaruhi efikasi (p>0.05). Kata-kata kunci: efikasi, faktor efikasi, ESWL
Hubungan Persentase Stroma, Epitel, dan Lumen Prostat terhadap Kejadian Retensi Urine pada Benign Prostatic Hyperplasia Brian Hansen Efraim Sitompul; Hendra Sutapa; Ika Kustiyah Oktaviyanti; Eka Yudha Rahman; Ida Yuliana
Homeostasis Vol 5, No 1 (2022)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.409 KB)

Abstract

Abstract: Benign prostatic hyperplasia (BPH) is an enlargement of prostate gland caused by hyperplasia of prostate cells. There are several studies about BPH from histopathological aspect, but none has discussed about the relation with incidence of urinary retension which is a symptoms of worsening BPH. The purpose of this study is to analyze the relation of percentage of stroma, epithelium, and lumen to incidence of urinary retention in BPH at Ulin General Hospital Banjarmasin in 2018-2019. The studies collected 78 samples.The result showed 47 patients with urinary retention and 31 patients without urinary retention (LUTS). The mean percentages of stroma, epithelium, and lumen in the urinary retention group is 62.3 ± 10%, 18 ± 6%, and 19 ± 7% , while those in the LUTS group is 63,6 ± 13%, 14 ± 7%, and 22 ± 10%. Analysis result used unpaired t test showed no significant difference between percentage of stroma (p = 0.636), epithelium (p = 0.11), and lumen (p = 0.183) to incidence of urinary retention in BPH. This may be due to several factors in which the researcher did not pay attention to when taking samples. Keywords:  benign prostatic hyperplasia, percentage of epithelium, percentage of lumen, percentage of stroma, urinary retention Abstrak: Benign prostatic hyperplasia (BPH) merupakan penyakit pembesaran kelenjar prostat yang disebabkan oleh hiperplasia sel-sel prostat. Terdapat beberapa penelitian yang meneliti BPH dari aspek histopatologi berupa stroma, epitel, dan lumen, tetapi belum ada penelitian yang mengkaitkan histopatologi BPH dengan kejadian retensi urine yang merupakan gejala bertambah parahnya BPH. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan persentase stroma, epitel, dan lumen dengan kejadian retensi urine pada BPH di RSUD Ulin Banjarmasin periode 2018-2019. Terdapat 78 sampel pada penelitian ini. Didapatkan sebanyak 47 pasien (60,25%) retensi urine dan 31 pasien (39,75%) non retensi urine/LUTS.  Rata-rata persentase stroma, epitel, dan lumen pada kelompok retensi urine adalah 62,3 ± 10%, 18 ± 6%, dan 19 ± 7%, sedangkan dari kelompok LUTS adalah  63,6 ± 13%, 14 ± 7%, dan 22 ± 10%. Hasil analisis menggunakan uji t tidak berpasangan menunjukkan tidak terdapat hubungan antara persentase stroma (p = 0,636), epitel (P = 0,11), dan lumen (P = 0,183) terhadap kejadian retensi urin pada BPH. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor yang tidak diperhatikan peneliti saat mengambil sampel. Kata-kata kunci: benign prostatic hyperplasia, persentase epitel, persentase lumen, persentase stroma, retensi urine
Uji Validitas dan Reliabilitas Benign Prostatic Hyperplasia Impact Index Versi Bahasa Indonesia Jessica Firajanti A. Kumpang; Eka Yudha Rahman; Oski Illiandri
Homeostasis Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.863 KB)

Abstract

Abstract: Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) is a chronic disease that affects quality of life. The assessment can be performed using a specific quality of life questionnaire for BPH patients, one of the questionnaires is the Benign Prostatic Hyperplasia Impact Index (BII). However, BII cannot be used in Indonesia because it has not been translated and tested for validity and reliability. The purpose of this study is to translate BII into Indonesian and assess the validity, and reliability of the Indonesian version of BII. This study is descriptive with a cross-sectional approach. The translation is carried out according to standardized guidelines. A minimum number of samples was determined by respondent-item ratio of 5:1 and was adjusted to the inclusion and exclusion criteria. The content validity was assessed by experts, construction validity was analyzed by the Pearson correlation test, and internal construction reliability was adjusted with Cronbach's alpha values. A total of 23 BPH patients were obtained as sample with a mean age of 67.13±10.61. The Indonesian version of the BII questionnaire was declared valid related to content validity and construction validity (r count=0.853-0.938, r table 0.4132, p <0.05), and was highly reliable (α= 0.908). Keywords: benign prostatic hyperplasia (BPH), benign prostatic hyperplasia impact index (BII), validity, reliability. Abstrak: Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) merupakan penyakit kronis yang dapat mengganggu kualitas hidup. Penilaian kualitas hidup dilakukan menggunakan kuesioner penilaian kualitas hidup khusus BPH, salah satunya Benign Prostatic Hyperplasia Impact Index (BII). Namun, BII belum bisa digunakan di Indonesia karena belum diterjemahkan, belum diuji validitas, dan reliabilitasnya. Tujuan penelitian ini adalah menerjemahkan BII ke dalam Bahasa Indonesia, menilai validitas, dan reliabilitasnya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan potong lintang. Penerjemahan mengikuti pedoman terstandardisasi. Besar sampel minimal sesuai respondent-item ratio 5:1 dengan memperhatikan kriteria inklusi dan eksklusi.Validitas isi dinilai oleh ahli, validitas konstruksi dianalisis dengan uji korelasi Pearson, dan reliabilitas konstruksi internal dengan memperhatikan nilai Cronbach’s alpha. Total sampel 23 pasien BPH dengan rerata usia 67,13±10,61. BII versi Bahasa Indonesia valid terkait validitas isi dan konstruksi (r hitung=0,853-0,938, r tabel=0,4132, p=0,05), dan reliabilitasnya sangat tinggi (α=0,908). Kata-kata kunci: benign prostatic hyperplasia (BPH), benign prostatic hyperplasia impact index (BII), validitas, reliabilitas.
HUBUNGAN INFILTRASI LIMFOSIT PADA PROSTAT DENGAN RETENSI URINE PADA BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA DI RSUD ULIN BANJARMASIN Muhammad Abianovan Ramadhan; Hendra Sutapa; Ika Kustiyah Oktaviyanti; Eka Yudha Rahman; Ida Yuliana
Homeostasis Vol 5, No 3 (2022)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Benign prostatic hyperplasia (BPH) is a common condition in elderly men. BPH may cause lower urinary tract symptoms (LUTS) and urinary retention. Chronic inflammation is a common founding in histological examination of BPH and related to a higher risk of urinary retention. The purpose of this study is to analyze the association between lymphocyte infiltration in prostate and urinary retention in BPH in Ulin General Hospital Banjarmasin. This is an analytic observational study with cross sectional approach. There are 78 samples, collected by purposive sampling method. There are 47 (60,26%) patients diagnosed with urinary retention, while 31 (39,74%) others are diagnosed with LUTS. Lymphocyte infiltration is found in 68 (87,18%) specimens, consist of 20 (25,64%) specimens of BPH with mild inflammation, 34 (43,59%) specimens of BPH with moderate inflammation, and 14 (17,95%) specimens of BPH with severe inflammation. There is no lymphocyte infiltration found in 10 (12,82%) specimens. The result of the analysis is P = 0,320. The conclusion of this study is that there is no significant association between lymphocyte infiltration in prostate and urinary retention in BPH in Ulin General Hospital Banjarmasin
KARAKTERISTIK PASIEN CHRONIC KIDNEY DISEASE YANG DILAKUKAN HEMODIALISIS DI RSUD ULIN BANJARMASIN SELAMA PANDEMI COVID-19 Tinjauan Terhadap Usia, Jenis Kelamin, Pendidikan, Pekerjaan, Status Pernikahan, Riwayat Penyakit Penyerta, Riwayat Terpajan Virus COVID-19 Raden Abyuta Wiksa Pranandhira; Eka Yudha Rahman; Husnul Khatimah
Homeostasis Vol 6, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ht.v6i1.8790

Abstract

Chronic Kidney Disease (CKD) merupakan kelainan struktur atau fungsi pada ginjal yang berlangsung selama >3 bulan. Pasien dengan penyakit CKD yang dihemodialisis rentan terpajaan virus COVID-19 karena pasien tersebut memiliki gabungan faktor risiko seperti usia yang tua, sistem kekebalan yang kurang efisien akibat status uremik, diabetes serta hipertensi. Tujuan umum penelitian adalah mengetahui karakteristik pasien Chronic Kidney Disease yang dilakukan hemodialisis di RSUD Ulin Banjarmasin selama pandemi COVID-19. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan data sekunder dari rekam medis. Teknik pengambilan sampel adalah purposive samplingdengan subyek berjumlah 100 data rekam medis. Hasil dan kesimpulan penelitian ini didapatkan karakteristik usia pasien terbanyak adalah 46-55 tahun sejumlah 41 orang (41%), karakteristik jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki sejumlah 58 orang (58%), karakteristik tingkat pendidikan terbanyak adalah SMA sejumlah 47 orang (47%), karakteristik pekerjaan terbanyak adalah ibu rumah tangga sejumlah 22 orang (22%), karakteristik status pernikahan terbanyak adalah menikah sejumlah 91 orang (91%), karakteristik penyakit penyerta terbanyak adalah hipertensi sejumlah 43 orang (43%), dan karakteristik riwayat terpajan virus COVID-19 sejumlah 22 orang (22%).Chronic Kidney Disease (CKD) merupakan kelainan struktur atau fungsi pada ginjal yang berlangsung selama >3 bulan. Pasien dengan penyakit CKD yang dihemodialisis rentan terpajaan virus COVID-19 karena pasien tersebut memiliki gabungan faktor risiko seperti usia yang tua, sistem kekebalan yang kurang efisien akibat status uremik, diabetes serta hipertensi. Tujuan umum penelitian adalah mengetahui karakteristik pasien Chronic Kidney Disease yang dilakukan hemodialisis di RSUD Ulin Banjarmasin selama pandemi COVID-19. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan data sekunder dari rekam medis. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling dengan subyek berjumlah 100 data rekam medis. Hasil dan kesimpulan penelitian ini didapatkan karakteristik usia pasien terbanyak adalah 46-55 tahun sejumlah 41 orang (41%), karakteristik jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki sejumlah 58 orang (58%), karakteristik tingkat pendidikan terbanyak adalah SMA sejumlah 47 orang (47%), karakteristik pekerjaan terbanyak adalah ibu rumah tangga sejumlah 22 orang (22%), karakteristik status pernikahan terbanyak adalah menikah sejumlah 91 orang (91%), karakteristik penyakit penyerta terbanyak adalah hipertensi sejumlah 43 orang (43%), dan karakteristik riwayat terpajan virus COVID-19 sejumlah 22 orang (22%).