Khalimatus Sa’diyah
Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Malang, Jl. Soekarno Hatta No. 9, Malang 65141, Indonesia

Published : 25 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

PENGARUH RASIO AMPAS TAHU TERHADAP KUALITAS PRODUK PAKAN IKAN NILA Muhammad Nur Abror Falah; Khalimatus Sa’diyah
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 1 (2024): March 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i1.4215

Abstract

Ikan nila merupakan komoditas ikan air tawar yang memiliki nilai ekonomis tinggi di Indonesia dan memiliki prospek usaha yang menjanjikan. Salah satu kendala penting dalam memproduksi ikan nila adalah tingginya harga pakan yang masih mengandalkan pasokan dari luar negeri. Alternatif bahan utama untuk pakan ikan nila yang ekonomis adalah ampas tahu dengan kandungan protein >20%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui rasio ampas tahu terhadap kualitas produk pakan ikan nila sesuai dengan SNI 01-7242-2006 tentang pakan buatan untuk ikan nila Oreochromis sp. pada budidaya intensif. Metode pembuatan pakan ikan nila dilakukan dengan mencampur ampas tahu dengan variasi rasio 50%, 60%, 70%, dan 80%, dengan tepung ikan, tepung jagung, dedak halus, dan vitamin mix. Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa formulasi terbaik produk pakan ikan nila yaitu pada rasio penambahan ampas tahu sebesar 50% dari berat campuran. Hasil dari formulasi terbaik tersebut yaitu kadar air sebesar 4,49%, kadar abu sebesar 14,44%, kadar lemak total sebesar 15,47%, dan kadar serat kasar sebesar 2,32%.  Hasil tersebut telah memenuhi SNI 01-7242-2006 tentang pakan buatan untuk ikan nila (Oreochromis sp.) pada budidaya intensif.
EVALUASI EFISIENSI KINERJA RAW MILL INDARUNG VI PT SEMEN PADANG Febby Anisa Putri; Khalimatus Sa’diyah; Feri Wibowo
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 2 (2024): June 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i2.5076

Abstract

Salah satu unit utama yang sangat penting dalam proses produksi semen yaitu pada unit raw mill. Pada unit raw mill terdapat beberapa alat proses produksi semen meliputi vertikall raw mill, Multicyclone, Gas Conditioning Tower  (GCT), dan Bag House Filter (BHF). Pada raw mill terjadi proses pencampuran, penggiling, pengeringan, dan transportasi pada bahan baku seperti limestone, pozzolan, iron sand, dan clay menjadi bubuk halus yang disebut raw mix dengan standar kehalusan diatas 90µ (14-20%). Penggilingan bahan baku menjadi raw mix membutuhkan energi yang signifikan. Maka dari itu perlu dilakukan peningkatan kinerja alat pada unit raw mill untuk meningkatkan efisiensi kinerja alat dengan mengevaluasi perhitungan neraca massa, neraca energi, dan efisiensi kinerja alat di unit produksi raw mill pada salah satu proses produksi semen Indarung VI PT Semen Padang. Hasil evaluasi neraca massa, neraca energi, dan efisiensi unit raw mill dihitung dengan prinsip kekekalan massa energi sehingga diperoleh kapasitas overall sebesar 1.260.549,3012 kg/jam, kebutuhan panas 400.930.630,84kJ/jam dengan total heat loss 152.152.976,79 kJ/jam dan efisiensi VRM 55,34% serta GCT 83,06%. Nilai tersebut masih memenuhi batas minimal perusahaan sebesar 50%. Dari hasil perhitungan dapat disimpulkan bahwa proses pengeringan material untuk mencapai kadar air yang ditentukan masih berlangsung secara optimal.
PEMBUATAN MINYAK ESTER DARI MINYAK KELAPA SAWIT MELALUI PROSES TRANSESTERIFIKASI : PENGARUH KATALIS KOH DAN NAOH Nur Kharisma; Khalimatus Sa’diyah
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 11 No. 1 (2025): March 2025
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v11i1.6883

Abstract

Minyak ester yang digunakan sebagai isolator pada trafo biasanya berasal dari minyak bumi yang tidak dapat diperbaharui. Dengan meningkatnya kebutuhan minyak bumi, penting untuk mencari bahan baku alternatif seperti minyak kelapa sawit yang lebih berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh katalis KOH dan NaOH pada proses transesterifikasi minyak kelapa sawit terhadap karakteristik minyak ester. Pembuatan minyak ester melalui proses transesterifikasi dimulai dengan uji FFA dan densitas bahan baku. Pada proses transesterifikasi sampel dipanaskan pada suhu 60ᵒC dengan variasi jenis katalis (KOH dan NaOH) sebanyak 0,4% dari berat bahan baku. Produk minyak ester dan gliserol, hasil transesterifikasi, dipisahkan dengan corong pisah dan dicuci sampai pH netral. Produk minyak ester diperbaiki kualitasnya dengan penambahan zat aditif berupa bentonit sebanyak 2% dari total minyak ester. Hasil penelitian menunjukkan bahwa katalis NaOH yang lebih efektif daripada KOH. Minyak ester dari minyak kelapa sawit yang diolah dengan katalis NaOH telah memenuhi standar SPLN 49-1:1982  dengan viskositas 16,678 mm2/s, bilangan asam 0,112 mg/g, kadar air 0,30 %ppm, dan densitas 0,895 g/ml.
ANALISIS KELAYAKAN RE-DESAIN PABRIK GULA DENGAN KAPASITAS 210.000 TON/TAHUN Dahniar Safira Rahmawati; Khalimatus Sa’diyah
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 11 No. 3 (2025): September 2025
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v11i3.7133

Abstract

Permintaan gula di Indonesia meningkat setiap tahun seiring dengan populasi dan berbagai kebutuhan gula di masyarakat. Hal tersebut menyebabkan produksi gula tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat sendiri. Kekurangan tersebut harus ditutupi dengan impor gula yang terus meningkat setiap tahunya. Diperlukan langkah konkret menambah kapasitas produksi gula untuk memenuhi permintaan dan mengurangi ketergantungan impor dengan melakukan evaluasi kelayakan pendirian pabrik gula. Metodologi analisis yang digunakan yaitu aspek sumber daya, aspek pasar, analisis teknis, dan analisis finansial. Rencana pendirian pabrik gula ini didirikan di Kabupaten Kediri di Jawa Timur dengan  menggunakan bahan baku tebu berkapasitas 210.000 ton/tahun. Dari hasil analisis teknis, pemilihan lokasi yang strategis di Kediri didukung oleh ketersediaan bahan baku tebu yang melimpah dan infrastruktur yang memadai. Analisis potensi pasar menunjukkan bahwa permintaan gula domestik terus meningkat, dengan konsumsi rata-rata per kapita yang stabil, menjadikan proyek ini memiliki potensi pasar yang kuat dan prospektif. Perhitungan analisis ekonomi yang didapat, nilai return on investment sesudah pajak sebesar 25%, nilai break event point yang didapatkan sebesar 58,3549%. Dari hasil analisis teknis, potensi pasar, dan analisis ekonomi dapat disimpulkan bahwa pabrik gula dengan kapasitas 210.000 ton/tahun ini layak untuk didirikan.
PEMBUATAN ASAP CAIR DARI AMPAS TEBU (BAGASSE) MENGGUNAKAN METODE PIROLISIS KATALITIK Sheren Adinda Wijanarko; Erika Wardani; Khalimatus Sa’diyah
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 11 No. 3 (2025): September 2025
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v11i3.7412

Abstract

Ampas tebu (bagasse) merupakan limbah dari proses pengolahan tebu menjadi gula yang tersedia dalam jumlah melimpah setiap tahunnya. Salah satu solusi untuk menangani limbah tersebut adalah dengan mengolahnya menjadi asap cair melalui proses pirolisis katalitik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh suhu dan jenis katalis pada proses pirolisis katalitik terhadap kualitas (densitas, viskositas, pH, warna, bau dan kadar asam asetat) asap cair yang dihasilkan. Proses pembuatan asap cair dimulai dengan aktivasi katalisator menggunakan aktivator masing-masing yaitu larutan H2SO4 untuk pasir kuarsa, HF 1%, HCl 6 N, NH4Cl 0,1 M untuk zeolit dan H2SO4 10 N untuk karbon aktif.  Selanjutnya, sebanyak 500 gram umpan bagasse dengan ukuran ± 0,5 cm dimasukkan ke dalam reaktor pirolisis double condensor untuk dipirolisis. Proses pirolisis berlangsung selama 120 menit dengan suhu pirolisis yang digunakan yaitu 300⁰C, 350⁰C, dan 400⁰C. Asap hasil pembakaran kemudian dikondensasikan oleh kondensor sehingga menghasilkan asap cair. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa suhu pirolisis berpengaruh terhadap kualitas dari asap cair yang dihasilkan. Kondisi optimum proses pirolisis untuk pembuatan asap cair yaitu pada suhu 400°C dan menggunakan katalis zeolit dengan karakteristik densitas 1,0105 g/mL, viskositas 1,0075 mm2/s, pH 2,75, kadar asam asetat 6,6502 %, warna coklat, dan bau asap sangat menyengat.