Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Jurnal Pendidikan

Pemikiran Ibnu Khaldun (Pragmatis-Instrumental) Tentang Pendidikan Dan ‎Relevansinya Dengan Dunia Modern Sholeh Kurniandini; Muchammad Iqbal Chailani; Abdul Wahab Fahrub
JURNAL PENDIDIKAN Vol 31, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/jp.v31i3.2864

Abstract

Ibnu Khaldun sebagai salah seorang tokoh intelektual Islam yang dikenal hingga hari ini-selain dari perannya yang besar dalam pentas politik pada masanya dan pemikiran pendidikannya yang beraliran pragmatis-instrumental adalah karena beliau memiliki dan mewariskan karya intelektualnya, yaitu kitab Muqaddimah. Meskipun Ibnu Khaldun hidup di abad ke-14, tetapi pemikirannya tentang pendidikan Islam tampaknya tetap actual dan relevan untuk penerapan pendidikan Islam dalam konteks kekinian, termasuk di Indonesia. Bahkan pemikiran yang pernah beliau kemukakan dapat menjadi inspirasi untuk umat Islam dewasa ini dalam membenahi dan meningkatkan pendidikan Islam di Indonesia. Untuk itu, dalam beberapa dasawarsa terakhir, sejumlah wacana dari pakar pendidikan Islam di Indonesia begitu mengapung dalam menyerukan pembenahan dan peningkatan kualitas pendidikan Islam di Indonesia. Dalam pembahasan ini, akan dilihat beberapa relevansi pemikiran Ibnu Khaldun dengan dunia modern khususnya pelaksanaan pendidikan Islam di Indonesia. Ibnu Khaldun mengklasifikasikan ilmu-ilmu pengetahuan yang dipelajari ke dalam dua bentuk yaitu al-‘ulum an-naqliyah (ilmu agama) dan al-‘ulum al-aqliyah (ilmu umum).
Pemikiran Ibnu Khaldun (Pragmatis-Instrumental) Tentang Pendidikan dan Relevansinya dengan Dunia Modern Kurniandini, Sholeh; Chailani, Muchammad Iqbal; Fahrub, Abdul Wahab
JURNAL PENDIDIKAN Vol 31 No 3 (2022): November
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/jp.v31i3.2864

Abstract

Ibnu Khaldun sebagai salah seorang tokoh intelektual Islam yang dikenal hingga hari ini-selain dari perannya yang besar dalam pentas politik pada masanya dan pemikiran pendidikannya yang beraliran pragmatis-instrumental adalah karena beliau memiliki dan mewariskan karya intelektualnya, yaitu kitab Muqaddimah. Meskipun Ibnu Khaldun hidup di abad ke-14, tetapi pemikirannya tentang pendidikan Islam tampaknya tetap actual dan relevan untuk penerapan pendidikan Islam dalam konteks kekinian, termasuk di Indonesia. Bahkan pemikiran yang pernah beliau kemukakan dapat menjadi inspirasi untuk umat Islam dewasa ini dalam membenahi dan meningkatkan pendidikan Islam di Indonesia. Untuk itu, dalam beberapa dasawarsa terakhir, sejumlah wacana dari pakar pendidikan Islam di Indonesia begitu mengapung dalam menyerukan pembenahan dan peningkatan kualitas pendidikan Islam di Indonesia. Dalam pembahasan ini, akan dilihat beberapa relevansi pemikiran Ibnu Khaldun dengan dunia modern khususnya pelaksanaan pendidikan Islam di Indonesia. Ibnu Khaldun mengklasifikasikan ilmu-ilmu pengetahuan yang dipelajari ke dalam dua bentuk yaitu al-‘ulum an-naqliyah (ilmu agama) dan al-‘ulum al-aqliyah (ilmu umum).
Teori Belajar Humanistik dan Implikasinya dalam Pembelajaran PAI Iqbal Chailani, Muchammad; Fahrub, Abdul Wahab; Fitri Rohmatilah, Luk Luki; Kurniawan, Agus
JURNAL PENDIDIKAN Vol 33 No 2 (2024): July
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/jp.v33i2.5287

Abstract

Pendidikan dan pengajaran adalah upaya sadar yang bertujuan untuk mengubah perilaku siswa menuju kedewasaan. Proses ini mencakup pengajaran yang membimbing siswa dalam pengembangan diri sesuai dengan tugas perkembangan mereka, yang meliputi kebutuhan individu, sosial, dan spiritual. Dalam konteks Islam, pendidikan memiliki orientasi humanistik yang menekankan nilai-nilai kemanusiaan. Namun, praktik pembelajaran saat ini di sekolah sering kali tidak memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas dan keterampilan berpikir kritis. Siswa sering diperlakukan sebagai objek yang hanya perlu diisi dengan pengetahuan tanpa kesempatan untuk eksplorasi dan kreativitas. Kritik terhadap metode ini menyoroti perlunya pendekatan pendidikan yang lebih efektif yang tidak memandang siswa sebagai wadah kosong, tetapi sebagai individu yang memerlukan dukungan dalam proses pembelajaran yang aktif dan kreatif. Pendekatan ini bertujuan untuk memanusiakan siswa dan memungkinkan mereka mengembangkan potensi diri mereka secara penuh. Teori humanistik, seperti yang diajukan oleh Abraham Maslow dan Carl Rogers, menekankan pentingnya memenuhi kebutuhan dasar manusia sebelum mencapai aktualisasi diri. Maslow mengklasifikasikan kebutuhan manusia dalam hierarki, mulai dari kebutuhan fisiologis hingga aktualisasi diri. Dalam konteks pembelajaran, pemenuhan kebutuhan ini penting agar siswa dapat belajar dengan optimal. Rogers menambahkan bahwa pembelajaran yang efektif harus melibatkan pengalaman pribadi siswa dan memberikan kebebasan untuk belajar tanpa tekanan atau paksaan. Guru berperan sebagai fasilitator yang mendukung siswa dalam proses belajar yang bermakna. Implementasi teori humanistik dalam PAI bertujuan untuk memanusiakan manusia melalui pendidikan yang demokratis dan partisipatif sehingga siswa mampu mengembangkan potensi dirinya secara maksimal, sejalan dengan tujuan utama dari teori belajar humanistik. Kata-kata Kunci: pendidikan, humanistik, berpikir kritis.