Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Makassar Goes to School: Penguatan Literasi Lingkungan Melalui Edukasi Pemilahan Sampah di Sekolah Wilayah Kelurahan Paropo Rampeng Rampeng; Muhammad Bakri; Restu Januarty Hamid; Andi Tenri Abeng; Syaila Nur Amaliyah; Areski Wahid
Bima Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2026): Bima Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Pendidikan Bima Berilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53299/bajpm.v6i1.3684

Abstract

Permasalahan sampah perkotaan masih menjadi tantangan lingkungan yang kompleks, terutama akibat rendahnya praktik pemilahan sampah sejak dari sumbernya. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis pengelolaan, tetapi juga erat dengan tingkat literasi lingkungan dan perilaku masyarakat. Sekolah memiliki posisi strategis dalam menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini, namun edukasi yang diberikan sering kali masih bersifat teoritis dan kurang aplikatif. Artikel pengabdian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan serta dampak program Makassar Goes to School dalam memperkuat literasi lingkungan peserta didik melalui edukasi pemilahan sampah di sekolah wilayah Kelurahan Paropo. Program ini dilaksanakan sebagai bagian dari Kuliah Kerja Nyata Universitas Bosowa Angkatan 59 dengan pendekatan edukatif-partisipatif yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam proses edukasi. Metode pelaksanaan meliputi sosialisasi interaktif mengenai jenis dan dampak sampah, pengenalan prinsip reduce, reuse, recycle (3R), praktik langsung pemilahan sampah, serta pengenalan konsep bank sampah. Data dikumpulkan melalui observasi dan refleksi selama kegiatan berlangsung, kemudian dianalisis secara deskriptif-kualitatif. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta didik terhadap jenis-jenis sampah, pentingnya pemilahan sampah sejak dini, serta kesadaran awal mengenai tanggung jawab individu terhadap lingkungan. Pendekatan partisipatif terbukti mendorong keterlibatan aktif dan mempermudah internalisasi nilai-nilai peduli lingkungan. Program ini juga memperluas cara pandang siswa terhadap sampah, dari sekadar limbah menjadi sumber daya yang berpotensi memiliki nilai guna dan ekonomi. Secara keseluruhan, Makassar Goes to School berkontribusi positif dalam penguatan literasi lingkungan berbasis sekolah dan menunjukkan potensi untuk direplikasi sebagai model pengabdian masyarakat yang kontekstual dan berkelanjutan dalam mendukung upaya pengelolaan sampah perkotaan.
CONNECTING STUDENTS' AND LECTURERS' PERSPECTIVES ON ENGLISH LEARNING NEEDS Zulwahyuni Namrullah; Areski Wahid
International Journal of Research on English Teaching and Applied Linguistics Vol. 7 No. 1 (2026)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/ijretal.v7i1.12472

Abstract

Understanding English learning needs from multiple educational perspectives is essential for designing effective Basic English instruction for non-English major students. While previous needs analysis studies have predominantly focused on learners' perspectives, limited attention has been given to the convergence between students' learning needs and lecturers' instructional priorities. This study investigated English learning needs from the perspectives of non-English major students and English lecturers to identify areas of convergence that could inform the design of a context-sensitive Basic english program. A descriptive survey design was employed involving 36 students and alumni, two English lecturers, a placement test, and a pilot-tested needs analysis questionnaire. Quantitative data were analyzed using descriptive statistics, while lecturers' responses were synthesized thematically to identify instructional priorities and areas of convergence. The findings revealed that although students recognized the importance of English for academic and professional purposes, most demonstrated limited English proficiency. Grammar emerged as the greatest learning challenge, whereas speaking was identified as the highest priority for future communication. Students also expressed strong preferences for bilingual, interactive learning, and technology-supported learning. The lecturers' perspectives similarly aligned with these findings, particularly regarding the importance of communicative competence, grammar and vocabulary development, interactive learning, and digital learning resources. The convergence between students' and lecturers' perspectives suggests that Basic English instruction should be designed through evidence-informed instructional planning that integrates learners' needs with pedagogically appropriate teaching priorities. The study provides practical insights for English lecturers and curriculum developers seeking to design context-sensitive Basic English programs for non-English major students in Indonesian higher education.