Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Pelatihan dan Penyuluhan Pembibitan Tanaman Buah di Desa Sei Rotan Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang Erlita Chaniago; Aisyah Lubis; Nurma Ani; Farida Hariani
Jurnal Derma Pengabdian Dosen Perguruan Tinggi (Jurnal DEPUTI) Vol. 1 No. 1 (2021): Juli 2021
Publisher : LPPM Universitas Al-Azhar medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54123/deputi.v1i1.54

Abstract

Salah satu perbanyakan tanaman yang paling mudah dilakukan secara massal dan biayanya murah adalah perbanyakan melalui biji atau perbanyakan secara generatif (seksual). Dalam perbanyakan secara generatif, biji digunakan sebagai alat perbanyakan. Perbanyakan tanaman secara generatif memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan perbanyakan tanaman secara generatif adalah tanaman baru bisa diperoleh dengan mudah dan cepat, biaya yang dikeluarkan relatif murah, umur tanaman lebih lama, tanaman yang dihasilkan memiliki perakaran yang lebih kuat . Sedangkan kelemahan perbanyakan secara generatif adalah tanaman baru yang dihasilkan belum tentu memiliki sifat yang sama dengan tanaman induknya, varietas baru yang muncul belum tentu lebih baik, waktu berbuah lebih lama dan kualitas tanaman baru diketahui setelah tanaman berbuah. Tujuan dari pengabdian masyarakat ini adalah memberikan penyuluhan dan pelatihan kepada masyarakat tentang teknik pembibitan tanaman buah. Metode yang diberikan adalah dengan cara diskusi dan bermusyawarah bagaimana cara atau teknik pembibitan tanaman buah dan selanjutnya dilakukan pelatihan pembibitan. Setelah itu kita tetap melakukan evaluasi dan monitoring kegiatan. Hasil yang diperoleh masyarakat sudah mengetahui dan memahami hal-hal yang harus disiapkan dalam pembibitan mulai dari penyiapan media tanam , pembuatan naungan, perkecambahan sampai pemindahan bibit di polybag. Dan kesimpulannya masyarakat paham teknik pembibitan tanaman.
Penyuluhan pemanfaatan pekarangan dengan tanaman obat keluarga dimasa pandemi di desa bakaran batu kecamatan batang kuis Kabupaten Deli Serdang Erlita Chaniago; Aisyah lubis; Dermawan Hutagaol; Farida Hariani; Nurma Ani
Jurnal Derma Pengabdian Dosen Perguruan Tinggi (Jurnal DEPUTI) Vol. 2 No. 1 (2022): Januari 2022
Publisher : LPPM Universitas Al-Azhar medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54123/deputi.v2i1.112

Abstract

Dimasa pandemi saat ini umumnya masyarakat enggan untuk berobat ke Rumah Sakit, dengan berbagai macam alasan. Tanaman obat keluarga (TOGA) menjadi salah satu pilihan masyarakat untuk ditanam di lahan pekarangan, dengan pertimbangan karena dapat dimanfaatkan untuk kesehatan. Tanaman obat dapat dijadikan obat yang aman, tidak mengandung bahan kimia, murah, dan mudah didapat.Gaya hidup kembali ke alam, saat ini semakin meningkat, seiring dengan kesadaran masyararakat terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh bahan bahan kimia, baik yang terkandung dalam makanan ataupun obat-obatan. Dampak dari itu penggunaan obat-obat tradisional sudah kembali membudaya di Indonesia.Indonesi sangat kaya akan keanekaragaman hayati, diantaranya berupa ratusan jenis tumbuhan/tanaman obat. Tumbuhan tersebut banyak dimanfaatkan selain untuk penyembuhan dan pencegahan penyakit, juga untuk peningkatan daya tahan tubuh, serta pengembalian kesegaran yang pada akhirnya meningkatkan kesehatan masyarakat.Jenis tanaman obat, pada umumnya lebih banyak tumbuh sebagai tanaman liar, akan tetapi pada saat ini tanaman obat banyak ditanam di kebun dan dilahan pekarangan. Oleh karena itu bibit tanaman obat banyak dibutuhkan oleh masyarakat untuk ditanam di lahan pekarangan.Tujuan dari pengabdian masyarakat ini adalah memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang pemanfatan pekarangan dengan tanaman obat keluarga (TOGA) . Metode yang diberikan adalah dengan cara penyuluhan ,diskusi dan bermusyawarah tentang pemanfaatan pekarangan dengan tanaman obat keluarga. Dan kesimpulanya masyarakat paham bagaimana memanfaatkan pekarangan dengan menanam tanaman obat-obatan
AN MANAGEMENT ORGANIC FERTILIZER COCONUT COIL LIQUID AND CHICKEN CAGE INCREASE THE GROWTH AND PRODUCTION OF ALLIUM ASCALONICUM L Erlita Chaniago; Farida Hariani; Purwanto Purwanto
Jurnal Ekonomi Vol. 12 No. 01 (2023): Jurnal Ekonomi, 2023 Periode Januari - Maret
Publisher : SEAN Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research was conducted at Jalan Pintu IV, Alley Pond Jaka, Padang Bulan, Medan, Medan Johor District, North Sumatra Province. This study used a factorial randomized block design with 2 factors studied and 3 repetitions where the first factor was liquid organic coconut fiber fertilizer (B), which consisted of 3 levels, namely B0 = without coconut coir liquid organic fertilizer B1 = 1.5 L/Plot, B2 = 3L/Plot. The second factor was chicken manure consisting of 4 levels, namely A0 = without chicken manure, A1 = 2 Kg/Plot, A2 = 4 Kg/Plot, A3 = 6 Kg/Plot. Chicken manure has a significant effect on all observed parameters while for its interaction it has a significant effect on the number of tillers parameter.
Pupuk Organik Cair Azolla (Azolla pinnata) dan Pupuk Kandang Ayam Meningkatkan Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Pakcoy (Brassica rapa L ) Erlita Chaniago; Nurma Ani; Farida Hariani; Afriska Ristanti
Jurnal Agrofolium Vol. 2 No. 1 (2022): Februari 2022
Publisher : Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Al Azhar Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian dilaksanakan di Gedung Johor, Medan Propinsi Sumatera Utara. Penelitian ini menggunakan 2 faktor yang diteliti dan 3 ulangan dimana faktor pertama adalah pupuk organik cair azolla (K) yang terdiri dari 4 taraf yaitu K0 = tanpa pupuk organik cair azolla, K1 = 25 mlliter-1 air, K2 = 50 mlliter-1 air, K3 = 75 mlliter-1 air. Faktor kedua adalah pupuk kandang ayam (N) terdiri dari 3 taraf yaitu N0 = tanpa pupuk kandang ayam, N1 = 1,5 kg plot-1, N2 = 3 kg plot-1. Hasil peneltian menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik cair azolla serta interaksi pupuk organik cair azolla dan pupuk kandang ayam berpengaruh tidak nyata terhadap semua pengamatan. Pemberian pupuk kandang ayam terhadap parameter tinggi tanaman, panjang daun, lebar daun dan jumlah daun 6 MST, luas daun 4 MST, berat basah tanaman per sample dan per plot pada perlakuan N1 merupakan perlakuan tertinggi .
RICE-HUSK AND CORN WASTE BIOCHARS IMPROVE RICE GROWTH UNDER LEAD STRESS Syarifa Mayly; Ida Zulfida; Dora Silvia Dewi; Dafni Mawar Tarigan; Lamria Sidauruk; Farida Hariani; Benny Hidayat
Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 14 No. 2 (2026): Jurnal Al Ulum: LPPM Universitas Al Washliyah Medan
Publisher : UNIVERSITAS AL WASHLIYAH (UNIVA) MEDAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47662/alulum.v14i2.1366

Abstract

Lead (Pb) contamination in agricultural soils threatens rice production by reducing plant growth and increasing the risk of heavy-metal accumulation in edible tissues. Biochar has emerged as a sustainable soil amendment capable of immobilizing heavy metals while improving soil properties. This study evaluated the comparative effectiveness of rice-husk biochar and corn-residue biochar applied at rates of 0%, 10%, and 20% in reducing Pb availability and enhancing the early growth of upland rice (Oryza sativa L.). A factorial completely randomized design with three replications was employed under controlled pot conditions. Soil pH, residual Pb concentration, rice growth parameters, biomass production, root development, and Pb accumulation in plant tissues were measured and analyzed using analysis of variance followed by Duncan's Multiple Range Test at the 5% significance level. Biochar application significantly reduced soil Pb concentration, with the 20% application rate decreasing Pb by approximately 23% compared with the untreated control. A parallel reduction in Pb accumulation was observed in rice tissues, indicating lower Pb bioavailability. Root length increased markedly from 6.35 cm in the control to 16.50 cm at the highest biochar rate, while shoot length also improved significantly. Corn-residue biochar generally promoted greater root development and biomass production than rice-husk biochar, likely because of its higher concentrations of exchangeable potassium, calcium, and magnesium. Although soil pH increased following biochar application, the differences were not statistically significant, suggesting that Pb immobilization resulted primarily from adsorption, ion exchange, surface complexation, and mineral precipitation rather than pH modification alone. Overall, biochar application rate exerted a stronger influence on Pb immobilization than feedstock type, whereas biochar feedstock more strongly affected plant growth. These findings demonstrate that agricultural-residue biochars represent promising, low-cost amendments for mitigating Pb contamination and improving early rice establishment, although long-term field validation is required before practical recommendations can be made.