Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGERJAKAN SOAL CERITA MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) PADA SISWA KELAS V SD Ali Muckromin; Achmad Fathoni
JURNAL MITRA SWARA GANESHA Vol. 9 No. 2 (2022): JURNAL MITRA SWARA GANESHA
Publisher : JURNAL MITRA SWARA GANESHA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembelajaran yang berkualitas adalah kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang guru dan merupakan faktor utama yang dapat menentukan keberhasilan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Subjek pada penelitian ini berjumlah 14 siswa kelas V SDN 2 Banyusri Kecamatan Wonosegoro Kabupaten Boyolali. Penelitian ini menggunakan metode observasi dan tes yang diberikan pada setiap siklus pembelajaran. Meningkatnya keterampilan siswa dalam mengerjakan soal cerita matematika melalui model pembelajaran Problem Based Learning merupakan tujuan penelitian ini. Hasil penelitian membuktikan bahwa pada siklus I 7,14 siklus II 35,71 serta siklus III 85,71% dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keterampilan siswa mengalami peningkatan, dari sedang menjadi tinggi. Kata Kunci: soal cerita, Pembelajaran, PBL
FILSAFAT HUMANISME DAN IMPLIKASINYA DALAM KONSEP MERDEKA BELAJAR Nafiah Nur Shofia Rohmah; Ali Muckromin; Endang Fauziyati
JURNAL MITRA SWARA GANESHA Vol. 9 No. 2 (2022): JURNAL MITRA SWARA GANESHA
Publisher : JURNAL MITRA SWARA GANESHA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konsep merdeka belajar sesungguhnya telah dicetuskan sejak dahulu oleh Ki Hadjar Dewantara dengan pendapatnya yang menjelaskan bahwa merdeka belajar merupakan konsep tentang pendidikan yang yang didasarkan pada asas kemanusiaan. Menurutnya mendidik adalah proses memanusiakan manusia, sehingga bakat dan minat peserta didik bisa mengalami perkembangan baik. Karena filsafat merupakan keseluruhan kerangka konseptual bagi manusia, maka konsep pendidikan dapat dijelaskan sebagai implementasi pemikiran filosofis, jika pelaku pendidikan mempertimbangkan aspek filosofis sebagai dasar penciptaannya, sehingga implementasi konsep merdeka belajar dapat terlaksana secara tepat. Merdeka belajar merupakan sebuah konsep yang dalam pandangan filsafat humanisme lebih mempertimbangkan kebebasan peserta didik untuk memilih dan mengelola pengalaman belajarnya. Fokus merdeka belajar adalah sebuah konsep yang memberikan pengalaman secara langsung dalam kegiatan pembelajaran, yang memungkinkan peserta didik menjadi individu yang unik sesuai apa yang dimiliki. Tujuan pendidikan adalah menggunakan apa yang telah diperoleh peserta didik dalam pembelajaran dan menciptakan hal-hal yang baik bagi orang lain. Kata Kunci: Filsafat Humanisme, Implikasi, Konsep Merdeka Belajar.
Analisis Buku IPAS Kelas IV Kurikulum Merdeka Ditinjau dari Miskonsepsi Rini Budiwati; Ani Budiarti; Ali Muckromin; Yulia Maftuhah Hidayati; Anatri Desstya
Jurnal Basicedu Vol 7, No 1 (2023): February
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/basicedu.v7i1.4566

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi buku ajar ilmiah kelas IV Kurikulum Merdeka Kemendikbudristek 2021 yang mengandung kesalahpahaman. Metodologi yang dipergunakan pada riset ini adalah deskriptif kualitatif, dan alat/media yang dipergunakan untuk pengumpulan data adalah lembar pengamatan dan prosedur dokumentasi. Buku ajar IPAS Kelas IV Kemendikbud Tahun 2021 dijadikan sebagai sumber data kajian. Menggunakan metode analisis data dalam penelitian ini mengarah kepada tingkatan misidentifiction, overgeneralization, oversimpelfications, obselete concept and term dan under generalizations. Kategori misidentifivation kesalahan identifikasi dan kesalahan penjelasan proses muncul jika penjelasan topik dalam buku berbeda dengan buku referensi. Kategori overgeneralization jika gagasan itu hanya menggambarkan sebagian dari item atau masalah IPA. Kategori oversimpelfications Jika penjelasan buku acuan tentang suatu pokok bahasan lebih teliti dari pada penjelasan dalam buku teks. Kategori obselete concept and term Jika pengertian dijelaskan terlalu luas (tanpa menyebutkan pengecualian), bahkan ketika dijelaskan dalam buku referensi atau literatur lain, akan ada grafik tanpa deskripsi potongan. Kategori under generalizations jika frase baru diperkenalkan di buku referensi, namun istilah nama yang digunakan untuk mengilustrasikan subjek di buku teks adalah istilah yang sudah ketinggalan zaman. Berlandaskan pertimbangan riset, didapatkan hasil bahwasannya ada materi miskonsepsi pada Buku IPAS Kurikulum Merdeka untuk siswa, kategori misidentification tidak ada, kategori overgeneralization  terdapat 1 konsep yaitu tentang fotosintesis, kategori oversimpelfications terdapat 4 konsep ialah bagian tubuh tumbuhan, penyerbukan, gaya otot, dan gaya gravitasi.
Management of children special needs with emotional and behavioral disorders through education services Ani Budiarti; Ali Muckromin; Rini Budiwati; Choiriyah W; Minsih Minsih
At-Tajdid: Jurnal Ilmu Tarbiyah Vol. 12 No. 1 (2023): At-Tajdid
Publisher : Institut Studi Islam Muhammadiyah (ISIMU) Pacitan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to identify and analyze the characteristics, types of disorders, factors that cause disturbances, methods that can be used to help control emotions in children with special needs, and types of educational services that are appropriate for children with special needs with emotional and behavioral disorders. The background of this research is that there are many incidents that occur in schools, it is certain that there are some children who have disabilities or children with special needs. There have been many incidents where children with special needs receive less attention and are discriminated against normal (discriminatory) students in order to obtain a proper education. The method used was data collection from children with special needs where the research was conducted coupled with competent literature references with descriptive nature. From this research, the data obtained were analyzed in a qualitative descriptive manner, so that qualitative descriptive variations could be seen. So that children with special needs with emotional and behavioral disorders can accurately find out the characteristics which consist of learning achievement, intelligence, social, immature emotions, withdrawal behavior and service models. Education which includes segressive, integrated, inclusive education services
Analisis Buku IPAS Kelas IV Kurikulum Merdeka Ditinjau dari Miskonsepsi Rini Budiwati; Ani Budiarti; Ali Muckromin; Yulia Maftuhah Hidayati; Anatri Desstya
Jurnal Basicedu Vol 7, No 1 (2023): February
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/basicedu.v7i1.4566

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi buku ajar ilmiah kelas IV Kurikulum Merdeka Kemendikbudristek 2021 yang mengandung kesalahpahaman. Metodologi yang dipergunakan pada riset ini adalah deskriptif kualitatif, dan alat/media yang dipergunakan untuk pengumpulan data adalah lembar pengamatan dan prosedur dokumentasi. Buku ajar IPAS Kelas IV Kemendikbud Tahun 2021 dijadikan sebagai sumber data kajian. Menggunakan metode analisis data dalam penelitian ini mengarah kepada tingkatan misidentifiction, overgeneralization, oversimpelfications, obselete concept and term dan under generalizations. Kategori misidentifivation kesalahan identifikasi dan kesalahan penjelasan proses muncul jika penjelasan topik dalam buku berbeda dengan buku referensi. Kategori overgeneralization jika gagasan itu hanya menggambarkan sebagian dari item atau masalah IPA. Kategori oversimpelfications Jika penjelasan buku acuan tentang suatu pokok bahasan lebih teliti dari pada penjelasan dalam buku teks. Kategori obselete concept and term Jika pengertian dijelaskan terlalu luas (tanpa menyebutkan pengecualian), bahkan ketika dijelaskan dalam buku referensi atau literatur lain, akan ada grafik tanpa deskripsi potongan. Kategori under generalizations jika frase baru diperkenalkan di buku referensi, namun istilah nama yang digunakan untuk mengilustrasikan subjek di buku teks adalah istilah yang sudah ketinggalan zaman. Berlandaskan pertimbangan riset, didapatkan hasil bahwasannya ada materi miskonsepsi pada Buku IPAS Kurikulum Merdeka untuk siswa, kategori misidentification tidak ada, kategori overgeneralization  terdapat 1 konsep yaitu tentang fotosintesis, kategori oversimpelfications terdapat 4 konsep ialah bagian tubuh tumbuhan, penyerbukan, gaya otot, dan gaya gravitasi.
ANALYSIS OF KURIKULUM MERDEKA IN SEKOLAH PENGGERAK Ali Muckromin; Anam Sutopo; Yulia Maftuhah Hidayati; Choiriyah Widyasari
Jurnal Cakrawala Pendas Vol. 9 No. 4 (2023)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jcp.v9i4.5445

Abstract

Education cannot be limited by space and time as Ki Hajar Dewantara said: "anyone can become a teacher and anywhere can be a class". Education will continue to experience development along with the changes or progress of the times. Since the beginning of independence until now, the curriculum in Indonesia has undergone 12 changes, the first Curriculum 1947; the second Curriculum 1952; the third Curriculum 1964; the fourth Curriculum 1968; the the fifth Curriculum 1975; the sixth curriculum CBSA 1984; the seventh Curriculum 1994; the eighth Curriculum 1999; the ninth Curriculum 2004 (CBSA); the tenth Curriculum 2006 (KTSP); the eleventh Curriculum 2013; And the twelfth “Kurikulum Merdeka” (2022). None other than the occurrence of various kinds of changes that are for the sake of realizing the goals of national education. The curriculum is also a very important organ in the body of education and has a very important role in determining the progress of education in Indonesia. This study aims to analyze the strengths and weaknesses of the “Kurikulum Merdeka” in primary drive schools, Wonosamodro District, Boyolali Regency. The method in this research is qualitative through a case study approach. The research shows the following results: there are several advantages of the “Kurikulum Merdeka” in “Sekolah Penggerak”, including: (1) Improving the quality of learning outcomes within 3 years; (2) Improving the ability and qualifications of school principals and educators; (3) Acceleration of school digitization (received 16 chromebooks); (4) Ability to act as a catalyst for change in other educational units; (5) Accelerating the achievement of Pancasila student profiles; (6) receive intensive assistance; (7) Obtaining additional budget in the form of BOS Performance for 3 years with a nominal value of Rp80,000,000,-/year. The weaknesses are (1) in terms of implementing the curriculum it cannot be fully implemented; (2) lack of human resources and an unstructured system (shortage of PAI & PJOK teachers); (3) The facilities and infrastructures that are less adequate. Pendidikan tidak bisa dibatasi oleh ruang dan waktu seperti yang dikatakan Ki Hajar Dewantara: “Siapapun bisa menjadi guru dan dimanapun bisa menjadi kelas”. Pendidikan akan terus mengalami perkembangan seiring dengan perubahan atau kemajuan zaman. Sejak awal kemerdekaan hingga saat ini, kurikulum di Indonesia telah mengalami 12 kali perubahan, yang pertama Kurikulum 1947; Kurikulum kedua tahun 1952; Kurikulum ketiga tahun 1964; Kurikulum keempat tahun 1968; Kurikulum Kelima 1975; kurikulum keenam CBSA 1984; Kurikulum ketujuh tahun 1994; Kurikulum kedelapan tahun 1999; Kurikulum Kesembilan 2004 (CBSA); Kesepuluh Kurikulum 2006 (KTSP); Kurikulum Kesebelas 2013; Dan yang kedua belas “Kurikulum Merdeka” (2022). Tidak lain adalah terjadinya berbagai macam perubahan demi terwujudnya tujuan pendidikan nasional. Kurikulum juga merupakan organ yang sangat penting dalam tubuh pendidikan dan mempunyai peranan yang sangat penting dalam menentukan kemajuan pendidikan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelebihan dan kelemahan “Kurikulum Merdeka” di sekolah dasar berkendara Kecamatan Wonosamodro Kabupaten Boyolali. Metode dalam penelitian ini adalah kualitatif melalui pendekatan studi kasus. Penelitian menunjukkan hasil sebagai berikut: terdapat beberapa keunggulan Kurikulum Merdeka dalam “Sekolah Penggerak”, antara lain: (1) Meningkatkan kualitas hasil pembelajaran dalam waktu 3 tahun; (2) Peningkatan kemampuan dan kualifikasi kepala sekolah dan pendidik; (3) Percepatan digitalisasi sekolah (menerima 16 chromebook); (4) Kemampuan menjadi katalisator perubahan pada satuan pendidikan lainnya; (5) Percepatan pencapaian profil pelajar Pancasila; (6) mendapat pendampingan intensif; (7) Memperoleh tambahan anggaran berupa BOS Kinerja selama 3 tahun dengan nilai nominal Rp80.000.000,-/tahun. Kelemahannya adalah (1) dari segi implementasi kurikulum belum dapat dilaksanakan secara maksimal; (2) kurangnya sumber daya manusia dan sistem yang tidak terstruktur (kekurangan guru PAI & PJOK); (3) Sarana dan prasarana yang kurang memadai.
ANALYSIS OF KURIKULUM MERDEKA IN SEKOLAH PENGGERAK Ali Muckromin; Anam Sutopo; Yulia Maftuhah Hidayati; Choiriyah Widyasari
Jurnal Cakrawala Pendas Vol. 9 No. 4 (2023)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jcp.v9i4.5445

Abstract

Education cannot be limited by space and time as Ki Hajar Dewantara said: "anyone can become a teacher and anywhere can be a class". Education will continue to experience development along with the changes or progress of the times. Since the beginning of independence until now, the curriculum in Indonesia has undergone 12 changes, the first Curriculum 1947; the second Curriculum 1952; the third Curriculum 1964; the fourth Curriculum 1968; the the fifth Curriculum 1975; the sixth curriculum CBSA 1984; the seventh Curriculum 1994; the eighth Curriculum 1999; the ninth Curriculum 2004 (CBSA); the tenth Curriculum 2006 (KTSP); the eleventh Curriculum 2013; And the twelfth “Kurikulum Merdeka” (2022). None other than the occurrence of various kinds of changes that are for the sake of realizing the goals of national education. The curriculum is also a very important organ in the body of education and has a very important role in determining the progress of education in Indonesia. This study aims to analyze the strengths and weaknesses of the “Kurikulum Merdeka” in primary drive schools, Wonosamodro District, Boyolali Regency. The method in this research is qualitative through a case study approach. The research shows the following results: there are several advantages of the “Kurikulum Merdeka” in “Sekolah Penggerak”, including: (1) Improving the quality of learning outcomes within 3 years; (2) Improving the ability and qualifications of school principals and educators; (3) Acceleration of school digitization (received 16 chromebooks); (4) Ability to act as a catalyst for change in other educational units; (5) Accelerating the achievement of Pancasila student profiles; (6) receive intensive assistance; (7) Obtaining additional budget in the form of BOS Performance for 3 years with a nominal value of Rp80,000,000,-/year. The weaknesses are (1) in terms of implementing the curriculum it cannot be fully implemented; (2) lack of human resources and an unstructured system (shortage of PAI & PJOK teachers); (3) The facilities and infrastructures that are less adequate. Pendidikan tidak bisa dibatasi oleh ruang dan waktu seperti yang dikatakan Ki Hajar Dewantara: “Siapapun bisa menjadi guru dan dimanapun bisa menjadi kelas”. Pendidikan akan terus mengalami perkembangan seiring dengan perubahan atau kemajuan zaman. Sejak awal kemerdekaan hingga saat ini, kurikulum di Indonesia telah mengalami 12 kali perubahan, yang pertama Kurikulum 1947; Kurikulum kedua tahun 1952; Kurikulum ketiga tahun 1964; Kurikulum keempat tahun 1968; Kurikulum Kelima 1975; kurikulum keenam CBSA 1984; Kurikulum ketujuh tahun 1994; Kurikulum kedelapan tahun 1999; Kurikulum Kesembilan 2004 (CBSA); Kesepuluh Kurikulum 2006 (KTSP); Kurikulum Kesebelas 2013; Dan yang kedua belas “Kurikulum Merdeka” (2022). Tidak lain adalah terjadinya berbagai macam perubahan demi terwujudnya tujuan pendidikan nasional. Kurikulum juga merupakan organ yang sangat penting dalam tubuh pendidikan dan mempunyai peranan yang sangat penting dalam menentukan kemajuan pendidikan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelebihan dan kelemahan “Kurikulum Merdeka” di sekolah dasar berkendara Kecamatan Wonosamodro Kabupaten Boyolali. Metode dalam penelitian ini adalah kualitatif melalui pendekatan studi kasus. Penelitian menunjukkan hasil sebagai berikut: terdapat beberapa keunggulan Kurikulum Merdeka dalam “Sekolah Penggerak”, antara lain: (1) Meningkatkan kualitas hasil pembelajaran dalam waktu 3 tahun; (2) Peningkatan kemampuan dan kualifikasi kepala sekolah dan pendidik; (3) Percepatan digitalisasi sekolah (menerima 16 chromebook); (4) Kemampuan menjadi katalisator perubahan pada satuan pendidikan lainnya; (5) Percepatan pencapaian profil pelajar Pancasila; (6) mendapat pendampingan intensif; (7) Memperoleh tambahan anggaran berupa BOS Kinerja selama 3 tahun dengan nilai nominal Rp80.000.000,-/tahun. Kelemahannya adalah (1) dari segi implementasi kurikulum belum dapat dilaksanakan secara maksimal; (2) kurangnya sumber daya manusia dan sistem yang tidak terstruktur (kekurangan guru PAI & PJOK); (3) Sarana dan prasarana yang kurang memadai.