Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

KEMANDIRIAN PUPUK SEBAGAI KUNCI KEBERHASILAN MEMBANGUN PERTANIAN ORGANIK DARSOWIYONO, SUPRIYADI; Nufus, Malihatun; Harati, Sri; Purwanto, Purwanto; Masyithoh, Galuh
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 4 (2021): Peran Perguruan Tinggi dan Dunia Usaha dalam Mewujudkan Pemulihan dan Resiliensi Masya
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (586.123 KB) | DOI: 10.37695/pkmcsr.v4i0.1115

Abstract

Pada era teknologi 4.0, perkembangan pertanian organik juga dituntut untuk dapat mengadopsi konsep konsep baru, salah satunya adalaha pertanian presisi. Pertanian presisi (Precision farming) adalah suatu teknik budidaya yang akurat, tertakar dan terukur ditingkat on farm. Pertanian presisi adalahpertania yang efektif, efsisien terkontrol dan terencana. Salah satu komonen pertanian presisi pada teknik budidaya padi organik adalah pupuk organik cair (POC). Dengan demikian pendampingan pengembangan Desa Organik Mandiri Pupuk oleh Perguruan Tinggi sangat diperlukan. Permasalahanyang dihadapi oleh petani padi organik adalah dalam mencukupi ketersedin sarana produksi, salah satunya adalah ketersedian pupuk organik cair (POC). Tujua pengabdian adalah mengembangkan pupuk organik cair (POC) untuk memenuhi kebutuhan anggota kelompok tani padi organik. Solusi untukmemenuhi kebutuhan POC adalah kelompok tani harus membuat sendiri POC yang memenuhi standart. Target luaran yang akan dicapai adalah memproduksi pupuk organik cair untuk seluruh anggota kelompok, sehingga kelompok tani menjadi mandiri dalam menuhi kebutuhan pupuk.
THE DIVERSITY OF BIRDS AND ATTRACTIVE BIRDS AS AVITOURISM OBJECTS IN GUNUNG BROMO UNIVERSITY FOREST, KARANGANYAR, CENTRAL JAVA Aditya Aditya; Sugiyarto Sugiyarto; Sunarto Sunarto; Galuh Masyithoh; Ike Nurjuita Nayasilana
ZOO INDONESIA Vol 29, No 1 (2020): Juli 2020
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v29i1.3980

Abstract

The Gunung Bromo University Forest is a former tourism area which must be revitalized, one of them is to be an avitourism object. However, the information of birds diversity is still lacking. The research aimed to determine bird diversity and attractive birds as avitourism object in Gunung Bromo University Forest. The bird observation was con-ducted using the encounter rates method in six line transects. The quantitative and qualitative descriptive analysis was used to describe bird diversity and attractive birds as avitourism objects. The research resulted 44 species of birds belong to 26 families were found in the area. The diversity of birds belongs to moderate category with Shannon-Wiener Index of 2.75. The relative abundance of birds were categorized into one species of abundant, seven species of common, eight species of frequent, and 28 species of uncommon. Attractive birds in Gunung Bromo University Forest as avitourism object were three species of raptor, six species of endemic birds, five species of high conservation value birds, and other attractive birds such as colorful birds and songbirds. The bird community in Gunung Bromo University Forest has the potential as an object of avitourism with some opportunities and obstacles.
THE DIVERSITY OF BIRDS AND ATTRACTIVE BIRDS AS AVITOURISM OBJECTS IN GUNUNG BROMO UNIVERSITY FOREST, KARANGANYAR, CENTRAL JAVA Aditya Aditya; Sugiyarto Sugiyarto; Sunarto Sunarto; Galuh Masyithoh; Ike Nurjuita Nayasilana
ZOO INDONESIA Vol 29, No 1 (2020): Juli 2020
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v29i1.3980

Abstract

The Gunung Bromo University Forest is a former tourism area which must be revitalized, one of them is to be an avitourism object. However, the information of birds diversity is still lacking. The research aimed to determine bird diversity and attractive birds as avitourism object in Gunung Bromo University Forest. The bird observation was con-ducted using the encounter rates method in six line transects. The quantitative and qualitative descriptive analysis was used to describe bird diversity and attractive birds as avitourism objects. The research resulted 44 species of birds belong to 26 families were found in the area. The diversity of birds belongs to moderate category with Shannon-Wiener Index of 2.75. The relative abundance of birds were categorized into one species of abundant, seven species of common, eight species of frequent, and 28 species of uncommon. Attractive birds in Gunung Bromo University Forest as avitourism object were three species of raptor, six species of endemic birds, five species of high conservation value birds, and other attractive birds such as colorful birds and songbirds. The bird community in Gunung Bromo University Forest has the potential as an object of avitourism with some opportunities and obstacles.
KEANEKARAGAMAN JENIS IKAN DAN HABITATNYA DI PERAIRAN KAWASAN HUTAN DENGAN TUJUAN KHUSUS (KHDTK) GUNUNG BROMO, KARANGANYAR, JAWA TENGAH Ade Lukman Mubarik; Rahma Nabila Irsiananda Sutarqo; Sugiyarto Sugiyarto; Galuh Masyithoh; Ike Nurjuita Nayasilana
ZOO INDONESIA Vol 31, No 1 (2022): Juli 2022
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v31i1.4166

Abstract

Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Gunung Bromo dalam pengelolaannya wajib melaksanakan perlindungan biodiversitas yang ada di dalamnya. Pada kawasan tersebut terdapat aliran sungai yang menjadi habitat berbagai jenis ikan. Oleh karena itu, perlu dilakukan pendataan keanekaragaman ikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keanekaragaman ikan, nilai fisikokimiawi air, dan hubungan antara keduanya. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober sampai November 2020 di Sungai KHDTK Gunung Bromo. Stasiun penelitian terdiri dari tiga stasiun (I, II, III) yang didasarkan perbedaan tipe habitat (vegetasi riparian dan substrat dasar sungai). Pengambilan sampel ikan menggunakan bubu, pancing, dan serok. Sampling ikan dilakukan dua hari per minggu di setiap stasiun, kemudian ikan diidentifikasi dan dicatat jenis serta jumlah. Karakteristik fisikokimiawi air berupa suhu, lebar, dan kedalaman sungai, kecepatan arus, pH, oksigen terlarut, serta total padatan terlarut diukur secara in situ setiap seminggu sekali. Data jenis ikan dianalisis menggunakan indeks keanekaragaman, kemerataan, dan dominansi. Hubungan keanekaragaman dan fisikokimia air dianalisis statistik menggunakan koefisien korelasi Pearson. Ikan yang ditemukan dalam penelitian ini sebanyak lima jenis dengan tingkat keanekaragaman berkisar antara 0,64 – 0,86 dengan nilai tertinggi di stasiun III dan terendah di stasiun I. Sungai KHDTK Gunung Bromo memiliki lebar 4,70 - 7,37 meter, kedalaman 0,42 - 1,15 meter kecepatan arus 0,08 - 0,21 m/s, suhu 27,62 - 31,09°C, oksigen terlarut 7,16 - 8,55 ppm, total padatan terlarut 825,80 - 995,4 mg/l, dan pH 7,18 - 7,34. Nilai-nilai tersebut masuk dalam kisaran optimum bagi ikan yang ditemukan. Analisis koefisien korelasi Pearson menunjukkan bahwa faktor abiotik tidak berkorelasi secara signifikan terhadap keanekaragaman ikan.
KEANEKARAGAMAN JENIS IKAN DAN HABITATNYA DI PERAIRAN KAWASAN HUTAN DENGAN TUJUAN KHUSUS (KHDTK) GUNUNG BROMO, KARANGANYAR, JAWA TENGAH Ade Lukman Mubarik; Rahma Nabila Irsiananda Sutarqo; Sugiyarto Sugiyarto; Galuh Masyithoh; Ike Nurjuita Nayasilana
ZOO INDONESIA Vol 31, No 1 (2022): Juli 2022
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v31i1.4166

Abstract

Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Gunung Bromo dalam pengelolaannya wajib melaksanakan perlindungan biodiversitas yang ada di dalamnya. Pada kawasan tersebut terdapat aliran sungai yang menjadi habitat berbagai jenis ikan. Oleh karena itu, perlu dilakukan pendataan keanekaragaman ikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keanekaragaman ikan, nilai fisikokimiawi air, dan hubungan antara keduanya. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober sampai November 2020 di Sungai KHDTK Gunung Bromo. Stasiun penelitian terdiri dari tiga stasiun (I, II, III) yang didasarkan perbedaan tipe habitat (vegetasi riparian dan substrat dasar sungai). Pengambilan sampel ikan menggunakan bubu, pancing, dan serok. Sampling ikan dilakukan dua hari per minggu di setiap stasiun, kemudian ikan diidentifikasi dan dicatat jenis serta jumlah. Karakteristik fisikokimiawi air berupa suhu, lebar, dan kedalaman sungai, kecepatan arus, pH, oksigen terlarut, serta total padatan terlarut diukur secara in situ setiap seminggu sekali. Data jenis ikan dianalisis menggunakan indeks keanekaragaman, kemerataan, dan dominansi. Hubungan keanekaragaman dan fisikokimia air dianalisis statistik menggunakan koefisien korelasi Pearson. Ikan yang ditemukan dalam penelitian ini sebanyak lima jenis dengan tingkat keanekaragaman berkisar antara 0,64 – 0,86 dengan nilai tertinggi di stasiun III dan terendah di stasiun I. Sungai KHDTK Gunung Bromo memiliki lebar 4,70 - 7,37 meter, kedalaman 0,42 - 1,15 meter kecepatan arus 0,08 - 0,21 m/s, suhu 27,62 - 31,09°C, oksigen terlarut 7,16 - 8,55 ppm, total padatan terlarut 825,80 - 995,4 mg/l, dan pH 7,18 - 7,34. Nilai-nilai tersebut masuk dalam kisaran optimum bagi ikan yang ditemukan. Analisis koefisien korelasi Pearson menunjukkan bahwa faktor abiotik tidak berkorelasi secara signifikan terhadap keanekaragaman ikan.
IDENTIFIKASI KERUSAKAN POHON DI KAMPUS KENTINGAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET Masyithoh, Galuh; Pertiwi, Yus Andhini Bhekti; Rahmadwiati, Rissa; Apriyanto, Dwi; Nayasilana, Ike Nurjuita; Wicaksono, Rezky Lasekti
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 21, No 1 (2023): BIOTIKA JUNI 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v21i1.42797

Abstract

Universitas Sebelas Maret (UNS) sebagai kampus yang dijuluki sebagai kampus hijau (Green Campus) dengan berbagai jenis pohon di dalamnya tentunya memiliki fungsi ekologis yang tinggi. Keberadaan tegakan perlu dievaluasi untuk mengetahui kondisi kesehatan tegakan yang berada di kawasan Green Campus UNS. Evaluasi tersebut dilakukan sebagai upaya mitigasi untuk meminimalisasi terjadinya pohon tumbang. Pemantauan kesehatan hutan atau Forest Health Monitoring (FHM) adalah metode untuk menentukan status, perubahan dan kecenderungan yang terjadi mengenai kondisi suatu ekosistem hutan pada suatu waktu dan dinilai berdasarkan tujuan dan fungsi suatu hutan dan kawasan hutan. Pada metode FHM, identifikasi kerusakan pohon dilakukan dengan memberikan kode yang menggambarkan lokasi kerusakan pohon (bagian pohon yang mengalami kerusakan), tipe kerusakan pohon, dan tingkat keparahan/kerusakan pada pohon. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan 3978 individu dari 116 jenis tumbuhan di Kampus Kentingan UNS. Terdapat 10 jenis yang dapat ditemukan pada seluruh area kampus, yaitu Pterocarpus indicus, Ficus sp., Delonix regia, Polyathia longifolia, Tectona grandis, Filicium decipiens, Terminaila catappa, Swietenia macrophylla, Mangifera indica, dan Mimusops elengi. Berdasarkan klasifikasi kesehatan pohon, sebanyak 90,98% (n = 33619) tegakan termasuk kelas sehat, 8,27% (n = 329) tegakan termasuk kelas kerusakan ringan, dan 0,75% (n = 30) tegakan termasuk kelas kerusakan sedang. Bagian tumbuhan yang banyak mengalami kerusakan adalah cabang, batang bagian bawah, dan daun. Tipe kerusakan yang banyak ditemukan adalah cabang patah dan mati, luka terbuka, kanker, mati pucuk, dan klorosis.
Pendampingan Integrasi Kacang Sacha Inchi untuk Mendukung Pengelolaan Hutan Lestari di KTH Sumber Wono, Banyurip, Jenar, Sragen DARSOWIYONO, SUPRIYADI; Purwanto, Purwanto; Rosariastuti, MMA Retno; Hartati, Sri; Masyithoh, Galuh; Nufus, Malihatun; Aryani, Widya
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 6 (2023): INOVASI PERGURUAN TINGGI & PERAN DUNIA INDUSTRI DALAM PENGUATAN EKOSISTEM DIGITAL & EK
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37695/pkmcsr.v6i0.1863

Abstract

Desa Banyurip merupakan salah satu desa yang termasuk dalam zona merah penduduk miskin. Desa Banyurip berada di kawasan sekitar hutan jati yang dikelola oleh BKPH Tangen, KPH Surakarta. Hal ini menyebabkan banyak masyarakat yang mengandalkan penghasilkan terhadap hasil hutan. Seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya jasa lingkungan yang dibentuk oleh hutan, maka masyrakat menerapkan pengelolaan hutan lestari melalui agroforestri. Pada pola agroforestri perlu dilakukan integrasi tanaman bawah tegakan yang memiliki nilai ekonomi tinggi, sehingga hutan dapat menghasilkan kayu keras, tanaman pertanian, sekaligus pakan ternak. LMDH dan KTH Sumber Wono Desa Banyurip telah merintis introduksi tanaman Sacha Inchi (Plukenetia volubilis) di bawah tegakan jati Perum Perhutani dengan sistem kemitraan. Biji yang dihasilkan merupakan superfood yang kaya vitamin, omega 3, omega 6 dan omega 9, sehingga memiliki harga yang tinggi. Tujuan dan manfaat budidaya Sacha Inchi yaitu memperoleh manfaat ekonomi yang tinggi dan hutan menjadi lestari. Oleh karena itu, pendampingan integrasi kacang sacha inchi dapat menjadi salah satu strategi dalam penyelamatan hutan dan meningkatkan perekonomian masyarakat desa. Berdasarkan diskusi dengan LMDH dan KTH Sumber Wono, diperlukan pendampingan budidaya sacha inchi dan kelembagaan pada aspek-aspek on farm dan off farm.Kabupaten Sragen memiliki jumlah penduduk miskin sebanyak 12,792% dari jumlah total penduduknya. Desa Banyurip merupakan salah satu desa yang termasuk dalam zona merah penduduk miskin. Desa Banyurip berada di kawasan sekitar hutan jati yang dikelola oleh BKPH Tangen, KPH Surakarta. Hal ini menyebabkan banyak masyarakat yang mengandalkan penghasilkan terhadap hasil hutan. Seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya jasa lingkungan yang dibentuk oleh hutan, maka masyrakat dapat menerapkan pengelolaan hutan lestari melalui agroforestri. Agroforestri adalah istilah untuk sistem dan teknik pengelolaan lahan yang menggabungkan tanaman keras berkayu pada lahan yang sama dengan tanaman dan hewan pertanian. Pada pola agroforestri perlu dilakukan integrasi tanaman bawah tegakan yang memiliki nilai ekonomi tinggi, sehingga hutan dapat menghasilkan kayu keras, tanaman pertanian, sekaligus pakan ternak. LMDH dan KTH Sumber Wono Desa Banyurip telah merintis introduksi tanaman Sacha Inchi (Plukenetia volubilis) di bawah tegakan jati Perum Perhutani dengan sistem kemitraan. Biji yang dihasilkan merupakan superfood yang kaya vitamin, omega 3, omega 6 dan omega 9, sehingga memiliki harga yang tinggi. Tujuan dan manfaat budidaya Sacha Inchi yaitu memperoleh manfaat ekonomi yang tinggi dan hutan menjadi lestari. Oleh karena itu, pendampingan integrasi kacang sacha inchi dapat menjadi salah satu strategi dalam penyelamatan hutan dan meningkatkan perekonomian masyarakat desa.
ETHNOBOTANICAL STUDY OF MEDICINAL PLANTS BASED ON LOCAL KNOWLEDGE IN SEDAYU VILLAGE, JUMANTONO, KARANGANYAR Agustina, Ana; Rahmatika, Aulia; Masyithoh, Galuh
BIODIVERS - BIOTROP Science Magazine Vol. 3 No. 1 (2024): BIODIVERS (BIOTROP Science Magazine)
Publisher : SEAMEO BIOTROP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56060/bdv.2024.3.1.2169

Abstract

Medicinal plants are one of the important aspects of traditional medicine development. The utilization of medicinal plants is a very valuable local wisdom and a culture that needs to be investigated more thoroughly so that knowledge about it does not become extinct. The purpose of this study is to determine the plant species that were used, the parts of plants that were used, and how to process them. This research was conducted in May 2023 in Sedayu Village, Jumantono District, Karanganyar Regency. The informants of this research were the people of Sedayu Village. The method used was snowball sampling which focuses on the community of medicinal plant users. The collected data was descriptively qualitatively and quantitatively assessed. The results showed that there were 52 species of medicinal plants used by the Sedayu Village community including ginger, kencur, turmeric, red betel, and ciplukan. The most utilized part of medicinal plants was the leaves and the most common processing method was boiling and drinking. With this information, it can be a reference for the village government and the community regarding how important a type of plant as a medicine to be preserved.
Herpetofauna Community in The Karst Area of Pucung Village, Eromoko District, Wonogiri Regency Muhammad Fakhri Aji Syahputra; Galuh Masyithoh; Ike Nurjuita Nayasilana
Jurnal Biodjati Vol 10 No 1 (2025): May
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/biodjati.v10i1.44404

Abstract

Pucung Village is located in Eromoko District, Wonogiri Regency, part of the Gunung Sewu karst area with diverse biodiversity, including herpetofauna (amphibians and reptiles). Limited information on the distribution patterns and abundance of herpetofauna is the focus of this study. This study examined herpetofauna diversity across three habitat types (river, forest, and field). Using Visual Encounter Surveys (VES) and line transects, 455 individuals from 19 species (10 families, 2 orders) were recorded. Forests exhibited the highest species diversity (H’ = 2.152 in Mijil, 1.873 in Dunggudel) and richness (R = 2.962 in Mijil, 2.392 in Dunggudel), attributed to structural complexity and niche availability. Fields showed high abundance but low diversity, dominated by Fejervarya cancrivora and Fejervarya limnocharis, indicating anthropogenic influence. River habitats displayed intermediate diversity, with variability linked to water quality and disturbance levels. Species similarity between habitats was moderate (53%), with the highest overlap between river and field habitats (72.73% in Mijil). Dispersed distribution patterns were observed, driven by water availability during the rainy season. Canonical Correspondence Analysis (CCA) revealed that water pH, temperature, and humidity significantly influenced herpetofauna presence, particularly for amphibians in field habitats. Future research should incorporate functional diversity metrics and long-term monitoring to assess climate and land-use effects.
Potential Plant Utilization in the Agroforestry System of Tectona grandis (Teak) and Plukenetia volubilis (Sacha inchi) H P, Reggina; Masyithoh, Galuh; Supriyadi, Supriyadi; Novarika, Risa; Murhofiq, Sigit
Agro Bali : Agricultural Journal Vol 8, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Panji Sakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37637/ab.v8i2.2275

Abstract

Agroforestry systems represent an approach to forest management that considers both ecological and economic functions. The system aims to optimize land use by integrating forest and agricultural components, thereby enhancing the economic and ecological benefits of the forest area. Consequently, information regarding the potential of agroforestry is essential for designing an effective management strategy. One location implementing agroforestry systems is Banyurip Village, which features an uncommon combination of key plants, namely Tectona grandis and Plukenetia volubilis. Banyurip has been selected as the research location due to its unique circumstances; most other locations primarily focus on the cultivation of sacha inchi plants, and there is a notable absence of agroforestry system applications. This presents an opportunity to explore and assess the potential benefits of integrating agroforestry practices in this area. The aims of this research is to provide information about the potential utilization of plant species present in the study area, utilizing data collection methods through interviews. Informants were selected purposively based on the criteria of farmers practicing an agroforestry system that focuses on a combination of teak and sacha inchi in production forest areas. Six farmers participated as research informants. This research was conducted in production forests managed by Perum Perhutani, employing a methodology that includes an exploratory descriptive approach accompanied by field observations and interviews. The results identified sacha inchi as the primary supporting plant species and 11 other cultivated plant species, with a total of 37 associated plant species, consisting of 10 woody plant species and 27 non-woody plant species. The identified plant types possess economic and ecological potential, such as teak, which serves as an oxygen producer, and sacha inchi, which holds significant economic value due to its oil.