Muthia Cenderadewi
Fakultas Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan, Universitas Mataram, Mataram, Indonesia

Published : 16 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Faktor-faktor yang mempengaruhi Tingkat Pemahaman Informasi Medis pada Pasien Poli THT Di Rumah Sakit Bhayangkara Mataram Farahiya, Maya; Kadriyan, Hamsu; Cenderadewi, Muthia
Jurnal Kedokteran Vol 6 No 2.1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang : Salah satu kompetensi yang harus dikuasai dokter adalah komunikasi dokter-pasien dalam profesi kedokteran. Pasien yang mendapatkan informasi medis yang lengkap dapat menentukan keberhasilan dalam membantu penyelesaian masalah kesehatan pasien. Namun, pemahaman informasi medis yang diterima pasien seringkali berbeda sehingga pasien merasa tidak mendapatkan pelayanan yang memuaskan. Oleh sebab itu, penelitian ini mencoba mencari faktor apa saja yang dapat mempengaruhi tingkat pemahaman medis oleh pasien poli THT di Rumah Sakit Bhayangkara Mataram. Metode : Sebanyak 50 pasien rawat jalan yang datang ke poli THT di Rumah Sakit Bhayangkara Mataram yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dipilih berdasarkan teknik consecutive sampling menjadi sampel dalam penelitian ini. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Analisa statistik menggunakan analisa deskriptif, analisa bivariat menggunakan metode chi square, dan analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik untuk menguji kekuatan masing-masing faktor resiko. Hasil : Persentase pasien dengan tingkat pemahaman baik adalah 58% (29 orang) dan persentase pasien dengan tingkat pemahaman kurang baik adalah 42% (21 orang). Penelitian menunjukkan bahwa terdapat satu faktor yang mempengaruhi tingkat pemahaman informasi medis (p<0,05). Kesimpulan : Faktor pasien didapatkan mempengaruhi tingkat pemahaman pasien terhadap informasi medis.
KARAKTERISTIK SPONDILITIS TUBERCULOSIS DI RSUP NTB JANUARI - DESEMBER 2012 E Hagni Wardoyo; Muthia Cenderadewi; Hadian Rahman; Novia Andansari Putri; Dyah Purnaning
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol 2, No 2 (2015): THE INDONESIAN JOURNAL OF INFECTIOUS DISEASES
Publisher : Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr. Sulianti Saroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.098 KB) | DOI: 10.32667/ijid.v2i2.23

Abstract

Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh karakteristik spondilitis tuberculosis di RSUP NTB selama tahun 2012. Penelitian ini dilakukan dengan desain penelitian observasional yang diambil dari data rekam medik dengan klasifikasi diagnosis menurut ICD 10 A18.10 (tuberculosis of the spine). Sepanjang tahun 2012 terdapat 19 kasus spondilitis tuberculosis (8 perempuan, 11 laki-laki). Rentang usia dimulai dari usia 9-60 tahun. Seluruh subyek memiliki penyakit/gejala penyerta: TB paru (4/19), anemia (2/19), gizi buruk (3/19), sepsis (1/19), meningoensefalitis (1/19), fraktur kompresi vertebra (8/19). Tindakan operasi laminektomi dilakukan pada 15 subyek dan dilanjutkan pemberian obat anti tuberculosis. Kasus didominasi oleh laki-laki. Seluruh kasus spondylitis TB di NTB memiliki penyakit penyerta dengan kasus tertinggi fraktur kompresi vertebra. Sebagian besar kasus (15/19) memerlukan tindakan laminektomi. Abstract: The objective of the study is to describe clinical characteristic in West Nusa Tenggara Province Referral Hospital in 2012. Observational design was established using hospital’s record with ICD 10 codes A18.10 (tuberculosis of the spine). During 2012 found 19 cases of spondylitis tuberculosis (8 female, 11 male). Age interval between 9-60 years old. The accompanying conditions are: lung TB (4/19), anemia (2/19), severe malnutrition (3/19), sepsis (1/19), meningoencephalitis (1/19), compression fracture of the vertebrae (8/19). Laminectomy was done to 15 subject and antituberculosis drugs. The majority cases are male, all cases having accompanying conditions with compression fracture of vertebrae as most frequent condition. Majority of cases are need laminectomy.
Persepsi dan Kesiapan Guru terhadap Pendidikan Kesehatan Mental: Studi Survei Awal di Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa Hamsu Kadriyan; Gunawan Gunawan; Muthia Cenderadewi; Ni Made Yeni Suranti; Marisa Syavitri Dilaga; Muhammad Hilmy As Shiddiq; Lalu Hizrian Zikri Hamdi
Jurnal Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat Vol. 9 No. 2 (2026): Mei
Publisher : FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppm.v9i2.12252

Abstract

Kesehatan mental merupakan salah satu aspek penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan mendukung perkembangan peserta didik. Guru memiliki peran strategis dalam mengenali, memahami, dan memberikan dukungan awal terhadap berbagai permasalahan kesehatan mental yang dialami siswa. Namun, keterbatasan pengetahuan dan keterampilan guru dalam bidang kesehatan mental masih menjadi tantangan di lingkungan sekolah. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diawali dengan survei kebutuhan sebagai dasar penyusunan program pelatihan edukasi kesehatan mental bagi guru di Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa. Survei dilakukan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif terhadap 47 guru dari jenjang TK/PAUD, SD/MI, dan SMP/MTs. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mencakup aspek pemahaman dasar kesehatan mental, pengalaman guru dalam menangani permasalahan psikologis siswa, serta kebutuhan pelatihan kesehatan mental. Hasil survei menunjukkan bahwa guru memiliki persepsi positif terhadap pentingnya kesehatan mental di sekolah, ditunjukkan oleh tingginya skor pada aspek lingkungan belajar yang aman dan suportif (3,69) serta peran guru dalam mendukung kesehatan mental siswa (3,62). Meskipun demikian, guru masih mengalami kesulitan dalam mengenali dan menangani permasalahan emosional siswa. Selain itu, terdapat kebutuhan yang tinggi terhadap pelatihan kesehatan mental, khususnya terkait strategi penanganan siswa dengan masalah emosional, komunikasi empatik, dan manajemen stres. Temuan ini menjadi dasar dalam merancang program pelatihan kesehatan mental yang relevan dan aplikatif guna meningkatkan kapasitas guru dalam mendukung kesejahteraan psikologis peserta didik serta menciptakan lingkungan sekolah yang sehat dan inklusif.
Hubungan Berat Badan Lahir dan Panjang Badan Lahir dengan Kejadian Stunting pada Balita di Salah Satu Puskesmas Wilayah Pesisir Kabupaten Lombok Barat Siti Rosidah; Muthia Cenderadewi
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 8 (2026): Volume 8 Nomor 8 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i8.25689

Abstract

ABSTRACT Stunting is an irreversible linear growth disorder caused by chronic nutritional deficiency during the first 1,000 days of life. Low birth weight (LBW) and short birth length are important risk factors potentially affecting linear growth in children. To analyze the association of birth length and birth weight with stunting in children under five at a Coastal Community Health Center in West Lombok Regency. An observational analytic study with a cross-sectional design was conducted. A total of 50 children under five were selected from posyandu records in the working area of a coastal community health center in West Lombok Regency using purposive sampling. The independent variables were birth weight and birth length; the dependent variable was stunting status based on the HAZ index (Z-score -2 SD). Bivariate analysis was conducted using Chi-Square test. Of 50 subjects, 26 (52.0%) were stunted. The prevalence of LBW was 32.0% and short birth length was 34.0%. All children with LBW experienced stunting (100%). There was a statistically significant association between birth weight and stunting (χ²=18.983; p0.0001) and between birth length and stunting (χ²=20.952; p0.0001). Low birth weight and short birth length are associated with the occurrence of stunting in children under five in the working area of a coastal community health center in West Lombok Regency. Keywords: Birth Length, Birth Weight, Children Under Five, Nutritional Status, Stunting.  ABSTRAK Stunting merupakan gangguan pertumbuhan linier yang bersifat ireversibel akibat defisiensi gizi kronik pada 1.000 hari pertama kehidupan. Berat badan lahir rendah (BBLR) dan panjang badan lahir (PBL) pendek merupakan faktor risiko penting yang berpotensi memengaruhi pertumbuhan linear anak.  Menganalisis hubungan panjang badan lahir dan berat badan lahir dengan kejadian stunting pada balita di salah satu Puskesmas Wilayah pesisir Kabupaten Lombok Barat. Penelitian analitik observasional dengan desain potong lintang. Sampel berjumlah 50 balita yang diambil dari data posyandu salah satu Puskesmas Wilayah pesisir Kabupaten Lombok Barat menggunakan teknik purposive sampling. Variabel bebas adalah berat badan lahir dan panjang badan lahir, sedangkan variabel terikat adalah status stunting berdasarkan indeks TB/U (Z-score -2SD). Analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square.  Dari 50 subjek, 26 (52,0%) mengalami stunting. Prevalensi BBLR sebesar 32,0% dan PBL pendek sebesar 34,0%. Seluruh balita dengan BBLR mengalami stunting (100%). Terdapat hubungan bermakna antara berat badan lahir dengan kejadian stunting (χ²=18,983; p0,0001) dan hubungan bermakna antara panjang badan lahir dengan kejadian stunting (χ²=20,952; p0,0001).  Berat badan lahir rendah dan panjang badan lahir pendek berhubungan dengan kejadian stunting pada balita di salah satu Puskesmas Wilayah pesisir Kabupaten Lombok Barat Kata Kunci: Balita, Berat Badan Lahir, Panjang Badan Lahir, Stunting, Status Gizi.
Tren Insidensi Influenza A di Asia Tenggara dalam 10 Tahun Terakhir (2015–2025): Scoping Review Sulhiani Anggraini; Nila Febriana Iswara; Muthia Cenderadewi
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 7 (2026): Volume 8 Nomor 7 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i7.26602

Abstract

ABSTRACT Influenza A is an emerging and re-emerging infectious disease with pandemic potential, contributing significantly to global morbidity and mortality. Southeast Asia is considered a hotspot due to high population density, cross-border mobility, live poultry markets, intense human–animal interactions, and tropical–subtropical climate conditions. Despite the 2009 H1N1 pandemic demonstrating its pandemic potential, a comprehensive synthesis of Influenza A incidence in Southeast Asia over the past decade (2015–2025) remains limited. To synthesize available evidence on the incidence, circulation patterns, and epidemiological trends of Influenza A in Southeast Asia from 2015 to 2025 within the context of Global Health Security. A scoping review was conducted in 2025 following PRISMA guidelines. Literature searches were performed in PubMed, ScienceDirect, Google Scholar, DOAJ, and official WHO FluNet/GISRS databases for the period 2015–2025. Eligible sources included peer-reviewed articles and official surveillance reports in English or Indonesian focusing on Influenza A in Southeast Asia. Editorials, opinion papers, and studies conducted outside the region were excluded. Eight studies met the inclusion criteria. Influenza A circulates year-round in Southeast Asia, with seasonal peaks during high humidity and rainfall periods. Thailand experiences two annual peaks, while Laos shows a late rainy-season peak. Periodic shifts occur between A(H1N1) pdm09 and A(H3N2) due to viral evolution and population immunity. Influenza B also demonstrates alternating Victoria and Yamagata lineage patterns in several countries. Influenza activity significantly declined during 2020–2021 due to COVID-19 non-pharmaceutical interventions, followed by a rebound in 2022–2023, particularly among young children with immunity gaps. Influenza A remains a persistent and dynamic public health threat in Southeast Asia, characterized by year-round circulation and shifting subtype dominance. Strengthened surveillance systems, laboratory capacity, and regional preparedness are essential to enhance pandemic preparedness and Global Health Security. Keywords: Influenza A, Southeast Asia, Global Health Security, Surveillance, Incidence.  ABSTRAK Influenza A merupakan penyakit emerging dan re-emerging dengan potensi pandemi yang berkontribusi signifikan terhadap morbiditas dan mortalitas global. Asia Tenggara menjadi wilayah hotspot karena kepadatan penduduk tinggi, mobilitas lintas batas, pasar unggas hidup, interaksi manusia–hewan, serta iklim tropis–subtropis. Meskipun pandemi H1N1 tahun 2009 menunjukkan potensi pandemi Influenza A, belum terdapat sintesis komprehensif yang mengkaji insidensinya di Asia Tenggara selama periode 2015–2025. Menyintesis bukti ilmiah mengenai insidensi, pola sirkulasi, dan tren epidemiologi Influenza A di Asia Tenggara selama periode 2015–2025 dalam konteks ketahanan kesehatan global.Penelitian ini menggunakan desain scoping review yang dilaksanakan pada tahun 2025 dengan mengikuti pedoman PRISMA. Pencarian literatur dilakukan melalui basis data PubMed, ScienceDirect, Google Scholar, DOAJ, serta laporan resmi WHO FluNet/GISRS untuk periode 2015–2025. Kriteria inklusi meliputi artikel peer-review dan laporan surveilans resmi berbahasa Inggris atau Indonesia yang berfokus pada Influenza A di Asia Tenggara. Editorial, opini, dan studi di luar kawasan dikecualikan. Sebanyak delapan studi memenuhi kriteria inklusi. Influenza A bersirkulasi sepanjang tahun di Asia Tenggara dengan puncak musiman pada periode kelembapan dan curah hujan tinggi. Thailand mengalami dua puncak tahunan, sedangkan Laos menunjukkan puncak pada akhir musim hujan. Dominasi subtipe A(H1N1) pdm09 dan A(H3N2) bergeser secara periodik akibat evolusi virus dan imunitas populasi. Aktivitas influenza menurun signifikan pada 2020–2021 akibat intervensi non-farmasi selama pandemi COVID-19, kemudian meningkat kembali pada 2022–2023, terutama pada anak usia dini yang mengalami kesenjangan imunitas. Influenza A tetap menjadi ancaman kesehatan masyarakat yang dinamis di Asia Tenggara dengan pola sirkulasi sepanjang tahun dan pergeseran dominasi subtipe. Penguatan surveilans, kapasitas laboratorium, dan kesiapsiagaan regional sangat diperlukan untuk mendukung keamanan kesehatan global dan mitigasi potensi pandemi di masa mendatang. Kata Kunci: Influenza A, Asia Tenggara, Keamanan Kesehatan Global, Surveilans, Insidensi.
Gambaran Karakteristik Pasien HIV/AIDS: Tinjauan Retrospektif 2 Tahun Klinik VCT di Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2025 Lalu Alfian Zartadi; Muthia Cenderadewi
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 9 (2026): Volume 8 Nomor 9 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i9.25823

Abstract

ABSTRACT Voluntary Counseling and Testing (VCT) clinics play a critical role in HIV/AIDS control by providing counseling, early detection, and referral for treatment services. Understanding the characteristics of HIV/AIDS patients who access VCT services is essential to identify at-risk populations. This study aimed to examine the characteristics of HIV/AIDS patients attending a VCT clinic in East Lombok Regency, West Nusa Tenggara. This study employed a retrospective descriptive design using medical records of all HIV/AIDS patients who visited the VCT clinic at Dr. R. Soedjono Selong Regional General Hospital from January 2023 to December 2024. The variables included age, sex, occupation, referral source, and risk factors. Descriptive data analysis was conducted using Jamovi software. A total of 157 HIV/AIDS patients accessed VCT services during the 2023–2024 period, with 75 patients recorded in 2023 and 82 in 2024. The majority were male (77%), aged 31–40 years (38%), unmarried (59%), self-employed (73%), and men who have sex with men (MSM) (55%). Most patients were referred from primary health centers (69%). Between 2023 and 2024, the proportion of unmarried patients increased from 38.7% to 43.9%, MSM from 49% to 60%, and hospital referrals decreased from 21% to 3%. The proportion of self-employed patients declined from 81.3% to 65.9%. New occupational categories emerged in 2024, including teachers (4%) and students (5%). The majority of HIV/AIDS patients attending the VCT clinic at Dr. R. Soedjono Selong Hospital were males of productive age with high-risk behaviors. These findings highlight the need to strengthen early detection and targeted education, particularly among high-risk groups. Keywords: Characteristics, HIV/AIDS, VCT Clinic, East Lombok Regency, West Nusa Tenggara Province.  ABSTRAK Klinik Voluntary Counseling and Testing (VCT) berperan penting dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS dengan menyediakan layanan konseling, deteksi dini, dan rujukan pengobatan. Memahami karakteristik pasien HIV/AIDS yang mengakses klinik VCT penting untuk mengidentifikasi populasi berisiko. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien HIV/AIDS pada Klinic VCT di Kabupaten Lombok Timur Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif dengan menggunakan rekam medis seluruh pasien HIV/AIDS yang mengunjungi klinik VCT di RSUD Dr. R. Soedjono Selong periode Januari 2023 hingga Desember 2024. Variabel yang digunakan meliputi usia, jenis kelamin, pekerjaan, sumber rujukan, dan faktor risiko. Analisis data deskriptif dilakukan menggunakan perangkat lunak Jamovi. Hasil: Sebanyak 157 pasien HIV/AIDS mengakses layanan VCT selama periode 2023–2024, dengan 75 pasien pada tahun 2020 dan 82 pada tahun 2024. Proporsi terbesar adalah laki-laki (77%), berusia 31–40 tahun (38%), belum menikah (59%), wiraswasta (73%), dan laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (55%), serta berasal dari rujukan puskesmas (69%). Antara tahun 2023 dan 2024, proporsi pasien belum menikah meningkat dari 38,7% menjadi 43,9%, LSL meningkat dari 49% menjadi 60%, rujukan ke rumah sakit dari 21% menjadi 3%, dan wiraswasta menurun dari 81,3% menjadi 65,9%. Kategori baru, yaitu guru (4%) dan siswa (5%), akan mengakses layanan VCT pada tahun 2024. Mayoritas pasien HIV/AIDS di Klinik VCT RSUD Dr. R. Soedjono Selong adalah laki-laki usia produktif dengan perilaku berisiko. Temuan ini menggarisbawahi perlunya peningkatan deteksi dini dan edukasi, terutama bagi kelompok berisiko. Kata Kunci: Karakteristik, HIV/AIDS, Klinik VCT di Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat.