Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Prosiding Seminar Nasional Program Pengabdian Masyarakat

SEKOLAH TK DAN PAUD PEDULI KESEHATAN GIGI Laelia Dwi Anggraini; Pipiet Okti K; Likky Tiara Alphianti
Prosiding Seminar Nasional Program Pengabdian Masyarakat 2020: 2. Kemitraan dalam Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.479 KB) | DOI: 10.18196/ppm.32.177

Abstract

Menurut WHO, lebih dari 50 juta jam sekolah per tahun hilang sebagai akibat yang ditimbulkan oleh sakit gigi pada anak. Surkesnas melaporkan 62,4% penduduk merasa terganggu pekerjaan/sekolah karena sakit gigi (rata-rata per tahun 3,86%). Anggraini melaporkan anak free karies pada salah satu SD favorit di Yogyakarta adalah 10%. Konsep program ini bertujuan untuk memberi materi kesehatan gigi pada guru TK dan PAUD serta mengajak mereka peduli akan kesehatan gigi murid-muridnya. Metode yang digunakan adalah pemberian materi dengan penyuluhan dan setelahnya mengisi kuesioner. Kuesioner meliputi pengertian kesehatan gigi, asal mereka mendapatkan informasi kesehatan gigi, pengetahuan menggosok gigi, konsep gosok gigi, dan konsep pertolongan pertama saat murid sakit gigi. Implikasi program ini adalah masyarakat sekolah TK/PAUD diajak berpikir, bersikap, dan bertindak untuk membangun dan mengembangkan diri melalui kepedulian terhadap kesehatan gigi Data kuesioner menunjukkan 100% guru TK/PAUD setuju bahwa pengetahuan kesehatan gigi adalah hal penting. Menggosok gigi penting untuk anak TK/PAUD (97,7%). Menggosok gigi sebaiknya dilakukan tiga kali sehari (84,10%). Guru tahu cara menggosok gigi yang baik dan benar (84,10%). Besaran jumlah pasta gigi yang diletakkan pada sikat gigi anak adalah sebesar biji kacang polong (54,50%). Waktu menyikat gigi anak 1-2 menit (65,9%). Sebanyak 50,00% menyatakan anak perlu minum obat jika sakit gigi. Jika anak bengkak giginya, anak segera minum obat, kumur garam, dan periksa ke dokter gigi (68,20%). Kesimpulannya adalah pengetahuan tentang kesehatan gigi perlu ditingkatkan pada kalangan pendidik guru TK dan PAUD (belum 100% jawaban benar dari data kuesioner) dan perlu ada kesadaran pentingnya kepedulian sekolah dalam masalah kesehatan gigi dan mulut (97,60% - 100% responden setuju terkait pelatihan virtual dan penambahan pengetahuan tentang kesehatan gigi anak).
PENYULUHAN ORANG TUA ANAK TK DAN PAUD Laelia Dwi Anggraini; Tita Ratya Utari; Ani Setyawati; Yusrini Yusrini; Dian Yosi Arinawati
Prosiding Seminar Nasional Program Pengabdian Masyarakat 2020: 2. Kemitraan dalam Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (647.527 KB) | DOI: 10.18196/ppm.32.203

Abstract

Riskesdas menyatakan prevalensi nasional masalah kesehatan gigi dan mulut adalah 23,5%. Prevalensi menggosok gigi tiap hari pada penduduk umur 10 tahun ke atas sebesar 91,1%. Anggraini melaporkan kasus anak dengan free karies di salah satu SD favorit di Yogyakarta sebesar 10%. Pendidikan kesehatan akan meningkatkan pengetahuan, tetapi tidak akan mengakibatkan perubahan perilaku. Perubahan perilaku membutuhkan lingkungan yang mendukung dan keterampilan. Mengingat beberapa hal di atas, perlunya pelaksanaan program penyuluhan orang tua anak TK dan PAUD yang peduli kesehatan gigi. Konsep program ini adalah pemberian materi kesehatan gigi pada orang tua TK dan PAUD serta mengajak mereka peduli akan kesehatan gigi putra-putrinya. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa pengertian kesehatan gigi dan rongga mulut, menurut mereka, adalah hal penting dan merupakan tanggung jawab bersama. Mereka mendapatkan informasi dari berbagai media. Menggosok gigi adalah hal yang penting. Tidak semua orang memahami konsep gosok gigi. Konsep pertolongan pertama saat murid sakit gigi juga belum dipahami oleh semua orang tua. Sasaran program ini adalah orang tua anak TK/PAUD yang diajak berpikir, bersikap, dan bertindak untuk membangun dan mengembangkan diri melalui kepedulian terhadap kesehatan gigi. Institusi secara langsung mengembangkan dan menerapkan teori dan pengetahuan untuk pembangunan kesehatan masyarakat sekolah TK/PAUD. Kesimpulannya adalah pengetahuan tentang kesehatan gigi perlu ditingkatkan pada kalangan orang tua anak TK dan PAUD. Hal ini terbukti belum 100% jawaban benar dari data kuesioner. Kesadaran pentingnya kepedulian sekolah dalam masalah kesehatan gigi dan mulut dibuktikan dengan 97,60% - 100% responden setuju diberikan penambahan pengetahuan tentang kesehatan gigi anak.
PENGETAHUAN KESEHATAN GIGI PADA ANAK SEKOLAH DASAR Laelia Dwi Anggraini; Ika Andriani
Prosiding Seminar Nasional Program Pengabdian Masyarakat 2021: 3. Kesehatan Keluarga dan Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (742.397 KB) | DOI: 10.18196/ppm.43.686

Abstract

Sekolah Dasar Muhammadiyah Sapen, sebagai salah satu pengguna Dana Sehat Muhammadiyah, mengadakan kegiatan penyuluhan/edukasi kesehatan gigi secara daring pada saat pandemi. Menurut WHO lebih dari 50 juta jam sekolah pertahun hilang sebagai akibat yang ditimbulkan oleh sakit gigi pada anak. Sebanyak 62,4% penduduk merasa terganggu pekerjaan/sekolah karena sakit gigi (rata-rata pertahun 3,86%). Siswa SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta yang mengalami bebas karies hanya 10%. Mengingat beberapa hal di atas, maka DSM dan sekolah menganggap perlu dilaksanakannya program penyuluhan terkait kesehatan gigi. Konsep program ini adalah pemberian materi kesehatan gigi pada murid SD kelas 3 sampai 5, serta mengajak mereka peduli akan kesehatan gigi murid-muridnya. Sasaran program ini adalah masyarakat sekolah ialah siswa klas 3-5, yang diajak berpikir, bersikap dan bertindak untuk membangun dan mengembangkan diri melalui kepedulian terhadap kesehatan gigi. Tujuan program adalah membentuk kader kesehatan gigi anak sekolah dasar. Metodenya dengan mengadakan penyuluhan daring dan diikuti pengisian kuesioner online. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa pengetahuan kesehatan gigi dan rongga mulut adalah hal penting 100%, cara menggosok gigi yang benar 84,1%, lama gosok gigi yang benar 65,9%, serta 97,6% responden percaya pentingnya penyuluhan dan keinginan penyuluhan lanjutan.
EVALUASI DENTAL SCOUTING KADER PRAMUKA DIY PEDULI KESEHATAN GIGI Laelia Dwi Anggraini
Prosiding Seminar Nasional Program Pengabdian Masyarakat 2021: 3. Kesehatan Keluarga dan Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1017.878 KB) | DOI: 10.18196/ppm.43.687

Abstract

Latar Balakang. Riskesdas menyatakan prevalensi nasional masalah kesehatan gigi dan mulut 51,40%. Pendidikan kesehatan akan meningkatkan pengetahuan. Perubahan perilaku membutuhkan lingkungan yang mendukung dan keterampilan. Mengingat beberapa hal di atas, perlunya pendidikan untuk kader pramuka se-Daerah Istimewa Yogyakarta terkait kesehatan gigi. Tujuan program ini adalah pemberian materi kesehatan gigi pada kader pramuka serta mengajak mereka peduli akan kesehatan gigi dan mampu menjadi edukator (penyuluh) untuk masyarakat di lingkungannya. Metode berupa pemberian materi oleh lima narasumber, pre tes dan post tes. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa pengertian kesehatan gigi dan rongga mulut adalah hal penting dan merupakan tanggung jawab bersama, kader mendapatkan dari informasi berbagai media, menggosok gigi adalah hal yang penting, konsep gosok gigi tidak semua memahami, konsep pertolongan pertama saat seseorang sakit gigi juga belum difahami oleh semua kader pramuka. Pelatihan diakui meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan serta 100% peserta setuju dengan follow up latihan rutin, review, update materi serta pemberian materi lanjutan secara online selama pandemi. Implikasi adalah secara langsung mengembangkan dan menerapkan teori dan pengetahuan serta ketrampilan praktis untuk pembangunan kesehatan masyarakat pramuka. Simpulan pengabdian masyarakat adalah kegiatan pelatihan Dental Scouting kader pramuka DIY peduli kesehatan gigi adalah hal penting dan perlu ditindaklanjuti dengan kegiatan yang lebih rutin.
Peningkatan Kompetensi Pramuka Peduli, Saka Bhakti Husada dan Dental Scouting dalam Kesiapsiagaan Erupsi Merapi 2022 Laelia Dwi Anggraini; Bakhrul Lutfianto; Widyapramana Widyapramana
Prosiding Seminar Nasional Program Pengabdian Masyarakat 2022: 3. Kesehatan Keluarga dan Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/ppm.53.1114

Abstract

Kesehatan merupakan salah satu unsur yang berpengaruh pada perkembangan hidup manusia, untuk itu diperlakukan usaha-usaha yang dapat meningkatkan taraf kesehatan masyarakat, khususnya di Kota Yogyakarta. Persoalan yang dihadapi saat ini adalah keterbatasan dalam pelayanan kesehatan gigi dan mulut. Menurut WHO lebih dari 50 juta jam sekolah pertahun hilang sebagai akibat yang ditimbulkan oleh sakit gigi pada anak. Surkesnas melaporkan 62,4% penduduk merasa terganggu pekerjaan/sekolah karena sakit gigi (rata-rata pertahun 3,86%). Lokasi mitra adalah aktivis Pramuka Penegak dan Pandega (T/D) di lingkungan Kwarda DIY. Kwarda DIY terdiri dari 5 Kwartir Cabang (setingkat Kabupaten/Kota), ialah Sleman, Gunung kidul, Bantul, Kulon Progo dan Kota Yogyakarta. Diharapkan ada perwakilan dari mitra ini, sehingga kader bisa ditempatkan di beberapa wilayah DIY. Keunikan pengabdian masyarakat ini adalah adanya mitra sasaran, yaitu pelibatan para Penegak Pandega (peserta didik usia 16-25 tahun) yang merupakan agen perubahan. Program Studi Kedokteran Gigi dalam menjalankan visi dan misinya sesuai renstra pengabdian kepada masyarat berkomitmen membangun mindset bahwa ‘pencegahan lebih baik dari pengobatan’. Urgensi pengabdian masyarakat ini adalah memberikan pembelajaran dan deteksi dini karies pada gigi masyarakat sehingga program pencegahan dapat dilakukan. Pendayagunaan usia T/D karena dipandang sebagai usia strategis dalam pembinaan peserta didik gerakan pramuka. Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah transfer perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu cepat di bidang kedokteran gigi khususnya cara pemeliharaan kesehatan gigi pada masyarakat, menambah wawasan pengetahuan dan keterampilan juga peningkatan peran serta Penegak Pandega dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara menyeluruh. Rangkaian kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang dapat menunjang kemampuan T/D secara profesional sesuai perannya dan peran serta dokter gigi dalam melakukan edukasi bagi masyarakat. Pengabdian ini berupa sosialisasi preventive care yang dapat dilakukan para T/D dalam deteksi dini karies (lubang gigi) dan cara pencegahannya, serta membentuk ‘Kader Gigi Sehat’ untuk T/D di wilayahnya. Targetnya adalah terbentuknya Satgas T/D Peduli Kesehatan Gigi, yang siap mendeteksi dini karies pada masyarakat. Rata-rata skor pengetahuan kader pramuka sebelum pelatihan adalah 68% dan sesudah pelatihan adalah 92%. Luaran penelitian ini adalah publikasi jurnal nasional pengabdian masyarakat terindeks sinta, publikasi pada media massa cetak dan/atau media massa TV/radio, video pelaksanaan kegiatan dan peningkatan pemberdayaan T/D berdasar kuesioner pengetahuan (sebelum dan sesudah)