Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Pendidikan Profetik dalam Kitab Arba’in Nawawiyah (Telaah Hadits Pertama, Kedua, dan Kesebelas) Syafaat Rudin; Rahmi Dewanti; Abbas Baco Miro; Syamsu Rijal
Risalah, Jurnal Pendidikan dan Studi Islam Vol. 8 No. 4 (2022): Pendidikan dan Studi Islam
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Wiralodra Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/jurnal_risalah.v8i4.348

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metode Pendidikan Rasulullah SAW secara umum untuk pendidik serta untuk para peserta didik yang disimpulkan dari Hadits yang pertama, kedua, dan kesebelas didalam kitab Hadits Arba’in Nawawiyyah. Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan (library research), yang bertumpu pada kajian dan telaah teks. Hasil penelitian menunjukkan Metode pendidikan Rasulullah secara umum didalam Hadits yang pertama, kedua, dan kesebelas dalam kitab Arba’in Nawawiyah yaitu menggunakan Metode Hiwar (tanya-jawab), Metode jawāmi’ul kalim (menggunakan kalimat-kalimat yang ringkas namun memiliki makna yang luas dan mandalam), Metode tamṡil (memberikan contoh dan permisalan). Adapun Metode pendidikan Rasulullah untuk para pendidik di dalam Hadits yang pertama, kedua, dan kesebelas pada Kitab Arba’in Nawawiyah yaitu pendidik bersifat dengan akhlak yang mulia, Mendidik secara bertahap dan mengkhususkan sebagian anak didik dengan ilmu tertentu, sedangkan  Metode pendidikan Rasulullah untuk para peserta didik di dalam Hadits yang pertama, kedua, dan kesebelas pada Kitab Arba’in Nawawiyah yaitu tentang beradab terhadap pendidik, bersemangat didalam belajar dan bertanya kepada pendidik.
Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Hadis Nurfadhillah H. Hamzah; Marina Masdayanti Irawan; Rahmi Dewanti Palangkey; Abbas Baco Miro
IQRA : JURNAL MAGISTER PENDIDIKAN ISLAM Vol 3, No 2 (2023)
Publisher : IQRA : JURNAL MAGISTER PENDIDIKAN ISLAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas sejarah pertumbuhan dan perkembangan hadis, yang merupakan sumber hukum dan pedoman kehidupan bagi umat Islam. Hadis merujuk pada perkataan, tindakan, dan persetujuan Nabi Muhammad SAW. Sejak awal mula munculnya Islam, hadis menjadi penting dalam menjaga keutuhan ajaran agama dan memahami praktik-praktik yang diajarkan oleh Nabi Muhammad. Artikel ini melacak perjalanan sejarah hadis dari masa hidup Nabi hingga masa kini, menggambarkan upaya para ahli hadis dalam mengumpulkan, mengklasifikasikan, dan menguji keabsahan hadis, serta dampaknya terhadap pemahaman dan aplikasi hadis dalam kehidupan sehari-hari umat Islam. Penelusuran dimulai dengan masa awal Islam dan kehidupan Nabi Muhammad, di mana hadis secara lisan menjadi sumber utama ajaran Islam. Kemudian, pembahasan meliputi periode pemilihan dan pengumpulan hadis pada masa Khulafaur Rasyidin, perkembangan ilmu hadis sebagai disiplin ilmu, periode pembaharuan hadis, serta peran hadis dalam kehidupan umat Islam modern. Dalam konteks kontemporer, hadis masih menjadi sumber penting untuk memahami praktik agama dan menghadapi tantangan interpretasi dan aplikasi hadis. Artikel ini memberikan pemahaman mendalam tentang sejarah hadis, menggambarkan usaha pemeliharaan keautentikan hadis, serta memberikan wawasan tentang peran hadis dalam kehidupan umat Islam saat ini
AKHLAK DALAM PERSPEKTIF ISLAM DAN IMPLEMENTASINYA MENURUT PEDOMAN HIDUP ISLAMI WARGA MUHAMMADIYAH Nadira; Risnawati HM; Abbas Baco Miro
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 01 (2026): Volume 12 No. 01 Maret 2026 Public
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i01.11458

Abstract

This study aims to provide a deeper understanding of the relationship between Islamic teachings and character building (Akhlak), as well as the implementation of these values within the Muhammadiyah perspective. The method used is library research by analyzing the Quran, Hadith, and the Guidelines for Islamic Living of Muhammadiyah Citizens (PHIWM). The results show that Akhlak is the fruit of Aqidah and Sharia which cannot be separated. In Muhammadiyah, Akhlak is not just a theory but a practice of life that covers vertical relationships with Allah and horizontal relationships with humans, oneself, the environment, and the state. Character building requires a long process through knowledge, habituation, and emulating the Prophet Muhammad SAW. Keywords: Akhlak, Islam, Muhammadiyah, Character Building
HUKUM MENGAZANI BAYI YANG BARU LAHIR MENURUT PANDANGAN ULAMA MUHAMMADIYAH DI KECAMATAN BANGGAI KABUPATEN BANGGAI LAUT Zalda Kasbaib; Abbas Baco Miro; Muktashim Billah
YUSTISI Vol 13 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/yustisi.v13i1.21493

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meneliti tentang 1) Hukum mengazani bayi yang baru lahir menurut pandangan ulama Muhammadiyah di Kec. Banggai Kab. Banggai Laut, 2) Hukum mengazani bayi yang baru lahir dalam perspektif fikih Islam. Penelitian ini merupakan jenis penelitian lapangan (field research), Yang berlokasi di Kec. Banggai Kab. Banggai Laut. Sumber data penelitian ini terdiri dari sumber data primer dan sekunder. metode pengumpulan datanya menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa 1) terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama Muhammadiyah di Kec. Banggai Kab. Banggai Laut mengenai hukum azan untuk bayi baru lahir. Beberapa ulama berpendapat bahwa azan untuk bayi baru lahir adalah praktik sunnah (dianjurkan), dengan menekankan pentingnya memperkenalkan azan kepada bayi baru lahir sebagai sarana dalam mengajarkan nilai-nilai agama Islam kepada anak sejak dini serta sebagai bentuk pendidikan agama Islam bagi anak. Namun, yang lain berpendapat bahwa praktik ini tidak memiliki dalil yang kuat sehingga tidak bisa dijadikan pegangan dalam beramal. 2) Dalam perspektif fikih Islam, praktik mengazani bayi masih menjadi ikhtilaf dikalangan para ahli hadis. Beberapa ulama ada yang membolehkannya seperti mayoritas ulama dari mazhab Hanafi, Syafi’i dan Hanbali yang mengatakan bahwa praktik mengazani bayi merupakan perbuatan sunnah. Namun ada juga yang tidak sependapat bahkan menganggapnya makruh dikarenakan adanya cacat pada perawi hadis terkait azan pada bayi yaitu ‘Ashim bin Ubaidillah yang dinilai sebagai perawi yang dha’if serta Yahya bin Al-‘Ala dan Marwan bin Salim yang dianggap adalah dua orang yang sering memalsukan hadis. Meskipun demikian jika membahas mengenai penggunaan hadis dha’if sebagai fadha’il a’mal diluar hukum syar’i maka para ulama sepakat akan bolehnya beramal dengan hadis tersebut. Adapun menurut Muhammadiyah melalui ketetapan tarjihnya lebih memilih tidak menggunakan amalan tersebut karena mengikuti fatwa Majelis Tarjih Muhammadiyah seperti yang disebutkan dalam buku “Fatwa-Fatwa Tarjih: Tanya Jawab Agama” yang disusun oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang mengatakan bahwa hadis tersebut dianggap lemah dari segi hukum. Kata kunci: Mengazani Bayi, Fikih Islam, Muhammadiyah.
HUKUM MENGAZANI BAYI YANG BARU LAHIR MENURUT PANDANGAN ULAMA MUHAMMADIYAH DI KECAMATAN BANGGAI KABUPATEN BANGGAI LAUT Zalda Kasbaib; Abbas Baco Miro; Muktashim Billah
YUSTISI Vol 13 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/yustisi.v13i1.21493

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meneliti tentang 1) Hukum mengazani bayi yang baru lahir menurut pandangan ulama Muhammadiyah di Kec. Banggai Kab. Banggai Laut, 2) Hukum mengazani bayi yang baru lahir dalam perspektif fikih Islam. Penelitian ini merupakan jenis penelitian lapangan (field research), Yang berlokasi di Kec. Banggai Kab. Banggai Laut. Sumber data penelitian ini terdiri dari sumber data primer dan sekunder. metode pengumpulan datanya menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa 1) terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama Muhammadiyah di Kec. Banggai Kab. Banggai Laut mengenai hukum azan untuk bayi baru lahir. Beberapa ulama berpendapat bahwa azan untuk bayi baru lahir adalah praktik sunnah (dianjurkan), dengan menekankan pentingnya memperkenalkan azan kepada bayi baru lahir sebagai sarana dalam mengajarkan nilai-nilai agama Islam kepada anak sejak dini serta sebagai bentuk pendidikan agama Islam bagi anak. Namun, yang lain berpendapat bahwa praktik ini tidak memiliki dalil yang kuat sehingga tidak bisa dijadikan pegangan dalam beramal. 2) Dalam perspektif fikih Islam, praktik mengazani bayi masih menjadi ikhtilaf dikalangan para ahli hadis. Beberapa ulama ada yang membolehkannya seperti mayoritas ulama dari mazhab Hanafi, Syafi’i dan Hanbali yang mengatakan bahwa praktik mengazani bayi merupakan perbuatan sunnah. Namun ada juga yang tidak sependapat bahkan menganggapnya makruh dikarenakan adanya cacat pada perawi hadis terkait azan pada bayi yaitu ‘Ashim bin Ubaidillah yang dinilai sebagai perawi yang dha’if serta Yahya bin Al-‘Ala dan Marwan bin Salim yang dianggap adalah dua orang yang sering memalsukan hadis. Meskipun demikian jika membahas mengenai penggunaan hadis dha’if sebagai fadha’il a’mal diluar hukum syar’i maka para ulama sepakat akan bolehnya beramal dengan hadis tersebut. Adapun menurut Muhammadiyah melalui ketetapan tarjihnya lebih memilih tidak menggunakan amalan tersebut karena mengikuti fatwa Majelis Tarjih Muhammadiyah seperti yang disebutkan dalam buku “Fatwa-Fatwa Tarjih: Tanya Jawab Agama” yang disusun oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang mengatakan bahwa hadis tersebut dianggap lemah dari segi hukum. Kata kunci: Mengazani Bayi, Fikih Islam, Muhammadiyah.
Pendidikan Dalam Perspektif Hadis Nabi Muhammad Saw Irsyadah Ibrahim; Abbas Baco Miro; Rahmi Dewanti
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 3: April 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i3.15467

Abstract

Penelitian ini menganalisis konsep pendidikan dalam perspektif hadis Nabi Muhammad SAW serta kontribusinya terhadap penguatan pendidikan Islam di era kontemporer. Dalam pandangan Islam, pendidikan tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas penyampaian ilmu pengetahuan, melainkan sebagai proses pembentukan manusia secara menyeluruh yang mencakup aspek intelektual, etis, dan spiritual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian kepustakaan (library research). Data primer bersumber dari kitab-kitab hadis utama, seperti Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Ibnu Majah, dan Sunan al-Tirmidzi, sedangkan data sekunder diperoleh dari berbagai literatur ilmiah yang relevan dengan tema kajian. Pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi dan penelusuran literatur secara sistematis, sementara analisis data dilakukan dengan pendekatan tematik terhadap hadis-hadis yang memiliki muatan pendidikan (hadis tarbawi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadis Nabi SAW menegaskan pentingnya kewajiban menuntut ilmu, penanaman adab dan etika dalam proses pembelajaran, serta pendidikan ibadah yang dilaksanakan melalui keteladanan, pembiasaan, praktik langsung, dan tahapan pembelajaran secara bertahap (tadarruj). Selain itu, pendidik dipandang sebagai figur sentral dalam internalisasi nilai dan pembentukan karakter peserta didik. Temuan ini mengindikasikan perlunya perubahan paradigma pendidikan Islam dari orientasi kognitif semata menuju pendekatan yang lebih integratif, dengan menyeimbangkan dimensi keilmuan, moral, dan spiritual. Dengan demikian, hadis Nabi SAW berperan penting sebagai landasan normatif dan pedagogis dalam mewujudkan sistem pendidikan Islam yang holistik, berkarakter, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Kata kunci: hadis tarbawi, pendidikan Islam, adab, pendidikan ibadah, paradigma pendidikan
Uang Panai’ Tinggi dan Dampaknya terhadap Pemenuhan Hak-Kewajiban Pasutri: Analisis Hukum Islam Dini Mariani; Abbas Baco Miro; Syafaat Rudin
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 3 No. 03 (2026): JUNI - JULI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tradisi uang panai' di Desa Pattiroang, Kecamatan Kajang, telah bertransformasi dari bentuk penghormatan kepada perempuan menjadi alat penentu posisi sosial dan prestise keluarga. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengaruh beban tinggi uang panai' terhadap pemenuhan hak dan kewajiban pasangan suami istri setelah menikah dalam sudut pandang hukum Islam. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitis, sosiologi hukum, dan maqashid al-syari’ah, dengan pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan pengumpulan dokumen. Temuan penelitian menunjukkan bahwa praktik uang panai' sering kali mengandung elemen takalluf (tekanan di luar batas kemampuan) yang berdampak pada pelanggaran prinsip hifz al-mal akibat utang passolo dan sikap israf (pemborosan). Beban finansial di awal pernikahan terbukti menghalangi pemenuhan nafkah yang sesuai, yang pada akhirnya merusak prinsip mu’asyarah bil ma’ruf. Situasi ini juga mengancam hifz an-nasl karena dapat memicu konflik, penundaan usia menikah, dan bahkan perceraian. Disimpulkan bahwa praktik ini perlu direformasi melalui asas taisir (kemudahan) dan wasathiyyah (jalan tengah) sehingga nilai tradisi tetap terjaga tanpa mengorbankan kesejahteraan keluarga. Dianjurkan kepada pemerintah desa dan tokoh agama untuk memperkuat pendidikan mengenai pernikahan yang logis dan mendukung musyawarah adat yang berimbang
Implementasi Prinsip Ibadah dalam Islam oleh Muhammadiyah: Hubungan Akhlak dan Moralitas Masyarakat Riska Amaliah; Fahria Musa'ad; Andi Hikmayani Makmur; Abbas Baco Miro; Ahmad Nashir
Jurnal Kajian Islam dan Sosial Keagamaan Vol. 3 No. 3 (2026): Januari - Maret
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examines the concept of worship from the perspective of Muhammadiyah, which emphasizes the importance of worship not only as a ritual but also as a means of character and moral formation. This study uses a qualitative approach with a case study method, involving interviews with Muhammadiyah members. The results show that Muhammadiyah views worship as an educational process that shapes ways of thinking, behaving, and acting in personal and social life. This organization emphasizes the importance of understanding and practicing Islamic teachings based on the Quran and Sunnah, and encourages its members to be open, responsible, and critical in their worship. This study also highlights the challenges Muhammadiyah faces in actualizing the principles of worship in the current era of social change.
Metodologi Pemahaman Hadis: Kajian atas Metode Ijmali, Tahlili, Muqaran, dan Maudu'i Nur Aida; Sulfiadi Sulfiadi; Andika Fahmil Hamdani Alim; Rahmi Dewanti Palangkey; Abbas Baco Miro
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 3 No. 03 (2026): JUNI - JULI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hadis merupakan sumber ajaran Islam kedua setelah Al-Qur'an yang memerlukan metodologi yang tepat agar kandungan maknanya dapat dipahami secara benar dan proporsional. Artikel ini bertujuan menganalisis empat metode utama pemahaman hadis, yaitu ijmali, tahlili, muqaran, dan maudu'i, meliputi konsep dasar, karakteristik, serta kelebihan dan kekurangan masing-masing metode. Kajian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research) yang bersumber dari kitab-kitab syarah hadis klasik dan literatur Ulumul Hadis kontemporer. Hasil kajian menunjukkan bahwa metode ijmali menekankan penjelasan yang ringkas dan global sesuai urutan kitab hadis; metode tahlili menguraikan hadis secara rinci dari aspek kosakata, asbab al-wurud, hingga kandungan hukum; metode muqaran menempuh langkah perbandingan antarhadis, hadis dengan Al-Qur'an, dan antarpendapat ulama untuk menyelesaikan hadis yang tampak kontradiktif (mukhtalif al-hadis); sedangkan metode maudu'i menghimpun dan menganalisis hadis-hadis setema secara komprehensif untuk menjawab persoalan tertentu, termasuk isu-isu kontemporer. Keempat metode tersebut bersifat saling melengkapi, bukan saling meniadakan, sehingga penguasaan terhadap seluruh metode menjadi bekal penting bagi pengkaji hadis dalam memilih pendekatan yang paling relevan sesuai konteks dan kebutuhan kajian.
Konsep Metode Jarh wa Ta'dil Nur Amri Ramadhan Abd.Gani; Aisyah Aisyah; Sultan Haerun; Abbas Baco Miro
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 3 No. 03 (2026): JUNI - JULI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jarh wa Ta'dil merupakan salah satu cabang ilmu dalam Ulumul Hadis yang memiliki peran penting dalam menjaga autentisitas hadis Nabi Muhammad SAW melalui penilaian terhadap kredibilitas para perawi hadis. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konsep Jarh wa Ta'dil, sejarah perkembangannya, prinsip dan kaidah yang digunakan dalam menilai perawi, tingkatan Jarh dan Ta'dil, serta implementasinya dalam penelitian hadis. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research) melalui pengkajian berbagai literatur yang berkaitan dengan ilmu hadis dan Jarh wa Ta'dil. Hasil kajian menunjukkan bahwa Jarh wa Ta'dil berkembang sebagai respons terhadap munculnya berbagai persoalan dalam periwayatan hadis, khususnya setelah wafatnya Rasulullah SAW. Penilaian terhadap perawi dilakukan berdasarkan aspek keadilan ('adalah) dan ketelitian (dhabt) untuk menentukan diterima atau ditolaknya suatu riwayat. Penerapan metode ini dilakukan melalui penelitian terhadap sanad, biografi perawi, serta kesinambungan periwayatan sehingga dapat ditentukan kualitas hadis, baik sahih, hasan, maupun dhaif. Di era digital, prinsip verifikasi (tabayyun) yang menjadi dasar Jarh wa Ta'dil tetap relevan dalam menyikapi penyebaran hadis dan informasi keagamaan. Dengan demikian, Jarh wa Ta'dil tidak hanya menjadi metode ilmiah dalam penelitian hadis, tetapi juga mencerminkan tradisi keilmuan Islam yang sistematis dalam menjaga keaslian sumber ajaran Islam.