Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : Journal Psikogenesis

PERAN KONSEP DIRI TERHADAP RESILIENSI PADA PENSIUNAN Dwiaprinda Rachmawati; Ratih Arruum Listiyandini
Jurnal Online Psikogenesis Vol 3, No 1 (2014): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v3i1.52

Abstract

Abstract. Someone who works in agency would have retirement. As elderly,retired person would have some changes in the aspect of physical, social,and emotional. The changes would have an impact on their view aboutthemselves, named self-concept. In the other side, to have goodpsychological well being, they should have ability to bounce back and adaptin their retirement life. Based on the theoretical perspective, self concept isone of the factors that affect resilience, a person's ability to be able tobounce back from hard times. The study was conducted to look at the role ofself-concept on the resilience of pensioners. The design of this study isassociative. The sampling technique used in this study is incidentalsampling with a sample size of 80 people. Self-concept and resiliencemeasurement is using questionnaire. The results of the study showed thevalue of F = 81.53 and p = 0.000 (p 0.01), which means self-conceptpredicts resilience significantly. Magnitude of the role of self-concept to theresilience is 51.1% and the remaining 48.9% is influenced by other factors.It can be concluded that self-concept contribute significantly to thepensioners resilience.Keywords: Self Concept, Resilience, RetirementAbstrak. Seseorang yang bekerja dalam suatu instasi tentunya akanpensiun. Saat memasuki usia pensiun, yang merupakan masa dewasa akhir,seseorang akan mengalami berbagai perubahan seperti fisik, sosial, danemosional. Perubahan-perubahan tersebut mempengaruhi pandanganmengenai diri sendiri, atau dengan kata lain, konsep diri para pensiunantersebut. Di sisi lain, agar lebih sejahtera secara psikologis, para pensiunanjuga harus mampu beradaptasi dan bangkit dari kesulitan yang dialamipada masa pensiun. Berdasarkan teori, ditemukan bahwa konsep dirimerupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kemampuan seseoranguntuk dapat bangkit kembali dari masa sulit atau disebut dengan resiliensi.Penelitian dilakukan untuk melihat adakah peran konsep diri terhadapresiliensi pada pensiunan. Desain yang digunakan dalam penelitian iniadalah asosiatif. Teknik pemilihan sampel menggunakan incidentalsampling dengan jumlah sampel sebanyak 80 orang. Pengukuranmenggunakan kuesioner konsep diri yang dibuat sendiri oleh peneliti dankuesioner resiliensi yang diadaptasi dari Wagnild dan Young. Hasil darianalisis regresi diperoleh nilai F= 83,51dengan p= 0,000 (p 0,01), yangartinya konsep diri dapat memprediksi resiliensi secara signifikan.Besarnya peran konsep diri terhadap resiliensi yaitu 51,1% dan sisanya48,9% dipengaruhi oleh faktor lainnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa konsep diri berperan secara signifikan terhadapresiliensi pensiunan.Kata Kunci: Konsep Diri, Resiliensi, Pensiunan
Pengaruh Rasa Kesadaran terhadap Kesejahteraan Psikologis Pada Mahasiswa Annisa Awaliyah; Ratih Arruum Listiyandini
Jurnal Online Psikogenesis Vol 5, No 2 (2017): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v5i2.498

Abstract

Mahasiswa merupakan individu yang berada dalam masa dewasa transisi sehingga dibutuhkan kesejahteraan psikologis yang optimal dalam menghadapi tugas perkembangannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh dimensi-dimensi rasa kesadaran (mindfulness) terhadap kesejahteraan psikologis pada mahasiswa. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 200 orang mahasiswa dari wilayah Jabodetabek, yang dipilih dengan menggunakan teknik convenience sampling. Penelitian menggunakan adaptasi skala Five Facet Mindfulness Quisionare (FFMQ) untuk mengukur rasa kesadaran dan adaptasi skala Scale of Psychological Well-Being (SPWB) untuk mengukur kesejahteraan psikologis. Hasil uji regresi menunjukkan bahwa rasa kesadaran memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kesejahteraan psikologis, yaitu pada dimensi penerimaan diri dan penguasaan lingkungan. Dimensi rasa kesadaran yang berpengaruh terhadap penerimaan diri adalah mengamati dan tidak menghakimi pengalaman internal, sedangkan dimensi rasa kesadaran yang berpengaruh terhadap penguasaan lingkungan adalah mengamati. Dengan demikian, menjadi penting untuk mahasiswa mengembangkan rasa kesadaran dengan menerima dan mengamati berbagai pengalaman internal maupun eksternal agar lebih mampu menerima diri sendiri dan menguasai tantangan hidup sehari-hari.
Self-Compassion dan Resiliensi pada Remaja Panti Asuhan Annisa Zahra Kawitri; Bellatrix Dwi Rahmawati; Ratih Arruum Listiyandini; Rina Rahmatika
Jurnal Online Psikogenesis Vol 7, No 1 (2019): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.953 KB) | DOI: 10.24854/jps.v7i1.879

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-compassion dengan resiliensi pada remaja yang tinggal di panti asuhan. Sampel penelitian ini adalah 140 remaja panti asuhan dengan karakteristik usia 14-18 tahun yang dipilih dengan teknik convenience sampling dari 12 panti asuhan di Jakarta dan Bekasi. Penelitian ini mengunakan adaptasi alat ukur Self Compassion dan resiliensi. Hasil uji korelasi menemukan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara self-compassion dengan resiliensi pada remaja di panti asuhan (r=0,439, p=0.00). Hasil penelitian dapat menjadi acuan mengenai pentingnya memberi perhatian terhadap self-compassion dalam mengembangkan resiliensi bagi remaja yang tinggal di panti asuhan
Hubungan antara Mindfulness dengan Depresi pada Remaja Endang Fourianalistyawati; Ratih Arruum Listiyandini
Jurnal Online Psikogenesis Vol 5, No 2 (2017): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.59 KB) | DOI: 10.24854/jps.v5i2.500

Abstract

Depresi merupakan gangguan mental yang umum terjadi di dunia, namun tetap menjadi suatu faktor kontribusi pada penurunan kecepatan penyembuhan berbagai penyakit lain. Prevalensi gangguan depresif mayor merupakan salah satu yang tertinggi dan angka tersebut terus meningkat sepanjang sepuluh tahun belakangan ini. Beberapa faktor yang berperan terhadap penurunan depresi banyak dilakukan. Salah satu penelitian di Amerika menunjukkan bahwa individu yang mengalami depresi atau simtom depresi cenderung memiliki tingkat mindfulness yang rendah, dibuktikan dengan aktivitas neural yang bertolak belakang pada individu yang depresi dan individu yang memiliki tingkat mindfulness yang tinggi. Mindfulness merupakan kemampuan seorang individu untuk sadar dan memerhatikan setiap detil kejadian yang sedang terjadi saat itu. Dengan kemampuan disposisional untuk mindful, individu dapat menerima setiap pengalaman yang terjadi dengan reseptif dan terbuka, sehingga kecil kemungkinan individu untuk melakukan ruminasi. Individu dengan kemampuan mindfulness yang tinggi cenderung memiliki tingkat depresi yang rendah, sebaliknya individu yang dengan tingkat depresi tinggi diketahui memiliki tingkat mindfulness yang rendah. Hanya sedikit publikasi yang telah mendiskusikan depresi pada remaja secara menyeluruh, meskipun beberapa penelitian telah menemukan bahwa awal kemunculan depresi dimulai sejak awal periode kehidupan tersebut. Mengetahui hubungan antara mindfulness dan depresi pada remaja di Indonesia diperlukan sebagai landasan awal untuk penelitian selanjutnya dan memberikan panduan untuk terapi mindfulness dalam mengatasi depresi pada remaja di Indonesia. Menggunakan metode kuantitatif dan desain korelasional, Five Facet Mindfulness Questionnaire (FFMQ) dan kuesioner depresi yaitu BDI, disebarkan kepada 200 remaja. Dari hasil analisis menggunakan korelasi Spearman, diketahui bahwa terdapat hubungan yang negatif dan signifikan antara mindfulness dan depresi, terutama pada dimensi acting with awareness dan non judging of inner experience. Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi skor mindfulness pada dimensi acting with awareness dan non judging of inner experience, maka semakin rendah skor depresi yang dimiliki remaja.
Peran Dukungan Suami bagi Kesejahteraan Psikologis Jurnalis Perempuan Riani Putriyani; Ratih Arruum Listiyandini
Jurnal Online Psikogenesis Vol 6, No 1 (2018): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v6i1.630

Abstract

Married woman who are working as journalist have their own challenge to achieve optimal psychological well-being. This research aims to investigate how is the role of husband’s social support towards psychological well-being of female journalists. The study used quantitative approach and cross-sectional design. By snowball sampling method, research was conducted to 100 female journalist using adapted scale of psychological well-being (SPWB) and social support questionnaire constructed by the researcher. Based on regression analysis, social support from husband positively and significantly influence psychological well-being of female journalists, with mostly contributes to environmental mastery dimension and life purpose. Thus, it is imperative for female journalist husband to give support for their spouse in order to enhance the psychological well-being of female journalists.
Gambaran Kesadaran, Akses Informasi, dan Pengalaman terkait Layanan Kesehatan Mental pada Masyarakat di Indonesia Putri, Mirasstity Akacia; Bimantoko, Iqbal; Herton, Nezzia; Listiyandini, Ratih Arruum
Jurnal Online Psikogenesis Vol 11 No 1 (2023): Juni
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v11i1.1961

Abstract

The study aims to examine mental health issues in Indonesia in several aspects including individuals’ awareness of mental health, individuals’ experience when accessing mental health information, services, and treatment as well as maintenance behavior after receiving treatment. This study is conducted using the cross-sectional method with a quantitative approach. The survey was distributed via social media platforms, and was completed by a total of 406 participants, ranging from 18-25. Data were then analyzed using the descriptive analysis technique.  Findings of the study include: 1) individuals’ awareness of the issue surrounding mental health was relatively high, 2) accessibility of mental health information was good although, may be further improved, 3) stigma surrounding mental disorders, financial hardships, and poor access to mental health professionals/therapists, are the deterring factors for receiving treatments, 4) there are many strategies to improve treatment satisfaction, such as community-based interventions, bettering the quality of digital mental health platforms, as well as the quality and quantity of mental health professionals across Indonesia. Overall, despite high individual awareness of mental health and accessibility to mental health information, there were many gaps identified within the mental health care in Indonesia that can massively benefit from interventional programs.
Measuring Mindfulness in one minute or less: A 10-item short version of the Five Facet Mindfulness Questionnaire (FFMQ) in Indonesian Fourianalistyawati, Endang; Listiyandini, Ratih Arruum; Sahidah, Titi; Kumalasari, Dewi; Grasiaswaty, Novika
Jurnal Online Psikogenesis Vol 11 No 1 (2023): Juni
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v11i1.3797

Abstract

The Five Facet Mindfulness Questionnaire (FFMQ) is a scale to measure a person's level of mindfulness. FFMQ has been used extensively in other countries. In multi-construct research, a scale with fewer items is needed but with a qualified psychometric value. The purpose of this study was to obtain a short version of the Indonesian FFMQ which has good psychometric properties. The research was carried out in three stages, namely the adaptation stage, the long form test stage and then the short form test. The sample of this study is Indonesian people who are over 15 years old. The results show that the short form has shown good results. This indicates that the short form version of FFMQ Indonesia has good psychometric properties.