Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Sinkretisme Agama Dan Budaya Pada Bingkai Tradisi Lokal Gebyak Dusun di Dusun Pacet Made, Mojokerto, Jawa Timur Yunasta Sarifa; Wahid Nur Tualeka; Mahmud Muhsinin
Ri'ayah: Jurnal Sosial dan Keagamaan Vol 8 No 1 (2023): Ri'ayah Jurnal Sosial dan Keagamaan
Publisher : Pascasarjana IAIN Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/riayah.v8i1.6489

Abstract

Research on religious and cultural syncretism in the frame of the local gebyak halmet tradition in Pacet Made hamlet, Mojokerto, East Java aims to find out the history of gebyak halmet, its process, and religious and cultural syncretism in the frame of the local gebyak halmet tradition, as well as the responses of the community and related religious leadees gebyak Dusun local tradition. This study uses qualitative research methodes to obtain descriptive data in the form of words in spoken and written form. And using an ethnographic approach, namely research studies on society and culture. Data collection techniques in this study used observation, documentation and interviews. The result and discussion of this study is the discovery of syncretism in the local tradition of gebyak in Pacet Made hamlet, namely the history of this tradition which wa originally to reject reinformecent due to the occurrence of illness and trance in Pacet Made hamlet, now it has developed into a form of gratitude to God. And what was originally this tradition only gave offerings to pepunden, now it is experiencing a fusion of religion and culture, namely in the procession of the gebyak hamlet tradition there are tahlilan and join prayer.
Konsep Moderasi Islam dalam Pemikiran Nur, Muhammad
Al Hikmah Vol 10 No 2 (2024): .
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/ah.v10i2.24273

Abstract

Currently, the Islamic Moderation discourse has become an alternative Islamic thought that is very important in the lives of Muslims. Islamic moderation, which is part of a form of Islamic thought that is original to Islamic teachings, is expected to bring about a better, fairer, superior and civilized life for Muslims. Islamic moderation or wasathiyah is the main characteristic of Islam taught by Allah in the Qur'an and also in the Sunnah. That this people is a moderate and middle-class people that Allah has orbited among humans. Therefore, the aim of this study is to exploit and socialize moderate Islamic teachings to Indonesian society and the world, so that Islam becomes a religion that is a blessing for all nature. The writing method in this study uses library methods and classical and contemporary Islamic literacy approaches. From here it is then analyzed according to the context of Muslim life in Indonesia, especially in aspects of Islamic thought that developed in Indonesia. Results of this study. First: To give birth to the concept of moderate Islamic thought towards a moderate understanding and attitude in implementing Islam in accordance with the Al-Qur'an and As-Sunnah. Second: provide a clear distinction between moderate thought and other Islamic thought. Keywords: Moderation, thought, Islam, contemporary
Religiusitas dan Kompetisi Sosial: Analisis Perilaku Perantau dalam Tradisi Berqurban pada Idul Adha di Desa Bulubrangsi Kecamatan Laren Kabupaten Lamongan Zulianto, Moh Rukhil; Nur Tualeka, Muhammad Wahid; Al Amin, Mukayat
JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN DAN ILMU SOSIAL Vol. 6 No. 4 (2025): Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial (Juni - Juli 2025)
Publisher : Dinasti Review

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jmpis.v6i4.4869

Abstract

Studi ini melihat bagaimana tradisi berqurban pada momen Idul Adha di Desa Bulubrangsi Kecamatan Laren Kabupaten Lamongan, terutama di kalangan perantau yang berhubungan dengan religiusitas dan kompetisi sosial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana perantau tetap terlibat dalam qurban meskipun mereka jauh dari kampung halaman dan bagaimana fenomena ini menunjukkan adanya aspek religiusitas dan perubahan sosial. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan perantau dan warga setempat yang berjumlah tiga responden. Hasil penelitian menujukkan bahwa religiusitas memainkan peran penting dalam mendorong perantau untuk berqurban di Desa asal mereka sebagai bentuk kepatuhan terhadap ajaran agama dan ikatan sosial mereka. Selain itu, kompetisi sosial muncul di antara para perantau, di mana kontribusi berqurban seringkali dianggap sebagai tanda keberhasilan dan status sosial. Meskipun kompetisi ini memiliki dampak positif dalam meningkatkan jumlah qurban dan memperkuat ikatan sosial, terdapat juga dampak negatif, seperti munculnya sikap riya’ dan kesenjangan sosial. Untuk memastikan bahwa tradisi qurban tetap bermakna sebagai bentuk kepedulian dan pengabdian masyarakat, perlu dijaga keseimbangan antara nilai ibadah dan aspek sosial. Dalam konteks penelitian ini, khususnya dalam tradisi berqurban pada Idul Adha, terdapat potensi untuk mengembangkan beberapa hipotesis baru yang lebih spesifik. Salah satu hipotesis yang dapat diusulkan adalah bahwa tingkat religiusitas individu berpengaruh signifikan terhadap tingkat partisipasi sosial mereka dalam tradisi berqurban.
Studi Pengelolaan Pendidikan Menengah Muhammadiyah di Surabaya Rusman, Rusman; Tualeka, M. Wahid Nur
TADARUS Vol 7 No 2 (2018)
Publisher : Prodi Pendidikan Agama Islam - Fakultas Agama Islam ( FAI )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/td.v7i2.2486

Abstract

Abstrak Kepopuleran persyarikatan muhammadiyah dalam hal pengelolaan lembaga pendidikan memang sudah tidak diragukan lagi, bahkan diantara sekolah-sekolah negeri dan swasta, Muhammadiyah selalu menempati urutan pertama dalam kepercayaan masyarakat saat memilih sekolah bagi anaknya. Dampak kepercayaan tersebut mengakibatkan jumlah lembaga pendidikan muhammadiyah semakin banyak, sebagai konsekuensi logis akan jumlahnya yang banyak maka pengelolaan penddikan yang dilakukan pun memiliki ragam yang berbeda antar satu sama lain. Bahkan tidak jarang terjadi ketimpangan pengelolaan pendidikan yang berakibat pada maju mundurnya sebuah lembaga pendidikan yang dikelola oleh muhammadiyah. Namun demikian, Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi besar yang selalu menempatkan pendidikan sebagai sebuah amal usahanya yang diunggulkan. Diakui atau tidak, sistem pengelolaan pendidikan Muhammadiyah saat ini belum memiliki pedoman atau sistem pengelolaan pendidikan secara konseptual. Selama ini pengelolaan pendidikan muhammadiyah baru sebatas berpedoman pada sebuah kepanjangtanganan regulasi pemerintah dalam bidang pendidikan. Sehingga sistem pengelolaan pendidikan Muhammadiyah tidak mempunyai ciri khas tersendiri dibandingkan dengan sekolah-sekolah umum lainya. Berangkat dari persoalan ini, tujuan penelitian ini adalah berusaha mendeskripsikan sistem pengelolaan pendidikan muhammadiyah di surabaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara (interview),dan telaah kepustakaan. Lokasi penelitian adalah di SMA Muhammadiyah 2 dan SMA Muhammadiyah 7 Surabaya. Subyek penelitian adalah Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Guru dan Tenaga Kependidikan, Siswa dan Tokoh masyarakat sekitar. Analisa data yang digunakan adalah analisa data deskriptif berdasarkan fenomena sosial yang terjadi dilapangan. Fenomena sosial akan dianalisa dari berbagai pendekatan keilmuan (multidisiplin), sehingga analisa data yang digunakan pada penelitian ini adalah tergantung dari data yang didapat oleh peneliti dilapangan, melalui metode tersebut diharapkan dapat menemukan dan mengambarkan pengelolaan pendidikan muhammadiyah di surabaya. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa 1. Prinsip pengelolaan pendidikan menengah muhammadiyah surabaya bersumber pada tiga pokok utama yaitu sekolah muhammadiyah yang menyenangkan, mengasyikkan, mencerdaskan dan unggul sebagai center of excelence, sebagai agent of change, dan sebagai kebun ilmu tempat siswa menuntut ilmu, 2. Lingkup pengelolaan pendidikan menengah muhammadiyah meliputi beberapa hal berikut : Aspek manajemen, aset yang dimiliki, pendidik dan tenaga kependidikan, Kurikulum, Proses pembelajaran, Evaluasi, Sarana dan prasarana, dan penataan lingkungan, 3. Alur pengelolaan pendidikan menengah muhammadiyah diawali dari peserta didik yang kemudian melalui tahapan proses pembelajaran ( Pendidik, Kurikulum, Bahan Ajar, Sarana Prasarana, Pendanaan Pendidikan dan Peran Masyarakat ) dengan keterlibatan 6 komponen tersebut dalam proses akan menghasilkan lulusan yang berkualitas unggul, 4. Tantangan pengelolaan pendidikan menengah muhammadiyah terangkum dalam empat hal yakni Globalisasi, Ketidakpastian, Kompetensi dan Politisasi Pendidikan.
Religiusitas dan Kompetisi Sosial: Analisis Perilaku Perantau dalam Tradisi Berqurban pada Idul Adha di Desa Bulubrangsi Kecamatan Laren Kabupaten Lamongan Moh Rukhil Zulianto; Muhammad Wahid Nur Tualeka; Mukayat Al Amin
Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 6 No. 4 (2025): Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial (Juni - Juli 2025)
Publisher : Dinasti Review

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jmpis.v6i4.4869

Abstract

Studi ini melihat bagaimana tradisi berqurban pada momen Idul Adha di Desa Bulubrangsi Kecamatan Laren Kabupaten Lamongan, terutama di kalangan perantau yang berhubungan dengan religiusitas dan kompetisi sosial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana perantau tetap terlibat dalam qurban meskipun mereka jauh dari kampung halaman dan bagaimana fenomena ini menunjukkan adanya aspek religiusitas dan perubahan sosial. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan perantau dan warga setempat yang berjumlah tiga responden. Hasil penelitian menujukkan bahwa religiusitas memainkan peran penting dalam mendorong perantau untuk berqurban di Desa asal mereka sebagai bentuk kepatuhan terhadap ajaran agama dan ikatan sosial mereka. Selain itu, kompetisi sosial muncul di antara para perantau, di mana kontribusi berqurban seringkali dianggap sebagai tanda keberhasilan dan status sosial. Meskipun kompetisi ini memiliki dampak positif dalam meningkatkan jumlah qurban dan memperkuat ikatan sosial, terdapat juga dampak negatif, seperti munculnya sikap riya’ dan kesenjangan sosial. Untuk memastikan bahwa tradisi qurban tetap bermakna sebagai bentuk kepedulian dan pengabdian masyarakat, perlu dijaga keseimbangan antara nilai ibadah dan aspek sosial. Dalam konteks penelitian ini, khususnya dalam tradisi berqurban pada Idul Adha, terdapat potensi untuk mengembangkan beberapa hipotesis baru yang lebih spesifik. Salah satu hipotesis yang dapat diusulkan adalah bahwa tingkat religiusitas individu berpengaruh signifikan terhadap tingkat partisipasi sosial mereka dalam tradisi berqurban.
Religious Moderation in Islamic Boarding School-Based International Educational Institutions in Indonesia Bakhruddin, Mukhammad; Fatimatur Rusydiyah, Evy; Akhmad Taufiq, Mirwan; Wahid Nur Tualeka, Muhamad; Syaifudin, Mochamad; Syaikhon, Muhammad
Bahasa Indonesia, Bahasa English Vol 8 No 2 (2025): Muaddib: Islamic Education Journal
Publisher : Program Magister Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/muaddib.v8i2.31795

Abstract

This study analyzes the implementation of religious moderation in international Islamic boarding schools in Indonesia using the national framework of religious moderation, which comprises moderation of thought, movement, and action. Employing a qualitative multiple-case study design, the research examines two institutions in Malang International Islamic Boarding School (IIBS) Al Izzah and IIBS Thursina through in-depth interviews, participant observation, and documentation analysis. Data were analyzed thematically using a framework-based approach guided by the interactive model of Miles and Huberman. The findings reveal that religious moderation is implemented in an integrated and contextual manner. Moderation of thought is reflected in the alignment of Islamic teachings with national ideology and civic values. Moderation of movement is manifested through daily social practices that promote tolerance and dialogue. Moderation of action is evident in the rejection of violence and the selective accommodation of local culture in accordance with Islamic principles. Overall, the study challenges perceptions of international pesantren as exclusive institutions and highlights their role in fostering inclusive and peaceful religious life in Indonesia.
Beyond Algorithmic Spirituality: An Islamic Ontological Framework for Digital Religious Practice M. Febriyanto Firman Wijaya; Wahid Nur Tualeka; Mahmud Muhsinin; Ahmad Ghozi Al Afnan
Khazanah Theologia Vol. 7 No. 1 (2025): Khazanah Theologia
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/kt.v7i1.49492

Abstract

Purpose: This study aims to develop an Islamic ontological framework for digital religious practice as a response to the reductionism and fragmentation characterizing digital New Age spirituality. The research addresses a critical gap in contemporary scholarship, where digital spirituality is often examined descriptively or pragmatically without sufficient engagement with underlying ontological foundations, particularly within Islamic philosophical discourse. Methodology: This research employs a qualitative conceptual–philosophical approach using systematic conceptual synthesis. The study analyzes twenty-five peer-reviewed scholarly articles published between 2018 and 2025 on digital religiosity, New Age spirituality, and Islamic ontology, alongside classical Islamic sources. Following Jaakkola’s framework for conceptual research, the analysis proceeds through thematic categorization, comparative ontological analysis across six dimensions, and abductive theoretical synthesis to construct a normative framework of Islamic cyberspirituality. Findings: The study identifies four constitutive patterns of digital New Age spirituality—individualism, syncretism, aesthetic spirituality, and commodification—which collectively generate three ontological ruptures: displacement of transcendence by subjective emotionalism, replacement of religious authority by algorithmic validation, and transformation of spiritual discipline into consumable experience. In contrast, Islamic cyberspirituality is shown to rest on two interlocking principles: tawhid as the ontological axis preserving the Creator–creation distinction and revelation-based truth, and tazkiyah al-nafs as a transformative discipline orienting spiritual growth vertically toward God. This framework repositions technology as wasīlah (instrumental means) rather than ghāyah (end), and generates concrete implications across five domains: digital da‘wah, online Sufism, authority structures, attention governance, and religious identity formation. Implications: The findings offer actionable guidance for Muslim content creators, educators, religious institutions, technologists, and individual believers seeking to cultivate authentic digital spirituality. The framework provides evaluative criteria for digital religious content, ethical principles for technology design, and practical strategies for resisting commodification and algorithmic domination in religious practice. Originality/Value: This study contributes original value by moving beyond critique toward constructive ontological reconstruction. It is among the first to systematically integrate classical Islamic metaphysics with contemporary digital practice theory, demonstrating that tawhid and tazkiyah al-nafs provide robust conceptual resources for addressing algorithmic authority, attention commodification, and spiritual fragmentation in digital environments.
The transformation of the sacred meaning of Sepilar Temple Malang through symbolic interaction between generations Syafi’uddin, Syafi’uddin; Tualeka, Muhammad Nur Wahid; Anam, Khoirul
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 10 No. 1 (2026): April (On Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v10i1.43885

Abstract

The transformation of sacred meaning is shaped not only by technological developments but also by processes of interpretation that occur through social interaction. This article examines how the sacred meaning of Candi Sepilar in East Java is constructed and negotiated across generations within the context of digital representation. The study employs a qualitative approach with an interpretive paradigm and draws on the framework of symbolic interactionism to understand how social actors interpret symbols, spaces, and practices associated with sacredness. Data were collected through field observations, in-depth interviews with traditional custodians and members of Generation Z, and an analysis of fourteen TikTok posts representing Candi Sepilar. The data were analyzed using a thematic-interpretive approach to explore the processes through which meanings are produced and negotiated in everyday social practices. The findings indicate that the older generation interprets Candi Sepilar as a spiritual space connected to cosmological relationships between humans, ancestors, and nature, maintained through ethical norms and ritual practices. In contrast, the younger generation tends to interpret the site through reflective experiences, historical value, and visual representations mediated by social media. Interaction between the two generations does not result in a conflict of meanings but instead generates processes of symbolic negotiation that allow multiple interpretations of sacredness to coexist. These findings reveal a form of sacredness that can be understood as hybrid sacredness, a configuration of sacred meaning that is preserved through ethical norms and local cultural memory while simultaneously being represented through digital media within intergenerational interaction.   Transformasi makna sakral tidak hanya dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, tetapi juga oleh proses interpretasi makna yang berlangsung melalui interaksi sosial. Artikel ini menganalisis bagaimana makna kesakralan Candi Sepilar di Jawa Timur dikonstruksi dan dinegosiasikan lintas generasi dalam konteks representasi digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma interpretatif dan kerangka interaksionisme simbolik untuk memahami bagaimana aktor sosial memaknai simbol, ruang, dan praktik yang terkait dengan kesakralan. Data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan penjaga tradisi dan generasi muda (Gen Z), serta analisis terhadap empat belas unggahan TikTok yang merepresentasikan Candi Sepilar. Analisis dilakukan secara tematik-interpretatif untuk menelusuri proses produksi dan negosiasi makna dalam praktik sosial sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa generasi tua memaknai Candi Sepilar sebagai ruang spiritual yang terkait dengan relasi kosmologis antara manusia, leluhur, dan alam yang dipertahankan melalui norma etika dan praktik ritual. Sebaliknya, generasi muda cenderung memaknai ruang tersebut melalui pengalaman reflektif, nilai sejarah, dan representasi visual yang dimediasi oleh media sosial. Interaksi antara kedua generasi tidak menghasilkan konflik makna, tetapi membentuk proses negosiasi simbolik yang memungkinkan berbagai interpretasi kesakralan hidup berdampingan. Temuan ini menunjukkan bentuk kesakralan yang dapat dipahami sebagai sakralitas hibrid, yaitu konfigurasi makna sakral yang dipertahankan melalui norma etika dan memori budaya lokal sekaligus direpresentasikan melalui medium digital dalam interaksi lintas generasi.
TOGETHER WITH SMILES : SPREADING HAPPINESS AND BUILDING CHARACTER AT MUHAMMADIYAH ORPHANAGE SIMOKERTO LKSA BUYA HAMKA Imtihanatul Ma’isyatuts Tsalitsah; Muhammad Wahid Nur Tualeka; Maheswari Ayu Pratiwi; Fani Maulina
Proceeding International Symposium on Global Educatiorg Psychology, and Cultural Synergy Vol 1 No 1 (2024): PROCEEDING INSPIRE 2024: INTERNATIONAL SYMPOSIUM ON GLOBAL EDUCATION, PSYCHOLOGY,
Publisher : P3I UMSurabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/psychoseries.v1i1.25242

Abstract

Muhammadiyah Orphanage Simokerto LKSA BUYA HAMKA, located in Surabaya, has 30 children from diverse backgrounds, ranging from early childhood education to elementary school. Children face various challenges in their community, which are addressed by their parents. Many cannot express their emotions and their needs are not met. Through workshops, children can communicate with each other. To improve the Global Health Environment, creative education and learning must be provided to children so that they understand their environment and help them make the best use of it. This study aims to understand the effectiveness of seminars and workshops with the theme "Together with a Smile: Spreading Happiness and Building Character" and its impact on children and the environment. The PjBL (Project Based Learning) program aims to enhance their life experiences, reduce plastic usage, teach them about various aspects of happiness, food, and educate them to be kind and considerate.
GLOBAL TRENDS IN ADOLESCENT DEVELOPMENT AND THEIR IMPACT ON ISLAMIC EDUCATION SYSTEMS: A PSYCHOEDUCATIONAL REVIEW AND PROGRESSIVE ISLAMIC VALUES PERSPECTIVE Imtihanatul Ma'isyatuts Tsalitsah -; Muhammad Wahid Nur Tualeka; Carlos Lazaro Prawirosastro
Proceeding International Symposium on Global Educatiorg Psychology, and Cultural Synergy Vol 2 No 1 (2025): Proceeding International Symposium on Global Education, Psychology, and Cultural
Publisher : P3I UMSurabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/psychoseries.v1i1.28749

Abstract

The acceleration of globalization and advancements in digital technology have brought significant changes to the lives of adolescents worldwide. Today’s youth grow up in a social context that is no longer confined to their local environment but is shaped by cross-cultural interactions, global information flows, and digital social dynamics. These shifts directly affect how adolescents think, learn, interact, and develop their identities. This article aims to identify key global trends in adolescent development and analyze their implications for education systems, while emphasizing the importance of integrating Islam berkemajuan (progressive Islamic values) as a moral and spiritual foundation to address global challenges. The study employs a systematic literature review of scientific publications, international organizational reports, and global education policies published between 2015 and 2025. The findings highlight five major global trends influencing adolescent development: digitalization and social media, cross-cultural openness, environmental awareness and social activism, increasing mental health issues, and changes in learning patterns and global identity formation. These trends have significant implications for education systems, including the need for adaptive curricula, enhanced digital literacy, transformation of educators’ roles, and the strengthening of character education. The integration of progressive Islamic values, as reflected in Qur’an Surah Al-Qashash [QS. Al-Qashash: 77], serves as a crucial strategy to maintain balance between global advancement and the development of noble character. This article recommends strengthening collaboration between educators, policymakers, and communities to respond to global challenges through holistic, contextual, and spiritually grounded education.