Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Al Ushuliy

KONTROVERSI BENTUK PENGAWASAN PEMERINTAH TERHADAP ALAT TANGKAP IKAN DI NAGARI SIMAWANG Betry Indriani; Sulastri Caniago; Siska Elasta Putri; Ulya Atsani; Emrizal Emrizal
Al Ushuliy: Jurnal Mahasiswa Syariah dan Hukum Vol 2, No 2 (2023)
Publisher : UIN Mahmud Yunus Batusangkar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31958/alushuliy.v2i2.11153

Abstract

Studi ini mengkaji tentang Kontroversi tentang bentuk Pengawasan Pemerintah terhadap alat dan bahan tangkap ikan di Danau Singkarak yang digunakan oleh masyarakat Kenagarian Simawang (Studi Peraturan Gubernur Provinsi Sumatera Barat Nomor 81 tahun 2017), permasalahannya adalah  terjadinya penyimpangan yang dilakukan oleh masyarakat dan nelayan yang berada di Danau singkarak khususnya Nagari Simawang. Lahirnya peraturan Gubernur tentang larangan penggunaan alat dan bahan tangkap ikan tersebut membuat masyarakat masih melanggar aturan yang diberikan oleh pemerintah, untuk itu diperlukan pengawasan lebih terhadap nelayan yang masih memakai alat dan bahan tangkap ikan seperti alat mengbom dan bahan seperti bagan .Dari permasalahan tersebut muncul pertanyaan : 1) apa bentuk alat dan bahan tangkap ikan di danau Singkarak kenagarian Simawang, 2) Bagaimana bentuk pengawasan yang dilakukan oleh Dinas Perikanan Sumatera Barat dalam mengimplementasikan  peraturan Gubernur Provinsi Sumatera Barat Nomor 81 Tahun 2017, 3) Bagaimana tinjauan Hukum Tata Negara Islam terhadap peran Dinas Perikanan Sumatera Barat dalam melakukan pengawasan terhadap peraturan Gubernur Provinsi Sumatera Barat Nomor 81 Tahun 2017. Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research), yang dilakukan di kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Provinisi Sumatera Barat. Sumber data primer yang diperoleh dari kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, Kepala bidang ruang laut dan pengawasan sumber daya Perikanan, kepala bidang Perikanan Tangkap, masyarakat serta Nelayan yang ada di Nagari Simawang. Sedangkan data sekunder dalam penelitian ini yaitu, peraturan Gubernur Provinsi Sumatera Barat Nomor 81 Tahun 2017 tentang penggunaan alat dan bahan tangkap ikan di Danau Singkarak. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Data dianalisis dengan model interaktif analisis Miles dan Hubberman. Hasil dari penelitian ini adalah bentuk alat dan bahan tangkap ikan yang diawasi oleh pihak dinas perikanan di danau Singkarak khususnya kenagarian Simawang yaitu bagan tancap dan bahan peledak seperti bom, bentuk pengawasan yang dilakukan oleh Dinas Perikanan diantarannya yaitu pengawasan dalam bentuk preventif (pencegahan) yaitu sosialiasi. Pengawasan represif (penindakan) yaitu patroli, dan razia, sanksi. Sosialisasi dan patroli sudah dilakukan pada tahun 2019 namun pengawasan dalam bentuk razia, belum dilakukan . Hal ini disebabkan adanya penolakkan dari masyarakat serta tingginya covid 19 yang mengakibatkan pemberhentian pengawasan pada tahun tersebut. Melihat Tinjauan Hukum Tata Negara Islam, kedudukan Dinas Perikanan sama halnya dengan sultah Tanfidziyah sebagai lembaga yang menjalankan suatu peraturan perundang-undangan, dalam hal ini bahwasanya Dinas Perikanan belum optimal melakukan pengawasan. Dalam hal penegakkan peraturan perundang-undangan disebut juga dengan sultah Qadha’iyyah. Namun dalam upaya penegakkan dinas Perikanan belum memberlakukan sanksi sebagai upaya jera terhadap pelaku perikanan.
Revisiting the 2024 West Sumatra DPD Re-vote: An Analysis of Constitutional Court Decision No. 03-03/PHPU.DPD-XXII/2024 from the Perspective of Legal Ideals and Siyasah Dusturiyyah Seprina, Silvia; Caniago, Sulastri; Rizal, Deri
Al Ushuliy: Jurnal Mahasiswa Syariah dan Hukum Vol 4, No 1 (2025)
Publisher : UIN Mahmud Yunus Batusangkar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31958/alushuliy.v4i1.15624

Abstract

This research aims to examine the implications of the Constitutional Court’s decision regarding the exclusion of Irman Gusman from the Final Candidate List (DCT) for the West Sumatra Regional Representative Council (DPD) by the General Election Commission (KPU), which was deemed to have violated his constitutional rights. The study evaluates this ruling from the perspective of the legal ideals of certainty, justice, and utility, as well as from the standpoint of Siyasah Dusturiyyah (Islamic constitutional politics). Furthermore, it assesses the impact of the decision on the implementation of a re-vote (Pemungutan Suara Ulang, PSU) in West Sumatra. Using a normative legal method and a qualitative approach, the study offers a comprehensive analysis of Constitutional Court Decision No. 03-03/PHPU.DPD-XXII/2024 concerning the electoral dispute over the DPD seat in West Sumatra. The research relies on secondary data sources, including primary legal materials such as the Court's decision, the Qur’an and Hadith, the 1945 Constitution, and relevant electoral laws, along with secondary sources such as scholarly books, academic journals, and prior research. The findings reveal that the Constitutional Court’s decision upheld legal certainty by clarifying the legal process and safeguarding constitutional rights, particularly those of Irman Gusman. In terms of justice, the decision focused mainly on substantive justice by addressing his constitutional entitlements. However, the utility of the ruling remains limited. The decision prompted a re-vote in West Sumatra to rectify irregularities in the previous election process. Nevertheless, the re-vote faced various challenges, including logistical constraints and limited public acceptance. From the perspective of Siyasah Dusturiyyah, the decision reflects a perceived lack of leadership integrity, as it deemed Irman Gusman unqualified. According to the principles of Islamic jurisprudence, when confronted with two conflicting harms (mafsadat), the lesser harm should be chosen. In this context, holding a re-vote was considered a lesser harm than ignoring a binding court ruling.
Bawaslu’s Oversight of Digital Campaign Dynamics on Social Media in the 2024 Tanah Datar Regional Head Election Nurjannah, Zakiati; Caniago, Sulastri; Husni, Alfi; Emrizal
Al Ushuliy: Jurnal Mahasiswa Syariah dan Hukum Vol. 4 No. 2 (2025): Vol 4 No 2
Publisher : UIN Mahmud Yunus Batusangkar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31958/alushuliy.v4i2.16376

Abstract

This thesis examines the supervision carried out by the Election Supervisory Agency (Bawaslu) over digital campaign activities on social media during the 2024 Regional Head Election (Pilkada) in Tanah Datar. The study focuses on three main issues: the forms and characteristics of digital campaigns that emerged on social media platforms, the supervisory mechanisms employed by Bawaslu in responding to these dynamics, and the challenges faced by Bawaslu in exercising its oversight function amid the rapid development and openness of digital information. This research adopts a qualitative field research approach. Data were collected through in-depth interviews with relevant stakeholders, documentation analysis, and observation of local social media accounts that were active during the campaign period. The collected data were analyzed descriptively and qualitatively using several analytical frameworks, including surveillance theory, campaign theory, institutional theory of Bawaslu, and the perspective of fiqh siyasah tanfidziah. The findings indicate that digital campaigns in the 2024 Tanah Datar Pilkada were not limited to informational, persuasive, and mobilizational content, but also evolved into spaces of political criticism, satire, humor, and complex public interaction. This development confirms that social media has become a strategic arena for shaping public opinion, while simultaneously presenting significant challenges for electoral supervision. Bawaslu’s supervisory efforts—implemented through direct, indirect, and preventive mechanisms—reflect an institutional attempt to adapt to digital realities. However, their effectiveness remains constrained by technical limitations, the absence of detailed regulatory frameworks governing digital campaigns, and relatively low levels of public participation. This condition illustrates a gap between positive legal norms governing elections and the actual practices of digital campaigning in the field. From the perspective of fiqh siyasah tanfidziah, electoral supervision constitutes a mandate that must be carried out fairly and oriented toward the public interest (maslahah). Accordingly, this study emphasizes the importance of strengthening digital campaign regulations, enhancing supervisory technological capacity, and encouraging broader public involvement to ensure that digital campaign oversight is more effective, just, and aligned with both legal principles and sharia values.