Yuyun Lisnawati
Deparment Of Obstetric And Gynecology, Persahabatan Hospital Universitas Indonesia

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

LUARAN BAYI DARI IBU DENGAN TUBERKULOSIS RESISTAN MULTI OBAT Yusuf, Dwiyanarsi; Lisnawati, Yuyun
Majalah Kedokteran Indonesia Vol 69 No 4 (2019): Journal of the Indonesian Medical Association Majalah Kedokteran Indonesia Volum
Publisher : PENGURUS BESAR IKATAN DOKTER INDONESIA (PB IDI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.0679/jinma.v69i4.69

Abstract

Pendahuluan: Multidrug resistant tuberculosis (MDR TB) merupakan penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, dimana terdapat resistensi terhadap obat isoniazid dan rifampisin dengan atau tanpa resisten terhadap obat lainnya. MDR TB jika tidak diobati atau terdiagnosis selama kehamilan, dapat meningkatkan morbiditas, mortalitas dan transmisi vertikal ibu ke bayi. Terdapat peningkatan risiko komplikasi obstetri seperti abortus, pertumbuhan janin terhambat, air ketuban berkurang, persalinan preterm dan meningkatnya mortalitas neonatus. Tujuan: Studi ini bertujuan untuk menyajikan serial kasus yang kami dapatkan di RSP mengenai tatalaksana MDR TB dalam kehamilan serta luaran bayi pada ibu dengan MDR TB. Metode: Kami mengikuti 3 wanita hamil yang didiagnosis dengan MDR TB. Data diambil dari anamnesis, pemeriksaan fisik, laboratorium dan luaran bayi. Hasil: Dua dari tiga wanita hamil diketahui resisten terhadap rifampisin dan telah diberikan ethionamide dan levofloxacin selama lebih dari 1 bulan. Dilakukan terminasi kehamilan secara seksio sesaria di usia kehamilan 32 minggu, 36 minggu, dan 36 minggu dengan berat lahir bayi 1450 gram, 2350 gram dan 2600 gram. Tidak ditemukan adanya kelainan keongenital pada semua neonatus. Kesimpulan: Serial kasus MDR-TB dalam kehamilan telah dilaporkan. Dua dari pasien telah diberikan terapi ethionamide dan levofloxacin selama kehamilan, dan tidak menunjukkan adanya kelainan bawaan pada neonatus. Berat lahir rendah ditemukan pada dua neonatus.
HARUSKAH PLASENTA PERKRETA DISERTAI LAKUNA BIZARRE? Tri Apriliawan; Yuyun Lisnawati; Dwiyanarsi Yusuf; Oni Khonsa
Majalah Kedokteran Indonesia Vol 69 No 8 (2019): Journal of the Indonesian Medical Association Majalah Kedokteran Indonesia Volum
Publisher : PENGURUS BESAR IKATAN DOKTER INDONESIA (PB IDI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1234/jinma.v69i8.189

Abstract

Latar belakang: Plasenta perkreta merupakan salah satu kondisi mengancam nyawa yang membutuhkan tatalaksana secara multidisiplin. Angka kejadian plasenta perkreta semakin meningkat seiring dengan meningkatnya kejadian seksio sesarea. Diagnosis saat antenatal merupakan titik penting untuk mencegah morbiditas serta mortalitas pada ibu dan bayi. Ultrasonografi (USG) merupakan salah satu modalitas yang relatif lebih murah dan mudah, untuk penegakan diagnosis plasenta perkreta.Tujuan: Mengidentifikasi kriteria ultrasonografi yang optimal untuk diagnosis plasenta perkreta. Metode: Kami mengikuti 2 kasus, yang melakukan antenatal care (ANC). Kedua pasien kemudian dilakukan pemeriksaan USG sesuai dengan metode placenta accrete index (PAI). Temuan penilaian USG ini kemudian dibandingkan dengan temuan klinis intraoperatif dan gambaran histologi. Hasil: Dari dua kasus, kami tidak menemukan adanya lakuna Bizarre, melainkan ditemukan lapisan miometrium retroplasenta yang tipis disertai dengan hilangnya clear zone. Penemuan pada ultrasonografi ini sesuai dengan temuan intraoperatif dan gambaran histologi, dimana gambaran plasenta perkreta jelas terlihat.Kesimpulan: Berbeda dengan penilaian pada PAI, dimana adanya lakuna merupakan faktor prediksi terbesar terjadinya plasenta adhesiva, pada kedua kasus ini, lapisan miometrium retroplasenta yang tipis disertai clear zone yang menghilang, walau tidak ditemukan lakuna, cukup dapat menggambarkan plasenta perkreta.
KARAKTERISTIK KLINIK DAN ANALISIS FAKTOR RISIKO YANG BERPERAN PADA DERAJAT KEPARAHAN INVASI PLASENTA ABNORMAL DI RSUP PERSAHABATAN PADA TAHUN 2015-2018 Yuri Feharsal; Yuyun Lisnawati; Sri Pudyastuti; Oni Khonsa; Tri Apriliawan; Botefilia; Nadia Nurfauziah; Kindy Agustin
Majalah Kedokteran Indonesia Vol 69 No 6 (2019): Journal of the Indonesian Medical Association Majalah Kedokteran Indonesia Volum
Publisher : PENGURUS BESAR IKATAN DOKTER INDONESIA (PB IDI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1234/jinma.v69i6.195

Abstract

Latar belakang: invasi plasenta abnormal adalah kondisi dimana plasenta memiliki implantasi yang mendalam di miometrium, dan pada beberapa kasus, hingga lapisan serosa uterus, hingga mengakibatkan perdarahan pascapersalinan dan meningkatkan kejadian kematian ibu. Tujuan: untuk mengidentifikasi prevalensi, karakteristik klinis dan rasio odds-nya terhadap peningkatan derajat keparahan dari invasi plasenta abnormal di RSUP Persahabatan dari tahun 2015 hingga 2018.Metode: kohort retrospektifHasil: dari tahun 2015 hingga 2018, prevalensi invasi plasenta abnormal adalah sebesar 0.8%. Faktor risiko yang meningkatkan derajat keparahan invasi plasenta abnormal adalah: usia di-atas 35 tahun (OR 1.6, 95% CI 0.41-6.24) dan riwayat seksio sesarea lebih dari 2 kali (OR 1.63, 95% CI 0.41-6.46). Makin parahnya invasi plasenta abnormal meningkatkan risiko ter-jadinya kehilangan darah selama operasi lebih dari 1000 ml (OR 2.13, 95% CI 0.52-8.76). Kesimpulan: prevalensi invasi plasenta abnormal di RSUP Persahabatan dari tahun 2015 hingga 2018 adalah sebesar 0.8%. Secara statistik, usia, riwayat seksio sesarea lebih dari 2 kali, volume kehilangan darah, dan durasi operasi ditemukan berhubungan dengan kasus invasi plasenta abnormal.
KEBERHASILAN MIOMEKTOMI PADA SEKSIO SESAREA: SEBUAH LAPORAN KASUS Elizabeth Dian Novita; Yuyun Lisnawati
Majalah Kedokteran Indonesia Vol 68 No 12 (2018): Journal of The Indonesian Medical Association Majalah Kedokteran Indonesia Volu
Publisher : PENGURUS BESAR IKATAN DOKTER INDONESIA (PB IDI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1234/jinma.v68i12.208

Abstract

Latar belakang: Insidensi mioma yang berhubungan dengan kehamilan dilaporkan sekitar 0,3-5%. Insidensi mioma juga meningkat seiring meningkatnya usia maternal saat kehamilan. Miomektomi adalah prosedur bedah yang paling umum dilakukan dalam seksio cesarean. Banyak ahli kebidanan enggan untuk melakukan prosedur gabungan ini karena kekhawatiran tentang potensi morbiditas dan mortalitas karena perdarahan yang tidak dapat dikendalikan. Tujuan dari serial kasus ini adalah untuk menyelidiki keberhasilan miomektomi selama seksio cesarean di Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan, Jakarta. Metode: Empat kasus kehamilan yang dilakukan miomektomi dalam seksio cesarean. Indikasi seksio cesarean, rata-rata waktu operasi, jumlah perdarahan, kebutuhan transfuse darah dan perawatan intensif, komplikasi post operatif dan lama perawatan dicatat sebagai luaran.Hasil: Rata-rata waktu operasi sekitar 100 menit, jumlah perdarahan mulai dari 300 ? 1000 ml, lebih banyak dari tindakan seksio cesarean biasanya. Tidak ada pemberian transfusi, perawatan intensif, perpanjangan perawatan ataupun perdarahan post partum pada serial kasus ini. Kesimpulan: Miomektomi pada seksio cesarean merupakan tindakan yang aman dan memungkinkan untuk dilakukan. Miomektomi pada seksio cesarean, jika dilakukan di pusat tersier yang dilengkapi dengan dokter kebidanan yang berpengalaman adalah pilihan yang pasti dan aman.
Low Vitamin D Levels Increase the Risk of Early Onset Neonatal Sepsis: Kadar vitamin D yang Rendah Meningkatkan Risiko Sepsis Neonatal Awitan Dini Lisnawati Yuyun; Ali Sungkar; Rinawati Rohsiswatno; Noroyono Wibowo; Denni Hermartin; Agustin Kindi
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume 8 No. 2 April 2020
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (60.906 KB) | DOI: 10.32771/inajog.v8i2.1129

Abstract

Abstract Objective: To identify the association between maternal and umbilical cord vitamin D levels with suspects of early-onset of neonatal sepsis (EONS) in newborns from mothers with preterm premature rupture of membranes (PPROM).Methods: This is a retrospective cohort study conducted from January 2017 to Augusts 2018. Data was taken consecutively from medical records and previous study data at Dr. Cipto Mangunkusumo and Persahabatan Hospital, Jakarta.Results: From total of 72 infants from mothers with PPROM, 22 infants (31%) were EONS-suspected and 50 infants (69%) were not EONS-suspected. There was a significant association between maternal and umbilical cord vitamin D levels with EONS.Conclusion: There was a significant association between maternal and umbilical cord vitamin D levels with EONS.Keywords: early-onset neonatal sepsis, preterm premature rupture of membrane, vitamin D, Abstrak Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara kadar vitamin D maternal dan tali pusat dengan risiko tejadinya Sepsis Neonatal Awitan Dini (SNAD) pada bayi dari ibu dengan Ketuban Pecah Dini (KPD).Metode: Desain penelitian kohort retrospektif secara consecutive sampling. Data diambil dari rekam medis dan data penelitian sebelumnya di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Dr. Cipto Mangunkusumo dan Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Jakarta. Hasil: Dari 72 bayi yang dilahirkan dari ibu dengan KPD, 22 bayi (31%) diantaranya diduga mengalami SNAD, sedangkan 50 bayi lainnya tidak mengalami SNAD. Terdapat hubungan yang bermakna antara kadar vitamin D maternal dan tali pusat dengan kejadian SNAD. Kesimpulan:Terdapathubungan yang bermakna antara kadar vitamin D maternal dan tali pusat dengan kejadian SNAD.Kata kunci: ketuban pecah dini, sepsis neonatal awitan dini, vitamin D
Increased Levels of Umbilical Cord Blood Interleukin-6 (IL-6) and Serum C-Reactive Protein (CRP) in Premature Infants of Vitamin D Deficient Mothers: Peningkatan Kadar Interleukin-6 (IL-6) Darah Tali Pusat dan Serum C-Reactive Protein (CRP) pada Bayi Prematur dari Ibu dengan Defisiensi Vitamin D Yuyun Lisnawati; Marianna Yesy; Rinawati Rohsiswatmo
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume 9 No. 1 January 2021
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32771/inajog.v9i1.1397

Abstract

Objective: Increased levels of inflammatory factors in newborns are often associated with lower maternal vitamin D levels. This study aimed to find out the relationship between maternal and umbilical cord vitamin D serum levels on umbilical cord Interleukin-6 (IL-6) and serum C-Reactive Protein (CRP) levels in premature infants.Methods: The study was an observational analytic, cross-sectional design in mothers who underwent preterm birth at 28-34 weeks' gestation due to premature rupture of membranes (PROM) and their infants at Dr. Cipto Mangunkusumo General Hospital (RSCM), Jakarta and Persahabatan General Hospital, Jakarta, from January 2017 to August 2018. Levels of serum vitamin D of the maternal and umbilical cord, umbilical cord IL-6 and serum CRP in premature infants were recorded. Vitamin D level was divided into deficiency (<10 ng/mL), insufficiency (10–29 ng/mL), and normal (>30 ng/mL) groups. The relationship of vitamin D levels with IL-6 and CRP was carried out using Kruskal Wallis test.Results: A total of 70 subjects met the research criteria. Umbilical cord IL-6 and serum CRP levels in premature infants of vitamin D deficient mothers were higher (20.31 pg/mL and 0.50 mg/L) compared to insufficient (3.34 pg/mL and 0.45 mg/L) and normal mothers (3.29 pg/mL and 0.30 mg/L), although not statistically significant (IL-6 p = 0.665, CRP p = 0.89). Referring to the umbilical cord blood vitamin D levels, the results were different and not as expected, in which the umbilical cord IL-6 and serum CRP levels of preterm infants in the deficiency (3.76 pg/mL and 0.35 mg/L) and insufficiency (3.37 pg/mL and 0.40 mg/L) groups were lower (IL-6) and not different (CRP) than the normal group (9.41 pg/mL and 0.40 mg/L).Conclusion: There were an increasing tendency for umbilical cord IL-6 and serum CRP levels in premature infants of vitamin D deficient mothers although these were not statistically significant. Based on the levels of vitamin D umbilical cord blood, the CRP levels in the serum of premature infants were not different, while the IL-6 levels in the deficiency and insufficiency group were lower than in the normal group.Keywords: CRP, IL-6, maternal vitamin D, umbilical cord vitamin D. Abstrak Tujuan: Peningkatan kadar faktor inflamasi pada bayi baru lahir sering dikaitkan dengan rendahnya kadar vitamin D ibu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar serum vitamin D ibu dan tali pusat, dengan kadar IL-6 tali pusat dan serum C-Reactive Protein (CRP) bayi prematur.Metode: Studi observasional analitik dengan desain potong lintang pada subjek ibu yang mengalami kelahiran prematur di usia 28–34 minggu kehamilan disebabkan ketuban pecah dan bayi yang dilahirkannya, di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan, Jakarta, pada bulan Januari 2017 sampai Agustus 2018. Variabel data adalah kadar serum vitamin D ibu dan tali pusat, kadar serum IL-6 tali pusat dan kadar CRP darah bayi. Kadar vitamin D (25(OH)D) dibagi menjadi defisiensi (<10 ng/mL), insufisiensi (10–29 ng/mL) dan normal (>30 ng/mL) dan dicari hubungannya dengan kadar IL-6 tali pusat dan serum CRP bayi prematur, menggunakan uji Kruskal Wallis. Hasil: Sebanyak 70 subjek telah memenuhi kriteria penelitian. Kadar IL-6 tali pusat dan serum CRP bayi prematur dari kelompok ibu defisiensi vitamin D (20,31 pg/ml dan 0,50 mg/L) lebih tinggi dibandingkan kelompok ibu insufisiensi vitamin D (3,34 pg/mL dan 0,45 mg/L) maupun kelompok ibu normal vitamin D (3,29 pg/mL dan 0,30 mg/L) tetapi perbedaan tersebut tidak bermakna (IL-6 p=0,665 dan CRP p = 0,899). Mengacu pada kadar vitamin D darah tali pusat didapatkan hasil yang berbeda dan tidak sesuai harapan, dimana tali pusat IL-6 dan serum CRP bayi prematur mengalami defisiensi (3,76 pg / mL dan 0,35 mg / L) dan insufisiensi. (3,37 pg / mL dan 0,40 mg / L) kelompok lebih rendah (IL-6) dan tidak berbeda (CRP) dibandingkan kelompok normal (9,41 pg / mL dan 0,40 mg / L).Kesimpulan: Didapat kecenderungan peningkatan kadar IL-6 darah tali pusat dan serum CRP bayi prematur dari ibu dengan defisiensi kadar vitamin D walaupun secara statistik tidak signifikan. Berdasarkan kelompok vitamin D darah tali pusat, kadar CRP serum bayi prematur tidak berbeda, sedangkan kadar IL-6 pada kelompok defisiensi dan insufisiensi lebih rendah dibandingkan pada kelompok normal.Kata kunci: CRP, IL-6, vitamin D ibu, vitamin D tali pusat.
A Significant Increase in Maternal Blood Uric Acid Levels Accompanies the Severity of Hypertensive Disorders in Pregnancy: Peningkatan Signifikan Kadar Asam Urat Darah Ibu menyertai Keparahan Gangguan Hipertensi pada Kehamilan Yuyun Lisnawati; Jimmy Sakti; Rima Irwinda; Kindy Agustin; Nadia Nurfauziah
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume 9 No. 3 July 2021
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32771/inajog.v9i3.1491

Abstract

Objective: To asses the relationship between maternal serum uric acid level and severity of hypertensive disorders in pregnancy and perinatal outcomes.Methods: A cross sectional study was conducted at Persahabatan Hospital from January 2014 to December 2018. Subject were pregnant women with hypertensive disorder. Serum uric acid levels were taken from a venous blood sample at the time the patient came for delivery. The severity of hypertensive disorders in pregnancy were grouped into chronic hypertension, gestational hypertension, preeclampsia without severe feature, preeclampsia with severe feature, and preeclampsia with severe feature and organ involvement. The perinatal outcomes were the gestational age at birth, birth weight, and the first minute APGAR score. The relationship between maternal serum uric acid level and severity of hypertensive disorders in pregnancy and perinatal outcomes were analyzed using Mann Whitney and Kruskall Wallis test.Result: A total of 704 out of 880 pregnant women with hypertensive disorder have met the criteria as research subjects. Maternal uric acid levels were found to increase significantly (p <0.001) with increasing severity of hypertensive disorders in pregnancy. Maternal who experienced preterm delivery had significantly higher blood uric acid levels (p <0.001) than those who experienced a term delivery. Maternal blood uric acid levels of infants with small birth weight for gestational age and first minute Apgar score <7 were slightly higher but not significant compared to maternal blood uric acid levels of normal birth weight infants and first minute Apgar score >7.Conclusions: Maternal blood uric acid levels increased significantly accompanying the severity of hypertensive disorders in pregnancy. Blood uric acid levels tend to be higher in maternal who have poor perinatal outcomes.Keywords: APGAR score, hypertensive disorders in pregnancy, preeclampsia, uric acid. AbstrakTujuan: Untuk menilai hubungan antara kadar asam urat serum ibu dan keparahan gangguan hipertensi pada kehamilan dan luaran perinatal.Metode: Studi potong lintang dilakukan Rumah Sakit Persahabatan periode Januari 2014 sampai Desember 2018. Subjek penelitian adalah ibu hamil dengan gangguan hipertensi. Kadar asam urat darah diambil dari sampel darah vena pada saat ibu hamil datang untuk melahirkan. Tingkat keparahan gangguan hipertensi pada kehamilan dikelompokkan menjadi hipertensi kronik, hipertensi gestasional, preeklamsia tanpa gejala berat, preeklamsia dengan gejaka berat, dan preeklamsia dengan gejala berat dan keterlibatan organ. Luaran perinatal adalah usia kehamilan saat lahir, berat badan bayi lahir, dan skor APGAR menit pertama. Hubungan antara kadar asam urat darah ibu dan tingkat keparahan gangguan hipertensi pada kehamilan dan luaran perinatal dianalisis menggunakan uji Mann Whitney atau uji Kruskall Wallis.Hasil: Sebanyak 704 dari 880 ibu hamil penderita hipertensi telah memenuhi kriteria sebagai subjek penelitian. Kadar asam urat darah ibu meningkat secara signifikan (p <0,001) dengan meningkatnya keparahan gangguan hipertensi pada kehamilan. Ibu yang melahirkan preterm memiliki kadar asam urat darah yang lebih tinggi secara bermakna (p < 0,001) dibandingkan ibu yang melahirkan aterm. Kadar asam urat darah ibu dari bayi dengan berat lahir kecil untuk usia kehamilan dan skor Apgar menit pertama < 7, sedikit lebih tinggi tetapi tidak signifikan, dibandingkan kadar asam urat darah ibu dari bayi berat lahir normal dan skor Apgar menit pertama pertama > 7.Kesimpulan: Kadar asam urat darah ibu meningkat secara signifikan menyertai beratnya gangguan hipertensi pada kehamilan. Kadar asam urat darah cenderung lebih tinggi pada ibu yang memiliki luaran perinatal kurang baik.Kata kunci: APGAR, asam urat, hipertensi dalam kehamilan, preeklamsia.
Hubungan Parameter Laboratorium dengan Derajat Klinis COVID-19 pada Kehamilan Nirmalasari, Rully Ayu; Surjadi, Lily Marliany; Maharani, Laksmi; Lisnawati, Yuyun; Mangun, Dhea
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 6 No 3 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2023.v6.291-299

Abstract

Background Pregnant women were one of the most susceptible groups because they are vulnerable to respiratory infection. They may get more severe symptoms due to their physiological changes during pregnancy including the immunological response. This study was performed to find whether there is an association between laboratory parameters (Hb, leukocytes, platelet, neutrophils, lymphocyte, monocyte, NLR, PLR and CRP) and the severity of Covid-19 infection in pregnant women. Methods This study is a retrospective cohort study using secondary data from patient’s medical records at Persahabatan General Hospital, Jakarta from March to June 2021. Results Pregnancy cases with COVID-19 in this study were in the mean of 29 year age. Most of them are in the third trimester of pregnancy. 80.5% from 67 patients have no- mild symptom while 19.5% have moderate to severe symptom. There are no difference in vital sign nor oxygen saturation at first admission. Lower level was found in the parameter of leukocyte, lymphocyte and monocyte.  Neutrophil, neutrophil-to-lymphocyte ratio and C-reactive Protein increase as the degree of severity increase.  The mean neutrophil in pregnant women with moderate to severe COVID-19 symptom was 80.49±7.47 while median NLR value was of 6.76 (2.73-18.71) . Conclusions Neutrophil, neutrophil-to-lymphocyte ratio and C-reactive Protein has associate significantly to severity symtomps of COVID-19 in pregnancy.
Luaran Bayi dari Ibu dengan Tuberkulosis Resistan Multi Obat Dwiyanarsi Yusuf; Yuyun Lisnawati
Majalah Kedokteran Indonesia Vol 69 No 4 (2019): Journal of The Indonesian Medical Association - Majalah Kedokteran Indonesia, Vo
Publisher : PENGURUS BESAR IKATAN DOKTER INDONESIA (PB IDI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47830/jinma-vol.69.4-2019-69

Abstract

Introduction: Multidrug-resistant TB (MDR-TB) is described as Mycobacterium tuberculosis infection resistant to rifampicin and isoniazide with or with-out resistance to other drugs. MDR-TB, if left untreated or undiagnosed inpregnancy, is associated with higher maternal morbidity, mortality, and increased risk of vertical transmission. There are increased risk of obstetrical complications like spontaneous abortions, fetal growth restriction, oligohydram-nios, preterm labor and increased neonatal mortality. Objective: This study was intended to present a case series of MDR-TB treat-ment among pregnancies and fetal outcome in our hospital. Methods: Evaluation of 3 pregnant woman who had been diagnosed with MDR-TB. Data were obtained by history taking, physical examinations, laboratory results and outcome of the neonates. Results: Two out of 3 pregnant woman were known resistant to rifampicin andwere given ethionamide and levofloxacin for more than a month. C-sectionwere performed in all pregnancies at 32 weeks, 36 weeks and 36 weeks withbaby weight 1450 gr, 2350 gr, and 2600 gr respectively. There was no congeni-tal abnormality found in all neonates. Conclusion: Case series of MDR-TB in pregnancy has been reported. Two outof 3 patients were received ethionamide and levofloxacin treatment during pregnancy, showed no deformity or congenital abnormality in the neonates. Low birth weight neonates were found in two patients.
Haruskah Plasenta Perkreta disertai Lakuna Bizarre? Dwiyanarsi Yusuf; Oni Khonsa; Tri Apriliawan; Yuyun Lisnawati
Majalah Kedokteran Indonesia Vol 69 No 8 (2019): Journal of The Indonesian Medical Association - Majalah Kedokteran Indonesia, Vo
Publisher : PENGURUS BESAR IKATAN DOKTER INDONESIA (PB IDI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47830/jinma-vol.69.8-2019-189

Abstract

Background: Placenta percreta is a life-threatening condition that requires multidisciplinary management. The incidence of placenta percreta increases with increasing incidence of cesarean section. Antenatal diagnosis is an important point to prevent morbidity and mortality in both mother and baby. Ultrasonography (USG) is one of the relatively cheaper and easier modalities for diagnosing placenta percreta. Objective: To identify the optimal ultrasonographic criteria for the diagnosis of placenta percreta.Methods: We followed 2 cases, which performed antenatal care (ANC). Both patients then performed an ultrasound examination according to the placenta accrete index (PAI) method. The ultrasound assessment findings are then compared with intraoperative clinical findings and histological features. Results: From two cases, we did not find any Bizarre lacuna, but a thin retroplacental myometrial layer was found accompanied by loss of clear zone. The findings on ultrasonography are in accordance with intraoperative findings and histological features, where the appearance of the placenta percreta is clearly visible.Conclusion: It is different from the assessment of PAI, where the presence of lacuna is the biggest predictive factor for placenta adhesiva, in both cases, a thin myometrial layer of retroplacenta accompanied by a clear clear zone, although no lacuna was found, sufficiently describe the placenta percreta