Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : BIOPROSPEK

KEANEKARAGAMAN DAN KELIMPAHAN MAMALIA KECIL NON-VOLANT DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DESA SETABU PULAU SEBATIK, KALIMANTAN UTARA Ulandari, Rika; Jusmaldi, Jusmaldi; Rukmi, Dijan Sunar
BIOPROSPEK: Jurnal Ilmiah Biologi Vol 16 No 1 (2024): BIOPROSPEK: Jurnal Ilmiah Biologi
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/bp.v16i1.1292

Abstract

Mamalia kecil mempunyai peran yang sangat penting di dalam ekosistem hutan yaitu sebagai penyerbuk, pemencar biji, dan sebagai agen dalam regenerasi hutan, sehingga keberadaannya sangat penting untuk dilestarikan. Adanya alih fungsi penggunaan lahan dikhawatirkan dapat mempengaruhi keberadaan mamalia kecil, sehingga penelitian ini dilakukan untuk mengetahui keanekaragaman dan kelimpahan mamalia kecil non-volant di perkebunan kelapa sawit Desa Setabu Pulau Sebatik, Kalimantan Utara. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret hingga April 2023. Dalam penelitian ini digunakan metode perangkap (Trapping), dengan memasang 40 buah perangkap selama 30 hari pengamatan, Umpan yang digunakan adalah nanas, pisang, kelapa bakar, dan ikan asin. Data yang diperoleh dianalisa secara kuantitatif dan deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan 7 jenis mamalia kecil yang termasuk ke dalam ordo Rodentia (famili Sciuridae dan Muridae), dengan total tangkapan sebanyak 18 individu. Jenis yang tertangkap yaitu: Callosciurus prevostii, Callosciurus notatus, Chiropodomys major, Rattus tanezumi, Rattus argentiventer, Rattus tiomanicus, dan Sundasciurus lowii. Hasil analisa menunjukkan bahwa keanekaragaman di wilayah ini termasuk ke dalam kategori sedang, dengan kelimpahan individu tiap jenis tersebar merata (sama), serta tidak ada jenis yang dominan.
PERSEBARAN PRIMATA DI KAWASAN FRAGMENTASI HUTAN SEPANJANG SUNGAI TUNAN, KECAMATAN WARU, KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA, KALIMANTAN TIMUR Hasrul, Hasrul; Rukmi, Dijan Sunar; Lariman, Lariman
BIOPROSPEK: Jurnal Ilmiah Biologi Vol 15 No 2 (2023): BIOPROSPEK: Jurnal Ilmiah Biologi
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/bp.v15i2.1231

Abstract

ABSTRAK Kawasan hutan yang terdapat di sekitar Sungai Tunan merupakan salah satu habitat bagi primata di Kalimantan Timur. Beberapa area di kawasan hutan dialihfungsikan menjadi perumahan warga, jalan raya, dan jembatan. Akibat perubahan fungsi lahan tersebut terbentuk fragmen-fragmen hutan yang dapat mengancam keberadaan primata. Penelitian mengenai persebaran primata di wilayah ini juga belum pernah dilaporkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persebaran primata di kawasan fragmentasi hutan Kecamatan Waru, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2022 hingga bulan Maret 2022. Metode pengamatan adalah observasi langsung dan Total Count Sampling terhadap kelompok-kelompok primata yang dijadikan sebagai obyek penelitian. Peta persebaran kelompok primata dibuat menggunakan aplikasi Avenza maps dan Quantum GIS. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh 3 spesies primata, yaitu monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), bekantan (Nasalis larvatus), dan lutung kelabu (Trachypithecus cristatus), yang menunjukkan pola hidup berkelompok. Meskipun demikian, bekantan merupakan primata yang dominan di kawasan ini, ditunjukkan dengan jumlah individu dan kelompok yang lebih banyak dibanding 2 spesies lainnya. Primata memiliki preferensi terhadap jenis pohon tertentu hingga dapat mempengaruhi persebarannya. Persebaran kelompok primata di fragmen hutan sepanjang sungai Tunan cenderung dipengaruhi oleh persebaran pidada merah (Sonneratia caseolaris). Proporsi bekantan menempati Pidada merah (Sonneratia caseolaris) yaitu 76%, buta-buta (Excoecaria agallocha) yaitu 8%, dan beberapa tumbuhan lain. Proporsi lutung kelabu menempati pohon pidada merah yaitu 50%, diikuti pohon mangga (Mangifera indica) yaitu 19%, dan buta-buta yaitu 11%. Proporsi monyet ekor panjang menempati pidada merah adalah 40%, pohon kelapa (Cocos nucifera) yaitu 14%, dan api-api (Avicennia rumphiana) yaitu 13%. Kata kunci: fragmentasi, persebaran, primata, Sungai Tunan
KOMUNITAS AVIFAUNA DI AREA PERSAWAHAN KELURAHAN WARU, KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA Wulandari, Syindy Tri; Dijan Sunar; Mukhlis, Mukhlis; Rukmi, Dijan Sunar
BIOPROSPEK: Jurnal Ilmiah Biologi Vol 17 No 2 (2025): BIOPROSPEK: Jurnal Ilmiah Biologi
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/abkf9r45

Abstract

Penelitian ini bertujuan menelaah perubahan komunitas burung pada lima fase pertumbuhan padi  dengan mengamati komposisi berdasarkan tipe makanan, tingkat keanekaragaman, kemerataan, dominansi, serta kesamaan jenis. Kegiatan dilaksanakan selama ±4 bulan di area persawahan Kelurahan Waru, Kabupaten Penajam Paser Utara, menggunakan metode titik hitung (point count) pada 12 titik pengamatan yang telah ditentukan. Sebanyak 33 jenis burung dari 9 ordo dan 18 famili berhasil dicatat. Setiap fase menunjukkan komposisi yang berbeda; sejumlah spesies hadir di seluruh fase, sedangkan lainnya hanya muncul pada tahap tertentu. Keanekaragaman dan kemerataan jenis burung tertinggi ditemukan pada fase vegetatif dengan nilai H’ = 2.288 dan E = 0,711, sedangkan nilai kesamaan jenis tertinggi terjadi antara fase pengolahan tanah dan fase vegetatif dengan nilai kesamaan sebesar 37,64%. Kerak kerbau (Acridotheres javanicus) menjadi spesies dengan frekuensi perjumpaan paling tinggi. Berdasarkan tipe pakan, karnivor dan karnivor-insektivor mendominasi fase awal pertumbuhan, omnivor mendominasi fase pascapanen, sedangkan insektivor dan granivor meningkat pada fase pematangan. Empat spesies tercatat dilindungi (PerMen LHK 2018), satu masuk Apendiks II CITES, serta masing-masing satu berstatus endangered, vulnerable, dan near threatened menurut IUCN. Temuan ini menunjukkan bahwa komunitas burung di persawahan berubah secara jelas mengikuti fase pertumbuhan padi.