Nanik Hendrawati
Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Malang, Jl. Soekarno Hatta No. 9, Malang 65141, Indonesia

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

ANALISIS EKONOMI PRARANCANGAN PABRIK KARBON AKTIF DARI BAHAN BAKU TONGKOL JAGUNG DENGAN KAPASITAS 38.000 TON/TAHUN Shahnaz Putri Isnaini; Nanik Hendrawati; Ari Susanti
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 9 No. 4 (2023): December 2023
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v9i4.4189

Abstract

Dalam era industri seperti sekarang, industri kimia mengalami pertumbuhan yang meningkat, yang mengakibatkan peningkatan permintaan akan bahan baku industri, bahan kimia, dan tenaga kerja. Salah satu bahan baku yang dibutuhkan dalam industri kimia adalah produk turunan dari jagung. Di Indonesia, produksi jagung selama lima tahun terakhir meningkat rata-rata 12,49% per tahun. Dalam konteks produksi jagung yang besar ini, penggunaan jagung yang berlebihan menyebabkan peningkatan limbah tongkol jagung yang berpotensi mencemari lingkungan. Tongkol jagung yang mengandung senyawa karbon tinggi, terutama selulosa (41%) dan hemiselulosa (36%), menunjukkan bahwa tongkol jagung dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan karbon aktif. Melihat banyaknya kebutuhan karbon aktif didalam negeri maka direncanakan pendirian pabrik karbon aktif di Indonesia. Pendirian pabrik karbon aktif ini mempunyai prospek yang bagus di masa mendatang baik untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri maupun untuk ekspor. Analisis ekonomi pada pendirian pabrik karbon aktif bertujuan untuk menunjukkan kelayakan pendirian pabrik karbon aktif dari bahan baku tongkol jagung dengan kapasitas 38.000 ton/tahun dan mengidentifikasi potensi keuntungan dari pabrik tersebut. Hasil perhitungan analisis ekonomi menunjukkan bahwa Total Capital Investment (TCI) pabrik ini sebesar Rp278.512.508.590,69 sedangkan Total Production Cost (TPC) sebesar Rp253.802.470.649,73. Laba kotor yang dihasilkan adalah Rp126.197.529.350,00 dan laba bersih sebesar Rp82.334.394.078,00. Tingkat pengembalian modal (ROI) sebelum dan sesudah pajak adalah masing-masing 57% dan 37%. Pabrik ini akan mencapai titik impas (BEP) pada kapasitas sebesar 42,3%. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, prarancangan pabrik kimia ini dianggap layak untuk didirikan.
PEMANFAATAN TONGKOL JAGUNG DALAM PEMBUATAN KARBON AKTIF DENGAN AKTIVATOR NaOH DAN Na2CO3 Dea Isma Safitri; Nanik Hendrawati; Rucita Ramadhana
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 1 (2024): March 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i1.4939

Abstract

Tongkol jagung adalah salah satu limbah perkebunan jagung yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan karbon aktif dengan kelebihan antara lain biaya proses rendah, kadar abu yang rendah, dan ramah lingkungan. Hal ini didukung dengan permukaan berpori serta adanya kandungan senyawa karbon yang cukup tinggi, yaitu selulosa (41%) dan hemiselulosa (36%) di dalam tongkol jagung sehingga berpotensi sebagai bahan pembuat karbon aktif. Proses pembuatan karbon aktif terdiri dari beberapa tahapan yaitu tahap persiapan bahan, tahap pirolisis, dan tahap aktivasi karbon aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi optimum pembuatan karbon aktif dari tongkol jagung dengan memvariasikan jenis aktivator, konsentrasi aktivator, dan lama waktu pirolisis terhadap kualitas karbon aktif yang diperoleh. Tahap persiapan bahan berupa proses pencucian dan size reduction dari tongkol jagung. Kemudian dilanjutkan proses pirolisis dengan menggunakan furnace selama 2 dan 4 jam pada suhu 550°C. Hasil pirolisis atau karbonisasi tongkol jagung dihaluskan kemudian diayak dengan ukuran 60 mesh. Setelah itu dilanjutkan proses aktivasi menggunakan dua jenis aktivator yaitu NaOH dan Na2CO3 dengan variabel konsentrasi 0,5 N; 1 N; dan 2 N. Analisis karbon aktif yang diperoleh berupa analisis kadar air, kadar abu, dan daya serap iodin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karbon aktif dengan kadar air dan kadar abu yang relatif rendah namun memiliki daya serap yang cukup tinggi dimana masih memenuhi SNI 06-3730-1995 dihasilkan dengan waktu proses pirolisis selama 4 jam dan aktivator NaOH 0,5 N.
ANALISIS EKONOMI PRA RANCANGAN PABRIK KIMIA PEMBUATAN KARBON AKTIF DARI TEMPURUNG KELAPA DENGAN KAPASITAS 40.000 TON/TAHUN Felicia Arviana; Nanik Hendrawati; Zakijah Irfin
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 2 (2024): June 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i2.5058

Abstract

Pendirian pabrik karbon aktif ini menjadi solusi dari banyaknya tempurung kelapa yang terbuang sia-sia karena masih menghadapi beragam kendala sehingga tempurung kelapa belum dapat termanfaatkan dengan baik. Dengan adanya pabrik ini maka akan memaksimalkan manfaat tempurung kelapa yang dimana dalam satu buah kelapa memiliki komposisi tempurung sebesar 13,5%. Pabrik karbon aktif ini menggunakan bahan baku dari tempurung kelapa yang berkapasitas 40.000 ton/tahun. Pabrik ini berbentuk Perseroan Terbatas (PT) yang beroperasi selama 330 hari dalam setahun dan 24 jam per hari. Tujuan dari analisis ekonomi ini yaitu untuk mendapatkan perkiraan mengenai kelayakan investasi modal dalam kegiatan produksi karbon aktif. Hasil analisa ekonomi yang didapatkan, Total Capital Investment (TCI) sebesar Rp 148.650.837.009. Sedangkan Total Production Cost (TPC) sebesar Rp 598.719.936.716,88. Analisa perhitungan yang telah dilakukan yaitu laba kotor yang didapatkan sebesar Rp 41.280.063.283 dan laba bersih sebesar Rp 28.951.044.298,19. Laju pengembalian modal (ROI) sebelum pajak sebesar 33% dan setelah pajak sebesar 23%. Lama pengembalian modal (POT) sebelum pajak 2,64 tahun dan setelah pajak 2,1 tahun. Break even point (BEP) sebesar 79%. Laju pengembalian modal lebih besar dibandingkan dengan bunga bank, sehingga pabrik karbon aktif ini layak untuk didirikan. IRR sebesar 19% lebih besar daripada bunga bank yaitu sebesar 15%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pabrik karbon aktif dari tempurung kelapa layak untuk didirikan.
PENENTUAN KAPASITAS DAN SELEKSI PROSES PABRIK KIMIA PEMBUATAN KARBON AKTIF DARI AMPAS TEBU Bintang Ramadhan Putra Perdana Rudiyanto; Nanik Hendrawati; Hadi Priya Sudarminto
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 2 (2024): June 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i2.5060

Abstract

Ketersediaan karbon aktif dalam industri secara intensif merupakan hal yang penting. Hal ini dikarenakan kegunaannya sebagai media pemurnian atau adsorben. Proses pembuatan karbon aktif melalui 3 tahap yaitu dehidrasi, karbonisasi, dan aktivasi. Studi literatur dan analisis perhitungan ini bertujuan untuk menyeleksi beberapa proses dan komposisi bahan pada pembuatan karbon aktif dan menentukan kapasitas produksi pabrik yang akan berdiri pada tahun 2024 di kabupaten Malang. Pada Perancangan Pabrik Kimia Karbon Aktif dari Ampas Tebu melakukan pemilihan proses atau seleksi proses dengan menggunakan metode grading yang sudah dinilai secara subjektif. Hasil dari penelitian ini diperoleh berdasarkan data prediksi perhitungan karbon aktif dari ampas tebu tahun 2024 pertumbuhan rata –rata ekspor karbon aktif sebesar 8,25 % dan impor karbon aktif sebesar 9,38 %. Berdasarkan perhitungan peluang kapasitas produksi pabrik karbon aktif pada tahun 2024 sebesar 64.890 ton/tahun. Karena di dalam negeri (Indonesia) sudah terdapat pabrik karbon aktif maka kapasitas produksi karbon aktif pada 2024 sebesar 40.000 ton/tahun. Dilihat dari data nilai/skor dan beberapa alasan yang sudah ditentukan dapat disimpulkan bahwa pabrik kimia karbon aktif dari ampas tebu dengan kapasitas 40.000 ton/tahun menggunakan proses batch dengan metode pirolisis dan aktivasi kimia. Namun, pemilihan bahan baku perlu diperhatikan agar mendapatkan produk dan keuntungan ekonomi yang lebih optimal.