Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Progresivisme (Konsepsi Tentang Realita dan Pengetahuan): Progresivisme (Konsepsi Tentang Realita dan Pengetahuan) Najmuddin Najmuddin; Syarkawi Syarkawi
VARIASI : Majalah Ilmiah Universitas Almuslim Vol. 13 No. 2 (2021): Variasi
Publisher : LPPM Universitas Almuslim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51179/vrs.v13i2.589

Abstract

Kajian pustaka ini bertujuan untuk menjelaskan lebih mendalam tentang progresivisme berupa konsepsi tentang realita dan pengetahuan. Progresivisme adalah gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada siswa bukan memfokuskan pada guru atau bidang muatan. Beberapa tokoh dalam aliran ini, diantaranya: George Axtelle, William O. Stanley, Ernest Bayley, Lawrence B. Thomas dan Frederick C. Neff. Progresivisme merupakan pandangan hidup yang bersifat fleksibel, curious, toleran dan open-minded. Progresivisme mempunyai konsep yang didasari oleh pengetahuan dan kepercayaan bahwa manusia mempunyai kemampuan yang wajar dan dapat menghadapi serta mengatasi masalah yang bersifat menekan atau mengancam manusia itu sendiri. Aliran progresivisme juga memiliki sifat-sifat umum yaitu sifat negatif dan positif.
PIKIRAN SADAR DAN BAWAH SADAR Ikhwani Ikhwani; Najmuddin Najmuddin; Syarkawi Syarkawi
Lentera : Jurnal Ilmiah Sains, Teknologi, Ekonomi, Sosial, dan Budaya Vol 6 No 2 (2022): LENTERA, MEI 2022
Publisher : LPPM Universitas Almuslim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pikiran menjadi cakrawala yang dapat mencerahkan hati. Tanpa Pikiran, manusia tidak mampu memahami bentuk pengajaran apapun baik yang telah Allah turunkan dalam Al-Qur’an dan melalui para Rasul-Rasul Nya. Hal ini bermakna bahwapikiran sangatlah mutlak dibutuhkan dalam proses pencarian dan transferilmu pengetahuan kepada ummat manusia. Dengan memaksimalkan kerja akal dan pikiran, manusia mampu menganalisa serta memahami secara mendalam semua komponen-komponen pendidikan yang telah Allah turunkan melalui perantara kitab dan rasulNya. Setiap manusia normal terlahir dengan potensi Pikiran Sadar dan Bawah Sadar yang sama. Namun, dalam proses tumbuh-kembang seorang manusia hanya sebagian kecil saja dari seluruh potensi yang berkembang sepenuhnya dalam Pikiran Sadar. Umumnya manusia modern tidak banyak menggunakan potensi Bawah Sadarnya karena di sekolah dia hanya diajarkan bagaimana menggunakan Pikiran Sadarnya (logika dan analisa). Padahal kalau kita mau menggunakan potensi Bawah Sadar kita, manusia bisa mengembangkan dirinya ke level yang lebih tinggi. Sebenarnya, dalam beraktivitas, manusia memakai 2 pemikiran, yaitu pikiran Sadar (Conscious Mind) dan pikiran bawah sadar (sub Conscious Mind). Pikiran Sadar adalah pikiran analitis, kritis dan merupakan bagian yang memutuskan. Sementara Pikiran Bawah Sadar menurut maestro Hypnotherapy salah satunya berfungsi sebagai gudang penyimpanan informasi dan sumber emosi. Pikiran sadar terletak di bagian korteks otak. Pada usia sekitar 3 tahunan, pikiran sadar seorang anak mulai aktif. Pikiran sadar ini adalah bagian otak yang digunakan untuk berpikir dan hanya mewakili 10% dari kemampuan otak manusia.
MODEL KEPEMIMPINAN ISLAMI ORANG TUA : MENUJU PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KARAKTER BAGI ANAK Iskandar, Iskandar; Syarkawi, Syarkawi
Jurnal Ikhtibar Nusantara Vol 3 No 1 (2024): Jurnal Iktibar Nusantara
Publisher : STAI Nusantara Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62901/j-ikhsan.v3i1.82

Abstract

Pembentukan kepribadian manusia memegang peranan utama dalam pendidikan, termasuk pendidikan Islam. Pendidikan semata-mata bertanggung jawab untuk membentuk akhlak yang baik pada diri setiap orang, termasuk generasi muda Indonesia. Apalagi bagi anak yang sedang mencari jati dirinya, tanpa adanya peran pendidikan maka ia akan kehilangan arah dan terkena permasalahan sosial. Tak hanya pendidikan, peran ayah dan ibu juga sangat penting dalam mendidik dan mengasuh anak. Pengaruh model kepemimpinan orang tua terhadap perilaku nakal anak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepribadian anak. Model kepemimpinan yang baik akan menciptakan karakter yang baik dan sebaliknya. Banyak faktor yang mempengaruhi kenakalan anak, antara lain teman dan lingkungan, namun faktor keluarga lebih mendominasi. Pendidikan karakter menjadi salah satu solusi untuk mengatasi kenakalan anak. Pendidikan juga sangat mempengaruhi pembentukan kepribadian anak. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan observasi lapangan dan wawancara. Penelitian ini dilakukan di Bireuen.
Studi pencegahan cyberbullying pada era digital berbasis kearifan lokal pada Sekolah Menengah Atas di Peusangan, Bireuen Syarkawi; Najmuddin; Marsithah, Iis; Daniel, Muhammad
TA`DIBUNA Vol 13 No 6 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Ibn Khaldun, Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/tadibuna.v13i6.17822

Abstract

This study examines cyberbullying prevention in schools through a local wisdom approach using qualitative, phenomenological field research. The findings reveal three key aspects: first, local wisdom values are applied through integration into the hidden curriculum, religious activities such as Yasin recitation and Qur’an programs, character-building initiatives, extracurriculars, and school partnerships with religious institutions. An anti-bullying team comprising students, religious teachers, counselors, and other staff also plays a vital role. Second, social skills fostered to prevent cyberbullying include empathy, self-control, cooperation, effective communication, and digital literacy. Third, the local wisdom approach positively impacts students by enhancing their awareness and understanding of cyberbullying, strengthening cultural identity, improving digital literacy, and promoting psychological well-being. These efforts highlight the effectiveness of integrating cultural and religious values to create a holistic strategy for addressing cyberbullying in educational environments. AbstrakPenelitian ini mengkaji pencegahan cyberbullying di sekolah melalui pendekatan kearifan lokal dengan menggunakan penelitian lapangan kualitatif fenomenologis. Temuan penelitian mengungkap tiga aspek kunci: pertama, nilai-nilai kearifan lokal diterapkan melalui integrasi ke dalam kurikulum tersembunyi, kegiatan keagamaan seperti pembacaan Yasin dan program Al-Qur'an, inisiatif pembangunan karakter, ekstrakurikuler, dan kemitraan sekolah dengan lembaga keagamaan. Tim anti perundungan yang terdiri dari siswa, guru agama, konselor, dan staf lainnya juga memainkan peran penting. Kedua, keterampilan sosial yang dibina untuk mencegah cyberbullying meliputi empati, pengendalian diri, kerja sama, komunikasi yang efektif, dan literasi digital. Ketiga, pendekatan kearifan lokal berdampak positif pada siswa dengan meningkatkan kesadaran dan pemahaman mereka tentang cyberbullying, memperkuat identitas budaya, meningkatkan literasi digital, dan mempromosikan kesejahteraan psikologis. Upaya-upaya ini menyoroti efektivitas integrasi nilai-nilai budaya dan agama untuk menciptakan strategi holistik untuk mengatasi cyberbullying di lingkungan pendidikan.
Managing Digital Ethics: A Local Wisdom-Based Model for Cyberbullying Prevention in Islamic Educational Institutions Syarkawi, Syarkawi; Hamsidar, Hamsidar; Najmuddin, Najmuddin; Rizal, Muhammad
JURNAL AL-TANZIM Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Nurul Jadid University, Probolinggo, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33650/al-tanzim.v10i1.12778

Abstract

Cyberbullying has become a critical challenge in the digital era, threatening adolescents’ mental health and emotional development. This study aims to examine how cyberbullying prevention is implemented in Islamic boarding schools through local wisdom–based management and value internalization. Using a qualitative phenomenological design, data were collected from boarding school leaders, teachers, caregivers, and students through in-depth interviews, observations, and document analysis, and analyzed using NVivo-assisted thematic coding. The findings reveal that cyberbullying prevention is institutionally structured through four management functions: planning, organizing, actuating, and controlling, with actuating emerging as the most dominant function (51% of coded references). Prevention practices are operationalized through daily habituation, integration of digital ethics into religious instruction, and moral-spiritual supervision. Additionally, Acehnese local wisdom values such as Meuseuraya, Tameusaboh, Seumapa, Peumulia Jamee, and Adat Bak Poe Teumeureuhom are embedded as behavioral regulators in both offline and online interactions. This study contributes a culturally grounded cyberbullying prevention model that integrates educational management, local wisdom, and Islamic values. The findings suggest that sustainable digital ethics education should prioritize moral internalization and community-based supervision.