Firmansyah, Fathoni
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Working Period and CO Exposure Relationship with Changes Levels COHb of Bus Station Officer Rachmawati, Siti; Suryadi, Iwan; Safitri, Ferlin Ayu; Firmansyah, Fathoni
KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 18, No 2 (2022)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v18i2.35568

Abstract

Carbon monoxide inhaled into the lungs will enter the blood circulation and inhibit the entry of oxygen needed by the body. This gas combines with hemoglobin to form carboxyhemoglobin (COHb). The increase in COHb in the blood will inhibit the function of oxygen transportation and will affect the health of workers. This study aims to determine the risk factors for increasing COHb in Tirtonadi Bus Station Surakarta officers. The research method used analytic observational with a cross-sectional design. The research population was 110 respondents with a purposive sampling technique to get a research sample of 43 respondents. CO levels in the environment were measured by a CO meter, while COHb levels were measured by a spectrophotometer. The research data were analyzed using Spearman rank. Statistical correlation test showed a significant relationship between CO levels in the environment and COHb levels, p-value = 0.000 and r-value = 0.897, and no significant relationship between length of work and COHb levels with p-value = 0.285 and r-value = - 0.167. CO in the environment is related to the COHb level of traffic security officers at Tirtonadi Bus Station Surakarta, and the length of work is not related to the COHb level of traffic security officers at Tirtonadi Bus Station Surakarta.
Noise exposure and hearing threshold levels of rice mill workers Rachmawati, Siti; Suryadi, Iwan; Fitriani, Nurlaila; Firmansyah, Fathoni; Nisya, Khoirun
International Journal of Public Health Science (IJPHS) Vol 14, No 1: March 2025
Publisher : Intelektual Pustaka Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11591/ijphs.v14i1.24564

Abstract

Industrial noise is generally one of the risk factors for occupational and environmental safety and health. Noise is a risk factor for decreased hearing threshold value in addition to other factors such as age, working period. This study used a cross-sectional design that aimed to identify the hearing threshold level (HTL) of rice mill workers exposed to hazardous noise in Karanganyar Regency, and investigate the relationship with other factors such as age, tenure. Audiometric data from 92 participants were collected through audiometric examination by qualified personnel using an audiometer in a quiet environment. The test was conducted after the participants had rested completely for >14 hours after their last exposure to workplace noise. The results showed that all participants had worked in a noise-hazard work zone for >1 year. The participants' ages ranged from 28 to 57 years. The average hearing threshold in the right ear was 36.71 dB and the average hearing threshold in the left ear was 39.55 dB. The hearing loss associated with work experience was greater than that caused by noise intensity age. Noise intensity, age and working experience were significant to the workers' ear hearing threshold values. Multivariate test results show that noise intensity is the most influential factor (>60%) on HTL. HTL among industrial workers should be assessed regularly. At the health policy level, these workers need to start being protected when they start working.
ANALISIS TINGKAT KEBISINGAN LINGKUNGAN AKIBAT REVITALISASI DI JEMBATAN JURUG SURAKARTA Rachmawati, Siti; Mahendra, Abel Surya; Gestan, Distayana Alda; Ramadhani, Glora; Koesdaryanto, Nilam Sariramadhani; Karina, Ressa; Firmansyah, Fathoni
Jurnal Reka Lingkungan Vol 12, No 2 (2024)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v12i2.159-171

Abstract

Kota Surakarta sebagai salah satu kota yang terus berkembang, menjadikan pemerintah setempat berupaya untuk memperbaiki infrastruktur dan memenuhi kebutuhan transportasi masyarakat. Revitalisasi Jembatan Jurug menjadi proyek cukup besar karena jembatan ini berperan sebagai jalur vital penghubung Solo-Karanganyar. Revitalisasi ialah suatu proses atau cara dan perbuatan untuk menghidupkan kembali suatu hal yang sebelumnya terberdaya. Proyek ini berdampak pada lingkungan sekitar akibat bertambahnya volume kendaraan yang menyebabkan gangguan kenyamanan dan kualitas hidup masyarakat di sekitar jembatan, yaitu kebisingan. Dampak kebisingan akan berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat seperti gangguan pendengaran ataupun non pendengaran yang mana apabila kebisingan ini berlebih dapat menyebabkan gangguan tidur, stres, masalah pendengaran, dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Tujuan dari adanya penelitian ini yaitu untuk mengetahui tingkat kebisingan di Kawasan Jembatan Jurug, mengetahui faktor penyebab kebisingan di kawasan Jembatan Jurug, serta mengetahui pengaruh kebisingan di Kawasan Jembatan Jurug terhadap kenyamanan masyarakat sekitar. Metode yang digunakan berupa riset kepustakaan dan riset lapangan yaitu dengan dilakukan penghitungan kebisingan menggunakan Sound Level Meter dan penghitungan jumlah kendaraan di dua hari dan waktu yang berbeda. Berdasarkan pengujian yang dilakukan, tingkat kebisingan di Jembatan Jurug telah melewati standar baku mutu dan didapati ketinggian pemetaan kebisingannya serta revitalisasi ini berakibat mengganggu kenyamanan masyarakat.
Pengaruh Karakteristik Individu dan Perilaku Merokok dengan Gejala ISPA Pengguna Terminal Malangkeri Kota Makassar: The Influence of Individual Characteristics and Smoking Behavior on ARI Symptoms of Malangkeri Terminal Users, Makassar City Firmansyah, Fathoni; Suryadi, Iwan; Rachmawati, Siti; Fitriani, Nurlaila
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 6 No. 3 (2023): March 2023
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v6i3.3190

Abstract

Latar belakang: Gejala Infekeksi Saluran Pernapasan Akut merupakan keluhan yang dialami seseorang pada saluran pernapasan. Penyakit saluran pernapasaan menepati urutan ketiga penyebab kematian pada pekerja yaitu sebesar 21 %. Penyebab ISPA beberapa dari factor risiko individu dan perilaku merokok. Terdapat hubungan yang signifikan yang kuat dan searah antara paparan Debu TSP dan penggunaan APD dengan Gejala ISPA sehingga diharapkan pengguna terminal taat terhadap pengggunaan masker untuk mengurasi risiko paparan debu Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh factor karakteristik individu dan perilaku merokok dengan gejala Ispa Pengguna Terminal Malangkeri Kota Makassar. Metode: Penelitian ini menggunakan desain obervasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel dengan cara simple random sampling sejumlah responden 86 responden. Penilaian factor risiko individu dan perilaku merokok dengan menggunakan kuisioner, penilaian gejala ISPA menggunakan kueisoner Depkes tahun 2002. Analisis data menggunakan SPSS 24.00 dengan uji somers’s d Hasil: Hasil penelitian menunjukan rata rata pengguna Terminal Malangkeri Kota Makassar mengalami gejala ISPA sedang. Hasil uji bivariat menunjukan ada hubungan signifikan antara usia, jenis kelamin dan prilaku merokok dengan gejala ispa, dengan p-value< 0,05 namun untuk kebiasaan berolahraga dan IMT tidak signifikan dengan gejala ISPA. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara karakteristik individu berupa usia dan jenis kelamin dengan gejala ispa, namun untuk IMT dan kebiasaan berolahraga tidak berhubungan, sedangkan factor lain berupa perilaku merokok berhubungan juga dengan gejala ISPA.