Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

The Fragility of Church Unity and Diversity in the Metaphor of Jigsaw Puzzle Gultom, Andri Fransiskus
In Theos : Jurnal Pendidikan dan Theologi Vol. 5 No. 4 (2025): April
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/intheos.v5i4.2940

Abstract

Harls E.R. Siahaan and Johannis Siahaya offer a descriptive understanding in overcoming church diversity through the jigsaw puzzle metaphor. Metaphor, for them, becomes the basic element that forms a picture of church as a perfect and complete blueprint. This article focuses on substantively critiquing the articles of both authors as a form of dialectical continuity that unity and diversity have a broader horizon than just the jigsaw puzzle metaphor. This research uses a qualitative method with the following steps: verstehen (in-depth reading of the text), comparison, and interpretation. This research found that: (1) the explanation of the dialectical model is not explicitly elaborated, both semantically and in the paradigm of ontology; (2) the Jigsaw Puzzle metaphor becomes fragile because it is not based on the dialectical history of thought; (3) the neologisms such as: meroecclesia, somaecclesia, are not based on the history of thought and tend to favor Pentacostalism; (4) the discourse on hospitality is incommensurable with the jigsaw puzzle metaphor. This article reveals the differentiation between unity and diversity.
Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah Mewujudkan Desa Maju di Era Society 5.0 Indiraswari, Susmita Dian; Zakaria, Fahmi Arif; Gultom, Andri Fransiskus; Suparno, Suparno; Tursini, Umi
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2023): Juni
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/jpkm.v3i1.1506

Abstract

Pandemi Covid-19 menyebabkan penurunan produktivitas dan pendapatan UMKM akibat pembatasan sosial dan ekonomi serta kesulitan dalam memenuhi bahan baku, distribusi produk, dan menjaga kebersihan di tempat kerja. Selain itu, UMKM juga menghadapi penurunan permintaan atas produk mereka, terutama produk non-kebutuhan pokok, dan kesulitan mengakses pembiayaan karena kurangnya pengetahuan dan praktik pembukuan keuangan yang baik. Dengan adanya masalah-masalah tersebut, penting untuk dilakukan sosialisasi dan pelatihan mengenai pembukuan keuangan kepada UMKM dan masyarakat desa. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan pengelolaan keuangan yang baik dalam usaha mereka, sehingga dapat membantu UMKM bertahan dan tumbuh di tengah situasi pandemi dan kondisi ekonomi yang sulit. Langkah-langkah dalam pengabdian masyarakat untuk program pelatihan dan sosialisasi pembukuan keuangan meliputi: (1) Identifikasi kebutuhan dan potensi lokal terkait pembukuan keuangan; (2) Membentuk tim pelaksana yang terdiri dari tenaga ahli dan praktisi; (3) Merancang program pelatihan dengan tujuan, materi, metode, dan evaluasi yang terstruktur; (4) Menyusun rencana sosialisasi melalui media massa dan pertemuan langsung; (5) Melaksanakan program pelatihan dan sosialisasi secara bertahap; dan (6) Melakukan evaluasi program untuk mengetahui efektivitasnya. Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan UMKM dan masyarakat desa dapat memperoleh manfaat dan kemampuan dalam mengelola keuangan secara baik dan benar.
Analisis Fenomenologi Interpretatif Pengalaman Menjadi Pelayan Pastoral bagi Penyandang Disabilitas di Bhakti Luhur Jumilah, Bernadeta Sri; Gultom, Andri Fransiskus; Kuin, Maria Aquilina
Jurnal Moral Kemasyarakatan Vol 10 No 1 (2025): Volume 10, Nomor 1 - Juni 2025
Publisher : Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21067/jmk.v10i1.11778

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman penanggung jawab wisma dan perawat yang menjalankan peran sebagai pelayan pastoral bagi penyandang disabilitas di Bhakti Luhur. Subyek penelitian ada sepuluh orang yang terdiri dari penanggung jawab wisma dan perawat yang berinteraksi langsung dengan penyandang disabilitas. Data penelitian diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis tematik dengan prinsip-prinsip fenomenologi interpretatif. Penelitian ini menemukan bahwa terdapat empat aspek keempat aspek dalam pelayanan: motivasi menjadi pelayan pastoral, tantangan selama menjalani pelayan pastoral, cara mengatasi tantangan dalam pelayanan, dan strategi pelayanan berkualitas. Keempat aspek tersebut memunculkan teologi kehadiran menjadi syarat utama dalam pelayanan pastoral yang lebih inklusif serta berbasis kasih. Penelitian ini memberikan rekomendasi praktis untuk meningkatkan kualitas pelayanan pastoral bagi para penyandang cacat di Bhakti Luhur dan lembaga serupa. Rekomendasi ini mencakup strategi untuk memenuhi tantangan layanan, memperdalam hubungan mental dalam layanan, dan pendekatan terintegrasi yang menghormati martabat masing -masing individu.
Reconstructing Multicultural Education Through Cultural Empathy within the Philosophy of Citizenship Gultom, Andri Fransiskus
Rhizome : Jurnal Kajian Ilmu Humaniora Vol. 5 No. 2 (2025): Volume 5 Nomor 2 Tahun 2025
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/rhizome.v5i2.3680

Abstract

The increasing complexity of cultural plurality within contemporary universities highlights a pressing problem: multicultural education frequently remains confined to formalistic recognition, without fostering deeper ethical relations among diverse groups. This research aims to reconstruct multicultural education through the lens of cultural empathy, grounding the analysis in the philosophy of citizenship. The research was conducted at Universitas PGRI Kanjuruhan Malang, with university leaders and students as the main subjects. Employing a qualitative approach, examines dialogical encounters, narratives of recognition, and practices of cultural inclusion within the university context. The findings reveal a novelty: cultural empathy operates not merely as an affective disposition but as an epistemic practice that cultivates civic responsibility, and equality. Theoretically, the research advances a philosophical framework that positions multicultural education as a civic-ethical project rather than an administrative program. Practically, it contributes to designing pedagogical strategies that foster dialogical understanding, citizenship ethics, and social cohesion in diverse academic communities. This reconstruction thus situates multicultural education within a broader philosophical discourse, offering new insights for sustaining democratic life in plural societies.
Peningkatan Kapasitas Pengurus Koperasi melalui Pelatihan Tata Kelola dan Penyusunan Laporan Keuangan di Kabupaten Pasuruan Anas, Dimas Emha Amir Fikri; Indiraswari, Susmita Dian; Gultom, Andri Fransiskus; Tursini, Umi; Zakaria, Fahmi Arif; Wadu, Ludovikus Bomans
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025): Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/jpkm.v5i2.3437

Abstract

Pelatihan peningkatan kapasitas pengurus koperasi di Pasuruan bertujuan untuk memperkuat pengelolaan tata kelola dan laporan keuangan koperasi, terutama dalam penerapan standar akuntansi yang berlaku. Banyak koperasi petani di Pasuruan menghadapi kendala dalam menyusun laporan keuangan yang transparan dan akuntabel akibat minimnya pemahaman pengurus terkait prinsip-prinsip akuntansi. Oleh karena itu, pelatihan berbasis teori dan praktik ini dirancang untuk memberikan pemahaman tentang dasar-dasar akuntansi dan teknik penyusunan laporan keuangan. Metode pelatihan meliputi ceramah, diskusi kelompok, dan studi kasus yang fokus pada transparansi dan akuntabilitas keuangan koperasi. Hasil evaluasi menunjukkan 85% peserta mengalami peningkatan signifikan dalam pemahaman pengelolaan keuangan dan penerapan standar pelaporan yang tepat. Pelatihan ini berhasil mendorong pengurus koperasi untuk menyusun laporan keuangan yang lebih sistematis dan mencerminkan kondisi keuangan yang sesungguhnya. Meskipun demikian, tantangan seperti perbedaan tingkat pemahaman peserta dan keterbatasan waktu masih perlu diatasi melalui pelatihan lanjutan. Pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan kemandirian koperasi dalam mengelola keuangan dan memperkuat tata kelola secara berkelanjutan.
Optimalisasi Literasi Kritis Melalui Kampanye Kreatif Instagram dalam Membangun Etika Bermedia Sosial pada Remaja Gultom, Andri Fransiskus; Wadu, Ludovikus Bomans; Tursini, Umi
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2026): Volume 6 Nomor 1 Tahun 2026
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/jpkm.v6i1.4130

Abstract

Pesatnya perkembangan media sosial telah menjadikan ruang digital sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan remaja. Namun, intensitas penggunaan tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan pemahaman etika dan literasi kritis yang memadai. Fenomena komunikasi yang kurang santun, penyebaran ujaran kebencian, serta maraknya informasi yang tidak terverifikasi menunjukkan adanya urgensi dalam penguatan kesadaran etika bermedia sosial. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan literasi kritis dan kesadaran etis remaja dalam berinteraksi di ruang digital melalui kampanye edukatif berbasis media sosial Instagram. Metode yang digunakan adalah pendekatan edukatif-partisipatif yang meliputi tahap perencanaan pesan kampanye, produksi konten visual berupa poster dan video singkat, serta penyebaran dan pendampingan interaksi audiens secara daring. Hasil pelaksanaan menunjukkan respons yang positif dari audiens, dengan capaian jangkauan sebanyak 409 tayangan, 48 tanda suka, serta berbagai bentuk interaksi seperti komentar dan pesan langsung. Temuan ini mengindikasikan bahwa kampanye digital berbasis media sosial efektif sebagai sarana edukasi publik dalam menginternalisasi nilai-nilai Pancasila, khususnya prinsip kemanusiaan dan persatuan, dalam konteks komunikasi digital. Secara keseluruhan, kegiatan ini berhasil menumbuhkan kesadaran awal remaja untuk bersikap lebih kritis, bijak, dan bertanggung jawab dalam mengelola informasi serta berpartisipasi di ruang siber.
Navigating Existential Literacy in the Age of Anxiety: A Failosophical Critique of Overthinking and the Crisis of Digital Citizenship Gultom, Andri Fransiskus
Konstruksi Sosial : Jurnal Penelitian Ilmu Sosial Vol. 5 No. 4 (2025): Volume 5 Nomor 4 Tahun 2025
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/konstruksisosial.v5i4.4132

Abstract

This study aims to examine the phenomenon of overthinking (OVT) among Generation Z in Indonesia through the lenses of "Existential Literacy" and "Failosophy." This study critiques how pathological anxiety and individual failure impact the subject's capacity as an authentic and resilient citizen amidst digital disruption. This study uses a qualitative approach with critical literacy analysis methods and philosophical reflection. The author integrates Elizabeth Day's thoughts on failure (via negativa) and Søren Kierkegaard's concept of "Fear and Trembling" to map the subject's psychological state against current social realities. The analysis shows that the rate of overthinking, which reaches 50% in Indonesian society, especially young women and the unemployed, is rooted in the failure to make an "existential leap" in the face of future absurdities. The data shows a correlation between excessive social media consumption (up to 15 hours per day) and the emergence of FOMO, FOPO, and rumination phenomena that paralyze decision-making. Existential literacy is proposed as a pedagogical strategy to transform failure from a mental burden into "fuel" for authentic existence. From a philosophy of citizenship perspective, existential resilience is a prerequisite for active citizenship. Individuals who are able to reconcile with failure and manage their OVT will have the courage to decide and take responsibility for their position in the public sphere, rather than being lost in the chaotic flow of information. This study offers novelty by conceptualizing overthinking not simply as a clinical-psychological problem, but rather as a failure of existential literacy that hinders individual agency in fulfilling the role of conscious and independent citizens.