Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN PT. KERETA API INDONESIA (Studi Kasus Kereta Api Argo Parahyangan) vera martikasari
JURNAL SIGNAL Vol 4, No 1 (2016): Jurnal SIGNAL
Publisher : Universitas Swadaya Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.238 KB) | DOI: 10.33603/signal.v4i1.654

Abstract

Penelitian tentang Strategi Komunikasi Pemasaran PT. Kereta Api Indonesia (Studi Kasus di Kereta Api Argo Parahyangan) ini membahas tentang strategi komunikasi PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dalam pemasaran Kereta Api Argo Parahyangan. Titik fokusnya adalah pilihan strategi komunikasi pemasaran, pelaksanaan, pengawasan, serta alasan pemilihan strategi komunikasi pemasaran tersebut. Kereta Api Argo Parahyangan memiliki banyak keunikan sehingga masih menjadi primadona penggunanya. Namun tetap saja jumlah pengguna kereta api tersebut mengalami penurunan karena bersaing dengan moda transportasi darat lainnya. Hal ini menyebabkan perlu strategi komunikasi pemasaran yang tepat agar penggunanya meningkat kembali.Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus dan berlandaskan pada paradigma konstruktivis. Informan kunci dalam penelitian ini berjumlah 2 (dua) orang, sedangkan 4 (empat) orang menjadi informan pendukung dari PT. Kereta Api Indonesia (Persero).Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop II Bandung melakukan strategi komunikasi pemasaran melalui media cetak dan elektronika, seperti website, media sosial, radio, surat kabar dan brosur untuk iklan promo maupun pemberitaannya. Unsur promotion mix muncul pada promo harga tiket akhir tahun 2015 dalam pelaksanaan promosi (promotion), distribusi (place) dan penetapan harga promo (price). Upaya strategi komunikasi pemasaran tersebut menunjukkan dampak signifikan terhadap peningkatan okupansi penumpang kereta api Argo Parahyangan. Namun, pelaksanaan promosi masih dipandang belum berhasil menyampaikan pesan kepada masyarakat secara luas. Dengan demikian, masih banyak masyarakat umum yang tidak mengetahui tentang promo tersebut. Kata Kunci : Strategi, Komunikasi Pemasaran, PT. Kereta Api Indonesia, Kereta Api Argo Parahyangan, Promosi, Website, Media Sosial
Family Communication Patterns in Early Marriage Aziz Taufik Hirzi; Nenny Kencanawati; Fadhli Muttaqien; Vera Martikasari; Euis Evi Puspitasari; Ijang Faisal
International Journal of Nusantara Islam Vol 10, No 1 (2022): International Journal of Nusantara Islam
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ijni.v10i1.23901

Abstract

Families in Siderang Legok, Cintanagara Village, Cigedug District, Garut Regency, which have family members between 6-14 people, are used to marrying off their children at a young age under the terms of the Marriage Law. This study aims to obtain data and information about internal family communication patterns which consist of causes of early marriage and high childbirth rates; the role of the government and related parties and the daily life of local families in caring for several children. The research method is qualitative with a case study approach. While the subject of research is the head of the family/deputy head of the family as actors, assisted by village officials who understand the actual conditions of the local community. The theory used is prophetic communication consisting of (1) Humanization, (2) Liberation, and, (3) Transcendence. The results of the study show that marriage at an early age which has an impact on childbirth rates is a normal matter as part of an effort to humanize humans because early marriage is better than free association with people of different sexes. Then, the government, through the BKKBN and village apparatus, who have tried their best, have failed to get significant results. Family planning continues, early marriage is still ongoing, and the birth rate is still high. What is unique, their daily life looks as usual, does not seem worried or restless. They are used to having many children and feel obligated to care for them, which is strengthened by a religious atmosphere that makes religion (Islam) the mainstay. The conclusion is that in the Siderang Legok family environment, there are no worries about getting married at an early age and having many children, because once you are married, whatever happens, you have to be ready to face it. Appeals and assistance from the government and related parties are still being followed even though the results achieved are not satisfactory. Then the back of religion ranks first.
Family Communication Patterns in Early Marriage Aziz Taufik Hirzi; Nenny Kencanawati; Fadhli Muttaqien; Vera Martikasari; Euis Evi Puspitasari; Ijang Faisal
International Journal of Nusantara Islam Vol 10, No 1 (2022): International Journal of Nusantara Islam
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ijni.v10i1.23901

Abstract

Families in Siderang Legok, Cintanagara Village, Cigedug District, Garut Regency, which have family members between 6-14 people, are used to marrying off their children at a young age under the terms of the Marriage Law. This study aims to obtain data and information about internal family communication patterns which consist of causes of early marriage and high childbirth rates; the role of the government and related parties and the daily life of local families in caring for several children. The research method is qualitative with a case study approach. While the subject of research is the head of the family/deputy head of the family as actors, assisted by village officials who understand the actual conditions of the local community. The theory used is prophetic communication consisting of (1) Humanization, (2) Liberation, and, (3) Transcendence. The results of the study show that marriage at an early age which has an impact on childbirth rates is a normal matter as part of an effort to humanize humans because early marriage is better than free association with people of different sexes. Then, the government, through the BKKBN and village apparatus, who have tried their best, have failed to get significant results. Family planning continues, early marriage is still ongoing, and the birth rate is still high. What is unique, their daily life looks as usual, does not seem worried or restless. They are used to having many children and feel obligated to care for them, which is strengthened by a religious atmosphere that makes religion (Islam) the mainstay. The conclusion is that in the Siderang Legok family environment, there are no worries about getting married at an early age and having many children, because once you are married, whatever happens, you have to be ready to face it. Appeals and assistance from the government and related parties are still being followed even though the results achieved are not satisfactory. Then the back of religion ranks first.
Penerapan Eco-Enzyme dan Kerja bakti sebagai Upaya Meningkatkan Kebersihan Lingkungan di Desa Panjiwangi Fauziah, Adni; Farhan, Yasar Muhammad; Saprudin, Saprudin; Jordi, Roy; Auliansyah, Nadianti; Pebrianti, Febi; Kurniawan, Fauzan Adhima; Widiastuti, Anggun Tira Nur; Wibawa, Alifah Mustari Mukti; Billik, Aegner; Martikasari, Vera
Jurnal Pengabdian Sosial Vol. 1 No. 11 (2024): September
Publisher : PT. Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/b4jb4741

Abstract

Kebersihan lingkungan merupakan salah satu faktor penting yang berkontribusi terhadap kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Namun, permasalahan pengelolaan sampah dan rendahnya kesadaran akan pentingnya lingkungan yang bersih sering kali menjadi tantangan di masyarakat pedesaan. Pengabidan masyarakat ini bertujuan untuk mengkaji penerapan eco-enzyme sebagai solusi pengolahan sampah organik dan meningkatkan kesadaran kebersihan melalui kerja bakti di lingkungan masyarakat Desa Panjiwangi. Eco-enzyme adalah cairan hasil fermentasi limbah organik yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan rumah tangga dan pertanian, termasuk sebagai pupuk organik dan pembersih alami, sehingga menawarkan alternatif ramah lingkungan untuk pengolahan sampah organik. Melalui program edukasi dan pelatihan, warga desa diajak untuk secara aktif mengolah sampah organik menjadi eco- enzyme serta menerapkan pemisahan sampah. Selain itu, pendekatan kerja bakti diperkuat melalui kegiatan kerja bakti rutin untuk menjaga kebersihan lingkungan dan meningkatkan solidaritas antarwarga. Hasil implementasi menunjukkan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah organik serta partisipasi aktif dalam kegiatan kerja bakti. Penerapan eco-enzyme dan kerja bakti terbukti efektif dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih, meningkatkan kebersihan umum, dan memperkuat hubungan sosial di dalam masyarakat. Dengan demikian, program ini diharapkan dapat menjadi model yang berkelanjutan untuk pengelolaan sampah berbasis komunitas yang lebih sehat dan ramah lingkungan.
Pengelolaan Sampah Melalui Bank Sampah Botol Plastik Di Desa Panjiwangi Kecamatan Tarogong Kaler Kabupaten Garut Mauludin, Aldi Husni; Septiani, Amelia Desi; Ayu, Bunga Intan Nadia; Noviantinur, Eka; Shaadiqiin, Muhammad Diqi; Prasetio, Muhammad Wendi Narizal; Sholihah, Risa Roisatus; Fauziah, Syiffa; Lolyta, Zahra; Martikasari, Vera
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa Vol. 2 No. 7 (2024): September
Publisher : Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpmba.v2i7.1354

Abstract

Masalah pengelolaan sampah khususnya botol plastik, menjadi tantangan serius di Desa Panjiwangi, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut. Program bank sampah botol plastik diperkenalkan sebagai solusi inovatif untuk mengurangi volume sampah plastik dan memberdayakan masyarakat melalui pendekatan berbasis partisipasi komunitas. Pengabdian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak implementasi bank sampah terhadap kesadaran masyarakat, pengurangan sampah, pemberdayaan ekonomi, dan peningkatan kualitas lingkungan. Metode pelaksanaan melibatkan sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta demonstrasi praktis pemilahan sampah kepada masyarakat Dusun 1. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa bank sampah secara signifikan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah, mengurangi jumlah sampah plastik, dan memberikan manfaat ekonomi melalui daur ulang botol plastik. Selain itu, keterlibatan aktif masyarakat menjadi kunci sukses program ini, yang berhasil menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat. Program bank sampah botol plastik ini diharapkan dapat direplikasi di desa lain untuk menciptakan dampak yang lebih luas dalam pengelolaan sampah berbasis komunitas.
Pemberdayaan Pengembangan Keterampilan Public Speaking dalam Meningkatkan Potensi Diri Masyakat Desa Gunung Manik Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Sumedang Vera Martikasari; Hadi Muhammad Rizal; Euis Evi Puspitasari; Rida Nurfaridah; Azkia Aini Farhah; Selvi Aulia Nurfitria
JDISTIRA - Jurnal Pengabdian Inovasi dan Teknologi Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Yayasan Rahmatan Fidunya Wal Akhirah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan ini didasarkan pada pentingnya keterampilan public speaking bagi anggota PKK. Kemampuan berbicara di depan umum akan membantu anggota PKK dalam menjalankan berbagai tugas yang melibatkan interaksi dengan masyarakat, seperti sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan. Berdasarkan hasil wawancara dengan Ketua PKK Desa Gunung Manik Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Sumedang, ditemukan beberapa permasalahan utama terkait penguasaan public speaking. Sebagai solusi atas permasalahan tersebut, tim menyelenggarakan pelatihan dengan pendekatan komunikatif dan strategi kronologis yang berfokus pada praktik langsung bagi anggota PKK. Untuk mengoptimalkan hasil pelatihan, digunakan tiga metode utama, yaitu pembelajaran berbasis kasus, demonstrasi, dan praktik langsung. Hasil dari program ini menunjukkan bahwa peserta mampu menguasai keterampilan berbicara di depan umum, baik dalam menyampaikan pidato maupun membawakan acara. Selain itu, mereka juga dapat tampil dengan memperhatikan aspek tata bahasa, norma berbicara, serta aturan keprotokoleran yang berlaku dalam public speaking.
Strategi Komunikasi Organisasi Studi Kasus pada Karang Taruna Desa Sukarame Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, Jawa Barat 40385: Pengabdian Vera Martikasari; Wanda Sofianti; Husni Munawar; Annisa Zahra Rahmayati; Silvia Nurfadilah; Siti Nur Jamilah; Syahla Nur Fikriyyah; Anjani; Raisa Ratna Khodijah; Jaomal Komara; Djufran D Hi Kasim
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 1 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 1 (Juli 2025 -
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i1.2430

Abstract

This research investigates the organizational communication strategies implemented in Karang Taruna RW 005 Babakan, Sukarame Village, Pacet District, Bandung Regency, West Java. Communication is not merely the transmission of information but a fundamental mechanism in shaping organizational culture, maintaining member engagement, and ensuring program sustainability. Youth organizations in rural contexts often struggle with message clarity, hierarchical distortion, limited digital literacy, and inconsistent information management. Adopting a qualitative single-case study, this research combines in-depth interviews with youth leaders and members, focus group discussions, participatory observation during meetings and events, and document analysis (minutes, proposals, financial reports, and social media content). The findings reveal that communication practices in Karang Taruna RW 005 are multi-layered: interpersonal (face-to-face mentoring, leader–member dialogue), group (meetings, deliberations, consensus-building), and digital communication (WhatsApp groups, social media outreach). Applying Lasswell’s communication model and Shannon–Weaver’s linear model, the study identifies how communication effectiveness depends on message clarity, channel selection, and feedback responsiveness. Communication barriers include overlapping information channels, limited documentation habits, and uneven participation across gender and age. Enablers consist of strong community trust, cultural norms of gotong royong, and the emerging digital competence among youth. This paper proposes a five-pillar communication strategy—clarity, inclusivity, transparency, technology adoption, and continuous evaluation—that enhances organizational resilience. The study contributes to organizational communication literature by contextualizing global theories within rural Indonesian youth organizations and offers a replicable roadmap for community-based organizations across similar settings.
Strategi Pemberdayaan Pemuda Melalui Pelatihan Keorganisasian: Studi Kasus pada Karang Taruna Desa Sukarame Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, Jawa Barat 40385: Pengabdian Wanda Sofianti; Husni Munawar; Annisa Zahra Rahmayati; Silvia Nurfadilah; Siti Nur Jamilah; Syahla Nur Fikriyyah; Anjani; Raisa Ratna Khodijah; Jaomal Komara; Djufran D Hi Kasim; Vera Martikasari
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 1 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 1 (Juli 2025 -
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i1.2431

Abstract

This study comprehensively analyzes strategies for empowering youth through organizational training, using a case study of Karang Taruna in Sukarame Village, Pacet District, Bandung Regency, West Java. Youth empowerment is a critical lever for sustainable community development; however, rural youth often face constraints in managerial capability, leadership experience, and program execution. The research adopts a qualitative single-case design combining in-depth interviews (youth leaders, members, village officials), focus group discussions, participant observation during training sessions, and document analysis (training modules, minutes, budgets, program reports). Findings show that a training design grounded in participatory learning, mentoring, and project-based application—supported by digital tools—improves leadership, public speaking, teamwork, basic project management, and civic engagement. Using a logic-model lens (input–process–output–outcome–impact) and Kirkpatrick’s evaluation framework, the study evidences gains in attendance, skill demonstration, program execution rates, and stakeholder collaboration. Enablers include strong social capital, village government support, and peer mentors; barriers include funding limitations, scheduling conflicts with school/work, facilitator turnover, and uneven digital access. The paper proposes a six-pillar strategy (participation, mentoring, collaboration, micro-grants, digitization, M&E) and a scalable implementation roadmap for rural youth organizations.
Edukasi Pencegahan Bullying dan Pentingnya Menjaga Kebersihan pada Siswa Sekolah Dasar di Desa Sukarame, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung: Pengabdian Sopyan Dwi; Syalma Alisa; Anny Hanifah; Fakhriansyah Adwitiya; Anita Fuji; Sani Rizqi; Sindy Eka; Ilham Tri; Resna Anggraeni; Farhan Fahrudin; Vera Martikasari
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 1 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 1 (Juli 2025 -
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i1.2447

Abstract

Community Service Program (KKN) is one of the forms of student engagement with the community, aiming to provide real contributions in addressing local problems. The KKN activity carried out in Sukarame Village, Pacet District, Bandung Regency, focused on an educational program for elementary school students regarding bullying prevention and the importance of maintaining personal and environmental hygiene. The method used was an interactive educational approach through the delivery of materials, group discussions, educational games, and hands-on practice. The results of the activity showed an increase in students’ understanding of the negative impacts of bullying and greater awareness of the importance of cleanliness. This program is expected to foster positive attitudes in social interactions and build healthy habits from an early age.
Toxic Femininity and Competition Among Women in the Workplace: Phenomenological Study of Islamic Ethics, Gender Communication, and Work Psychology Usman, Irianti; Umar, Muthiah; Martikasari, Vera; Riyadi, Hendar
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 10 No. 2 (2025): Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v10i2.50183

Abstract

This study examines the phenomenon of toxic femininity and unhealthy competition among professional Muslim women in the workplace, focusing on its manifestations, underlying factors, psychological impacts, and coping strategies. Using a phenomenological approach, data were collected through in-depth interviews with four Muslim female informants and analyzed with NVivo software. The findings reveal that toxic femininity manifests in symbolic sabotage, gossip, social exclusion, hierarchical dominance, and the misuse of religious symbols. Contributing factors include professional insecurity, patriarchal culture, and the absence of fair and inclusive organizational policies. The impacts experienced by the informants include chronic stress, psychosomatic symptoms, declining motivation, and social isolation. Coping strategies tend to be personal and spiritual, such as prayer, dhikr, and informal support from family or alumni networks, while collective approaches often fail due to a lack of structural support. This study proposes an integrative 3P model—Psychology, Communication, and Islamic Ethics—as an intervention framework, encompassing the development of psychological safety, ethical communication training, and Islamic leadership grounded in maqashid al-shariah. This model offers a transformative strategy to foster a workplace culture that is just, collaborative, and aligned with Islamic values. Keywords: toxic femininity, queen bee syndrome, organizational psychology, Islamic ethics, gender communication