Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Stunting Prevalence Modeling Using Nonparametric Regression of Quadratic Splines Handayani, Tutik; Sifriyani, Sifriyani; Rian Dani, Andrea Tri
Jurnal Varian Vol. 7 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Bumigora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30812/varian.v7i2.2916

Abstract

The nonparametric regression approach is used when the shape of the regression curve between the response variable and the predictor variable is assumed to be of unknown shape. The advantages of nonparametric regression have high flexibility. A nonparametric regression approach that is often used is truncated spline which has an excellent ability to handle data whose behavior changes at certain sub-sub intervals. The purpose of this study is to obtain the best model of multivariable nonparametric regression with linear and quadratic truncated spline approaches using the Generalized Cross Validation (GCV) and Unbiased Risk (UBR) methods and to find out the factors that influence the prevalence of stunting in Indonesia in 2021. The data used were the prevalence of stunting as a response variable and the predictor variable used was the percentage of infants receiving exclusive breastfeeding for 6 months, the percentage of households that have proper sanitation, the percentage of toddlers who get Early Initiation of Breastfeeding (IMD), the percentage of poor people, and the percentage of pregnant women at risk of SEZ. The results showed that the best quadratic truncated spline nonparametric regression model in modeling stunting prevalence was quadraic truncated spline using the GCV method with three knot points. This model has a minimum GCV value of 7.29 with an MSE value of 1.82 and a R2 value of 94.07%.
Perbedaan Pola Pertumbuhan dan Faktor Kondisi Ikan kakatua Hipposcarus longiceps dan Scarus ghobban Prasetyo, Tri Aji; Parenden, Dedi; Handayani, Tutik; Manangkalangi, Emmanuel
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 8 No 2 (2025): ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Edisi November 2025
Publisher : Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/acr.v8i2.5125

Abstract

ABSTRAK Ikan kakatua dikenal dengan sebutan parrotfish, ikan bayan, lembain, atau anglu adalah kelompok besar spesies ikan laut dari famili Scaridae yang menghuni perairan dangkal tropis dan subtropis di seluruh dunia, terutama pada ekosistem terumbu karang. Ikan Kakatua meskipun bukan target utama penangkapan, akan tetapi sering ditangkap ataupun tertangkap oleh nelayan, dan semakin lama kondisinya semakin mengkhawatirkan akibat tingginya tekanan dan aktivitas penangkapan. Kajian komparasi aspek biologi secara spesifik dari spesies ikan kakatua masih jarang dilakukan, terutama untuk di wilayah Kabupaten Manokwari. Padahal ini hal yang sangat penting dalam mendukung baseline konservasi spesifik wilayah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan aspek biologi yang mencakup rasio jenis kelamin, sebaran ukuran, pola pertumbuhan, dan faktor kondisi ikan kakatua dari spesies Hipposcarus longiceps dan Scarus ghobban. Penelitian dilaksanakan pada bulan April –Agustus 2025. Pengambilan sampel dilakukan secara acak, sampel ikan diperoleh dari pedagang ikan dan atau nelayan langsung di kota Manokwari, Metode penelitian bersifat deskriptif dengan teknik observasi langsung. Jumlah sampel keseluruhan yang peroleh sebanyak 68 ekor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kelamin kedua spesies ikan kakatua termasuk dalam kategori seimbang dengan rasio 1:1. Hasil uji chi-square menunjukkan nilai 0,023 untuk Hipposcarus longiceps dan 0,615 untuk Scarus ghobban, keduanya lebih kecil dari nilai kritis chi-square (3,841), yang mengindikasikan bahwa populasi kedua spesies masih berada pada kondisi ideal untuk mendukung kelestariannya. Distribusi ukuran panjang total dan berat tubuh kedua spesies berbeda; untuk Hipposcarus longiceps, panjang total berkisar 192–380 mm dengan berat 106–730 g, sedangkan untuk Scarus ghobban, panjang total berkisar 210–366 mm dengan berat 134–823 g. Pola pertumbuhan kedua spesies menunjukkan kesamaan, yaitu pertumbuhan bersifat alometrik negatif (b < 3), yang berarti pertambahan panjang lebih cepat dibandingkan pertambahan berat, dengan pertumbuhan Scarus ghobban lebih stabil. Nilai faktor kondisi menunjukkan bahwa Scarus ghobban tergolong gemuk/montok, sedangkan Hipposcarus longiceps tergolong agak kurus. Perbedaan ini mencerminkan variasi fisiologis dan ekologis antar spesies, serta menegaskan bahwa kondisi lingkungan dan ketersediaan pakan berpengaruh terhadap tingkat kesehatan ikan kakatua di perairan.