Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Istigfar dalam Alqur’an: Perspektif Sayyid Quthb dalam Tafsir Fi Zhilal Al-Qur’an Hasibuan, Ruwaida; Nasution, Muhammad Ali Azmi; Sulidar, Sulidar
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i1.13849

Abstract

Manusia tidak ma’sum dari kesalahan dan dosa. Hal ini karena tabi’at sebagai manusia, yakni tidak luput berbuat salah dan lupa. Juga dikarenakan musuh manusia yang banyak. Misalnya, nafsu yang ada di dalam jiwanya, yang selalu menghiasi dan mengajaknya kepada keburukan dan dosa. Salah satu cara untuk menutupi kelupaan dan kesalahan adalah dengan beristighfar (memohon ampun kepada Allah SWT). Istighfar adalah sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia setiap harinya, khususnya kaum muslimin, akan tetapi masih banyak sekali dikalangan kaum muslimin tidak memposisikan istighfar sebagai sesuatu yang sangat penting. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian pustaka (library reserarch), yang menampung data primer berupa Tafsir Fi Zhilalil Qur’an sebagai sumber utama, serata data sekunder berupa kitab-kitab tafsir maupun refrensi yang berkaitan. Maka hasil dari penelitian ini dapat dipahami bahwa istighfar memiliki banyak penafsiran dari beberapa mufassir terdapat dalam ayat di dalam Al-Qur’an. Konsep istighfar menurut Sayyid Quthb dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an adalah orang yang beristighfar atas kesalahan selama ini diiringi dengan taubat, hidup akan menjadi lapang, bahagia, dilipat gandakan hartanya, keturunan yang sambung-bersambung dan rizki tak disangka-sangka.
Analisis Relevansi Hadis Nahi Mungkar Dalam Konteks Kekinian Sarkawi, Sarkawi; Zikrillah, Abdu; Sulidar, Sulidar
Hikmah Vol 18, No 1 (2024): JURNAL ILMU DAKWAH DAN KOMUNIKASI ISLAM
Publisher : IAIN Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/hik.v18i1.9095

Abstract

Kemungkaran merupakan tindakan yang dapat merusak moral dan kehidupan suatu bangsa. Sejarah mencatat bahwa tindakan jahat tidak pernah menghilang dari permukaan bumi, tetapi seiring berjalannya waktu, tindakan jahat semakin meluas. Kejahatan yang terjadi di era digital saat ini sangat beragam dan keberadaannya sedikit tersembunyi. Ini tentunya menjadi perhatian bagi semua pihak untuk dapat mengambil langkah-langkah pencegahan atau penanggulangan terhadap aktivitas kriminal (kejahatan). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian kepustakaan, serta teknik pengumpulan data melalui observasi lapangan terkait dengan masalah dakwah khususnya mengenai penerapan Hadis Nahi Mungkar terhadap masalah sosial di era teknologi digital. Berdasarkan fakta-fakta tersebut, penulis menganalisis sejauh mana prinsip-prinsip Nahi Mungkar yang terkandung dalam Hadis Nabi relevan dalam mengatasi masalah tindakan amoral yang muncul di era teknologi digital saat ini. Berdasarkan studi yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pencegahan dan penanggulangan kejahatan berdasarkan Hadis Nabi dapat dilakukan melalui tiga pendekatan utama: pertama, intervensi langsung melalui kekuatan atau peraturan (Tangan); kedua, upaya edukasi seperti ceramah dan sosialisasi (Lisan); dan ketiga, perhatian dan kepedulian orang tua terhadap anak-anak mereka (Hati). Kerja sama antara pemerintah, pemimpin agama, dan orang tua sangat penting untuk meminimalkan peningkatan kejahatan di masa depan. Pencegahan dan penanggulangan kejahatan di era digital memerlukan pendekatan yang komprehensif, yang mengintegrasikan ajaran tradisional dan strategi modern untuk menjaga moral masyarakat dan melindungi komunitas.
Strategi Pemateri Manasik dalam Menyederhanakan Fikih Haji yang Kompleks di KBIH Kecamatan Medan Tembung Nazila, Ilmi; Sulidar, Sulidar; Tanjung, Sayyid Naufal Ibrahim
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i1.37290

Abstract

Ibadah haji merupakan rukun Islam terakhir yang menjadi pelengkap keislaman seseorang. Dalam pelaksanaannya umat Islam dituntut untuk mampu baik dari segi finansial, fisik, bahkan keilmuan. Ibadah yang dilakukan sekali setahun ini mestinya menjadi ibadah yang harus dipersiapkan secara matang. Ditemukan bahwa banyak calon jamaah haji masih kebingungan dalam memahami fiqh haji, sehingga ini menjadi persoalan setiap tahun sebelum keberangkatan haji. Tujuan penelitian ini ialah untuk menggali strategi pemateri manasik dalam menyederhanakan fiqh haji. Metode penelitian ini ialah kualitatif deskriptif dan merupakan penelitian lapangan (field research) dengan menjadikan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Medan Tembung sebagai objek penelitian. Kesimpulan dari penelitian ini ialah pemateri manasik haji berupaya semaksimal mungkin menghindari penggunaan istilah asing, membuat suasana menjadi cair agar materi terasa tidak membosankan, dan berusaha memastikan para calon jamaah fokus terhadap materi tidak terdistraksi dengan hal lain.
Kontribusi Pemahaman Hadis tentang Larangan Qaza’ dan Implementasinya di Desa Dolok Hataran Kecamatan Siantar Kabupaten Simalungun Ridho, Muhammad Taufik; Sulidar, Sulidar
Jurnal Alwatzikhoebillah : Kajian Islam, Pendidikan, Ekonomi, Humaniora Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal Alwatzikhoebillah : Kajian Islam, Pendidikan, Ekonomi, Humaniora
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/alwatzikhoebillah.v11i2.4315

Abstract

This research is based on the phenomenon of the practice of qazaʻ, namely shaving part of the head and leaving the rest, which is still found in Dolok Hataran Village, Siantar District, Simalungun Regency. This practice contradicts the prohibition conveyed in the Prophet’s hadith because it is considered similar to the tradition of ignorance, contains elements of imperfection in appearance, and has the potential to cause social stigma. The purpose of this study is to analyze the public’s understanding of the hadith prohibiting qazaʻ and examine the implementation of the hadith’s values in everyday life. The method used is qualitative with a phenomenological approach through interviews, observation, and documentation. The results show that the public’s understanding of qaza' is still limited to the physical dimension of shaving hair without considering the normative basis of the hadith. Some people consider qazaʻ only a children’s hairstyle, while a handful of religious leaders emphasize the prohibition as part of Islamic ethics in maintaining self-respect. The implementation of the hadith in the field is not consistent; despite counseling from religious leaders, qazaʻ is still found at certain moments such as traditional parties or the style of modernization of youth. The implications of these findings indicate the importance of strengthening hadith literacy in religious education and more communicative cultural daʻwah, so that the values contained in the hadith regarding the prohibition of qazaʻ are not only understood normatively but can also be internalized in social behavior, forming collective awareness, and encouraging the transformation of local traditions towards religious practices that are in line with Islamic teachings.
Analisis Hadis tentang Larangan Pernikahan Semarga dalam Tradisi Batak Toba di Kota Sibolga Simanjuntak, Irwan Syahputra; Sulidar, Sulidar
Journal of Islamic Thought and Philosophy Vol. 5 No. 2 (2026): June
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/jitp.2026.5.2.298-314

Abstract

This study examines hadiths related to the prohibition of same-clan (semarga) marriage in the Batak Toba tradition in the city of Sibolga, with a focus on the relationship between Islamic teachings and customary norms that are still maintained today. Previous studies generally discuss the prohibition of same-clan marriage from either the perspective of customary law or Islamic law separately; therefore, there have been limited studies that analyze the contextual meaning of hadiths within the social practices of Muslim Batak Toba communities. This research offers novelty by analyzing the relationship between hadith interpre­tation, local cultural values, and socio-religious practices in a multicultural society. The method used is qualitative research with a field study approach and a normative hadith analysis. Data were collected through semi-structured inter­views with five informants consisting of customary leaders, Islamic scholars, and local community members, supported by observation and documentation. The data analysis was conducted through data reduction, data presentation, and conclusion drawing using a descriptive-analytical approach. The findings show that the prohibition of same-clan marriage is understood not merely as a religious ruling, but also as a form of respect for the kinship system and cultural identity. However, hadiths related to the selection of a spouse are interpreted flexibly, allowing customary law and Islamic teachings to coexist harmoniously without causing conflict within the community.