Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Istigfar dalam Alqur’an: Perspektif Sayyid Quthb dalam Tafsir Fi Zhilal Al-Qur’an Hasibuan, Ruwaida; Nasution, Muhammad Ali Azmi; Sulidar, Sulidar
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i1.13849

Abstract

Manusia tidak ma’sum dari kesalahan dan dosa. Hal ini karena tabi’at sebagai manusia, yakni tidak luput berbuat salah dan lupa. Juga dikarenakan musuh manusia yang banyak. Misalnya, nafsu yang ada di dalam jiwanya, yang selalu menghiasi dan mengajaknya kepada keburukan dan dosa. Salah satu cara untuk menutupi kelupaan dan kesalahan adalah dengan beristighfar (memohon ampun kepada Allah SWT). Istighfar adalah sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia setiap harinya, khususnya kaum muslimin, akan tetapi masih banyak sekali dikalangan kaum muslimin tidak memposisikan istighfar sebagai sesuatu yang sangat penting. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian pustaka (library reserarch), yang menampung data primer berupa Tafsir Fi Zhilalil Qur’an sebagai sumber utama, serata data sekunder berupa kitab-kitab tafsir maupun refrensi yang berkaitan. Maka hasil dari penelitian ini dapat dipahami bahwa istighfar memiliki banyak penafsiran dari beberapa mufassir terdapat dalam ayat di dalam Al-Qur’an. Konsep istighfar menurut Sayyid Quthb dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an adalah orang yang beristighfar atas kesalahan selama ini diiringi dengan taubat, hidup akan menjadi lapang, bahagia, dilipat gandakan hartanya, keturunan yang sambung-bersambung dan rizki tak disangka-sangka.
Analisis Relevansi Hadis Nahi Mungkar Dalam Konteks Kekinian Sarkawi, Sarkawi; Zikrillah, Abdu; Sulidar, Sulidar
Hikmah Vol 18, No 1 (2024): JURNAL ILMU DAKWAH DAN KOMUNIKASI ISLAM
Publisher : IAIN Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/hik.v18i1.9095

Abstract

Kemungkaran merupakan tindakan yang dapat merusak moral dan kehidupan suatu bangsa. Sejarah mencatat bahwa tindakan jahat tidak pernah menghilang dari permukaan bumi, tetapi seiring berjalannya waktu, tindakan jahat semakin meluas. Kejahatan yang terjadi di era digital saat ini sangat beragam dan keberadaannya sedikit tersembunyi. Ini tentunya menjadi perhatian bagi semua pihak untuk dapat mengambil langkah-langkah pencegahan atau penanggulangan terhadap aktivitas kriminal (kejahatan). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian kepustakaan, serta teknik pengumpulan data melalui observasi lapangan terkait dengan masalah dakwah khususnya mengenai penerapan Hadis Nahi Mungkar terhadap masalah sosial di era teknologi digital. Berdasarkan fakta-fakta tersebut, penulis menganalisis sejauh mana prinsip-prinsip Nahi Mungkar yang terkandung dalam Hadis Nabi relevan dalam mengatasi masalah tindakan amoral yang muncul di era teknologi digital saat ini. Berdasarkan studi yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pencegahan dan penanggulangan kejahatan berdasarkan Hadis Nabi dapat dilakukan melalui tiga pendekatan utama: pertama, intervensi langsung melalui kekuatan atau peraturan (Tangan); kedua, upaya edukasi seperti ceramah dan sosialisasi (Lisan); dan ketiga, perhatian dan kepedulian orang tua terhadap anak-anak mereka (Hati). Kerja sama antara pemerintah, pemimpin agama, dan orang tua sangat penting untuk meminimalkan peningkatan kejahatan di masa depan. Pencegahan dan penanggulangan kejahatan di era digital memerlukan pendekatan yang komprehensif, yang mengintegrasikan ajaran tradisional dan strategi modern untuk menjaga moral masyarakat dan melindungi komunitas.
Periodisasi Sikap Orientalis Barat terhadap Islam: Analisis Historis dan Kritis Fauzi, Suci Salwa; Nasution, Kurnia Shubuh; Hanan, Muhammad Rifki; Sulidar, Sulidar
Komprehensif Vol 4 No 1 (2026)
Publisher : CV Edu Tech Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Orientalisme merupakan fenomena intelektual Barat yang sejak abad pertengahan hingga era kontemporer menjadikan Islam sebagai objek kajian. Sikap orientalis terhadap Islam tidak bersifat statis, melainkan mengalami perubahan seiring perkembangan sejarah, kepentingan politik, dan metodologi keilmuan. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis periodisasi sikap orientalis terhadap Islam serta memberikan kajian kritis terhadap dampak positif dan negatif orientalisme dalam studi Islam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research), menganalisis karya-karya orientalis serta respon sarjana Muslim. Hasil kajian menunjukkan bahwa orientalisme berkembang dari sikap permusuhan teologis, kolonial-akademik, hingga pendekatan dialogis-kritis. Meskipun orientalisme memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan kajian filologi dan historiografi Islam, bias ideologis dan kepentingan kolonial masih mewarnai sebagian kajian orientalis. Oleh karena itu, umat Islam dituntut bersikap kritis-konstruktif dalam menyikapi orientalisme.
Pengertian, Objek, Ruang Lingkup Orientalisme dan Latar Belakang Munculnya Orientalis Umami, Fadhilah; Aulia, Putri Ega; Siregar, Mhd Azka Fata; Sulidar, Sulidar
Fatih: Journal of Contemporary Research Vol. 3 No. 1 (2026): January-June
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/ysfshn34

Abstract

Artikel ini mengkaji studi orientalisme terhadap Al-Qur’an yang dilakukan oleh sarjana Barat dengan menyoroti pengertian, objek kajian, ruang lingkup, serta latar belakang kemunculannya. Kajian orientalis terhadap Al-Qur’an umumnya menggunakan pendekatan historis-kritis yang memandang Al-Qur’an sebagai teks sejarah yang dipengaruhi oleh konteks sosial, budaya, dan politik, sehingga berbeda dengan perspektif Islam yang memandangnya sebagai wahyu ilahi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara kritis kecenderungan, metode, serta motif yang melatarbelakangi kajian orientalis dalam studi Al-Qur’an. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan (library research) dengan menelaah sumber-sumber primer dan sekunder berupa buku dan artikel jurnal karya sarjana Barat serta cendekiawan Muslim. Analisis data dilakukan secara deskriptif-kritis dengan pendekatan historis dan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kajian orientalis terhadap Al-Qur’an mencakup isu keaslian teks, sejarah kodifikasi, bahasa, sastra, dan penafsiran, yang sebagian dipengaruhi oleh kepentingan ideologis dan misionaris. Kebaruan penelitian ini terletak pada penyajian analisis kritis yang menempatkan orientalisme secara proporsional sebagai wacana akademik yang perlu disikapi secara selektif dan objektif.
Kajian Barat dan Orientalis Al-Qur’an: Mengenal Pemikiran Orientalis tentang Islam dan Sikap Muslim Terhadapnya Barus, Nur Wahyuni Emia; Fadli, Muhammad Bayu; Sulidar, Sulidar
Fatih: Journal of Contemporary Research Vol. 3 No. 1 (2026): January-June
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/a85fd971

Abstract

Kajian Barat dan orientalis terhadap Al-Qur’an merupakan bagian penting dalam studi Islam kontemporer yang melahirkan beragam pandangan, baik yang bersifat akademis maupun kritis terhadap ajaran Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengenal dan menganalisis pemikiran orientalis tentang Islam, khususnya terkait Al-Qur’an, serta mengkaji sikap dan respons kaum Muslim terhadap kajian orientalisme. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research), dengan menelaah karya-karya orientalis Barat dan tulisan para sarjana Muslim sebagai respons terhadap orientalisme. Data dianalisis secara deskriptif-analitis dan kritis melalui analisis isi serta pendekatan historis-intelektual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kajian orientalis terhadap Al-Qur’an dipengaruhi oleh latar belakang historis, metodologis, dan epistemologis Barat, yang dalam beberapa kasus menghasilkan kesimpulan yang berbeda bahkan bertentangan dengan paradigma keilmuan Islam. Oleh karena itu, sikap Muslim yang tepat terhadap orientalisme adalah bersikap kritis, objektif, dan selektif dengan tetap menjunjung tinggi prinsip-prinsip keilmuan Islam serta membuka ruang dialog akademik yang konstruktif.
Mengenal Orientalis di Berbagai Negara Barat Hasibuan, Tasyah Ardany; Nabawi, Muhammad Iqbal; Sulidar, Sulidar
Mesada: Journal of Innovative Research Vol. 3 No. 1 (2026): January-June
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/1nbpvm21

Abstract

Studi ini mengeksplorasi perkembangan orientalisme di berbagai negara Barat dengan fokus pada kajian Al-Qur'an dan Islam. Secara historis, orientalisme telah berevolusi dari pendekatan teologis-polemik pada abad pertengahan menuju disiplin filologi dan historis-kritis yang mapan pada abad ke-18, hingga menjadi studi wilayah yang bersifat politis-strategis pasca Perang Dunia II. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui studi pustaka, penelitian ini memetakan karakteristik unik di berbagai negara: Jerman dengan tradisi filologi ketat; Inggris yang awalnya dipengaruhi kepentingan kolonial; Prancis dengan pendekatan linguistik dan sosiologi; serta Amerika Serikat yang mengedepankan teori kritis interdisipliner. Temuan menunjukkan bahwa meskipun orientalisme memberikan kontribusi besar dalam pengembangan studi naskah dan leksikon, ia juga mengandung bias epistemologis sebagai "wacana kekuasaan" sebagaimana dikritik oleh Edward Said. Sebagai respons, muncul gerakan "Post-Orientalisme Kritis" di kalangan sarjana Muslim yang berupaya mengadopsi metodologi kritis Barat untuk menafsirkan kembali tradisi Islam secara otonom dan mandiri.
Perbedaan Orientalis dan Oksidentalisme Secara Geografis, Etnologis, Kultural, dan Metodologik Ramadhan, Muhammad Gilang; Ritonga, Rika Amalia; Arif, Muhammad Dasril; Sulidar, Sulidar
Mesada: Journal of Innovative Research Vol. 3 No. 1 (2026): January-June
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/f6w2pr54

Abstract

Tujuan penulisan ini adalah untuk menganalisis secara mendalam perbedaan antara Orientalisme dan Oksidentalisme berdasarkan empat aspek utama, yaitu geografis, etnologis, kultural, dan metodologik. Analisis ini dimaksudkan untuk menitikberatkan pada bagaimana kedua pandangan tersebut membentuk pola hubungan antara Timur dan Barat dalam memahami peradaban serta pengaruhnya terhadap perkembangan studi Alquran dan Tafsir. Orientalisme lahir di Barat dengan semangat ilmiah dan rasional yang sering kali disertai bias kolonial serta dominasi kultural. Sebaliknya, Oksidentalisme berkembang di Timur sebagai respons reflektif terhadap hegemoni Barat dengan menonjolkan nilai spiritualitas, keaslian budaya, dan keseimbangan intelektual. Pembahasan ini juga dihubungkan dengan nilai-nilai universal Alquran sebagaimana tercermin dalam QS. al-Ḥujurāt [49]:13, QS. ar-Rūm [30]:22, QS. al-Ḥadīd [57]:20, dan QS. an-Naḥl [16]:125 yang menegaskan pentingnya saling mengenal, menghargai perbedaan, dan berdialog dengan hikmah. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif dengan pendekatan etnografi dan studi kepustakaan, melalui penelaahan literatur klasik dan kontemporer dari tokoh-tokoh seperti Edward Said, Hassan Hanafi, Seyyed Hossein Nasr, dan Ismail Raji al-Faruqi. Hasil kajian menunjukkan bahwa Orientalisme menekankan objektivitas ilmiah dan analisis empiris dengan sudut pandang luar, sedangkan Oksidentalisme berupaya membangun pemahaman dari dalam yang berlandaskan nilai kemanusiaan dan spiritualitas. Novelti atau keunikan analisis yang sangat signifikan ini terletak pada keterpaduan antara kajian akademik Orientalisme-Oksidentalisme dengan perspektif normatif Alquran, yang memandang perbedaan keduanya bukan sebagai pertentangan, melainkan sebagai peluang untuk menciptakan dialog peradaban yang berkeadilan, beretika, dan berorientasi pada kemaslahatan umat manusia.