Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

THE EFFECTIVENESS OF ABDOMINAL STRETCHING EXERCISES ON THE INTENSITY OF PRIMARY DYSMENORRHEA IN ADOLESCENT GIRLS IN EAST JAKARTA Purwarini, Justina; Maura, Khanza; Yesaya, Fendy
Jurnal Ilmiah Keperawatan Vol 9 No 1 (2026): Jurnal Mutiara Ners
Publisher : Program Studi Ners UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/jmn.v9i1.6371

Abstract

Background: The transition by childhood to adulthood is called adolescence, typically beginning at the age of 12–24 years. Female adolescence is marked by several changes, particularly in the development of the hormone’s estrogen and progesterone. One of the characteristics of women entering adolescence is menstruation. in the process of menstruation, women may endure unpleasant symptoms, such as dysmenorrhea or menstrual pain caused by excessive uterine contractions that can interfere by daily operations. Purpose: This study aimed to explore how effective abdominal stretching exercises are in decreasing the degree of menstrual pain endured by adolescent girls in East Jakarta. Methods: This study conducted a pre-experimental method utilizing a one-cohort pretest–posttest design approach. Outcomes: The outcomes implied that before doing the abdominal stretching exercises, most participants endured moderate menstrual pain (scale 2–6), by 33 respondents (55.0%) reporting this stage. After the exercise, the pain degree decreased to a mild stage (scale 1–4) in 50 respondents (83.3%). A total of 60 adolescents took a part in the study. Utilizing the Wilcoxon Signed Ranks Test, the analysis yielded a p-value of 0.000 that is lower than the significance stage of 0.05. This implies that abdominal stretching exercises were effective in decreasing dysmenorrhea degree among adolescent girls in East Jakarta. Conclusion: Abdominal stretching can boost blood flow, ease muscle tension in the abdominal area, and promote relaxation. These effects help lessen the degree of menstrual pain endured by individuals by dysmenorrhea.
Pengaruh Supervisi Proctor Reflektif terhadap Ketrampilan Berpikir Kritis dalam Memberikan Asuhan Keperawatan di Unit Rawat Inap RS X Mulyati, Tri; Purwarini, Justina; Priyo Hastono, Susanto
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 3 No. 3 (2020): September 2020
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (715.802 KB) | DOI: 10.56338/mppki.v3i3.1280

Abstract

Supervisi merupakan salah satu fungsi pengawasan sebagai upaya meningkatkan mutu pelayanan, di perlukan model supervisi yang tepat dalam mengelola SDM keperawatan agar mampu berpikir kritis dan berkualitas dalam pemberian asuhan keperawatan. Ketrampilan berpikir kritis sangat di perlukan perawat dalam memberikan Asuhan Keperawatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelaksanaan supervisi Proctor Reflektif terhadap ketrampilan berpikir kritis perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan di unit rawat inap RS X. Design penelitian Quasi Eksperiment pre – post test with control group, dengan jumlah sampel perawat rawat inap sebanyak 40 perawat pada kelompok kontrol dan 40 perawat pada kelompok intervensi .Di dapatkan hasil  terdapat perbedaan yang signifikan pada kelompok intervensi dengan kelompok kontrol dengan signifikansi 0.000<0.050. ada pengaruh supervisi Proktor Reflektif terhadap ketrampilan berpikir kritis perawat dengan p value 0.000<0.050 dan tidak terdapat perbedaan yang signifikan terhadap pendidikan dengan berpikir kritis dengan p value 0,573 > 0.05, masa kerja dengan p value 0,324 > 0.05. Dapat ditarik kesimpulan bahwa penerapan supervisi proctor reflektif memiliki pengaruh terhadap nilai keterampilan berpikir kritis dengan signifikansi > 0.000.  uji statistik secara bersama – sama menunjukkan bahwa variabel umur, pendidikan dan masa kerja tidak memiliki pengaruh terhadap perbedaan keterampilan berpikir kritis dimana p – value > 0.05. Sehingga, supervisi Proctor Reflektif dapat direkomendasikan untuk di terapkan dalam  meningkatkan berpikir kritis
Kelengkapan Dokumentasi Keperawatan Sebelum dan Sesudah Pelatihan Praktik Keperawatan Profesional di Rumah Sakit X Baturaja Kabupaten Oku Suyanti, Irmina; Purwarini, Justina; Supardi, Sudibyo
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 4 No. 1 (2021): January 2021
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.27 KB) | DOI: 10.56338/mppki.v4i1.1389

Abstract

Kelengkapan dokumentasi keperawatan merupakan indikator kinerja perawat dan menjadi cermin kualitas pelayanan keperawatan di rumah sakit. Tujuan penelitian untuk mengetahui kelengkapan dokumentasi keperawatan sebelum dan sesudah pelatihan metode praktek keperawatan profesional di ruang rawat inap rumah sakit. Desain penelitian menggunakan pra-eksperimen dengan rancangan  one group pretest-postest/design. Penelitian dilakukan di RS X Baturaja Kabupaten OKU bulan April - Juli 2020 dengan jumlah sampel 47 perawat yang dilatih MPKP. Pengukuran kelengkapan dokumentasi dengan mengobservasi 47 dokumentasi keperawatan mengacu pada instrumen A Depkes. Analisis data menggunakan uji statistik non parametrik Wilcoxon dan Chi-square. Hasil penelitian; terdapat perbedaan kelengkapan dokumentasi (pengkajian, implementasi, evaluasi) keperawatan yang signifikan antara sebelum dan sesudah penerapan MPKP (P<0.05), terdapat perbedaan kelengkapan dokumentasi (diagnosa, perencanaan) keperawatan yang tidak signifikan sebelum dan sesudah penerapan MPKP (P>0.05), ada hubungan yang bermakna antara pendidikan D3 keperawatan dengan peningkatan pengkajian keperawatan dan antara pendidikan Ners sarjana keperawatan dengan peningkatan implementasi keperawatan (P<0.05). Pelatihan MPKP meningkatkan Kelengkapan; dokumentasi (pengkajian) keperawatan pada perawat dengan pendidikan D3 keperawatan lebih besar, dokumentasi (implementasi) keperawatan pada perawat dengan pendidikan Ners. Karakteristik responden (umur 27,6%; pendidikan 26,2%; masa kerja 24,0%; PO-Fit 20,5%) dalam meningkatkan kelengkapan dokumentasi pengkajian. Penelitian ini merekomendasikan perlunya penelitian lebih lanjut dan Bidang Keperawatan membuat keseragaman dalam implementasi MPKP, mengadakan pelatihan proses keperawatan.
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Postpartum Blues di RS “Y” Bekasi : Factors Related To the Incidence of Postpartum Blues at “Y” Hospital Bekasi Purwarini, Justina; Armaya, Linco Deby
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 4 No. 4 (2021): November 2021
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (859.772 KB) | DOI: 10.56338/mppki.v4i4.1455

Abstract

Postpartum blues merupakan kesedihan atau kemurungan yang dirasakan oleh ibu setelah melahirkan yang berlangsung pada hari ke-3 sampai hari ke- 5 dalam 14 hari pertama setelah melahirkan. Gejala-gejala yang terjadi pada depresi postpartum diantaranya adanya tangisan singkat, perasaan kesepian atau ditolak, cemas, bingung, gelisah, letih, pelupa, tidak konsentrasi, dan tidak dapat tidur. Gejala yang muncul dapat menyebabkan ibu menjadi pasif dan mengabaikan bayinya serta ketidakseimbangan hormon karena cemas dan stress. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan usia, paritas, pendidikan dan pekerjaan dengan kejadian postpartum blues di RS “Y” Bekasi. Penelitian menggunakan desain cross sectional dengan pengambilan sampel diambil secara purposive sampling sebanyak 93 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner Edinburgh postpartum depression scale (EPDS). Analisis data menggunakan uji statistic chi-square. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat 2 variabel yang berhubungan yaitu paritas (p value = 0,013) dan pekerjaan (p value = 0,003) dan 2 variabel menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan yaitu usia (p value = 0,934) dan Pendidikan (p value = 0,274) dengan kejadian postpartum blues. Peran perawat diperlukan untuk dapat mendampingi ibu sehingga dapat beradaptasi dengan kondisi post-partumnya sehingga secara fisiologis dan psikologis ibu dapat menerima peran barunya dengan positif.