Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Pengaruh Supervisi Proctor Reflektif terhadap Ketrampilan Berpikir Kritis dalam Memberikan Asuhan Keperawatan di Unit Rawat Inap RS X Mulyati, Tri; Purwarini, Justina; Priyo Hastono, Susanto
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 3 No. 3 (2020): September 2020
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (715.802 KB) | DOI: 10.56338/mppki.v3i3.1280

Abstract

Supervisi merupakan salah satu fungsi pengawasan sebagai upaya meningkatkan mutu pelayanan, di perlukan model supervisi yang tepat dalam mengelola SDM keperawatan agar mampu berpikir kritis dan berkualitas dalam pemberian asuhan keperawatan. Ketrampilan berpikir kritis sangat di perlukan perawat dalam memberikan Asuhan Keperawatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelaksanaan supervisi Proctor Reflektif terhadap ketrampilan berpikir kritis perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan di unit rawat inap RS X. Design penelitian Quasi Eksperiment pre – post test with control group, dengan jumlah sampel perawat rawat inap sebanyak 40 perawat pada kelompok kontrol dan 40 perawat pada kelompok intervensi .Di dapatkan hasil  terdapat perbedaan yang signifikan pada kelompok intervensi dengan kelompok kontrol dengan signifikansi 0.000<0.050. ada pengaruh supervisi Proktor Reflektif terhadap ketrampilan berpikir kritis perawat dengan p value 0.000<0.050 dan tidak terdapat perbedaan yang signifikan terhadap pendidikan dengan berpikir kritis dengan p value 0,573 > 0.05, masa kerja dengan p value 0,324 > 0.05. Dapat ditarik kesimpulan bahwa penerapan supervisi proctor reflektif memiliki pengaruh terhadap nilai keterampilan berpikir kritis dengan signifikansi > 0.000.  uji statistik secara bersama – sama menunjukkan bahwa variabel umur, pendidikan dan masa kerja tidak memiliki pengaruh terhadap perbedaan keterampilan berpikir kritis dimana p – value > 0.05. Sehingga, supervisi Proctor Reflektif dapat direkomendasikan untuk di terapkan dalam  meningkatkan berpikir kritis
Kelengkapan Dokumentasi Keperawatan Sebelum dan Sesudah Pelatihan Praktik Keperawatan Profesional di Rumah Sakit X Baturaja Kabupaten Oku Suyanti, Irmina; Purwarini, Justina; Supardi, Sudibyo
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 4 No. 1 (2021): January 2021
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.27 KB) | DOI: 10.56338/mppki.v4i1.1389

Abstract

Kelengkapan dokumentasi keperawatan merupakan indikator kinerja perawat dan menjadi cermin kualitas pelayanan keperawatan di rumah sakit. Tujuan penelitian untuk mengetahui kelengkapan dokumentasi keperawatan sebelum dan sesudah pelatihan metode praktek keperawatan profesional di ruang rawat inap rumah sakit. Desain penelitian menggunakan pra-eksperimen dengan rancangan  one group pretest-postest/design. Penelitian dilakukan di RS X Baturaja Kabupaten OKU bulan April - Juli 2020 dengan jumlah sampel 47 perawat yang dilatih MPKP. Pengukuran kelengkapan dokumentasi dengan mengobservasi 47 dokumentasi keperawatan mengacu pada instrumen A Depkes. Analisis data menggunakan uji statistik non parametrik Wilcoxon dan Chi-square. Hasil penelitian; terdapat perbedaan kelengkapan dokumentasi (pengkajian, implementasi, evaluasi) keperawatan yang signifikan antara sebelum dan sesudah penerapan MPKP (P<0.05), terdapat perbedaan kelengkapan dokumentasi (diagnosa, perencanaan) keperawatan yang tidak signifikan sebelum dan sesudah penerapan MPKP (P>0.05), ada hubungan yang bermakna antara pendidikan D3 keperawatan dengan peningkatan pengkajian keperawatan dan antara pendidikan Ners sarjana keperawatan dengan peningkatan implementasi keperawatan (P<0.05). Pelatihan MPKP meningkatkan Kelengkapan; dokumentasi (pengkajian) keperawatan pada perawat dengan pendidikan D3 keperawatan lebih besar, dokumentasi (implementasi) keperawatan pada perawat dengan pendidikan Ners. Karakteristik responden (umur 27,6%; pendidikan 26,2%; masa kerja 24,0%; PO-Fit 20,5%) dalam meningkatkan kelengkapan dokumentasi pengkajian. Penelitian ini merekomendasikan perlunya penelitian lebih lanjut dan Bidang Keperawatan membuat keseragaman dalam implementasi MPKP, mengadakan pelatihan proses keperawatan.
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Postpartum Blues di RS “Y” Bekasi : Factors Related To the Incidence of Postpartum Blues at “Y” Hospital Bekasi Purwarini, Justina; Armaya, Linco Deby
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 4 No. 4 (2021): November 2021
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (859.772 KB) | DOI: 10.56338/mppki.v4i4.1455

Abstract

Postpartum blues merupakan kesedihan atau kemurungan yang dirasakan oleh ibu setelah melahirkan yang berlangsung pada hari ke-3 sampai hari ke- 5 dalam 14 hari pertama setelah melahirkan. Gejala-gejala yang terjadi pada depresi postpartum diantaranya adanya tangisan singkat, perasaan kesepian atau ditolak, cemas, bingung, gelisah, letih, pelupa, tidak konsentrasi, dan tidak dapat tidur. Gejala yang muncul dapat menyebabkan ibu menjadi pasif dan mengabaikan bayinya serta ketidakseimbangan hormon karena cemas dan stress. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan usia, paritas, pendidikan dan pekerjaan dengan kejadian postpartum blues di RS “Y” Bekasi. Penelitian menggunakan desain cross sectional dengan pengambilan sampel diambil secara purposive sampling sebanyak 93 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner Edinburgh postpartum depression scale (EPDS). Analisis data menggunakan uji statistic chi-square. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat 2 variabel yang berhubungan yaitu paritas (p value = 0,013) dan pekerjaan (p value = 0,003) dan 2 variabel menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan yaitu usia (p value = 0,934) dan Pendidikan (p value = 0,274) dengan kejadian postpartum blues. Peran perawat diperlukan untuk dapat mendampingi ibu sehingga dapat beradaptasi dengan kondisi post-partumnya sehingga secara fisiologis dan psikologis ibu dapat menerima peran barunya dengan positif.