p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Manfish Journal Kapuas
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Manfish Journal

STUDI TINGKAT KETERURAIAN PEWARNA TEKSTIL MENGGUNAKAN LAKASE MURNI DARI Marasmiellus palmivorus Ragil Putri Widyastuti; Sri Harjati Suhardi; Dani Permana; Khomaini Hasan; Edwan Kardena; Agus Jatnika
Jurnal Kelautan, Lingkungan, dan Perikanan Vol 1 No 1 (2020): MANFISH JOURNAL
Publisher : Jurusan Ilmu Kelautan dan Perikanan Politeknik Negeri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (801.26 KB) | DOI: 10.31573/manfish.v1i01.35

Abstract

Pewarna di dalam limbah tekstil menjadi salah satu aspek penting karena sulit didegradasi. Enzim lakase yang berasal dari jamur pelapuk putih Marasmiellus palmivorus terbukti efektif dalam mendegradasi beberapa jenis pewarna tekstil. Lakase murni diujikan pada pewarna tekstil dengan metode uji cepat atau High Throughput Screening (HTS). Sampel pewarna yang digunakan yaitu 14 pewarna jenis azo, anthrakuinon dan disperse. Uji cepat dilakukan pada suhu ruang menggunakan microplate titer dengan perbandingan sampel dan enzim 1:1 selama 24 jam dengan konsentrasi pewarna 150ppm. Sampel yang diamati merupakan campuran pewarna dan enzim murni dengan aktifitas spesifik 2,49 U/mg. Metode HTS memperlihatkan Procion Blue H-GN dan Levafix Blue E-Ra Gran positif terdekolorisasi oleh lakase. Screening dekolorisasi pewarna oleh kultur jamur M. palmivorus pada medium PDA juga dilakukan dengan hasil 7 pewarna terdekolorisasi yaitu Telon Blue AFN, Telon Red AFG, Isolan Silver N, Telon Blue BRL, Levafix Blue PN-3R, Procion Blue H-GN dan Levafix Blau E-Ra Gran. Dua warna yang positif terdegradasi oleh lakase dan kultur jamur diukur perubahan konsentrasinya berdasarkan nilai absorbansinya menggunakan spektrofotometer. Konsentrasi pewarna Levafix Blue E-Ra Gran turun hingga 86 ppm setelah 24 jam. Kesimpulan dari penelitian ini adalah metode HTS berhasil memperlihatkan sifat dekolorisasi berbagai pewarna tekstil dengan cepat dan terbukti dengan berubahnya konsentrasi pewarna setelah pengujian.
ESTIMASI STOK KARBON SEDIMEN PADA AREA PADANG LAMUN DI KEPULAUAN SPERMONDE, SULAWESI SELATAN Yushra Yushra; Galih Setyo Adiguna; Lukas Wibowo Sasongko; Ragil Putri Widyastuti
Jurnal Kelautan, Lingkungan, dan Perikanan Vol 1 No 1 (2020): MANFISH JOURNAL
Publisher : Jurusan Ilmu Kelautan dan Perikanan Politeknik Negeri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (810.549 KB) | DOI: 10.31573/manfish.v1i01.41

Abstract

Telah dilakukan penelitian yang bertujuan mengestimasi stok karbon dalam sedimen pada ekosistem padang lamun di kepulauan Spermonde, khususnya di Pulau Bonetambung dan Pulau Lae-Lae, Makassar. Pengambilan sedimen dilakukan pada area padang lamun dengan menggunakan sediment core berdiameter 5 cm dan kedalaman alat sampai 30 cm. Luasan tutupan lamun diperoleh dari analisis citra satelit Landsat-8 dan kondisi lamun yaitu dengan menggunakan petak contoh berukuran 100cm x 100cm. Hasil analisis citra landsat-8 didapatkan luasan tutupan ekosistem padang lamun di Pulau Bonetambung yakni 14.18 ha dimana didapatkan 4 kategori tutupan lamun yaitu sangat padat (0.2 ha), padat (0.7 ha), sedang (6 ha) dan jarang (7 ha). Sedangkan pada Pulau Lae-Lae diperoleh luasan ekosistem padang lamun yakni 5,04 ha dan didapatkan 3 kategori tutupan lamun yaitu jarang (0,36 ha), sedang (3,42 ha) dan padat (1,23 ha). Hasil analisis contoh sedimen didapatkan pada Pulau Bonetambung dan Pulau Lae- Lae didominasi oleh tipe sedimen pasir kasar. Didapatkan nilai rerata kandungan karbon sedimen pada ekosistem padang lamun yaitu di Pulau Bonetambung 9,6 MgCha-1 pada kedalaman 0-30 cm sedangkan di Pulau Lae-Lae diperoleh 8,98 MgCha-1. Total Stok karbon sedimen pada area padang lamun Pulau Bonetambung yaitu 136,08 MgC atau setara dengan 503,5 MgCO2 e sedangkan di Pulau Lae-Lae didaptkan 44,86 MgC atau setara dengan 165,9 MgCO2 e. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekosistem lamun berperan sangat penting dalam menjaga stok karbon di laut sehingga perlu mendapat perhatian untuk konservasinya.