Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Ulil Albab

Indonesian Migrant Workers, Double Job Double Risk: Commodification of Life Content Amelia, Syfa; Elisabeth Adventa Galuh
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 5 No. 2: Januari 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v5i2.14849

Abstract

Indonesian migrant workers currently have a new trend as part-timer content creators in social media, documenting their life and making videos or live videos about their life in a new country. This is common thing between the diaspora to document their lives in a different country, but there is a gap that differentiates between diaspora or white-collar immigrants from Indonesian migrant workers who commonly work as unskilled laborers. As we already know how policies that protect immigrants do not really work because of the high case of immigrant abuse, intimidation, persecution, low welfare, etc. Immigrants seeing the potential of being content creators in social media will give them better welfare and life quality when actually they become new commodities by creating content about their life. Using Pierre Bourdieu theory of modal commodification, we conduct exploratory research to investigate problems about commodification content that is not clearly defined. The first step we do is doing observations of migrant workers content creators and then we do online research and literature research to strengthen our research on a specific case that is Zhiee Leely and Maybe Memeyon Youtube. The results show us that Indonesian migrants worker are unconsciously being commodified in a habitus that leads them to get financial modal by-product daily content on Youtube and it is mean they need to do a double job, longer working hours, more risks, without government social security because only being migrants worker for them did not guarantee them better life better welfare. Keywords: migrant workers, double commodification, welfare, social media, content creator.
Tiktok, Budaya Visual Kontemporer: Sejarah Spectacle Hiburan Populer Amelia, Syfa
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 5 No. 3: Februari 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v5i3.15280

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi posisi TikTok sebagai manifestasi kontemporer dari budaya visual yang menghidupkan kembali praktik hiburan populer awal dalam format digital. Meskipun budaya populer sering dianggap marginal dibandingkan media arus utama seperti televisi dan sinema, TikTok berhasil mendisrupsi pola konsumsi konten melalui integrasi teknologi kecerdasan buatan (AI) dan algoritma For You Page (FYP). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif (desk study) dengan meninjau sejarah tontonan populer di Indonesia, mulai dari tradisi wayang dan layar tancep hingga era digital abad ke-21. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TikTok telah mendorong transformasi konsep "masyarakat spektakel" Guy Debord menuju era "Spectacle 2.0". Dalam ekosistem ini, spektakel tidak lagi bersifat statis dan searah, melainkan berubah menjadi aliran citra (image-flow) yang partisipatif, hiper-fragmentasi, dan terdatafikasi. Melalui fitur video vertikal yang intim, TikTok meradikalisasi silsilah budaya layar dengan mengaburkan batas antara subjek pelihat dan objek yang dilihat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa TikTok bukan sekadar anomali media, melainkan infrastruktur sosial baru yang mengorganisasi identitas, politik, dan pengetahuan melalui stimulasi visual yang berlanjut. Fenomena ini menandai pergeseran di mana visibilitas algoritmik menjadi instrumen kekuasaan baru dalam kebudayaan digital global
Tradisi Teori Fenomenologi pada Sinema untuk Melihat Simpati, Empati dan Pandemi Covid Amelia, Syfa
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 5 No. 3: Februari 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v5i3.15281

Abstract

Fenomenologi sering menjadi pisau analisa untuk membedah teori-teori film. Biasanya isu-isu yang mendominasi teori fenomenologi adalah teori seputar isu sosial ekonomi, feminisme, semiotika, dll. Penelitian dengan sudut pandang etik dalam sinema adalah hal baru yang akan dilihat di sini. Bagaimana sinema menjadi media untuk mendapatkan pengalaman etik kepada penonton. Analisa fenomenologi terhadap etik sinema ini biasanya dibarengi dengan pendekatan kognitif untuk bisa melihat bagaimana emosi didapatkan penonton dan bisa menciptakan simpati serta empati kepada sinema yang dikonsumsi. Hal ini berkaitan dengan fenomena pandemic covid yang ditampilkan di banyak sinema-sinema dystopia. Realita pandemic terhadap manusia dan ekologi yang digambarkan dengan cara kreatif tersebut bisa mendapatkan simpati dan empati dari penonton yang juga mengalami realita pandemic covid. Paper ini dilakukan dengan metode literatur review mengangkat dua jurnal yang mebicarakan fenomenolog kognitif dalam sinema dan fenomenologi ekologi dalam sinema khususnya dalam masa pandemic covid.