Kanker hati merupakan penyebab kematian ketiga tertinggi akibat kanker secara global, dengan angka mortalitas di Indonesia mencapai 9,6% dan menempati urutan tertinggi kedua di dunia. Reseksi bedah tetap menjadi modalitas kuratif utama, sementara pendekatan laparoskopik semakin berkembang karena menawarkan keuntungan minimal invasif; namun, data mengenai luaran reseksi hati laparoskopik di Indonesia, khususnya kawasan timur, masih sangat terbatas. Kebaruan penelitian ini adalah penyajiannya sebagai laporan awal yang mendeskripsikan luaran reseksi hati laparoskopik di Indonesia timur, sehingga memberikan data dasar penting bagi pengembangan layanan bedah hepatobilier minimal invasif di wilayah dengan keterbatasan akses teknologi. Penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik demografis pasien, profil teknik operasi, serta luaran pasca reseksi hati laparoskopik pada kasus tumor hati di RSUD Prof. Dr. R. D. Kandou, Manado. Penelitian observasional deskriptif dengan desain serial kasus prospektif ini melibatkan seluruh pasien yang menjalani reseksi hati laparoskopik periode 2019–2024, dengan pengumpulan data meliputi karakteristik demografis, parameter praoperasi, teknik intraoperatif berdasarkan terminologi Brisbane 2000, serta luaran pasca operasi berupa fungsi hati, komplikasi menurut klasifikasi Clavien–Dindo, dan kejadian gagal hati pasca hepatektomi (PHLF) berdasarkan kriteria International Study Group of Liver Surgery (ISGLS). Sebanyak 15 pasien dilibatkan, dengan mayoritas perempuan (66,7%) dan rerata usia 42,13 tahun; seluruh pasien memiliki fungsi hati Child–Pugh A. Tumor hati primer mendominasi (60%), dengan seluruh kasus ganas primer berupa karsinoma hepatoseluler. Mayoritas prosedur merupakan hepatektomi minor (80%) dengan transeksi parenkim menggunakan pisau bedah harmonik (86,7%). Tidak ditemukan kejadian PHLF maupun komplikasi mayor, sementara satu kasus kematian pasca operasi terjadi akibat sepsis. Secara keseluruhan, reseksi hati laparoskopik pada pasien tumor hati di pusat layanan ini menunjukkan luaran pasca operasi yang baik dengan angka komplikasi mayor yang rendah, sehingga mendukung penerapan pendekatan minimal invasif sebagai pilihan terapi yang aman dan potensial untuk dikembangkan di pusat layanan hepatobilier di Indonesia timur.