p-Index From 2021 - 2026
3.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal JURNAL TEKNIK MESIN
Agus Suprihanto
Department of Mechanical Engineering, Universitas Diponegoro, Jl. Prof. Sudarto, SH, Tembalang, Semarang, Indonesia 50275

Published : 24 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

STUDI KEKUATAN TARIK DAN TEKUK LOCKING COMPRESSION PLATE (LCP) HASIL 3D PRINTING Bimasakti Sulthan Al Azis; Agus Suprihanto; Gunawan Dwi Haryadi
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 12, No 2 (2024): VOLUME 12, NOMOR 2, APRIL 2024
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulang manusia sulit diperbaiki secara alami, dan operasi diperlukan untuk kerusakan serius. Cara konvesional seperti cangkok autograft dan allograft memiliki kekurangan, serta implan logam dapat menghambat penyembuhan. Oleh karena itu, penelitian tentang locking compression plate (LCP) yang terbuat dari polimer biokompatibel dan biodegradable diperlukan. Teknologi pencetakan 3D dapat digunakan untuk personalisasi implan dan meningkatkan kekuatan dan stabilitas. Studi berfokus pada pengaruh orientasi deposisi filamen PLA pada 3D printing terhadap kekuatan tarik dan tekuk LCP. Arah deposisi yang digunakan yaitu [90, 90]. Hasil penelitian menunjukkan cetak 3D LCP telah dilakukan dengan akurasi dan presisi yang baik. Tidak terdapat perbedaan signifikan antara Massa Rencana, Massa Aktual, dan Massa Jenis dari LCP. Massa Aktual berkisar antara 6,20 – 6,33 gram (rata-rata 6,26 gram). Massa Jenis berkisar antara 1,18 – 1,21 gram/cm³ (rata-rata 1,20 gram/cm³). LCP dengan orientasi deposisi [90, 90]/T cetak 3D memiliki nilai rata-rata UTS sebesar 33,780 MPa dan regangan sebesar 0,0734 mm/mm saat diuji tarik. Selain itu, menghasilkan nilai kekuatan lentur rata-rata sebesar 96,273 MPa dan defleksi rata-rata sebesar 23,43 mm saat diuji tekuk. Spesimen dengan orientasi deposisi [90, 90] memiliki arah serat yang sejajar dengan arah gaya pembebanan. Modus patahan yang terjadi sangat dipengaruhi oleh kekuatan serat, di mana patahan terjadi pada setiap serat.
Perancangan dan Pembuatan Spin Coater Motor Servo AC Daya 400 Watt Fachrizal Radya Mahendra; Sulistyo Sulistyo; Agus Suprihanto
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 12, No 3 (2024): VOLUME 12, NOMOR 3, JULI 2024
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi material lapisan tipis saat ini berkembang dengan baik. Aplikasi lapisan tipis dilakukan diberbagai industri seperti pelapis anti korosi, sel surya, semikonduktor, dan transitor. Lapisan tipis adalah lapisan material dengan ketebalan berkisar dari pecahan nanometer hingga mikrometer. Lapisan tipis merupakan tekink material yang melibatkan pelapisan atau film material yang sangat tipis pada substrat. Lapisan tipis dapat dibuat menggunakan beberapa metode seperti spin coating, dip coating, dan spray coating. Penelitian ini bertujuan untuk mendesain dan membuat spin coater sederhana, praktis dan murah untuk membuat lapisan tipis. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu merancang spin coater menggunakan motor servo ac daya 400 Watt dan melakukan pemilihan konsep desain dengan menggunakan matriks pemilihan. Penelitian ini memiliki 2 konsep alat spin coater yang berbeda. Berdasarkan dari beberapa matriks pemilihan konsep yang dipilih pada penelitian ini adalah konsep ke 2. Komponen kontrol pada spin coater terdiri dari Progamable Logic Controller (PLC)¸ motor servo, dan push button.
PENGARUH PERSENTASE FLAKE POLYLACTIC ACID (PLA) TERHADAP DENSITAS CAMPURAN BIODEGRADABLE POLYMER PLA DENGAN POLYCAPROLACTONE (PCL) MENGGUNAKAN METODE SOLVENT CASTING Kana Hanifa; Agus Suprihanto; Gunawan Dwi Haryadi
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 12, No 2 (2024): VOLUME 12, NOMOR 2, APRIL 2024
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan biodegradable polymer seperti Polylactic Acid (PLA) dan Polycaprolactone (PCL) dapat menjadi solusi potensial untuk mengatasi kelemahan penggunaan implant logam dalam kasus fraktur. Polymer ini dapat terurai dalam tubuh sehingga tidak memerlukan prosedur tambahan, serta mendukung penyembuhan tulang secara bertahap yang dapat mengurangi risiko patah kembali setelah implant diangkat. PLA dikombinasikan dengan PCL untuk mencapai kombinasi optimal dalam mengontrol laju degradasi dan karakteristik mekanik, dengan modifikasi bentuk PLA dari pelet menjadi flake untuk meningkatkan kekuatan campuran. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan laju degradasi yang optimal berdasarkan komposisi dari flake PLA dan PCL guna menghasilkan produk yang mampu membantu penyembuhan tulang secara efektif dan dapat terurai alami dalam tubuh. Metode solvent casting digunakan dalam pembuatan spesimen uji pada penelitian ini, dengan mencampurkan flake PLA dan PCL menggunakan acetone sebagai pelarut. Komposisi PLA:PCL yang digunakan adalah 10:90, 30:70, dan 50:50. Spesimen tersebut kemudian dikarakterisasi melalui pengujian densitas dan degradasi dengan merendamnya dalam larutan infus NaCl 0,9%. Hasil pengujian densitas menunjukkan bahwa spesimen dengan komposisi 50 PLA : 50 PCL memiliki densitas hasil pengukuran menggunakan density meter tertinggi, yaitu 0,94 gr/cm3. Densitas hasil perhitungan teoritis tertinggi juga didapatkan pada komposisi tersebut, dengan nilai 1,166 gr/cm3.
PENGARUH PERSENTASE SERBUK POLIMER BIODEGRADABLE POLYLACTIC ACID (PLA) TERHADAP DENSITAS CAMPURAN POLICAPROLACTONE (PCL) MENGGUNKAN METODE SOLVENT CASTING Dimas Naufal Hanif; Agus Suprihanto; Gunawan Dwi Haryadi
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 12, No 2 (2024): VOLUME 12, NOMOR 2, APRIL 2024
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perawatan fraktur yang lama dipengaruhi oleh trauma, resorpsi, dan patologi tulang. Masalah tambahan timbul dengan penggunaan implan logam yang tidak terurai alami, memerlukan prosedur tambahan untuk pengangkatan, meningkatkan risiko infeksi, komplikasi, dan memperpanjang waktu pemulihan. Solusi yang dikaji adalah penggunaan bahan biodegradable seperti polimer Polylactic Acid (PLA) - Polycaprolactone (PCL) untuk memperbaiki dan fiksasi tulang, yang dapat mengurangi risiko komplikasi dan infeksi serta mempercepat penyembuhan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh pada persentase pada serbuk PLA terhadap laju degradasi campuran PCL dengan menggunakan metode solvent casting. Proses pembuatan spesimen uji dalam penelitian ini menggunakan metode solvent casting dengan mencampur PLA dan PCL menggunakan pelarut acetone. Komposisi PLA-PCL yang digunakan adalah 10 PLA : 90 PCL, 30 PLA : 70 PCL, dan 50 PLA : 50 PCL. Spesimen kemudian dikarakterisasi melalui pengujian densitas dengan merendamnya dalam infus NaCl 0,9%. Hasil pengujian densitas menunjukkan bahwa komposisi 50 PLA : 50 PCL memiliki densitas tertinggi, yaitu 0,97 gr/cm³. Pada pengujian degradasi, komposisi 10 PLA : 90 PCL memiliki tingkat degradasi tertinggi.
KARAKTERISASI PELAPISAN MATERIAL BERPORI MENGGUNAKAN METODE SPIN COATING Muchammad Fahmi; Sulistyo Sulistyo; Agus Suprihanto
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 12, No 3 (2024): VOLUME 12, NOMOR 3, JULI 2024
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lapisan tipis memiliki banyak penerapan berbeda dalam teknologi modern digunakan di sebagian besar aplikasi industri. Dengan mengontrol ketebalan dan sifat lapisan tipis, dimungkinkan untuk membuat bahan dengan sifat spesifik yang berguna untuk berbagai aplikasi teknologi. Salah satu proses untuk menghasilkan lapisan tipis adalah dengan metode spin coating, yang memiliki beberapa parameter untuk berpengaruh dalam menghasilkan lapisan tipis diantaranya adalah kecepatan putar, konsentrasi larutan pelapis dan lama proses pelapisan. Material berpori dapat dibuat dari berbagai jenis material, meliputi material logam, material polimer, dan material keramik. Salah satu tipe material berpori yang berbahan dari material keramik adalah corundum yang terbuat dari alumunium oksida (Al2O3). Material berpori memiliki karakteristik dan sifat tertentu seperti porositas dan permeabilitas, karakterisasi ini memiliki nilai yang mungkin berubah setelah dilakukan proses pelapisan pada material tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari proses pelapisan dan parameter pelapisan terhadap ketebalan lapisan tipis yang terbentuk, porositas dan permeabilitas material setelah pelapisan. Penelitian dilakukan dengan membuat piringan berpori berdiameter 25 mm dan tebal sebesar 2 mm yang terbuat dari bahan alumunium oksida (Al2O3) sebesar 97% dan Polyethylene Glicol (PEG) sebesar 3%. Selanjutnya proses pelapisan menggunakan alat spin coater dengan variasi kecepatan putar 1500, 1800, 2100, dan 2400 rpm serta variasi konsentrasi 10%, 15%, dan 20% dengan lama proses perputaran selama 120s. Setelah akan dilakukan beberapa pengujian berupa ketebalan lapisan tipis yang terbentuk menggunakan mikroskop makro, nilai porositas menggunakan metode massa, dan permeabilitas menggunakan alat uji permeabilitas. Dari hasil pengujian didapat bahwa semakin besar kecepatan putar yang digunakan maka hasil ketebalan lapisan tipis yang dihasilkan semakin tipis sementara konsentrasi sebanding dengan lapisan tipis yang dihasilkan. Untuk nilai porositas dan permeabilitas material mengalami penurunan setelah proses pelapisan.
PENGARUH DISSOLVED OXYGEN (DO) TERHADAP LAJU KOROSI STAINLESS STEEL 316 PADA LARUTAN NaCl 0.9% Insannul Hakim; Agus Suprihanto; Gunawan Dwi Haryadi
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 13, No 2 (2025): VOLUME 13, NOMOR 2, APRIL 2025
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stainless steel 316 merupakan paduan baja austenitik sekitar 16–18% kromium, 10–14% nikel, dan 2–3% molibdenum. Stainless steel 316 tergolong material serbaguna (versatile) karena kemampuannya untuk digunakan di berbagai sektor industri dengan kondisi lingkungan yang sangat berbeda. Keunggulan ini berasal dari kombinasi ketahanan korosi yang tinggi, sifat mekanis yang stabil, serta kemudahan fabrikasi dan pengelasan. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan pengaruh dissolved oxygen (DO) terhadap laju korosi stainless steel 316 pada larutan natrium klorida 0.9%, dan menentukan material stainless steel 316 merupakan material yang tahan terhadap laju korosi larutan natrium klorida 0.9%. Penelitian dengan tentang pengaruh dissolved oxygen (DO) terhadap laju korosi stainless steel 316 dalam larutan natrium klorida 0.9% terdiri dari 5 (lima) tahapan. Pertama, membuat 12 spesimen uji yang dilakukan untuk 4 variasi. Kedua, variasi waktu pemberian gelembung oksigen pada larutan NaCl 0.9%. Ketiga, pengujian surface roughness. Keempat, membandingkan hasil foto makrostruktur untuk melihat permukaan yang akan sebelum dan setelah pengujian korosi. Kelima, pengujian korosi dengan metode Potensiostat. Hasil pengujian laju korosi pada stainless steel 316 dalam larutan elektrolit NaCl 0.9% dengan 4 (empat) variasi waktu pemberian gelembung oksigen selama 0-9 menit menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai DO maka laju korosi semakin meningkat, dengan laju korosi terbesar diperoleh pada pemberian gelembung oksigen selama 9 menit dengan konsentrasi DO sebesar 5,76 ppm dan nilai laju korosi 0,00143360 mmpy. Stainless steel 316 merupakan baja yang tahan korosi, sesuai dengan hasil yang ditunjukkan pada pengujian makrostruktur, korosi yang terjadi pada stainless steel 316 sangat sedikit.
PENGARUH KEKASARAN STAINLESS STEEL TIPE 304 YANG DIGUNAKAN UNTUK KAWAT ORTODONTIK TERHADAP LAJU KOROSI PADA LARUTAN SALIVA BUATAN Daniel Sianipar; Agus Suprihanto; Gunawan Dwi Haryadi
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 12, No 2 (2024): VOLUME 12, NOMOR 2, APRIL 2024
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada zaman modern ini, semakin tinggi populasi individu di seluruh dunia termasuk Indonesia yang mengalami masalah gigi yang tidak rata, baik pria maupun wanita. Kawat ortodonti, yang juga dikenal sebagai archwire, adalah komponen krusial dari perangkat ortodonti tetap yang bertujuan untuk memindahkan gigi ke posisi yang diinginkan. Kawat ortodonti dari bahan stainless steel adalah jenis yang termasuk paling umum dipergunakan dalam perawatan ortodontik saat sekarang ini, karena keunggulan seperti ketahanan terhadap korosi. Salah satu jenis material yang dipakai yaitu stainless steel 304. Kawat stainless steel 304 terus terpapar langsung dengan saliva di dalam mulut dan rentan terhadap korosi, sehingga dalam penelitian ini menggunakan 2 metode yaitu metode kekurangan berat (weight loss) yang di rendam dalam larutan saliva buatan dan juga metode polarisasi linier yang menggunkan larutan saliva buatan sebagai larutan penguji. Tujuannya adalah untuk memahami perbedaan laju korosi tergantung pada tingkat kekasaran permukaan dan apakah bahan stainless steel 304 cocok untuk digunakan dalam perangkat ortodontik. Perbedaan tingkat kekasaran permukaan pada stainless steel 304 memiliki dampak terhadap laju korosi dari spesimen tersebut. Misalnya, material dengan tingkat kekasaran 0,226 µm memiliki laju korosi 0,048mm/tahun setelah direndam dalam larutan saliva buatan selama delapan minggu dengan penerapan metode weight loss, sementara permukaan yang tingkat kekasarannya 0,120 µm memiliki laju korosi 0,013 mm/tahun. Hasil dari metode polarisasi linier menunjukkan bahwa pada material dengan tingkat kekasaran 0,147 µm memiliki laju korosi spesimen 0,038338 mm/tahun, sedangkan pada tingkat kekasaran 0,093 µm memiliki laju korosi 0,0009178 mm/tahun. Hasil tersebut menggambarkan bahwa semakin halus permukaan dari spesimen, laju korosinya semakin kecil. Dengan demikian, stainless steel 304 layak digunakan sebagai bahan pembuatan kawat ortodonti jika tingkat kekasaran permukaannya tidak lebih dari 0,120 µm.
PENGARUH VARIASI KEKASARAN PERMUKAAN GRAY CAST IRON PADA HASIL PELAPISAN HOT DIP GALVANIZING TERHADAP KETEBALAN LAPISAN DAN LAJU KOROSI Muhammad Ashwin Asyhari; Yusuf Umardani; Agus Suprihanto
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 12, No 3 (2024): VOLUME 12, NOMOR 3, JULI 2024
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia sebagai negara tropis dengan tingkat kelembaban yang tinggi dan curah hujan yang cukup besar mengakibatkan banyak benda logam mengalami karat dan korosi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh material logam gray cast iron yang telah dilapisi coating dengan metode hot dip galvanizing terhadap hasil tampilan, mikrografi, tebal lapisan, dan laju korosi pada situasi ekstrem. Perlakuan spesimen dilakukan dengan variasi kekasaran permukaan menggunakan amplas grid 100, 400, 800, dan 2000. Proses hot dip galvanizing menggunakan zinc ingot Nyrstar 99% dengan prosedur sesuai ASTM A123. Pengamatan Visual dilaksanakan untuk mengetahui tampilan terbaik dan cacat yang dihasilkan dari hasil hot dip galvanizing. Pengujian Mikrografi dilaksanakan sesuai dengan ASTM E3-11 untuk mengetahui zinc layer yang menempel pada spesimen. Pengujian tebal lapisan zinc (Zn) pada spesimen hasil hot dip galavanizing dilakukan menggunakan alat Coating Thickness Gauge UNI-T UT343D. Pengujian laju korosi dilaksanakan sesuai dengan prosedur ASTM B117 Salt Spray Test dengan peningkatan kadar larutan NaCl sebesar 8% menggunakan metode weight loss. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai kekasaran pada permukaan spesimen, maka semakin besar ketebalan lapisan coating yang terbentuk. Namun, hal ini akan berbanding terbalik dengan laju korosi, di mana semakin rendah nilai laju korosi pada spesimen hasil hot dip galvanizing tersebut. Ketebalan pelapisan tertinggi diperoleh pada spesimen dengan variasi amplas grid 100 sebesar 45,38 μm, dengan laju korosi terendah sebesar 24,52 mpy. Sebaliknya, ketebalan pelapisan terendah diperoleh pada spesimen dengan variasi amplas grid 2000 sebesar 17,37 μm, dengan laju korosi tertinggi sebesar 169,97 mpy. Hasil penelitian ini bermanfaat untuk pengembangan material logam cast iron dalam dunia industri maupun konstruksi yang terpapar kondisi ekstrem dengan kadar asam yang tinggi.
PROSES HOT DIP GALVANIZING PADA GRAY CAST IRON DENGAN PENGARUH WAKTU PENCELUPAN TERHADAP LAJU KOROSI DAN PREDIKSI SISA UMUR Almirajan Ghani Salam; Yusuf Umardani; Agus Suprihanto
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 12, No 3 (2024): VOLUME 12, NOMOR 3, JULI 2024
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sumber daya alam yang sering digunakan pada dunia industri hingga pembangunan infrastruktur adalah pasir besi. Salah satu hasil peleburan pasir besi yang digunakan untuk penjepit kabel pada tiang listrik adalah besi cor kelabu. Logam dengan unsur penyusun Fe tidak akan lepas dari masalah korosi sehingga terjadi penurunan kualitas material yang dapat memperpendek umur penggunaan material tersebut. Hal ini menyebabkan perlunya tindakan yang dapat mengatasi masalah korosi berupa coating. Hot dip galvanizing menjadi salah satu cara coating yang ekonomis untuk mengatasi masalah korosi. Proses hot dip galvanizing melibatkan pencelupan logam ke dalam zinc cair pada suhu sekitar 450ºC. Tujuan penelitian ini fokus pada analisis pengaruh waktu pencelupan dengan variasi waktu pencelupan 1 menit, 3 menit, 5 menit, dan 7 menit terhadap ketebalan coating, laju korosi, dan sisa umurnya. Standar yang digunakan dalam pengujian ini adalah ASTM B487-85 untuk pengukuran ketebalan coating, ASTM B117-11 untuk pengujian laju korosi dengan metode kehilangan berat, dan API 570 untuk prediksi sisa umur. Hasil pengujian didapatkan nilai rata-rata ketebalan coating berurutan sebesar 100,03 µm; 116,59 µm; 148,53 µm; dan 228,09 µm. Sedangkan nilai rata-rata laju korosi berurutan sebesar 75,3939 mpy; 53,1495 mpy; 37,9401 mpy; dan 22,5967 mpy. Prediksi sisa umur berurutan sebesar 2 hari, 8 hari, 23 hari, dan 90 hari.
STUDI KARAKTERISTIK MATERIAL KOMPOSIT KERTAS DAN THERMOPLASTIC RESIN DENGAN VARIASI UKURAN KERTAS 0,3 × 0,3 MM, 0,6 × 0,6 MM, 1,2 × 1,2 MM Daffa Hafiz Zaidan; Susilo Adi Widyanto; Agus Suprihanto
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 12, No 3 (2024): VOLUME 12, NOMOR 3, JULI 2024
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses daur ulang kertas saat ini masih menggunakan metode konvensional dengan menggunakan air sebagai media pelarutan dan pemecahan serat. Kegiatan daur ulang kertas atau industri pulp dan kertas  merupakan salah satu sektor industri yang paling banyak berhubungan dengan air serta salah satu yang paling banyak mengonsumsi energi. Pengembangan Dry Paper Recycle Technology menjadi metode daur ulang kertas alternatif yang menarik dibandingkan dengan metode daur ulang konvensional. Tujuan dari penelitian ini adalah membuat kertas daur ulang dari campuran potongan kertas dan thermoplastic resin dengan proses hot pressing, serta untuk mengetahui pengaruh ukuran potongan kertas dan variasi massa kertas yang digunakan terhadap struktur makrografi. Variasi ukuran potongan kertas yang digunakan adalah 0,3 x 0,3 mm, 0,6 x0,6 mm, dan 1,2 x 1,2 mm. Variasi fraksi massa kertas yang digunakan adalah 33,3 %, 37,5 %, 40%, 50%, 60%, dan 66,67%. Spesimen kertas berhasil dibuat, namun tekstur permukaan belum sempurna. Hasil pengujian makrostruktur menunjukkan bahwa ketiga jenis ukuran potongan kertas yang digunakan belum bisa menghasilkan distribusi serat kertas yang homogen dalam campuran kertas dan thermoplastic resin, di mana serat kertas yang tersebar hanya berkumpul pada daerah tertentu. Hal ini yang kemudian akan menciptakan rongga-rongga pada spesimen.