Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Berpikir Positif Terhadap Konflik Peran Ganda Pada Perempuan Yang Bekerja Ketika Pandemic Corona Kuswartanti, Dyah Rachman; Amanda, Novella
Jurnal Ilmiah Psikologi (JIPSI) Vol 2 No 2 (2020): Jurnal Ilmiah Psikologi (JIPSI)
Publisher : LPPM Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.472 KB) | DOI: 10.37278/jipsi.v2i2.372

Abstract

Pada pandemic corona sekarang yang terjadi di seluruh belahan dunia, menyebabkan perempuan yang biasanya bekerja di kantor sekarang mengharuskan untuk bekerja di rumah. Ketika harus bekerja di rumah, maka perempuan juga memiliki tuntutan untuk mengurus rumah dan menyelesaian tugas kerja dalam waktu yang bersamaan. Konflik peran ganda terjadi ketika ada ketidaksesuaian antara peran yang satu dengan peran yang lainnya. Namun, konflik peran ganda ini dapat teratasi ketika perempuan yang bekerja dapat berpikir positif dalam memandang kondisinya. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat hubungan antara berpikir positif dengan konflik peran ganda pada perempuan yang bekerja ketika pendemic corona. Peneliti menggunakan metode kuantitatif korelasi untuk melihat korelasi antar berpikir positif dan konflik peran ganda. Teknik pengumpulan data adalah dengan menggunakan wawancara untuk menggali fenomena yang diangkat dalam penelitian ini, yang kemudian dilakukan studi literatur dari jurnal dan buku-buku terkait teori tentang variable berpikir positif dan konflik peran ganda yang relevan. Serta skala berpikir positif dan konflik peran ganda yang akan dibagikan oleh subjek penelitian guna menjawab tujuan penelitian. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 56 perempuan yang bekerja. Skala berpikir positif yang dibuat peneliti memperoleh hasil uji reliabilitas sebesar 0,938. Sedangkan skala konflik peran ganda yang dibuat peneliti memperoleh hasil uji reliabilitas sebesar 0,949. Analisis data penelitian ini menggunakan korelasi pearson product moment. Berdasarkan hasil analisis pearson product moment diperoleh nilai koefisien korelasi rxy sebesar -0.683 dengan p = 0,000; p ≤ 0,01, yang menunjukkan adanya korelasi negatif yang signifikan antara berpikir positif dengan konflik peran ganda. Sumbangan efektif dari kedua variable ditunjukkan oleh koefisien determinan (R square) sebesar 0.466 yang menunjukkan bahwa berpikir positif mempengaruhi variable konflik peran ganda pada perempuan yang bekerja ketika pandemic corona sebesar 46.6%.
Cybercounseling Di Era Pandemic Covid-19? Kuswartanti, Dyah Rachman; Putri, Pradiptya Septyanti
Jurnal Ilmiah Psikologi (JIPSI) Vol 3 No 2 (2021): Jurnal Ilmiah Psikologi (JIPSI)
Publisher : LPPM Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.638 KB) | DOI: 10.37278/jipsi.v3i2.438

Abstract

Pandemic Covid-19 membuat perubahan yang sangat besar di berbagai sektor dan dialami oleh berbagai kalangan. Perubahan yang terjadi dapat menyebabkan tekanan psikologis seperti merasa takut (fear) dan rentan mengalami stres bahkan depresi. Semakin banyaknya kebutuhan akan menjaga kesehatan mental di era pandemic, menyebabkan munculnya banyak layanan aplikasi konseling online. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat gambaran penggunaan atau pemanfaatan konseling online di masa pandemic covid-19. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian survey dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data adalah melalui studi literatur dari jurnal dan buku-buku terkait teori tentang konseling online (cybercounseling) yang relevan. Selain itu, survey diberikan kepada subjek penelitian guna menjawab tujuan penelitian. Sampel dari penelitian ini berjumlah 230 orang dengan latar belakang yang berbeda dari berbagai usia, kalangan dan gender. Hasil dari survey yang dilakukan terkait dengan pemanfaatan konseling online selama pandemic didapatkan masih banyaknya masyarakat yang belum memanfaatkan aplikasi konseling online. Didapatkan juga data bahwa hanya sebesar 8,7% yang pernah melakukan konseling online. Banyak dari responden yang pernah melakukan konseling online merasa cukup puas dari pelayanan konseling online karena berbagai alasan. Diantaranya karena lebih praktis, dan mudah menghubungi professional atau psikolog dengan biaya yang dianggap lebih terjangkau.
Confused Between Work Or Family? Kuswartanti, Dyah Rachman; Tri Anugerah, Ninda
Jurnal Ilmiah Psikologi (JIPSI) Vol 4 No 2 (2022): Jurnal Ilmiah Psikologi (JIPSI)
Publisher : LPPM Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.226 KB) | DOI: 10.37278/jipsi.v4i2.545

Abstract

Terjadi pergeseran dari rumah tangga tradisional ke rumah tangga modern, menyebabkan banyak pasangan yang keduanya bekerja atau biasanya disebut dengan dual-earner family. Dual-earner family dimana pasangan suami maupun istri yang keduanya bekerja dan mendapatkan penghasilan. Dalam kondisi yang seperti ini, tidak jarang dari pasangan dual-earner family tidak tinggal serumah karena tuntutan dari pekerjaan. Mereka berkomitmen untuk menjalani hubungan pernikahan jarak-jauh. Hal ini tidaklah mudah untuk dijalani terutama bagi istri yang bekerja pula. Istri yang bekerja memiliki peran di kantor maupun di rumah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana work-family conflict yang terjadi pada istri yang menjalani dual-earner family dan Long Distance Marriage (LDM). Sampel penelitian ini adalah 26 istri yang bekerja yang menjalani pernikahan jarak jauh. Penelitian ini menggunakan skala work-family conflict yang diadaptasi dari Stephen & Sommer (1996) berdasarkan aspek work-family conflict menurut Greenhaus & Beutell (1985) yang terdiri dari 14 aitem dengan nilai reliabilitas sebesar 0.724. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa sebesar 34,62 % yang mengalami work-family conflict tinggi dimana mereka masih mengalami kesulitan dengan pola pernikahan dual-earner family dan LDM.
HOW POSITIVE THINKING CAN AFFECT STRESS IN MOMS WHO WORKED DURING PANDEMI CORONA? Kuswartanti, Dyah Rachman
International Journal of Global Operations Research Vol. 1 No. 4 (2020): International Journal of Global Operations Research (IJGOR), November 2020
Publisher : iora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47194/ijgor.v1i4.34

Abstract

According to National Commission for Women in April-May 2020, it was explained that women work twice as much as men in terms of household work with a duration of more than 3 hours. There are 1 in 3 respondents who reported that reported that their work increased household chores made him experience stress. The purpose of this study was to see between positive thinking and the stress of mothers who worked during the corona pandemic. Researchers used observational methods to see only people who think positive and stressed. The data technique is to use interviews as initial data in finding information and the phenomena raised in this study, which is then conducted literature studies from journals and books related to the theory of positive thinking variables and relevant stress. As well as the scale of positive thinking and stress that will be taken by research subjects or participants to answer the research objectives. The number of samples in this study were 82 mothers who worked during the corona pandemic. The positive thinking scale was developed from Albrecht's (1980) theory obtained by the researcher obtaining a reliability test result of 0.938. While the stress scale developed from the theory of Sarafino (2011) made by researchers obtained a re,liability test result of 0.944. Analysis of research data using the use of Pearson products. Based on the results of the Pearson product moment analysis, the value that has no reference is -0.689 with p = 0.000; p ≤ 0.01, which indicates a significant negative between positive thinking and stress from working mothers. The effective contribution of the second variable is shown by the determinant coefficient (R square) of 0.468, which shows that positive thinking affects the stress variable of working mothers, 46.8%.
Pengaruh Persepsi Pola Asuh Orang Tua Terhadap Remaja di RW 05 Kelurahan Mekarjaya Kecamatan Rancasari Kota Bandung Jurniati, Nahda Kurnia; Kuswartanti, Dyah Rachman
In Search (Informatic, Science, Entrepreneur, Applied Art, Research, Humanism) Vol 20 No 2 (2021): In Search
Publisher : LPPM UNIBI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37278/insearch.v20i2.1056

Abstract

Penelitian ini di latar belakangi oleh pengaruh persepsi pola asuh orang tua terhadap remaja di RW 05 Kelurahan Mekarjaya Kecamatan Rancasari Kota Bandung. Tujuan penelitian ini untuk melihat adanya pengaruh persepsi pola asuh orang tua terhadap remaja di RW 05 Kelurahan Mekarjaya Kecamatan Rancasari Kota Bandung. Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan lebih dari 50% remaja memiliki persepsi pola asuh orang tua yang negatif. 53% frekuensi negatif pada parental control, 57% frekuensi negatif pada parental-maturity demands, parental-child communication sebanyak 57% frekuensi negatif, parental-child communication sebesar 53%.
Hubungan Antara Self-Compassion dengan Prokrastinasi pada Mahasiswa yang Bekerja di Kota Bandung Nurfadhillah, Amelia; Kuswartanti, Dyah Rachman; Polla, Rina Ruth
In Search (Informatic, Science, Entrepreneur, Applied Art, Research, Humanism) Vol 23 No 2 (2024): In Search
Publisher : LPPM UNIBI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37278/insearch.v23i2.1146

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara self-compassion dan prokrastinasi pada mahasiswa yang bekerja sambil kuliah. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 103 orang mahasiswa, dengan karakteristik demografi yang terdiri dari 72,5% perempuan dan 27,5% laki-laki. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa mayoritas sampel memiliki tingkat self-compassion yang rendah dan prokrastinasi yang tinggi. Uji normalitas menunjukkan data berdistribusi normal, sedangkan uji linearitas menunjukkan adanya hubungan linear antara kedua variabel. Uji hipotesis menggunakan analisis korelasi product moment menghasilkan koefisien korelasi -0,406 dengan nilai signifikansi 0,000, yang menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara self-compassion dan prokrastinasi, artinya semakin tinggi tingkat self-compassion mahasiswa, semakin rendah tingkat prokrastinasinya. Selain itu, uji korelasi berdasarkan jenis kelamin menunjukkan bahwa hubungan antara kedua variabel lebih kuat pada mahasiswa laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Hasil penelitian ini dapat memberikan wawasan mengenai pentingnya peningkatan self-compassion untuk mengurangi perilaku prokrastinasi pada mahasiswa yang bekerja sambil kuliah.
Art Therapy: Penyembuh Luka Hati untuk Remaja di Lembaga Pemberdayaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Bandung Firdasannah, Astri; Kuswartanti, Dyah Rachman; Justice, Widi Ramanda; Suherman, Nazwa Amanda; Rhamdani, Muhammad Novan; Hartadi, Sendi Soleh
Jurnal Abdimas Kartika Wijayakusuma Vol 6 No 2 (2025): Jurnal Abdimas Kartika Wijayakusuma
Publisher : LPPM Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26874/jakw.v6i2.695

Abstract

Pelanggaran perilaku oleh remaja menjadi masalah yang serius di Indonesia. Remaja bermasalah yang dijatuhi hukuman pidana ditempatkan di Lembaga Pemberdayaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Bandung. Aspek perilaku bermasalah adalah masalah emosi, masalah perilaku, masalah teman sebaya, hyperactivity, dan inatensi. Perilaku bermasalah tersebut dapat terjadi karena rendahnya psychological well-being (PWB) sehingga remaja tidak mampu beradaptasi pada masa perkembangannya dengan baik. Remaja dapat meningkatkan PWB dengan diberikan art therapy. Art therapy adalah suatu bentuk terapi yang bersifat ekspresif dengan menggunakan materi seni, seperti lukisan, kapur, spidol, dan lainnya. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan memiliki tema art therapy: penyembuh luka hati, yaitu kegiatan sesi terapi seni untuk memfasilitasi para remaja klien LPKA Kelas II Bandung dapat meningkatkan PWB. Hasil dari kegiatan ini terjadi peningkatan PWB yang diukur melalui alat ukur Brief Scale of Psychological Well-Being for Adolescents (BSPWB-A) versi Indonesia. Dengan demikian, kesejahteraan psikologi remaja klien LPKA Kelas I Kota Bandung meningkat setelah diberikan art therapy.
Beauty And The Beast (Perception Of The Phenomenon Of Beauty Privilege) Kuswartanti, Dyah Rachman; Widhyastuti, Cahyaning; Ramadhan, Nunu
Psychosocia : Journal of Applied Psychology and Social Psychology Vol. 2 No. 2 (2024): April 2024
Publisher : Indonesian Scientific Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61978/psychosocia.v2i2.389

Abstract

The phenomenon of beauty privilege where those who have beautiful faces tend to get special privileges compared to people who have ordinary faces or are even considered ugly. Beauty privilege usually provides convenience in various areas of life, such as friendship, work, and people's trust. The development of beauty privilege in society causes inequality, and so many people are affected by this phenomenon. People look more at the physical, especially an attractive physical form. Those with a beautiful physique are considered more positive, but less attractive people will be labelled worse. This study aims to determine the perception of beauty privilege in emerging adulthood. The respondents in this study amounted to 261 respondents. Data collection using a beauty privilege perception questionnaire consisting of 14 items with a validity value of 0.345-0.704 and a reliability value of 0.859. The sampling technique used is non-probability sampling with a purposive sampling type. The results of this study showed that 51.87% of respondents had a negative perception of beauty privilege, meaning that individuals think that beauty privilege is not the main thing for achieving something; individuals believe more in their abilities and inner beauty. However, the other 48.3% had a positive perception of beauty privilege, meaning that they admit that it exists around them.  
PENGARUH COGNITIVE-BEHAVIOUR THERAPY DENGAN MEDIATOR DZIKIR TERHADAP STRES WARGABINAANDI LAPAS WANITA KLAS IIA BANDUNG Kuswartanti, Dyah Rachman
Jurnal Ilmiah Penelitian Psikologi Vol 4 No 1 (2018): 2018
Publisher : Psikologi UHAMKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/jippuhamka.v4i1.9228

Abstract

Di Lapas Wanita klas IIA Bandung, terdapat sekitar 310 wargabinaan (WBP) pada tahun 2014.Sebagian besar dari mereka belum dapat menerima kenyataan bahwa mereka harus jauh dari keluarga, suami dan anak-anak mereka. Tidak jarang mereka mengalami stress yang berakibat memiliki bermasalah pada psikis, fisiologi maupun sosialnya. Salah satu cara menurunkan stress pada seseorang adalah dengan menggunakan Cognitive Behaviour Therapy (CBT). Yang membedakan penelitian ini dengan penelitian lain adalah menggunakan mediator dzikir dalam proses CBT, diharapkan klien dapat lebih cepat mengubah pikiran-pikiran negative menjadi pikiran-pikiran positive serta lebih mendekatkan diri dengan Allah SWT.Subjek berjumlah 3 orang wargabinaan beragama islam, seorang istri dan ibu, masa hukuman lebih dari 1 tahun, tidak pernah dikunjungi keluarga serta mengalami stress sedang hingga tinggi. Desain penelitian ini menggunakan eksperimental kuasi dengan pre-test and pos-ttest design (one grup pre-test dan post-test design).Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan kuesioner riwayat hidup, skala stress, interview dan observasi. Pada skala stress yang dibuat sendiri oleh peneliti bahwa hasil uji reliabilitas terhadap skor stress, maka didapatkan nilai koefisien korelasi sebesar 0, 855.Hasil penelitian dari ketiga subjek setelah diberikan CBT dengan mediator dzikir menyatakan bahwa terjadi penurunan stress berkisar antara 57,63% - 80,35%.