Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search
Journal : eProceedings of Engineering

Rancang Bangun Sistem Pengukuran Koefisien Difusi Nacl Pada Material Karbon Nanopori Aziz Apriyanto; Ismudiati Puri Handayani; Memoria Rosi
eProceedings of Engineering Vol 4, No 1 (2017): April, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam tugas akhir ini dilakukan penelitian untuk mengetahui koefisien difusi ion NaCl terhadap material karbon nanopori dengan bahan aktivasi KOH. Perhitungan koefisien difusi dilakukan dengan menggunakan data perubahan konduktivitas listrik yang terjadi pada larutan murni (aquadest) yang terhubung dengan wadah yang berisi larutan NaCl 0.5 mol/l. Sistem pengukuran dilengkapi dengan katup pemisah antara wadah pertama dengan wadah kedua yang akan terbuka ketika proses pengukuran perubahan konduktivitas listrik pada wadah dimulai. Pengukuran peruba konduktivitas listrik pada wadah kedua akan tercatat secara otomatis oleh mikrokontroller Arduino . Proses perpindahan molekul Na+ dan Cl- terjadi dari wadah pertama menuju wadah kedua melalui membran karbon nanopori. Penelitian ini diawali dengan mengetahui karakterisasi hubungan antara kenaikan konsentrasi NaCl pada larutan terhadap konduktivitas listrik larutan tersersebut. Hasil karakterisasi menunjukan ada hubungan linier antara konsentrasi NaCl dengan konduktivitas larutan. Dengan menggunakan prinsip hukum Fick, nilai koefisien difusi ditentukan berdasarkan perubahan konsentrasi NaCl pada wadah yang mula-mula berisi larutan murni (aquadest). Perubahan konsentrasi ini tercermin pada perubahan konduktivitas larutan. Hasil pengamatan menunjukan bahwa nilai koefisien difusi untuk ketebalan membran 1 mm adalah 6.59 x 10-5, untuk ketebalan 2 mm adalah 4.69 x 10-5, dan untuk ketebalan 3 mm adalah 2.30 x 10-5. Adanya perbedaan nilai ini diperkirakan karena terdapatnya ketidaksempurnaan pada membran karbon nanopori sehingga molekul-molekul NaCl yang berdifusi melalui membran yang lebih tebal akan mengalami lebih banyak hambatan di dalam membran dibandingkan dengan molekul yang melewati membran dengan ketebalan yang lebih rendah Kata kunci: Koefisien Difusi, Konduktivitas, Konsentrasi, Karbon nanopori
Efek Penyisipan Mn7+ Terhadap Konduktivitas Dan Kapasitansi Karbon Nanopori Dari Bahan Tempurung Kelapa Lina Aisyah Al Baroroh; Ismudiati Puri Handayani; Memoria Rosi
eProceedings of Engineering Vol 4, No 1 (2017): April, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karbon nanopori sebagai elektroda superkapasitor memiliki beberapa sifat menarik antara lain luas permukaan spesifik yang tinggi, murah dan mudah dibuat. Karbon nanopori dapat dibuat dari bahan dasar tempurung kelapa melalui proses karbonisasi pada temperature 500 °C selama 60 menit dan aktivasi menggunakan KOH pada temperature 800 °C selama 30 menit. Karbon nanopori yang telah dibuat kemudian dimodifikasi dengan pemberian penyisipan Mn+7. Karakterisasi I-V dan Cyclic Voltammetry dilakukan untuk mengeksplorasi sifat listrik dan elektrokimia. Konduktivitas listrik untuk sampel karbon nanopori diperoleh sebesar 0,0204 S/m sedangkan konduktivitas maksimum sampel karbon nanopori termodifikasi dimiliki oleh sampel dengan perbandingan karbon nanopori/Mn+7 sebesar 99:1 dengan nilai sebesar 0,7398 S/m. Hasil karakterisasi Cyclic Voltammetry untuk sampel karbon nanopori menunjukkan nilai kapasitansi sebesar 27,7 F/g sedangkan nilai kapasitansi maksimum sebesar 35,77 F/g di dicapai pada komposisi karbon nanopori/Mn+7 sebesar 93:7. Kata kunci: karbon nanopori, tempurung kelapa, penyisipan Mn7+, superkapasitor
Kontrol Suhu Dan Analisis Transfer Panas Konveksi Pada Central Processing Unit (cpu) Nina Retna Utami; Ismudiati Puri Handayani; Reza Fauzi Iskandar
eProceedings of Engineering Vol 4, No 1 (2017): April, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Central Processing Unit (CPU) merupakan tempat pemrosesan instruksi – instruksi program dilakukan. Suhu CPU dapat menjadi cepat panas bila digunakan dalam jangka waktu lama serta penggunaan dalam keadaan full load yang melibatkan beberapa komponen antara lain processor, memory, dan VGA. Suhu maksimum yang dimiliki processor atau biasa disebut critical temperatures dan CPU utilization yang menggambarkan kinerja processor dapat dijadikan acuan seberapa optimal processor bekerja. Salah satu cara untuk menurunkan suhu processor adalah dengan menambahkan heat sink dan kipas di daerah sekitar processor. Energi panas dari processor ditransferkan melalui heat sink dengan cara absorpsi, proses transfer panas konduksi dan konveksi. Pada penelitian ini, proses konveksi paksa dari heat sink ke udara lingkungan akan dibantu menggunakan kipas yang kecepatannya diatur dengan menggunakan kontrol Proporsional, kontrol Integral, dan kontrol Derivatif (PID). Nilai awal parameter kontrol PID ditentukan dengan menggunakan metode kurva Ziegler Nichols dan simulasi menggunakan software MATLAB. Selanjutnya, nilai tersebut diimplementasikan secara eksperimen pada sistem Processor Intel® Pentium® 4 CPU 3.00 GHz. Selain itu, distribusi suhu juga disimulasikan dan dianalisis dengan menggunakan software Comsol Multiphysics 4.4. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa suhu dapat mencapai kestabilan lebih cepat pada saat diaplikasikan kontrol PID dengan nilai parameter Kp = 40, Ki = 33.33, Kd = 4, suhu stabil 324 K tercapai dalam waktu 500 s. Sedangkan tanpa kontrol PID suhu stabil pada 326 K tercapai dalam waktu 3000 s. Kata kunci: transfer panas, konveksi paksa, kontrol PID.
Desalinasi Air Laut Berbasis Teknologi Capacitive Deionization Menggunakan Elektroda Karbon Nanopori Dwi Hany Eryati; Memoria Rosi; Ismudiati Puri Handayani
eProceedings of Engineering Vol 3, No 2 (2016): Agustus, 2016
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Capacitive Deionization (CDI) merupakan salah satu metoda desalinasi dengan mengalirkan air laut melewati celah di antara dua elektroda berdasarkan prinsip kapasitor. Salah satu elektroda yang banyak dimanfaatkan pada sistem CDI adalah karbon nanopori karena memiliki luas permukaan dan porositas yang besar. Pada penelitian ini, karbon nanopori dibuat dari tempurung kelapa dengan variasi perbandingan karbon nanopori terhadap aktivator yaitu C:KOH:NaOH = 1:3:0, 1:3:1, 1:1:3, 1:0:3. Karakterisasi pori pada karbon nanopori dilakukan dengan menggunakan metoda nitrogen isotherm physisorption menghasilkan nilai luas permukaan maksimum karbon nanopori sebesar 1.657,1 m2/g, volume mikropori 0,86 cc/g, volume mesopori 0,06 cc/g, dan volume total 0,92 cc/g. Elektroda CDI dibuat dengan menggunakan campuran karbon nanopori, grafit, PVA dengan perbandingan massa masing- masing sebesar 8 : 1 : 1. Pengukuran desalinasi pada sel CDI dilakukan dengan menggunakan larutan NaCl dengan konsentrasi sebesar 0.9%, 2%, dan 3% pada debit 10 ml/menit. Pengurangan kadar NaCl maksimal pada konsentrasi NaCl 3% diperoleh sebesar 22,6% yang bersesuaian dengan luas permukaan 1657,1 m2/g dan kapasitansi 5,428 F/g. Kata kunci: Desalinasi, Capacitive Deionization, NaCl, Karbon nanopori, Kapasitansi.
Penumbuhan Partikel Cu Menggunakan Fix Current Electroplating Dan Aplikasinya Pada Solar Cell Berbahan Dasar Tio2 Mayanisa Nurfithri; Mamat Rokhmat; Ismudiati Puri Handayani
eProceedings of Engineering Vol 3, No 2 (2016): Agustus, 2016
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam rangka mengembangkan sel surya sebagai energi terbarukan yang memanfaatkan cahaya matahari, maka dilakukan upaya optimalisasi terhadap material yang digunakan untuk mendapatkan kinerja sel surya yang baik. Salah satu sel surya yang banyak dikembangkan adalah sel surya berbahan dasar Titanium Dioksida (TiO2) yang dapat dimanfaatkan sebagai material atau lapisan aktif penyerap foton dari cahaya matahari, memiliki harga yang murah dan dapat difabrikasi dengan metode yang sederhana. Tetapi kendala yang dimiliki TiO2  adalah nilai band gap yang besar sekitar 3,2 eV, yang meyebabkan efisiensi yang dihasilkan rendah. Untuk meningkatkan efisiensi, maka pada penelitian ini dikembangkan sel surya berbahan dasar TiO2 dengan elektroplating Cu. Deposisi TiO2 terhadap substrat FTO dilakukan dengan metode spray dan dilakukan penyisipan Cu dengan metode elektroplating menggunakan sumber arus. Variasi nilai sumber arus dan waktu yang digunakan dalam metode elektroplating   merupakan parameter yang mempengaruhi efisiensi sel surya. Penelitian ini menunjukkan bahwa efisiensi yang dihasilkan oleh sel surya bergantung pada kandungan Cu yang terbentuk akibat nilai sumber arus dan lamanya waktu yang digunakan dalam metode elektroplating. Setelah dilakukan variasi sumber arus dan waktu elektroplating, didapatkan hasil efisiensi tertinggi sebesar 0,29% pada saat TiO2 di elektroplating selama 30 detik dengan arus 10 mA. Kata kunci: Elektroplating , Sel Surya, TiO2, Tembaga (Cu) , Efisiensi
Rancang Bangun Sistem Refrigerasi Termoelektrik Dan Simulasi Distribusi Temperatur Menggunakan Comsol Multiphysics Dian Gunawan; Ismudiati Puri Handayani; Tri Ayodha Ajiwiguna
eProceedings of Engineering Vol 4, No 1 (2017): April, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pros es  refrigeras i  adalah  pros es  penarikan  kalor  dari  s uatu  benda  atau  ruangan  ke  lingkungan  s ehingga temperatur   benda   atau  ruangan   ters ebut  lebih  rendah   dari   temperatur   lingkungannya.   Pada  kehidupan s ehari  hari  refrigeras i  yang  banyak  digunakan  adalah  s is tem kompres i  uap berukuran bes ar dan berpotens i menimbulkan    perus akan   lapis an   ozon.   Pada   penelitian   ini   dirancang   s is tem   pendingin   yang   ramah lingkungan  dengan  menggunakan  termoelektrik,  s uatu  perangkat  yang  mengubah  tegangan  lis trik  menjadi s uatu  perbedaan  s uhu  diantara  kedua  s is i  termoelektrik .   Pada penelitian  ini  s is tem pendingin  terdiri  atas kotak  berukuran 11 x 11 x 14 cm yang terbuat dari  styrofoam, termoelektrik,  heat sink, kipas luar dan kipas dalam.  Pros es  pendinginan  terjadi  dengan  memanfaatkan  s is i  dingin  termoelektrik   dan  mendis tribus ikan kalor  pada  s is i  panas   melalui  pros es  konduks i  dan  konveks i.  Selanjutnya  s is tem  pendingin  diuji  dengan varias i  tegangan  dari  2  V –  12  V s elama 30  menit.  Dari  has il pengujian, tegangan 12  V dapat menurunkan s uhu  hingga  10.7   C  .  Kemudian  s is tem  dimodelkan  menggunakan  COMSOL  untuk  mengetahui  dis tribus i s uhu pada s is tem. Has il  pemodelan  dis tribus i  s uhu di  dalam s is tem, terlihat  bahwa  s aat keadaan tunak  s uhu di   dalam   s is tem   pendingin   memiliki   rata   rata   11    C   dan  tercapai   dalam  waktu  1800   detik.  Pros es pendinginan bis a lebih diefektifkan  jika pros es dis tribus i panas  ke lingkungan lebih baik. Hal ini terlihat dari has il  s imulas i s uhu yang menghas ilkan s uhu rata-rata mendekati  0  C pada s aat s is i panas  termoelektrik  30  C. Kata kunci: Refrigeras i, termoelektrik, COMSOL®
Rancang Bangun Alat Uji Termolelektrik Portabel Dan Analisis Rangkaian Termoelektrik Nuzul Hesty Pranita; Kiki Azura; Abrar Ismardi; Tri Ayodha Ajiwiguna; Ismudiati Puri Handayani
eProceedings of Engineering Vol 2, No 2 (2015): Agustus, 2015
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract—Computer has been part of our daily life. In order to work properly and to avoid over heating which might damage the machine, it required a cooling system which effectively distribute heat from the electronic devices into surrounding environment. Generally, the cooling system only distributes the heat. The potential heat conversion into electricity in computer has not been studied intensively. In this study, we implement a thermoelectric generator module which converts heat into electicity in combination with hybrid cooling system on CPU processor, a main crucial part in computer system which produces a lot of heat and its work is very temperature dependent. We used a thermoelectric module TEG241-1.0-12 which can generate electricity up to 12.1 volt at temperature difference of 110oC and Seebeck coefficient from 35 mV/οC up to 45 mV/οC. The available size of thermoelectric module is found to be matched with the CPU processor and the hybrid heat sink structure so that no structural adjustment is required. We used hybrid cooling system of PC Cooler Hybrid W120 which consists of an aluminium heat sink and water cooling with flow rate of 6.7 liters/minute. We found that a 2.5 V and 0.19 A (≈ 0.5 W) electricity can be generated when a thermoelectrics module is implemented in Intel Core i3- 2100 microprocessor. The observed different temperature between hot and cold sides of thermoelectric is 54 οC while the processor temperature is 80 oC. This study shows the potential implementation of thermoelectric for heat conversion into electricity on CPU processor without endangers the machine. Keywords—thermoelectrics; CPU processor; hybrid cooling;
Optimasi Pembuatan Sel Surya Tio2 Dengan Metode Spin Coating Dan Perendaman Dye Buah Naga Merah Nuni Kania Sari; Ismudiati Puri Handayani; Abrar Abrar
eProceedings of Engineering Vol 3, No 2 (2016): Agustus, 2016
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sel surya berbahan dasar material aktif TiO2 banyak dikembangkan dikarenakan berbahan murah dan proses fabrikasinya yang sederhana. Beberapa persoalan yang menjadi tantangan dalam fabrikasi sel surya TiO2 adalah effisiensinya yang rendah dan penyerapan cahaya diatas 3,1 eV (spektrum ultraviolet). Pada penelitian ini dikembangkan sel surya dengan material aktif Titanium Dioksida (TiO2) dan dye sensitizer ekstrak buah naga merah. Proses fabrikasi menggunakan metode penumbuhan spin coating dan parameter yang dipelajari meliputi pengaruh variasi kecepatan putar spin coating, variasi konsentrasi TiO2, dan pengaruh penambahan dye ekstrak buah naga merah terhadap efisiensi sel surya. Hasil penelitian ini memberikan informasi bahwa effisiensi sel surya tergantung pada kecepatan putar spin coating, massa TiO2, dan penambahan dye ekstrak buah naga merah. Dengan menggunakan TiO2 sebesar 40 gram yang dilapiskan diatas FTO serta menggunakan spin coating berkecepatan step 1: 500 rpm; step 2: 1200 rpm; step 3: 3500 rpm, dan diberi polimer elektrolit campuran PVA dan LiOH, dihasilkan effisiesi terbesar sebesar 0,007%. Setelah dilakukan perendaman didalam ekstrak buah naga merah selama 48 jam, effisiensi meningkat menjadi 0,024%. Kata kunci: TiO2, dye buah naga merah, spin coating
Rancang Bangun Dan Realisasi Sistem Pendingin Berbasis Tec (thermoelectric Cooler) Sundayani Sundayani; Ismudiati Puri Handayani; Asep Suhendi
eProceedings of Engineering Vol 4, No 1 (2017): April, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

-
Simulasi Beberapa Parameter Pada Chirped Fiber Bragg Grating Untuk Mendapatkan Luaran Berbentuk Spektrum Right-angled Triangular Andhika Pratama; M. Ramdlan Kirom; Ismudiati Puri Handayani
eProceedings of Engineering Vol 2, No 3 (2015): Desember, 2015
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gelombang berbentuk right-angled triangular spectrum (RTS) telah berhasil dimodelkan pada Chirped Fiber  Bragg  Grating  (CFBG).  Parameter-parameter seperti  posisi  puncak  spektrum,  panjang  fiber  bragg grating (L), chirped coefficient (Cp), panjang segmen (Ls), dan indeks bias efektif (neff) terlihat mempengaruhi pola luaran yang dihasilkan. Pada simulasi ini didefinisikan suatu bilangan riil positif z1 yang akan menentukan posisi puncak gelombang (λmax). Untuk Fiber Bragg Grating (FBG) dengan L = 2 cm, spektrum berbentuk RTS terjadi saat nilai λmax  diatur dengan z1 = L/5. Variasi nilai L dan Cp  berpengaruh terhadap bentuk dan lebar spektrum. Semakin besar nilai L dan Cp maka lebar spektrum semakin besar. Perubahan lebar spektrum ini yang menyebabkan bentuk pulsa berubah. Variasi nilai Ls menyebabkan perubahan bentuk pulsa namun posisi λmax dan lebar pulsa tetap. Bentuk RTS terjadi saat nilai Ls = 1 mm karena pada nilai tersebut noise pada reflektivitas kecil dan lebih stabil. Variasi nilai neff berdampak pada pergeseran posisi spektrum. Semakin besar nilai neff maka posisi spektrum akan bergeser menuju panjang gelombang yang lebih besar. Kata kunci : Fiber Bragg Grating, Chirped Fiber Bragg Grating, right-angled triangular spectrum.