Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Yesus sebagai Juru Selamat Dunia dalam Dialog dengan Perempuan Samaria: Kajian Kristologis Yohanes 4:1-42 Yustinus, Yustinus
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 2 (2025): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i2.378

Abstract

Jesus, who deliberately crossed the region of Samaria—an area avoided by the Jews—to meet a Samaritan woman near Jacob’s well in the town of Sychar, raised many questions about the purpose and theological significance of His action. This study investigated the Christological meaning of Jesus’ self-revelation as the Messiah and Savior of the world in the dialogue with the Samaritan woman in John 4:1–42. Using a qualitative method through literature study and textual exegesis, the research found that Jesus’ intentional passage through Samaria, an area traditionally avoided by Jews, carried divine intent as part of God's universal plan of salvation. This act by Jesus reflected the early stage of salvation for non-Jewish nations and served as an example for the disciples prior to receiving His message in Acts 1:8. This study affirmed the importance of an inclusive and missiological Christology in responding to a socially fragmented reality marked by ethnic, gender, and religious divisions.AbstrakYesus yang sengaja melintasi wilayah Samaria yang dihindari orang Yahudi, untuk menjumpai perempuan Samaria dekat sumur Yakub, di kota Sikhar, menimbulkan banyak pertanyaan tentang tujuan dan makna teologis tindakan Yesus. Penelitian ini menyelidiki makna Kristologis dari pewahyuan diri Yesus sebagai Mesias dan Juru Selamat dunia dalam peristiwa dialog dengan perempuan Samaria di Yohanes 4:1-42. Pemakaian metode kualitatif melalui tahapan studi literatur dan eksegesis teks, menemukan bahwa tindakan Yesus yang sengaja melintasi wilayah Samaria, wilayah yang secara tradisional dihindari oleh orang Yahudi, mengandung intensi ilahi sebagai bagian dari agenda keselamatan Allah yang bersifat universal. Tindakan Yesus ini merupakan cerminan awal dari misi keselamatan bagi bangsa-bangsa non Yahudi dan sekaligus menjadi teladan bagi para murid sebelum menerima pesan Yesus dalam Kisah Para Rasul 1:8. Penelitian ini menegaskan pentingnya Kristologi yang inklusif dan misiologi dalam menghadapi realitas sosial yang terfragmentasi secara etnis, gender, dan agama.
Pemulihan Elia sebagai Model Teologis-Psikologis bagi Intervensi Depresi Pada Remaja Yustinus, Yustinus
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 5, No 2 (2025): Ritornera: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia - Agustus 2025
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54403/rjtpi.v5i2.138

Abstract

Depression was a form of mental health disorder that was widely experienced by adolescents in Indonesia, influenced by biological, psychological, social, and spiritual factors. Treatment that focused on clinical and psychological aspects was indeed beneficial, yet it often did not address the spiritual dimension that could support holistic recovery. This study aimed to develop a theologically and psychologically informed intervention model based on the narrative of Elijah’s restoration in 1 Kings 19 to support adolescents experiencing depression holistically. The research employed a qualitative approach with library research, integrating biblical exegesis, pastoral theology literature, and adolescent psychospiritual theories. The findings indicated that integrated physical, emotional, and spiritual recovery enhanced adolescents’ psychological resilience, reduced depressive symptoms, and fostered meaning and hope. This model held practical implications for counselors, pastors, and Christian educational institutions in designing contextual and holistic interventions for adolescent depression. Thus, the study affirmed that Elijah’s restoration narrative could serve as an applicable theological-psychological framework for adolescent depression interventions.AbstrakDepresi sebagai bentuk gangguan kesehatan mental yang banyak dialami oleh remaja di Indonesia, dipengaruhi oleh faktor biologis, psikologis, sosial, dan spiritual. Penanganan yang berfokus pada aspek klinis dan psikologis memang bermanfaat, namun kerap belum menyentuh dimensi spiritual yang dapat mendukung pemulihan secara holistik. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model intervensi teologis-psikologis berbasis narasi pemulihan Elia dalam 1 Raja-Raja 19 untuk mendampingi remaja yang mengalami depresi secara holistik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi pustaka, mengintegrasikan eksposisi Biblika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemulihan fisik, emosional, dan spiritual yang terintegrasi mampu meningkatkan ketahanan psikologis remaja, menurunkan gejala depresi, dan membangun makna serta harapan. Model ini memiliki implikasi praktis bagi konselor, pendeta, dan lembaga pendidikan Kristen dalam merancang intervensi depresi remaja yang kontekstual dan holistik.Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa narasi pemulihan Elia dapat menjadi kerangka konseptual teologis-psikologis yang aplikatif bagi intervensi depresi remaja.
Prinsip Mendengarkan dalam Pemulihan Trauma Anak di Panti Asuhan Kristen: Sebuah Pendekatan Psikoteologis Yustinus, Yustinus; Meriyana, Meriyana; Romika, Romika
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 6, No 2 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v6i2.446

Abstract

Child trauma recovery in Christian orphanages requires a holistic approach integrating psychology and theology. However, practical models that operationally blend these two perspectives remain limited. This qualitative study aims to develop a mentoring model based on the principle of "listening" through a psychotheological approach. Using a literature study method, this research synthesizes theories of humanistic and trauma psychology (particularly from Carl Rogers and Danel Siegel) with a hermeneutical analysis of Biblical texts. The study yields an integrative model comprising three practical steps: unconditional self-acceptance, strengthening self-esteem, and providing space for self-expression. These three steps operationalize the listening principle within a framework combining attentiveness, valuing, empathizing, and loving. This study provides a theoretical contribution to Christian counseling literature by offering a structured psychotheological model. Practically, this model can serve as an applicable guide for orphanage caregivers in creating a restorative environment for child trauma survivors.AbstrakPemulihan trauma anak di panti asuhan Kristen memerlukan pendekatan holistik yang mengintegrasikan ilmu psikologi dan teologi. Namun, model praktis yang secara operasional memadukan kedua perspektif tersebut masih terbatas. Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk mengembangkan sebuah model pendampingan berbasis prinsip "mendengarkan" melalui pendekatan psikoteologis. Dengan metode studi literatur, penelitian ini mensintesis teori-teori psikologi humanistik dan trauma (terutama dari Carl Rogers dan Danel Siegel) dengan hermeneutika teks Alkitab. Penelitian menghasilkan model integratif tiga langkah praktis, yaitu penerimaan diri tanpa syarat, penguatan harga diri, dan pemberian ruang ekspresi diri. Ketiga langkah ini mengoperasionalisasikan prinsip mendengarkan dalam sebuah kerangka kerja yang memadukan sikap memperhatikan, menghargai, berempati, dan mengasihi. Studi ini memberikan kontribusi teoretis bagi literatur konseling Kristen dengan menawarkan sebuah model psikoteologis yang terstruktur. Secara praktis, model ini dapat dijadikan panduan aplikatif bagi pembina panti asuhan dalam menciptakan lingkungan yang memulihkan bagi anak-anak korban trauma.
Strategik Kepala Sekolah dalam Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Kurikulum Merdeka Yustinus, Yustinus
Jurnal Ilmu Manajemen dan Pendidikan Vol. 3 (2023): Special Edition: Seminar Nasional Program Studi Magister Manajemen Pendidikan 2023
Publisher : Magister Manajemen Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jimpian.v3iSE.2902

Abstract

Lembaga pendidikan berupaya melakukan inovasi dengan berbagai strategik untuk meningkatkan mutu pendidikan sehingga mampu mencetak output (lulusan) sumber daya yang berkualitas dan mampu bersaing dalam menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Kurikulum merdeka saat ini merupakan salah satu opsi pilihan bagi lembaga pendidikan untuk memulihkan krisis pembelajaran dan meningkatkan mutu pendidikan. Kepala sekolah perlu melakukan strategik dalam mengimplementasikan kurikulum merdeka agar tujuan yang diinginkan dalam kebijakan kurikulum merdeka dapat tercapai. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan strategik kepala sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan berbasis kurikulum merdeka. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Informan penelitian, yaitu kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dan guru. Pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data melalui tahap reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategik kepala sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan berbasis kurikulum merdeka dilakukan dengan cara penguatan sumber daya manusia, strategik pembelajaran intrakurikuler dan kokurikuler, strategik membangun komunikasi dan kolaborasi, serta mengimplementasikan kurikulum merdeka sesuai dengan kebutuhan dan keadaan sekolah. Strategik kepala sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan berbasis kurikulum merdeka dapat memulihkan krisis pembelajaran dan meningkatkan mutu pendidikan.
Model Pelayanan Holistik Gereja dalam Perspektif Injil Lukas: Studi Kasus Panti Asuhan Stergein Yustinus, Yustinus; Yobel, Christian; Sudarsono, Sudarsono; Tambunan, Brio Gideon
Jurnal Ap-Kain Vol 3, No 2 (2025): Ap-Kain: Jurnal Penelitian dan PKM
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/jak.v3i2.215

Abstract

Children in orphanages face complex issues that are often not addressed holistically due to limited funds and resources. This qualitative case study, conducted at the Stergein Orphanage, aims to examine the implementation of holistic church ministry based on Luke 4:18-19 and to formulate an applicable ministry model for the local church. The findings reveal that while basic physical and spiritual needs are largely met, psychological aspects, particularly inner healing, remain unaddressed. Consequently, this study underscores the need for local churches to develop integrated psychological support programs to complement existing ministry efforts. The research offers novelty by systematically integrating the narrative of Luke 4:18-19 with the contextual case study of the Stergein Orphanage to propose an applicable model of holistic ministry.AbstrakAnak-anak di panti asuhan menghadapi masalah kompleks yang sering kali tidak tertangani secara holistik akibat keterbatasan dana dan sumber daya. Penelitian ini bertujuan mengkaji implementasi pelayanan holistik gereja berdasarkan Lukas 4:18-19 di Panti Asuhan Stergein dan merumuskan model pelayanan yang aplikatif bagi gereja lokal. Studi kualitatif dengan pendekatan studi kasus di Panti Asuhan Stergein ini menemukan bahwa pelayanan jasmani dan rohani pada dasarnya sudah dipenuhi, namun aspek psikologi terutama terkait pemulihan jiwa belum terpenuhi. Berdasarkan temuan ini, gereja lokal perlu mengembangkan program pendampingan psikologis yang terintegrasi untuk melengkapi pelayanan di Panti Asuhan Stergein. Kajian ini menawarkan kebaruan dengan integrasi narasi Lukas 4:18–19 dan studi kasus Panti Asuhan Stergein untuk model pelayanan holistik yang aplikatif bagi gereja lokal.
Allah yang Mati: Sebuah Kajian Soteriologis atas Paradoks Kematian Yesus Kristus Yustinus, Yustinus
Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 4, No 1 (2025): Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani - November 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvary - Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59376/philo.v4i1.57

Abstract

Jesus' death on the cross presents a paradox between God's eternal nature and the reality of a dying God, sparking intense debate in pluralistic societies. This study analyzes the relationship between Jesus' divinity and death from a soteriological perspective using systematic theology and historical-biblical analysis. The research demonstrates that the doctrines of communicatio idiomatum and Chalcedonian Christology resolve this paradox by maintaining the integrity of both natures in one Divine Person of Jesus. The findings reveal that Jesus' death in human nature constitutes the ultimate expression of God's saving love. Precisely because Jesus is God, His sacrifice is able to redeem all humanity, while His humanity enables this redemptive event to occur. These findings not only strengthen the theological foundation of redemption doctrine but also provide a relevant resolutive framework for contemporary dialectics about Christ's identity. The theological implications require the church to embody cruciform spirituality through practices of kenosis and solidarity with the suffering.AbstrakKematian Yesus di atas salib menghadirkan paradoks antara natur Allah yang kekal dan realitas Allah yang mati, serta memicu perdebatan intens dalam masyarakat yang plural. Penelitian ini menganalisis relasi keilahian dan kematian Yesus dalam perspektif soteriologis melalui pendekatan teologi sistematis dan analisis historis-biblis. Kajian membuktikan bahwa doktrin communicatio idiomatum dan kristologi Kalkedon menyelesaikan paradoks ini dengan mempertahankan integritas kedua natur dalam satu Pribadi Ilahi Yesus. Temuan penelitian mengungkap bahwa kematian Yesus dalam natur manusia justru menjadi puncak pernyataan kasih Allah yang menyelamatkan. Hanya karena Yesus adalah Allah, maka pengorbanan-Nya sanggup menebus semua manusia, sementara kemanusiaan-Nya memungkinkan peristiwa penebusan itu terjadi. Temuan ini tidak hanya memperkuat fondasi teologis doktrin penebusan, tetapi juga memberikan kerangka resolutif yang relevan bagi dialektika kontemporer tentang identitas Kristus. Implikasi teologisnya menuntut gereja untuk menghidupi spiritualitas salib melalui praktik kenosis dan solidaritas dengan mereka yang menderita.