Retno Tri Purnamasari
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

RESPON PERTUMBUHAN TERONG UNGU (Solanum melongena) AKIBAT PEMBERIAN RESIDU PUPUK HAYATI (Pseudomonas fluorescenc) A Zainul Arifin; Retno Tri Purnamasari; Fajar Hidayanto
MEDIAGRO Vol 19, No 1 (2023): MEDIAGRO
Publisher : Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/mediagro.v19i1.7511

Abstract

Tujuan penelitian ini menguji residu aplikasi pupuk hayati pelarut fosfat kaitannya untuk mendukung hasil panen tanaman terong ungu. Rancangan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu faktor dengan 4 perlakuan yang diulang sebanyak  6 kali. Perlakuannya sebagai berikut : P0: kontrol, P1: residu dosis pupuk hayati 100 mL, P2: residu dosis pupuk hayati 150 mL dan P3: residu dosis pupuk hayati 200 mL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penanaman terong ungu di lahan residu pupuk hayati pelarut fosfat Pseudomonas fluorescenc menunjukkan pertumbuhan yang baik. Perlakuan terbaik terdapat pada residu dosis pupuk hayati 200 ml.tanaman-1 umur 21 HST yang menunjukkan tinggi tanaman, jumlah daun dan luas daun masing-masing sebesar 28.55 cm, 20.17 helai dan 280.52 cm2. Bobot kering total tanaman pada umur 28 HST tertinggi pada perlakuan 200 ml.tanaman-1
PENGARUH DOSIS ZPT ROOTONE-F TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT BAMBU REJEKI (Dracaena reflexa) A Zainul Arifin; Retno Tri Purnamasari; Fajar Hidayanto
Jurnal Riset Rumpun Ilmu Tanaman Vol. 1 No. 2 (2022): Oktober : Jurnal Riset Rumpun Ilmu Tanaman
Publisher : Pusat riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (644.757 KB) | DOI: 10.55606/jurrit.v1i2.516

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Rootone-F dalam memperpanjang pertumbuhan bambu rejeki dan mengetahui konsentrasi berapakah Rootone-F mampu memperpanjang pertumbuhan bambu rejeki. Penelitian dilaksanakan di Blandongan Kota Pasuruan pada ketinggian ± 4.5 m dpl pada bulan April – Juni 2021. Penelitian ini disusun dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu faktor dengan ulangan sebanyak lima kali dengan perlakuan pemberian ZPT Rootone-F sebagai berikut : P0 = kontrol, tanpa pemberian ZPT; P1 = perlakuan pemberian ZPT dengan dosis 0,2 gr/L; P2 = perlakuan pemberian ZPT dengan dosis 0,4 gr/L; P3 = perlakuan pemberian ZPT dengan dosis 0,6 gr/L. Data yang diperoleh dari penelitian dianalisis menggunakan analisis ragam (uji F), apabila terdapat pengaruh nyata, maka dilanjutkan dengan uji BNT taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemberian dosis zat pengatur tumbuh berpengaruh terhadap pertumbuhan stek bambu rejeki. Peningkatan dosis zat pengatur tumbuh memberikan hasil meningkat pada semua parameter. Tanaman stek bambu rejeki pada umur 120 HST dengan pemberian dosis Rootone-F 0,6 gr/L menghasilkan tinggi tanaman sebesar 65,96 cm, panjang tunas sebesar 12,96 cm, jumlah daun sebesar 34,62 helai, panjang akar sebesar 13,92 dan jumlah akar sebesar sebesar 63,34.
Perbandingan Proses Mineralisasi Karbon dan Nitrogen serta Humifikasi Pada Sistem Pertanian yang Berbeda di Tanah Andisol: Comparison of Carbon and Nitrogen Mineralization Processes and Humification in Different Agricultural Systems in Andisol Soil Fajar Hidayanto; Retno Tri Purnamasari; Sari Widya Utami; Murni Handayani
Acta Solum Vol. 3 No. 3 (2025): Juli 2025
Publisher : Department of Soil, Faculty of Agriculture, Lambung Mangkurat University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/actasolum.v3i3.3128

Abstract

The organic farming system has become the choice of most farmers in Indonesia because it has a major impact on agricultural quality and soil fertility. Vegetable farming in Magelang and Semarang Regencies is cultivated on andisol soil which has a relatively high soil fertility level, but farmers still use organic fertilizers to increase the organic matter content of the soil. The organic farming system applies 10 tons ha-1 of cow manure, 20 liters ha-1 of liquid fertilizer, and the return of plant residues at each planting season. The conventional farming system with high organic matter applies 7 tons ha-1 of cow manure, 50 kg ha-1 of urea, 50 kg ha-1 of NPK fertilizer, 15 liters ha-1 of liquid fertilizer, while the conventional farming system with low organic matter applies 3 tons ha-1 of chicken manure, 50 kg ha-1 of ZA fertilizer, 50 kg ha-1 of KCl fertilizer, and 50 kg ha-1 of NPK fertilizer. Observation variables include pH NaF, C-organic, N-total, C/N ratio, humic acid, fulvic acid and humification rate. Data were analyzed for variety and if different, the method of the smallest significant difference test was continued. The results of the study showed that the organic farming system was more effective in increasing carbon and nitrogen in the soil and accelerating humification, so that nutrients were available more quickly. However, the deeper the soil layer, the mineralization and humification processes will decrease because they are greatly influenced by the availability of organic matter.