Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

EKSPLORASI KUBURAN TEPI PANTAI DESA PLAWANGAN, KECAMATAN KRAGAN, KABUPATEN REMBANG, JAWA TENGAH: KAJIAN TOPONIMI Dwika Muzakky Anan Taturia; Multamia R.M.T. Lauder
EPIGRAM (e-journal) Vol 20 No 1 (2023): Epigram Volume 20 Nomor 1 Tahun 2023
Publisher : Politeknik Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32722/epi.v20i1.5540

Abstract

Since archaeological excavations were carried out from 1977 to 1993 at the Plawangan site located on the coastal community of Plawangan Village, archaeologists suspected that this site was once a necropolis (a burial place from the first century AD). This research aims to explore the public seaside cemeteries in Plawangan Village, Kragan District, Rembang Regency, Central Java based on their necronym pattern (naming of a cemetery). This research also seeks to reveal further the existence of public seaside cemeteries in Plawangan Village during modern times by examining the collective memories and meanings of local inhabitants for the names of cemeteries. In this research, the data were collected from interviews using the Cakap Semuka Method by applying Rekam Catat Techniques, namely Migit, Mbedhodo, and Pohlendeh cemeteries. By utilizing a qualitative approach and descriptive method, the writer analyzed seaside necronyms based on Nyström's Theory of Presuppositional Meanings, namely categorical, associative, and emotive meanings. Categorically, the seaside cemeteries of Plawangan Village were influenced by myth and flora categories. From the morphophonemic process, the forms of seaside necronym are pre-fixations, ellipsis, and verb phrases. Meanwhile, based on identification of associative and emotive meanings show interesting findings about the meanings and perceptions of nowadays society regarding the reasons why there are public cemeteries were located near the beach, such as: (1) choosing the location of a public cemeteries near beach because it follows the past burial methods archaeological sites in coastal sandy soil which are believed to be able to preserve bones longer than other types of soil, (2) traces of the spread of Islam, (3) myths in society, (4) loss of the haunted impression of each grave, and (5) the haul tradition of respected religious figures.
METAFORA BERANJAK DEWASA DALAM LIRIK LAGU “TAKUT” KARYA IDGITAF: KAJIAN LINGUISTIK KOGNITIF Anan Taturia, Dwika Muzakky; Wibiasty, Patricia Elsa Marchelia
Epigram Vol 21 No 2 (2024): Epigram Volume 21 Nomor 2 Tahun 2024
Publisher : Politeknik Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32722/epi.v21i2.7156

Abstract

This study aims to analyze the metaphor of "beranjak dewasa" in the song lyrics of “Takut” by IDGITAF. Utilizing the Conceptual Metaphor Theory by Lakoff and Johnson (1980), the structural metaphors in the song's lyrics were examined through the mapping of source and target domains, as well as their image schemas. This research employs a descriptive qualitative approach. Data analysis was conducted using the distributional method and advanced techniques for immediate constituent analysis, while data collection was carried out through the observation method with note-taking techniques. The analysis revealed five structural metaphors: (1) ambisiku bergejolak, (2) antusias tak karuan, (3) mimpi yang kukejar, (4) mimpi yang terkubur, dan (5) mengorbankan waktu tidur. The image schema depicted from these metaphors is existence. The metaphor of "beranjak dewasa" represents a process filled with enthusiasm, struggle, and sacrifice. This metaphor provides a depiction for today's youth who are transitioning into their 20s, a phase where they encounter a different world where expectations do not always align with dreams or aspirations. The findings of this study affirm the song's message that every young person will inevitably go through their youth and must prepare to enter adulthood.
Representasi Nilai Budaya Jawa dalam Buku Cerita Anak Dwibahasa: Kajian Simbolisme dan Aspek Kebahasaan pada Buku Terbitan Balai Bahasa Jawa Timur Tahun 2023 Rokhmawati, Zahro; Aal Inderajati; Patricia Elsa Marchelia Wibiasty; Dwika Muzakky Anan Taturia; Nisa Hanum Mufida
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 11 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v11i3.6749

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis simbol kearifan lokal dan aspek kebahasaan dalam lima buku cerita anak dwibahasa terbitan Balai Bahasa Jawa Timur tahun 2023, yaitu Nonton Festival Musik Lesung, Seni Jaran Kencak, Ladu Pelangi Noni, Festival Bandeng Kawak, dan Cokelat Saka Lempung. Penelitian menggunakan metode analisis isi kualitatif dengan pendekatan teori simbolisme budaya Clifford Geertz, semiotika Roland Barthes, linguistik budaya Palmer, serta literasi dwibahasa Baker. Data berupa kutipan teks naratif, dialog, dan kosakata kultural yang dianalisis untuk mengungkap makna denotatif dan konotatif simbol, serta fungsi kosakata dalam pelestarian budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap cerita memuat simbol budaya yang mewakili lima dimensi kearifan lokal Jawa: tradisi agraris (lesung), seni pertunjukan (jaran kencak), kuliner keluarga (ladu), perayaan ekonomi pesisir (bandeng kawak), dan inovasi lokal (lempung & cokelat). Simbol tersebut hadir melalui narasi, tokoh, dan latar yang sarat nilai seperti gotong royong, rukun, persaudaraan, kreativitas, dan keberlanjutan. Aspek kebahasaan memperlihatkan pemakaian kosakata kultural dalam bahasa daerah dan padanannya dalam bahasa Indonesia, sehingga berfungsi ganda sebagai sarana preservasi bahasa daerah dan jembatan pemahaman lintas budaya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa buku cerita anak dwibahasa dapat menjadi media efektif dalam internalisasi nilai budaya dan penguatan literasi multibahasa pada anak.
Perilaku Kopula Adalah dan Variasinya dalam Bahasa Indonesia NH, Siti Rahajeng; Jayanti, Cicik Tri; Taufiqurrahman, Febri; Taturia, Dwika Muzakky Anan
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 11 No. 4 (2025): Penulis dari 3 negara (Indonesia, Jerman dan Turki)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v11i4.6777

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki penggunaan kopula adalah dan variasinya yakni merupakan, ialah, yakni, dan yaitu dalam bahasa Indonesia dan perbedaan kelima kopula tersebut. Kopula adalah merupakan kopula yang digunakan untuk menyatakan unsur yang ‘identik dengan atau sama maknanya dengan’. Kopula adalah biasanya digunakan untuk menyatakan identifikasi atau penjelasan sebuah konsep. Selain adalah, kata yang juga penggunaannya sejenis dan berada dalam konteks penggunaan yang sama adalah merupakan, ialah, yakni, dan yaitu. Kelima kata tersebut memiliki kesamaan makna. Walaupun demikian, tidak ada kata bersinonim yang maknanya sama persis, melainkan akan ada yang membedakannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simak bebas libat cakap dengan data yang diambil dari korpus Indonesian Wac Sketch Engine. Data tersebut diambil dan direduksi sesuai dengan kolokat berbentuk kata yang mengikuti masing-masing kopula, bukan berupa tanda baca atau simbol tertentu. Pengurutan data kolokat dilakukan berdasarkan nilai signifikansi antara node dengan kolokatnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas penggunaan kopula tersebut secara berurutan adalah adalah, merupakan, yaitu, yakni, dan ialah. Kelimanya merupakan bentuk penghubung atau konektor dalam kalimat yang menghubungkan dua unsur fungsi yang berbeda. Kopula tersebut dapat menghubungkan unsur fungsi subjek dengan predikat nonverbal serta menghubungkan subjek dengan fungsi pelengkap bergantung pada struktur kalimatnya. Kopula adalah dan merupakan berpotensi muncul pada kalimat predicational, spesificational, identificational, dan equational; kopula yaitu berpotensi muncul pada kalimat prediational, spesificational sentences, dan identificational; sementara kopula yakni berpotensi muncul pada kalimat predicational dan specificational. Adapun kopula ialah adalah kopula dengan produktifitas yang cukup rendah dalam bahasa Indonesia yang muncul pada jenis kalimat predicational dan spesificational.