Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

A Comparative Study Of Stomatal Characteristics of The Nine Pandanus Species From Nias Island, North Sumatra Province, Indonesia Helmin Parida Zebua; Nursahara Pasaribu; Etti Sartina Siregar
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 17, No 2 (2024): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v17i2.31081

Abstract

AbstractThe identification of Pandanus species generally relies on morphological characteristics and requires confirmation from other identification features, such as stomata. A comparative study of stomatal characteristics among nine Pandan species originally from Nias Island, namely Pandanus atrocarpus, P. auranticus, P. labyrinthicus, P. militaris, P. odoratissimus, P. penangensis, P. tectorius, and P. utilis has been investigated. Anomocytic stomata without papillae on subsidiary cells were observed on both leaf surfaces, with significant interspecific differences in adaxial and abaxial stomatal frequencies. Pandanus tectorius exhibited the highest adaxial (30.71 ± 0.81) and abaxial (1.87 ± 0.12) stomatal frequencies. Pandanus labyrinthicus showed the highest stomatal index (adaxial 16.61 ± 2.51, abaxial 0.87 ± 0.11), while P. penangensis had the largest stomatal size (137.54 ± 6.66 µm). Overall, the stomatal parameters, including frequency, index, and size, were higher on the adaxial surface than the abaxial surface, emphasizing interspecific variations. These findings contribute valuable supportive data for the botanical systematics of Pandanus spp. in the region, enhancing our understanding of morphological characteristics crucial for species identification.AbstrakIdentifikasi jenis dari Pandanus cenderung menggunakan ciri morfologi dan memerlukan konfirmasi dari karakter lainnya, salah satunya stomata. Studi perbandingan stomata di antara sembilan spesies Pandan di Pulau Nias, Sumatera Utara telah dilakukan, yaitu Pandanus atrocarpus, P. auranticus, P. labirinthicus, P. militaris, P. odoratissimus, P. penangensis, P. tectorius, dan P. utilis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keseluruhan jenis Pandanus memiliki tipe stomata berupa anomositik pada kedua permukaan daun atau amfistomatous tanpa adanya papilosa pada sel tambahan. Frekuensi stomata adaksial dan abaksial memiliki perbedaan yang nyata secara statistik lintas jenis. Frekuensi stomata tertinggi pada daun adaksial/abaksial diamati berturut-turut dari P. tectorius (30,71 ± 0,81) dan P. tectorius (1,87 ± 0,12). Indeks stomata daun tertinggi diamati berturut-turut berasal dari P. labirinthicus (16,61 ± 2,51) untuk adaxial dan P. labirinthicus (0,87 ± 0,11) untuk abaxial. Ukuran stomata terbesar diamati berturut-turut berasal dari P. penangensis (137,54 ± 6,66 µm) dan P. odoratissimus (64,56 ± 3,96 µm). Secara umum, tipe stomata pada semua jenis adalah anomositik tanpa adanya papila pada sel penjaga. Parameter stomata lainnya, yaitu frekuensi, indeks, dan ukuran pada bagian adaksial cenderung lebih tinggi dibandingkan permukaan abaksial dengan variasi nilai secara interspesifik.
Pemberdayaan dan kemandirian Desa Binaan Bagan Kuala, Kabupaten Serdang Bedagai melalui inisiatif pengabdian masyarakat yang berfokus pada ekowisata dan pengembangan produk pewarna alami ecoprint Mohammad Basyuni; Iwan Risnasari; Bejo Slamet; Deni Elfiati; Yunasfi Yunasfi; Ahmad Baiquni Rangkuti; Erni Jumilawaty; Etti Sartina Siregar; Ameilia Zuliyanti Siregar; Alfian Mubaraq; Andi Aznan Aznawi; Meutia Nauly
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 4 (2024): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i4.27477

Abstract

Abstract Pemberdayaan masyarakat dan kemandirian ekonomi merupakan elemen penting dalam pembangunan berkelanjutan. Pengabdian ini bertujuan menganalisis keberhasilan pemberdayaan dan penguatan kemandirian masyarakat Desa Bagan Kuala, Serdang Bedagai, Sumatera Utara, Indonesia melalui inisiatif yang berfokus pada ekowisata dan pengembangan produk pewarna alami ecoprint. Program ini melibatkan 50 peserta lokal yang terbagi ke dalam dua kelompok mitra: Kelompok Pengrajin Ecoprint dan Kelompok Pengelola Ekowisata Mangrove. Kedua kelompok ini mendapatkan pelatihan intensif tentang pembuatan produk ecoprint ramah lingkungan menggunakan pewarna alami dari flora lokal, serta manajemen ekowisata berbasis konservasi lingkungan. Hasil pengabdian menunjukkan peningkatan keterampilan kelompok mitra sebesar 70%, dengan diversifikasi produk ecoprint meningkat dari tiga jenis menjadi tujuh jenis, yang berkontribusi pada peningkatan pendapatan pengrajin hingga 20%. Selain itu, Kelompok Pengelola Ekowisata berhasil menarik lebih dari 200 pengunjung dalam enam bulan pertama, memberikan tambahan pendapatan sebesar 15% bagi desa. Inisiatif pemberdayaan ini juga meningkatkan kemandirian ekonomi kelompok mitra dengan membekali mereka untuk mengelola usaha secara mandiri, termasuk pemasaran produk ecoprint dan paket wisata mangrove. Program ini memperkuat kapasitas organisasi kelompok mitra dalam manajemen bisnis berkelanjutan serta meningkatkan kesadaran lingkungan melalui kegiatan konservasi seperti penanaman mangrove. Dengan partisipasi aktif masyarakat, inisiatif ini berhasil meningkatkan hasil ekonomi sekaligus mempromosikan upaya konservasi lingkungan jangka panjang di Desa Bagan Kuala. Program ini sejalan dengan beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) PBB, terutama TPB 1 (Tanpa Kemiskinan), TPB 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), dan TPB 11 (Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan). Kata kunci: pemberdayaan; kemandirian; ecoprint; ekowisata; konservasi mangrove Abstract Community empowerment and economic independence are essential for sustainable development. This study analyzes the success of empowering and fostering independence within the community of Bagan Kuala Village, Serdang Bedagai, through initiatives focused on ecotourism and the development of natural dye ecoprint products. The program involved 50 local participants organized into two partner groups: the Ecoprint Artisan Group and the Mangrove Ecotourism Management Group. Both groups underwent intensive training on producing eco-friendly ecoprint products using natural dyes from local flora, as well as managing ecotourism that emphasizes environmental conservation. Results of community service indicated a 70% improvement in the skills of the partner groups, with product diversification increasing from three to seven types of ecoprint, leading to a 20% increase in artisan income. Additionally, the Ecotourism Management Group attracted over 200 visitors within the first six months, contributing a 15% boost to village revenue. The empowerment initiatives enhanced the economic independence of the partner groups, allowing them to manage their businesses autonomously, including marketing ecoprint products and mangrove tour packages. The program also strengthened the groups’ organizational capacity in sustainable business management while fostering environmental awareness through conservation activities like mangrove planting. Through active community participation, this initiative successfully improved economic outcomes and promoted long-term environmental conservation efforts in Bagan Kuala. This program aligns with several United Nations Sustainable Development Goals (SDGs), particularly SDG 1 (No Poverty), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), and SDG 11 (Sustainable Cities and Communities). Keywords: empowerment; independence; ecoprint; ecotourism; mangrove conesrvation