Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : HARMONI

FOLKLORE-BASED READING UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN BACAAN BERBAHASA INGGRIS YANG BERKAITAN DENGAN PARIWISATA DI SMK JAYAWISATA SEMARANG Savitri, Ayu Ida
Harmoni: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Departemen Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/hm.2.1.%p

Abstract

ABSTRAK Pengajaran keterampilan membaca teks berbahasa Inggris merupakan bagian dari pengajaran Bahasa Inggris sebagai Bahasa Kedua di Indonesia. Hal tersebut menarik karena terdapat kesulitan dalam memahami kosakata yang terkandung di dalam bacaan sebelum mengambil pesan dan menjawab pertanyaan terkait dengan bacaan. Pemahaman bacaan menjadi semakin sulit saat kosakata tersebut tidak lazim dijumpai, seperti kosakata dalam bidang teknologi atau karya sastra. Namun demikian, dalam pengajaran keterampilan membaca teks berbahasa Inggris, Ackerman (1994) menunjukkan bahwa penggunaan karya sastra membuat peserta didik terlibat secara emosional dalam kisah yang mereka baca. Selain menarik, karya sastra kaya akan materi pembelajaran dan berisi pengalaman yang memberi nilai lebih pada proses pembelajaran (Goshn, 2002), misalnya pada karya sastra anak dalam bentuk realisme, fiksi, non fiksi, fantasi, karya sastra tradisional dan puisi (Brown, 2001). Karya sastra tradisional sendiri adalah cerita yang ditulis berdasarkan tradisi, yang waktu kejadian bahkan penulisnya pun tidak diketahui karena diceritakan dari mulut ke mulut dan dari generasi ke generasi. Misalnya, cerita rakyat, fabel, mitos, legenda, epik dan puisi tradisional (Burhan, 2003). Karya sastra tradisional berupa mitos kami gunakan untuk mengajarkan keterampilan membaca teks berbahasa Inggris kepada siswa-siswi SMK Jayawisata, Kelas XII, yang setelah lulus      akan terjun dalam bidang pariwisata atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini penting    untuk dilakukan karena salah satu hal yang akan mereka lakukan dalam bidang pariwisata adalah melakukan pendampingan pada wisatawan yang membutuhkan informasi yang berkaitan dengan folklore yang terdapat pada tujuan wisata yang mereka datangi. Selain memperoleh keterampilan membaca teks berbahasa Inggris mereka juga mendapatkan pengetahuan tambahan mengenai folklore yang terdapat di dalam bacaan. Kata Kunci: Pengajaran Bahasa Inggris sebagai Bahasa Kedua, keterampilan membaca teks berbahasa Inggris, folklore, folklore-based reading.         ABSTRACT Teaching English Reading Skill is part of Teaching English as Second Language (TESL) in Indonesia. It becomes interesting as students face difficulties in understanding new vocabularies before gaining the message of the text and answer questions related to the text. The reading comprehension becomes more difficult when those vocabularies     are unfamiliar for them, like terms related to technology or literature. However, in Teaching English Reading Skill for beginners, Ackerman (1994) shows that literature enables students to get involved emotionally in the story they read. Literature is interesting, rich-content and shares life experience for the learning process (Goshn, 2002). The literature comes in various types like realism, fiction, nonfiction, fantasy, traditional literature and poem (Brown, 2001). Traditional literature is a tradition-based written story where the time and even the writer are unknown as it was told from mouth to mouth and from generation to generation. For example, folktale, fabel, myth, legend, epic and traditional poem (Burhan, 2003). Traditional literature of myth is used to teach Basic Level English Reading Skill     to students of tourism vocational highschool Jayawisata, particularly to twelve grade students, who are going to work in tourism sector after graduated or continue their study to higher level. It is done since one of their duties is guiding foreign tourists who need information about the folklore of the tourism sites they visit. Therefore, they are not only improving their English Reading Skill but also gaining more information about the folklore in the text. Keywords: Teaching English as Second Language (TESL), English Reading Skill, folklore, folklore-based reading.
PENERAPAN METODE PENGAJARAN KOMUNIKATIF DALAM PENGAJARAN “ENGLISH FOR TRAFFIC” UNTUK ANGGOTA POLISI POLRESTABES KOTA SEMARANG Savitri, Ayu Ida; Sundari, Wiwiek
Harmoni: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Departemen Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.353 KB) | DOI: 10.14710/hm.1.1.%p

Abstract

Mengajarkan Bahasa Inggris sebagai Bahasa Kedua (English as a Second Language atau TESL) kepada orang dewasa yang mempelajari Bahasa Inggris untuk kesekian kalinya namun          tidak menggunakannya di dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi hal yang menantang bagi para pengajar ESL, khususnya pada saat mengajarkan Keterampilan Berbicara menggunakan Bahasa Inggris karena mereka masih mengalami hambatan dalam menggunakan Bahasa Inggris dalam berbicara. Mereka harus mengenal berbagai kosakata baru dalam Bahasa Inggris dengan ejaan dan pelafalan yang berbeda dengan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama setelah bahasa daerah sebagai bahasa ibu mereka, memahami maknanya, dan menggunakannya dalam percakapan. Selain itu, mereka juga harus mengetahui dan dapat menggunakan berbagai kala yang digunakan pada saat berbicara. Kompetensi Komunikatif atau KK dari pembelajar ESL merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan mereka memelajari ESL. Untuk memperluas  KK dari Chomsky (1965) yang dipandang terlalu sempit, Hymes (1967; 1972), meyatakan bahwa KK merupakan kompetensi yang memampukan seseorang untuk menyampaikan dan memahami pesan dalam sebuah percakapan dan menegosiasikan makna pesan tersebut secara interpersonal dalam konteks tertentu. Selanjutnya, Savignon (1983:9) menyatakan bahwa KK bersifat relatif karena bergantung pada kerjasama partisipan percakapan. KK dibedakan menjadi Kompetensi Linguistik yang berkaitan dengan bentuk bahasa dan Kompetensi Komunikatif itu sendiri yang berkaitan dengan pengetahuan seseorang yang memampukannya berkomunikasi secara fungsional dan interaktif. Ancangan tersebut kami gunakan untuk mengajarkan ESL kepada tujuh belas staf Polrestabes Semarang, yang menitikberatkan pada keterampilan berbicara menggunakan Bahasa Inggris dalam melayani wisatawan asing yang berkunjung ke Kota Semarang pada saat mereka berlalu-lintas. Ancangan tersebut kami pilih karena mereka menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua pada saat bertugas di lapangan secara langsung tanpa harus memikirkan bentuk bahasa yang baik dan benar terlebih dahulu sebelum berbicara karena kejadian di lapangan dapat terjadi sangat cepat dan memerlukan penanganan yang cepat pula. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mereka mampu menggunakan KK mereka dalam Berbahasa Inggris pada saat lawan bicara mereka (dalam permainan peran)       juga bekerjasama dalam hal memahami dan bertukar pesan sederhana dalam Bahasa Inggris. Kata Kunci: Bahasa Inggris sebagai Bahasa Kedua (ESL), Kompetensi Komunikatif (Communicative Competence).