Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Finding Common Ground in Collaborative Environmental Management: A Case Study in Cijedil Forest Landscape, Cianjur Agung Hasan Lukman; Budhi Gunawan; Parikesit Parikesit
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.2.399-408

Abstract

Forest landscape in Cijedil Village, Cianjur hosts numerous endemic wildlife to conserve. On the other hand, the needs of local people from forest utilization could not be also neglected. Hence, the environmental management issues in the forest landscape of Cijedil are not only attributed to the biodiversity and ecological protection but also social and economic empowerment that engages various stakeholders. To get a mutual understanding among the stakeholders within collaborative management, building dialogue, reaching consensus, and comprehending its process is necessary. Nevertheless, few studies, particularly in Indonesia, have thoroughly performed related to this topic. The objective of this study is to fill this gap by describing the consensus building in the collaborative process framework and its affecting factors for reaching an agreement in collaborative management in the forest landscape of Cijedil. We performed a qualitative study by using action-based research and a case-study approach. Semi-structured and in-depth interviews were undertaken with 18 key informants selected by the snowball sampling representing six stakeholders involved: KPH Cianjur, SPH II Cianjur, BLHD Cianjur, officials of Cijedil Village, LMDH Cijedil, and the local community of Cijedil. The findings show that this consensus building has adapted the collaborative framework indicated by problem- and direction-setting activities in the first two stages of the collaborative process. It also suggests that the main influencing of parties-related factors are human resource capacity, level of understanding, and commitment, whereas process-related barriers are time uncertainty and incentives offered. These factors are indicated not completely discrete but rather affecting each other. To conclude, while the consensus for broadly collaborative environmental management is still needed to promote, the driven inhibiting factors remain. It is, therefore, crucial to address and deal with those main challenging elements. AbstrakLanskap hutan di Desa Cijedil, Cianjur mempunyai banyak satwa endemik yang penting untuk dilestarikan. Namun di sisi lain, kebutuhan masyarakat lokal dari pemanfaatan hutan juga tidak bisa diabaikan. Oleh karena itu, masalah pengelolaan lingkungan di lanskap hutan Cijedil tidak hanya terkait dengan perlindungan keanekaragaman hayati tetapi juga pemberdayaan sosial dan ekonomi yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Untuk mendapatkan pemahaman bersama di antara para pemangku kepentingan dalam pengelolaan kolaboratif, perlu membangun dialog, mencapai konsensus, dan memahami prosesnya. Namun demikian, baru sedikit penelitian, khususnya di Indonesia, yang telah dilakukan terkait topik ini. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengisi kesenjangan ini dengan menggambarkan pembangunan konsensus dalam kerangka proses kolaboratif dan faktor-faktor yang mempengaruhinya untuk mencapai konsensus dalam pengelolaan kolaboratif di lanskap hutan Cijedil. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif berbasis aksi dan pendekatan studi kasus. Wawancara semi terstruktur dan mendalam dilakukan dengan teknik snowball terhadap informan kunci yang mewakili enam pemangku kepentingan yang terlibat: KPH Cianjur, SPH II Cianjur, BLHD Cianjur, aparat Desa Cijedil, LMDH Cijedil, dan masyarakat Cijedil. Temuan menunjukkan bahwa pembangunan konsensus ini telah mengadaptasi kerangka kerja kolaboratif yang ditunjukkan oleh aktivitas penetapan masalah dan arah dalam dua tahap pertama proses kolaboratif. Temuan juga menunjukkan bahwa faktor utama yang mempengaruhi terkait pihak adalah kapasitas sumber daya manusia, tingkat pemahaman, dan komitmen, sedangkan hambatan terkait proses adalah ketidakpastian waktu dan insentif yang ditawarkan. Faktor-faktor ini tidak sepenuhnya terpisah melainkan saling mempengaruhi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa walaupun konsensus untuk pengelolaan lingkungan kolaboratif secara luas masih diperlukan, faktor-faktor penghambatnya masih tetap ada. Oleh karena itu, penting untuk mengatasi tantangan utama tersebut.
BECOMING MAJIKAN IN OUR OWN FARM: A STUDY ON WOMEN AND AGROFORESTRY IN CIANJUR, WEST JAVA Dede Tresna Wiyanti; Oekan Soekotjo Abdoellah; Johan Iskandar; Parikesit Parikesit
Sosiohumaniora Vol 25, No 1 (2023): Sosiohumaniora: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora, MARCH 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v25i1.44727

Abstract

This study examines the relation between women and agroforestry in Cijedil and Wangunjaya Villages, Cugenang District, Cianjur Regency, West Java. The study of the dynamics of agroforestry management, which is an agricultural practice carried out on forest land or land that resembles a forest, is carried out using an ecofeminist perspective. The study was conducted in two villages in Cianjur, West Java, Indonesia. These two villages are representatives of agroforestry land variations, which consist of forest, agroforestry, and agricultural land. This land type represents the level of human intervention in forest land management. The research was conducted using quantitative and qualitative research methods, using interviews and observation as key data collection instruments. The results of the study found that the division of labor based on gender in agroforestry practices has changed. Significant changes were also found in the relations between women and agroforestry, as well as gender relations in the decision-making process related to agroforestry in farmer households. From an eco-feminist perspective, this study shows that the dynamics of women in managing agroforestry not only increases the role of women, but also strengthens the position of women as employers in their own agroferestry land.
Keanekaragaman Tumbuhan Bawah dan Implikasinya terhadap Serangga di Kawasan Budi Daya Tanaman di Kawah Kamojang, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, Jawa Barat Rasiska, Siska; Sudarjat, Sudarjat; Asdak, Chay; Parikesit, Parikesit; Gunawan, Budhi
Agrikultura Vol 34, No 2 (2023): Agustus, 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v34i2.46186

Abstract

Lanskap di Kawah Kamojang, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung terdiri dari kawasan konservasi, kawasan lindung dan kawasan budi daya yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keanekaragaman jenis tumbuhan bawah dan serangga yang terdapat di kawasan budi daya. Metode yang digunakan adalah eksploratif deskriptif dengan pengambilan sampel secara transek garis berjalur sejauh radius 500m di empat lokasi kawasan budidaya yang berbeda, yaitu di dekat Cagar Alam (CA), Taman Wisata Alam (TWA), lahan pertanian dan Hutan Lindung (HL). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli hingga November 2022. Hasil penelitian menunjukkan ditemukannya 41 famili dan 96 spesies tumbuhan bawah serta tiga famili yang memiliki Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi, yaitu Asteraceae, Fabaceae, dan Poaceae. Tumbuhan bawah Ageratina riparia banyak ditemukan di dekat CA dan TWA, sedangkan Imperata cylindrica banyak ditemukan di dekat lahan pertanian dan HL. Keanekaragaman jenis tumbuhan bawah terkategori tinggi dan tersebar di semua lokasi secara merata. Kelompok serangga yang ditemukan termasuk ke dalam 9 ordo dan 78 famili dan tiga famili dengan nilai INP tertinggi yaitu Cicadellidae, Acrididae dan Drosophilidae.  Famili Cicadellidae banyak ditemukan di dekat CA dan HL, Acrididae di dekat TWA dan Drosophillidae di  dekat lahan pertanian. Sebagian besar serangga memiliki peran fungsional sebagai herbivor (32 famili) dengan INP tertinggi yaitu Cicadellidae, predator (11 famili) dengan INP tertinggi yaitu Formicidae, parasitoid (16 famili) dengan INP tertinggi yaitu Braconidae, dan polinator (3 famili) dengan INP tertinggi yaitu Syrphidae. Serangga lainnya memiliki peranan sebagai dekomposer, netral, hama ternak, serangga air, vektor entomopatogen, dan vektor penyakit. Keanekaragaman jenis serangga terkategori sedang dan menyebar secara merata.
KEANEKARAGAMAN REEPS (RARE, ENDANGERED, ENDEMIC, PROTECTED SPECIES) DI AREA AMFITEATER, CILETUH PALABUHANRATU UNESCO GLOBAL GEOPARK Wulandari, Indri; Parikesit, Parikesit; Supangkat, Budiawati; Megantara, Erri Noviar; Shanida, Sya Sya
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 21, No 2 (2023): BIOTIKA DESEMBER 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v21i2.49848

Abstract

Ciletuh-Palabuhanratu UNESCO Global Geopark (CPUGG) merupakan salah satu kawasan yang dikembangkan menjadi kawasan pariwisata. Dengan statusnya sebagai UNESCO Global Geopark, CiletuhPalabuhanratu ditetapkan sebagai kawasan konservasi keanekaragaman geologi, hayati, dan budaya. Pengembangan pariwisata ini ditujukan salah satunya untuk meningkatkan perekonomian masyarakat lokal. Di sisi lain, kawasan CPUGG ini diketahui memiliki keanekaragaman hayati dilindungi dengan status Rare, Endangered, Endemic, and Protected Species (REEPS) dan terancam punah. Salah satu lokasi keberadaan keanekaragaman hayati dilindungi adalah di area amfiteater yang berada di wilayah Kecamatan Ciemas. Oleh karena itu, perlu diketahui jenis – jenis REEPS yang terdapat di area tersebut. Studi ini melakukan pendekatan kualitatif melalui studi literatur dan observasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 15 jenis REEPS, terdiri dari 1 jenis flora dan 14 jenis fauna, meliputi 5 jenis Avifauna, 1 jenis Herpetofauna, dan 8 jenis Mammalia. Lokasi ditemukannya jenis – jenis REEPS tersebut sebagian berdekatan atau bahkan berada di lokasi – lokasi yang menjadi daya tarik wisata kawasan CPUGG.
Pengendalian Hama Penggerek Buah Kopi (Hypothenemus hampei Ferrari) dengan Menggunakan Perangkap Berantraktan secara Partisipatoris di Desa Margamulya, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung Rasiska, Siska; Parikesit, Parikesit; Sudarjat, Sudarjat; Gunawan, Budhi; Setiawan, Iwan
Agrikultura Masyarakat Tani Vol 1, No 3 (2024): Juli
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrimasta.v1i3.54953

Abstract

Penggerek Buah Kopi (PBKo, Hypothenemus hampei Ferrari) merupakan hama tanaman kopi yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas buah kopi. Salah satu upaya untuk mengendalikan hama ini dengan menggunakan perangkap beratraktan dengan melibatkan partisipasi petani kopi. Tujuan dari kegiatan pengabdian ini memberikan pengetahuan kepada petani mengenai hama PBKo dan penggunaan perangkap beratraktan. Kegiatan ini telah dilakukan selama 6 minggu di Desa Margamulya Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Metode yang digunakan adalah survey berupa wawancara untuk menginventarisasi pengetahuan awal dari petani kopi mengenai hama yang menyerang tanaman kopi dan cara pengendaliannya, serta percobaan partisipatoris. Percobaan partisipatif menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan perlakuan berupa perangkap bertraktan alami yang terbuat dari kulit buah kopi terinfestasi hama PBKo diolah dengan metode ekstraksi destilasi sederhana dan maserasi, serta Hypotan 500L yang bersifat sintetik untuk mengetahui keefektifan perangkap beratraktan untuk menarik PBKo. Data hasil wawancara dianalisis secara deskriptif dan percobaan partisipatif dianalisis dengan uji analisis varians dan diuji lanjut dengan uji jarak berganda duncan pada taraf kepercayaan 5%. Hasil wawancara menunjukkan bahwa petani memiliki pengetahuan yang cukup baik tentang hama yang sering menyerang tanaman kopi, namun upaya pengendaliannya masih belum banyak diketahui. Hasil percobaan partisipatoris menunjukkan bahwa perangkap beratraktan Hypotan 500L mampu menangkap PBKo lebih tinggi. Petani kopi yang ikutserta dalam kegiatan ini merasakan manfaat dari penyuluhan tentang tanaman kopi dan praktek aplikasi atraktan di kebun percobaan. Namun, kegiatan ini perlu dilakukan secara lebih intensif dengan pendampingan. Dengan demikian, kegiatan dapat meningkatkan kewaspadaan petani terhadap kerusakan tanaman kopi yang disebabkan oleh hama.
Identification of Invasive Aliens Plant Species in Cultivated Area of Kamojang Crater at Ibun District, Bandung Regency, West Java Rasiska, Siska; Asdak, Chay; Parikesit, Parikesit; Sudarjat, Sudarjat; Gunawan, Budhi; Setiawan, Iwan; Setiawan, Ditriz
CROPSAVER Vol 6, No 1 (2023)
Publisher : Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/cropsaver.v6i1.45383

Abstract

The Cultivated Area in Kamojang Crater, Ibun District, Bandung Regency is part of a single landscape mountain, adjacent to conservated and protected areas which has high biodiversity. This study aims to identify invasive alien plants species in cultivated areas, adjacent to conservation and protected areas. The method used is a descriptive qualitative study with the sampling line transect in 500 meter radius of four location, namely near Nature Reserves (NR), near Nature Tourism Parks (NTP), agriculture (A) and near Protected Forests (PF), and this study has done up at July until November, 2022. The results showed that in the cultivated area in Kamojang Crater, Ibun District, Bandung Regency found 41 families and 96 species of understorey, with the highest number being from the Asteraceae, Poaceae and Fabaceae. Diversity of understorey was categorized as high (H'=3.428), evenly distributed (E=0.738), high species richness (R=13.503) and no dominant species (C=0.165). Several understorey, namely 8 orders, 10 families, and 29 species were categorized as invasive aliens plant species, with the highest important values index being Ageratina riparia (99,642%), Imperata cylindrica (72,919%), Paspalum notatum (31,155%), Chromolaena odonata (31,074%), Etlingera elatior (27,905%), Ageratum conyzoides (20,179%), Lantana camara (19,029%), Amaranthus hybridus (18,818%), Pennisetum purpureum (15,120%), Mimosa pudica (15,031%), Crassocephalum crepidioides (14,037%), and Axonopus compresus (10,671%).