Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

PENINGKATAN KEMAMPUAN MASYARAKAT MELALUI SOSIALISASI PEMBUATAN PUPUK BIO ORGANIK DARI NASI BASI Ayu Qurota A'yun; Ansori Ansori; Ratri Sekaringgalih; Alif Nur Laili Rachmah; Yuni Susanti
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 7, No 2 (2023): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v7i2.14891

Abstract

ABSTRAKSampah dari limbah rumah tangga masih menjadi issue sampai sekarang ini, salah satunya yaitu nasi basi yang sudah berbau, dan berjamur. Nasi sisa yang menjadi basi sering dibuang begitu saja oleh masyarakat. Oleh karena itu perlulah memanfatkannya salah satunya menjadi pupuk bio organik dengan membuatnya menjadi MOL (Mikroorganisme Lokal) yang mengandung sebagian dari nutrisi-nutrisi penting yang dibutuhkan oleh tanaman yaitu nitrogen, fosfor, besi, dan kalsium, sehingga pupuk bio organik dapat digunakan sebagai pengganti pupuk kimia buatan. Pupuk bio organik memiliki keuntungan yaitu mudah diaplikasikan, unsur hara yang terdapat dalam pupuk ini mudah diserap oleh tanaman, dan mengandung mikroorganisme yang tidak ditemukan di pupuk kompos. Pembuatan pupuk bio organik yang sangat mudah dan alat yang dipakai sederhana ini diperkenalkan kepada masyarakat di Desa Kaliploso Banyuwangi dalam bentuk penyuluhan. Pencapaiannya masyarakat mendapatkan peningkatan pengetahuan dalam pengelolaan nasi basi terlihat dalam hasil kuisioner yang disebar sebanyak 20 peserta dengan capain 95%  menjawab sangat antusias dalam menerima ilmu baru terkait pembuatan pupuk bio organik. kata kunci: sampah; nasi basi; mol; pupuk bioorganik ABSTRACTStale rice is a household waste problem, so it needs processing. One process that utilizes stale rice is bio-organic fertilizer by making it into MOL (Local Microorganisms), which contains some of the essential nutrients required by plants, such as Nitrogen, Phosphorus, Iron, and Calcium. Bio-organic fertilizers can be used as a substitute for synthetic chemical fertilizers, which are expensive and complained about by farmers or the public, and they can be an alternative. This fertilizer has the advantage that it is easy to apply, the nutrients contained in the fertilizer are easily absorbed by plants, and it contains microorganisms that are not found in compost. Making this fertilizer is very easy and the tools used are very simple. The achievement of the community getting an increase in knowledge in managing stale rice was seen in the questionnaire distributed to as many as 20 participants who answered enthusiastically in receiving new knowledge related to making bioorganic fertilizers. Keywords: stale rice; mol; bio-organic fertilizer .
Edukasi Pembuatan Pestisida Nabati dari Kulit Bawang Merah di Desa Bagorejo Kabupaten Banyuwangi Ratri Sekaringgalih; Alif Nur Laili Rachmah; Yuni Susanti; Ayu Qurota A’yun; Ansori Ansori
Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol 8 No 2 (2023): Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat
Publisher : Universitas Mathla'ul Anwar Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30653/jppm.v8i2.335

Abstract

Pengabdian masyarakat di Desa Bagorejo bertujuan untuk mengoptimalkan potensi kulit bawang merah sebagai bahan baku pestisida nabati. Hal ini berkaitan dengan masyarakat Bagorejo yang mata pencaharian utamanya adalah petani. Namun, petani cenderung masih menggunakan pestisida kimia untuk membasmi hama. Sehingga pembuatan pestisida nabati merupakan jawaban untuk meminimalisir penggunaan pestisida kimia mengingat dampak penggunaan pestisida kimia yang cukup berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Harga pestisida kimia yang meningkat setiap tahunnya juga menjadi alasan untuk mendukung penggunaan pestisida nabati. Perkembangan pemanfaatan kulit bawang merah masih sangat minim, hal ini terjadi karena kurangnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat akan potensinya. Berdasarkan permasalahan tersebut, kami berinisiatif untuk memberikan solusi melalui sosialisasi dan praktek. Kegiatan diawali dengan sosialisasi potensi kulit bawang merah, pelatihan pembuatan pestisida nabati dari kulit bawang merah, serta evaluasi kegiatan. Hasil dari pengabdian ini yaitu masyarakat dapat memperoleh pengetahuan tambahan tentang potensi kulit bawang merah, dan manfaatnya selain sebagai limbah serta dapat mengolah kulit bawang merah sebagai pestisida nabati. Community service in Bagorejo Village aims to optimize the potential of red onion skin as a raw material for botanical pesticides. It relates to the Bagorejo community, where the main livelihood is farmers. However, farmers tend to still use chemical pesticides to eradicate pests. So that the manufacture of botanical pesticides is the answer to minimize the use of chemical pesticides, considering the impact of the use of chemical pesticides which are quite dangerous for human health and the environment. The price of chemical pesticides which has increased every year is also a reason to support the use of botanical pesticides. The development of red onion skin utilization is still very minimal, it occurs due to a lack of public awareness and knowledge about its potential. Based on these problems, we took the initiative to provide a solution through outreach and practice. The activity began with socializing the potential of red onion skin, training on processing red onion skin into botanical pesticides and evaluating the activities. The result of this service is the community gained a significant increase in knowledge related the knowledge of the potential of red onion skin, and apart from being a waste, it can also process red onion skin as a botanical pesticide.
Pemanfaatan Biji Lamtoro untuk Pembuatan Kecap dan Pemberdayaan Kelompok PKK di Desa Kaliploso Cluring, Banyuwangi Alif Nur Laili Rachmah; Yuni Susanti; Ayu Qurota A’yun; Ansori Ansori; Ratri Sekaringgalih
Warta LPM WARTA LPM, Vol. 26, No. 2, April 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (472.154 KB) | DOI: 10.23917/warta.v26i2.1094

Abstract

The community service program carried out in Kaliploso Village, Cluring District, Banyuwangi Regency is a sharing of knowledge from chemical engineering lecturers and students to the community. The aim of implementing this program is to increase the creativity of the Kaliploso community by using lamtoro seeds as an alternative to soybeans as the basic ingredient for making soy sauce with the addition of special spices. The program implementation method begins with outreach, training in making soy sauce, fostering independent production, to monitoring, and evaluation. First, socialization to the community regarding the natural potential in Kaliploso village, especially on the nutritional content of lamtoro seeds, secondly, training on making lamtoro soy sauce is explained in detail regarding the composition, tools used, and the stages of the soy sauce making process, thirdly, assistance and encouragement for independent production to participants who have formed 4 groups to make lamtoro soy sauce at home, the last stage is monitoring and evaluation carried out to measure the level of success of the program for utilizing the natural potential and community empowerment through training in making lamtoro soy sauce. The impact of the program that has been carried out can ignite the community to be more productive, create products that can add economic value and promote prosperity in Kaliploso village, and the soy sauce product "Cap Roso" which is produced as a product the hallmark of  Kaliploso village for more known by outsiders.
EDUKASI PEMBUATAN TEH BUNGA TELANG (Clitoria ternatea L.) DI DESA BAGOREJO KABUPATEN BANYUWANGI Ansori Ansori; Ratri Sekaringgalih; Alif Nur Laili Rachmah; Yuni Susanti; Ayu Qurota A’yun; Indahma Puji Lestari
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 7, No 3 (2023): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v7i3.17254

Abstract

ABSTRAKBunga telang (Clitoria ternatea L.) memiliki banyak kandungan seperti tanin, fenol, flavanoid, antosianin, saponin, antrakuinon, karbohidrat, steroid, dan protein. Selain itu, bunga telang memiliki bahan aktif yang berpotensi farmakologi, antara lain sebagai antioksidan, antidiabetes, antibakteri, anti-kanker, anti-inflamasi, antihistamin, analgesik, antiparasit, antimikroba, dan antikatarak. Bunga telang dapat mengobati batuk, infeksi tenggorokan, gangguan penglihatan, bisul, dan sebagai minuman kesehatan. Namun, sangat disayangkan apabila bunga telang ini tidak dimanfaatkan secara optimal. Oleh karena itu, dengan adanya kegiatan pengabdian pada masyarakat yang bertujuan untuk menambah pengetahuan dan memanfaatkan bunga telang secara optimal menjadi produk yang bermanfaat bagi kesehatan, yaitu minuman teh herbal bunga telang. Pengabdian masyarakat ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaraan masyarakat tentang pentingnya pola hidup sehat. Penyuluhan dan pelatihan pembuatan teh bunga telang melibatkan ibu-ibu PKK di desa Bagorejo. Penyajian materi diawali dengan pemberian kuisioner awal; penyampaian materi terkait potensi dan manfaat bunga telang, tata cara pembuatan teh bunga telang; dan yang terakhir diberikan lagi kuisioner akhir. Proses penyajian materi dilakukan dengan metode ceramah dan diskusi tanya jawab peserta dengan pemateri yang diikuti dengan antuias oleh peserta. Hasil kegiatan pengabdian ini meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait potensi dan manfaat bunga telang yang dapat dibuktikan dengan hasil jawaban pada kuisioner akhir, yaitu 100%. Kata kunci: bunga telang; desa Bagorejo; kesehatan; pengabdian masyarakat; teh herbal. ABSTRACTButterfly pea flower (Clitoria ternatea L.) has many ingredients such as tannins, phenols, flavonoids, anthocyanins, saponins, anthraquinones, carbohydrates, steroids, and proteins. In addition, butterfly pea flowers have active ingredients that have pharmacological potential, including antioxidants, antidiabetic, antibacterial, anti-cancer, anti-inflammatory, antihistamines, analgesic, antiparasitic, antimicrobial, and anticataract. Butterfly pea flowers can treat coughs, throat infections, vision problems, boil, and as a health drink. However, it is unfortunate that this butterfly pea flower is not used optimally. Therefore, with the existence of community service activities that aim to increase knowledge and optimally utilize the butterfly pea flower into a product that is beneficial to health, namely the butterfly pea herbal tea drink. This community service is expected to increase public awareness about the importance of a healthy lifestyle. Counseling and training on making butterfly pea tea involved PKK women in Bagorejo village. The presentation of the material begins with giving the initial questionnaire; delivery of materials related to the potential and benefits of butterfly pea flowers, procedures for making butterfly pea flower tea; and the last given another final questionnaire. The process of presenting the material was carried out using the lecture method and discussion of questions and answers between the participants and the presenters who were followed enthusiastically by the participants. The results of this community service activity increase public knowledge regarding the potential and benefits of the butterfly pea flower which can be proven by the answers to the final questionnaire, which is 100%. Keywords: bagorejo village; Clitoria ternatea L.; community service; health; herbal tea.
PEMBUATAN BIODEGRADABLE FILM DARI BIJI ALPUKAT (PERSIA AMERICANA): OPTIMASI DENGAN BOX-BEHNKEN DESIGN Ansori, Ansori; Rachmah, Alif Nur Laili; Sekaringgalih, Ratri
JURNAL TEKNOLOGI KIMIA MINERAL Vol 3 No 1 (2024): JURNAL TEKNOLOGI KIMIA MINERAL
Publisher : Politeknik ATI Makassaar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61844/jtkm.v3i1.833

Abstract

Biji buah alpukat (Persea americana) mengandung pati yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan biodegradable film. Biodegradable film merupakan plastik yang terbuat dari bahan polimer organik yang cenderung rapuh. Tahapan proses pembuatan biodegradable film dari biji buah alpukat adalah pemisahan pati dari biji buah alpukat, proses gelatinisasi dan uji degradasi metode soil burial test. Pembuatan edible film menggunakan proses gelatinisasi pada suhu 80oC, dengan penambahan gliserol (2;2,5;3)%v/v sebagai plasticizer, Carboxy methyl Cellulose (CMC) (2;2,5;3)%b/v sebagai filler, dan chitosan (1;1,5;2)%b/v sebagi pengental. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik, pengaruh gliserol, Carboxy methyl Cellulose (CMC) dan kitosan terhadap biodegradable film melalui uji degradasi. Hasil pemisahan pati dari biji buah alpukad di peroleh 20,56%, sedangkan karakteristik dari edible film paling baik diperoleh pada penambahan Carboxy methyl Cellulose CMC 2,5% (b/v), chitosan 1,5% (b/v) dan Gliserol 2,5% (v/v) yaitu plastik memiliki karakteristik lentur namun tidak mudah robek, mempunyai ketebalan 0.02 in dan kemampuan degradasi sebesar 52,8532%. Kondisi optimum untuk mendapatkan biodegradable film dari pati biji alpukat menggunakan metode ekstraksi dengan Box-Behnken design (BBD) adalah konsentrasi penambahan gliserol sebanyak 2,964%v/v, konsentrasi chitosan sebanyak 1,560%b/v, dan konsentrasi Carboxy Methyl Cellulose (CMC) sebanyak 2,849%b/v. Dimana pada kondisi optimum tersebut, diprediksi %biodegradable film maksimum yang diperoleh sebesar 53,113%.
Treatment Of The Gelatin Wastewater With Ozone Peroxide Advanced Oxidation Process Sekaringgalih, Ratri; Alif Nur Laili Rachmah; Gessantara, M. Febbia
Menara: Jurnal Teknik Sipil Vol. 18 No. 2 (2023): Menara : Jurnal Teknik Sipil
Publisher : Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/jmenara.v18i2.35143

Abstract

This research aims to decrease the level of COD, BOD5, and color in the liquid waste of the gelatin industry by using the ozonation process and hydrogen peroxide in order to meet the quality standards of the seaweed industrial waste. The reaction between ozone and peroxide called the peroxone process is one of the Advanced Oxidation Processes (AOPs). The combination of ozone with peroxide can result in a cheaper process. The result shows the lowest COD at the time of ozonation 160 minutes with the addition of hydrogen peroxide 30 ml was 932.39 mg/L (37.03%), the lowest BOD5 at ozonation 160 minutes with the addition of 25 ml hydrogen peroxide was 164.32 mg/L (48%) and the lowest color at 80 minutes of ozonation with the addition of 10 ml of hydrogen peroxide is 158 (73.75%). In the AOPs, the decrease in COD and BOD5 was higher than that of ozonation without hydrogen peroxide..
PERHITUNGAN NILAI ENERGI CELAH PITA MINYAK KAYU PUTIH MENGGUNAKAN DATA PENGUKURAN SPEKTROFOTOMETER UV-VIS Jaya, Gede Wiratma; Nggolaon, Delpina; Rumpakwakra, Ervina; Rachmah, Alif Nur Laili; Rahanra, Geraldi; Taipabu, Muhammad Ikhsan; Trisnantari, Tamaratritania Citta; Badaruddin, Sabrianah
JOURNAL ONLINE OF PHYSICS Vol. 10 No. 2 (2025): JOP (Journal Online of Physics) Vol 10 No 2
Publisher : Prodi Fisika FST UNJA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jop.v10i2.41575

Abstract

Minyak kayu putih merupakan salah produk pengolahan yang sering dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian minyak kayu putih sebagian besar fokus pada uji kualitas berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) 3954:2014 dan 06-3954-2001. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui energi celah pita minyak kayu putih dari berbagai macam produk. Sampel penelitian sebanyak tiga sampel yang berasal dari produk peyulingan di Pulau Buru (sampel A), toko oleh-oleh (sampel B), dan swalayan (sampel C) di Kota Ambon. Ketiga sampel dilakukan pengukuran serapan panjang gelombang menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Hasil pengukuran digunakan untuk menghitung nilai energi celah pita menggunakan metode Tauc Plot dengan transisi langsung Energi celah pita untuk sampel A, B, dan C masing-masing sebesar 3,404 eV, 3,348 eV, dan 3,722 eV. Hasil perhitungan menunjukkan minyak kayu putih memiliki potensi sebagai material pendukung dalam Dye Sensitized Solar Cell (DSSC). Hal ini dikarenakan nilai energi celah pita yang dihasilkan masih berada di area semikonduktor.
Sintesis dan Karakterisasi Kalsium Karbonat Presipitat dari Limbah Cangkang Telur melalui Metode Karbonasi Sekaringgalih, Ratri; Laili Rachmah, Alif Nur; Raharjo, Sonya Hakim; ., Ansori
Rekayasa Material, Manufaktur dan Energi Vol 8, No 2: JULI 2025
Publisher : Fakultas Teknik UMSU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/rmme.v8i2.24583

Abstract

Precipitated Calcium Carbonate (PCC) is a synthetic form of calcium carbonate (CaCO₃) with a dominant calcite crystal structure, widely used in various industrial applications such as fillers in the paper, plastic, paint, and pharmaceutical industries. This study aims to synthesize PCC from chicken eggshell waste through the carbonation method and determine the optimum conditions based on variations in sulfuric acid (H₂SO₄) concentration and carbonation time.The synthesis process begins with a reaction between eggshell powder and H₂SO₄ solution to produce calcium sulfate (CaSO₄), which is then converted into a Ca(OH)₂ solution through dissolution and precipitation. This solution is subsequently carbonated using CO₂ gas to produce PCC precipitate. Variations in H₂SO₄ concentration used were 1 M, 1.5 M, and 2 M, while the carbonation times were 60, 75, and 90 minutes. The synthesized PCC was characterized using Fourier-transform infrared spectroscopy (FTIR), X-ray fluorescence (XRF), and X-ray diffraction (XRD).Based on the analysis results, the optimum condition was achieved at 2 M H₂SO₄ concentration and 90 minutes of carbonation. Under these conditions, XRD analysis showed a diffraction pattern characteristic of calcite as the dominant crystal form, while FTIR analysis exhibited sharp absorption peaks of the carbonate group (CO₃²⁻) in the range of 1400–870 cm⁻¹, indicating a high CaCO₃ content in the sample. XRF analysis confirmed a calcium content of 89.88% in the resulting PCC product. These results demonstrate that chicken eggshell waste has great potential as an environmentally friendly alternative raw material for the production of PCC using the carbonation method.Keywords: Precipitated Calcium Carbonate (PCC), eggshell, carbonation method, H₂SO₄
SUPERIOR PERFORMANCE IN REACTIVE DISTILLATION METHOD FOR INDUSTRIAL APPLICATION: A CASE STUDY OF ETHYL LACTATE PRODUCTION Taipabu, Muhammad Ikhsan; Rahanra, Geraldi; Rachmah, Alif Nur Laili; Badaruddin, Sabrianah; Trisnantaria, Tamaratritania C.; Tan, Clarissa
ALE Proceeding Vol 7 (2025): Archipelago Engineering (ALE)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ale.7.2025.97-104

Abstract

Ethyl lactate, a biodegradable and environmentally friendly solvent, offers a sustainable alternative to conventional petroleum-based solvents. This study presents a comprehensive evaluation of ethyl lactate production through both conventional and intensified process designs using rigorous process simulation. The reactive distillation column (RDC) was identified as the most efficient configuration, achieving notable reductions in total capital cost (57.3%) and total operating cost (40.2%) compared to traditional setups. The NRTL thermodynamic model was employed to accurately capture non-ideal behavior among reactive components, and kinetic parameters were validated against experimental data. The results demonstrate that RDC-based process intensification significantly enhances economic performance while promoting sustainable chemical manufacturing, positioning it as a promising approach for future green solvent production.
Edukasi ecoprint dengan teknik pounding berbasis kearifan lokal, sebagai pewarnaan ramah lingkungan di Mamala, Maluku Tengah Trisnantari, Tamaratritania Citta; Rachmah, Alif Nur Laili; Rahanra, Geraldi; Taipabu, Muhammad Ikhsan; Badaruddin, Sabrianah; Rumpakwakra, Ervina; Jaya, Gede Wiratma; Nggolaon, Delpina; Alzagladi, Safina Utari
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 5 (2025): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i5.34077

Abstract

Abstrak Penggunaan pewarna sintetis dalam industri tekstil dapat menimbulkan risiko pencemaran lingkungan dan membahayakan kesehatan manusia. Oleh karena itu, ecoprint hadir sebagai alternatif pewarnaan ramah lingkungan yang memanfaatkan warna alami dari tumbuhan. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan memberikan edukasi tentang bahaya pewarna sintetis, memperkenalkan ecoprint dengan teknik pounding, serta memanfaatkan kearifan lokal berupa tumbuhan sekitar sebagai pewarna alami. Mitra kegiatan ini adalah SMAS Muhammadiyah Mamala, Maluku Tengah, dengan peserta sebanyak 32 orang (30 siswa dan 2 guru). Metode pelaksanaan mencakup ceramah, diskusi, demonstrasi, dan praktik langsung pembuatan ecoprint pada tas katun menggunakan daun lokal seperti pakis dan pepaya jepang. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test serta observasi selama kegiatan berlangsung. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman peserta terhadap dampak pewarna sintetis dan prinsip ecoprint. Sebanyak 30 peserta menyatakan ingin kembali mencoba praktik ecoprint. Secara umum, peserta menunjukkan antusiasme tinggi dan mampu menghasilkan motif ecoprint yang unik. Meskipun terdapat kendala seperti keterbatasan alat dan hasil cetakan yang kurang jelas, kegiatan berjalan lancar dan memberi dampak positif terhadap peningkatan kesadaran lingkungan serta keterampilan kreatif peserta. Edukasi ecoprint ini berpotensi dikembangkan sebagai bagian dari kewirausahaan berbasis sekolah dengan pendekatan edukatif dan berkelanjutan. Kata kunci: ecoprint; teknik pounding; edukasi lingkungan; kearifan lokal; pewarna alami. Abstract The use of synthetic dyes in the textile industry poses significant risks to both environmental and human helath. As a sustainable alternative, ecoprint utilizes natural pigments from plant materials to create textile patterns without generating hazardous chemical waste. This community service program aimed to raise awareness about the environmental hazards of synthetic dyes, introduce the pounding technique in ecoprinting, and promote the use of local plant resources as natural dyes rooted in local wisdom. The activity was carried out at SMAS Muhammadiyah Mamala, Central Maluku, involving 32 participants (30 students and 2 teachers). The program combined educational lectures, discussions, demonstrations, and hands-on workshops in which participants applied the pounding technique to cotton tote bags using local foliage such as ferns and Japanese papaya leaves. Evaluation through pre- and post-tests, along with direct observation, indicated a significant improvement in participants’ understanding of eco-friendly dyeing practices. Most participants expressed strong interest in continuing ecoprinting activities. Despite minor challenges—such as limited tools and difficulties in achieving sharp prints—the program was successfully implemented. It fostered environmental awareness, creativity, and practical skills among students. This initiative demonstrates strong potential to be further developed into a school-based entrepreneurship model with ecological and educational value. Keywords: ecoprint; pounding technique; environmental education; local wisdom; natural dyes.