Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Perbedaan Tingkat Kelekatan dan Kemandirian Mahasiswa Ditinjau dari Jenis Kelamin Hasmalawati, Nur; Hasanati, Nida
Psikoislamedia: Jurnal Psikologi Vol. 3 No. 1 (2018): PSIKOISLAMEDIA : JURNAL PSIKOLOGI
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri (UIN) Ar Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/psikoislamedia.v3i1.2472

Abstract

This study aims to determine the differences in attachment and self-direction in students. Subjects in this study were male and female students totaling 60 people, consisting of 30 men and 30 women whose ages ranged from 19-24 years. This study uses a different test analysis. Data collection techniques using a Likert Scale. The results of the analysis show that there is a a difference between the level of attachment and self direction in men and women. This is seen from the value of t= 0.2714 and sig 0.0009 < 0.05 which indicates that there are differences in the level of attachment of men and women. Likewise with self-direction, the results of the analysis indicate that there are differences in the level of self-direction of men and women seen from the value of t= 0.2794 and sig. 0.007< 0.05.
Pengaruh Kualitas Kehidupan Kerja dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Hasmalawati, Nur; Hasanati, Nida
Mediapsi Vol 3 No 2 (2017): DECEMBER
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.mps.2017.003.02.1

Abstract

This study aims to determine the effect of Quality of Work Life (QWL) and work motivation on employee performance. Subjects in this study were 50 TB-HIV Cadres, consisting of 36 women and 14 men whose ages ranged from 18 to 63 years old. This study applied multiple linear regression in analyzing data obtained from Likert-scale questionnaires. The results show that the QWL is significantly influential on performance, with R Square 0.313 and p-value 0.000, meaning that the QWL affects performance with 31% contribution. Meanwhile, the rest was influenced by other variables. However, work motivation seems to have no effect on performance (p>0.05). The practical implication of this study would be the more the manager is taking care of their employee’s QWL, the higher the performance of their employee will be. This subsequently may result in more productive employee in improving services to the society.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kualitas kehidupan kerja atau Quality of Work Life (QWL) dan motivasi kerja terhadap kinerja karyawan. Subjek dalam penelitian ini adalah adalah Kader TB-HIV yang berjumlah 50 orang, terdiri dari 36 orang perempuan dan 14 orang laki-laki dengan rentang usia antara 18-63 tahun. Penelitian ini menggunakan analisis regresi linear ganda untuk menganalisis data yang diperoleh dari kuesioner-kuesioner berbentuk skala Likert. Hasil analisis menunjukkan bahwa kualitas kehidupan kerja secara signifikan berpengaruh terhadap kinerja. Hal ini dapat dilihat dari nilai R Square sebesar 0.313 dan nilai p sebesar 0.000 yang bermakna bahwa kualitas kehidupan kerja sebagai variabel bebas mempengaruhi variabel terikat yaitu kinerja sebesar 31%, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain. Sementara itu, motivasi kerja tidak memiliki efek terhadap kinerja (p>0,05). Implikasi praktis dari penelitian ini adalah semakin tinggi kehidupan kerja karyawan, maka semakin tinggi pula kinerja karyawan. Hal ini selanjutnya dapat membuat karyawan lebih produktif dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
Memberdayakan Anak Berkebutuhan Khusus: Deteksi Dini dan Intervensi Dasar di Pulau Aceh Amalia, Hanna; Hasmalawati, Nur; Ulfa, Maria; Hasanah, Uswatun
Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 9 No 4 (2025): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/aks.v9i4.25937

Abstract

Salah satu faktor penyebab Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) tidak dapat menjalani pendidikan formal adalah jarak yang jauh untuk dapat menjalani pendidikan atau bahkan tidak tersedianya fasilitas tersebut di daerahnya. Selain itu, kurangnya pemahaman masyarakat tentang ABK membuat masyarakat tidak sadar bahwa di sekitarnya ada ABK. Seringkali, ABK diberi label sebagai “anak bandel”, “anak cacat”, sehingga cara penanganan yang diberikan pun sesuai dengan label yang diberikan, seperti dibiarkan karena dianggap sudah bawaan sejak lahir, atau bahkan dihukum secara keras. Penanganan yang tidak tepat inilah akhirnya akan memberikan dampak terhadap perkembangan ABK. Seperti yang terjadi di salah satu kecamatan di Aceh Besar, yaitu Pulau Aceh, masyarakat disana sebagian besar tidak mengetahui dan memahami apa itu ABK dan bagaimana cara penanganannya, sehingga masyarakat yang memiliki ABK mengalami kesulitan dalam menghadapi ABK. Adapun hasil dari kegiatan ini, diharapkan adanya pengetahuan dasar tentang ABK baik itu karakteristiknya maupun penanganan ABK bagi orangtua, guru maupun masyarakat yang ada di Pulau Aceh, sehingga ABK yang ada di daerah tersebut dapat berkembang secara optimal.