Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search
Journal : Culture

Ritual Ngunggah Beras dalam Acara Ewoh Orang Jawa di Dharmasraya Walinda Sari, Lipah; Amri, Emizal; Fitriani, Erda
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 1 No 4 (2020): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (June 2020)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v1i4.45

Abstract

Artikel ini ditulis berdasarkan penelitian mengenai ritual ngunggah beras dalam acara Ewoh orang Jawa di Jorong Aur Jaya Nagari Koto Padang. Dilihat dari segi pendekatannya, penelitian ini termasuk kualitatif dengan tipe etnografi. Pemilihan informan dilakukan dengan cara purposive sampling,dan data dianalisis dengan perspektif teori Interpretatif yang dikemukakan oleh Clifford Geertz. Hasil penelitian mengungkapkan, makna ritual ngunggah beras bagi masyarakat Jorong Aur Jaya mengadopsi makna; (1) penghormatan terhadap Dewi Sri dan roh nenek moyang; (2) wahana untuk menjauhkan dan melindungi masyarakat dari bahaya; (3) menunjukkan prestise bagi orang Jawa; dan (4) wujud kebersamaan, keempat temuan tersebut mengidentifikasi bahwa singkretisme di kalangan orang Jawa di Jorong Aur Jaya.
Makna Upacara Kematian Malapeh-lapeh bagi Masyarakat Nagari Taluak Pesisir Selatan Besfi Apri Yolanda; Emizal Amri; Erda Fitriani
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 1 No 3 (2020): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (March 2020)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v1i3.37

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan makna upacara kematian malapeh-lapeh bagi masyarakat Nagari Taluak Pesisir Selatan. Upacara kematian merupakan bagian penting dalam lingkaran hidup manusia. Kematian tidak hanya merupakan proses peralihan manusia yang berpindah kehidupan ke alam roh, namun bagi suatu masyarakat terdapat makna yang dalam, sehingga upacara ini sangat penting dilaksanakan. Masyarakat nagari melaksanakan rangkaian upacara kematian yang biasa dilakukan oleh masyarakat Islam Minangkabau, akan tetapi sedikit berbeda dengan daerah lain yaitu adanya upacara malapeh lapeh. Penelitian ini merupakan penelitian etnografi dengan teknik pemilihan informan dilakukan melalui purposive sampling yang berjumlah 30 orang. Data dikumpulkan melalui observasi partisipasi, wawancara mendalam dan studi dokumen. Data yang diperoleh dianalisis mengacu pada model analisis interpretatif yang dikembangkan oleh Clifford Geertz. Hasil penelitian makna dari upacara malapeh-lapeh adalah, sebagai penghargaan terhadap ninik mamak, nilai solidaritas sosial dalam masyarakat dan identitas masyarakat Nagari.
Ritual Ngunggah Beras dalam Acara Ewoh Orang Jawa di Dharmasraya Lipah Walinda Sari; Emizal Amri; Erda Fitriani
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 1 No 4 (2020): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (June 2020)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v1i4.45

Abstract

Artikel ini ditulis berdasarkan penelitian mengenai ritual ngunggah beras dalam acara Ewoh orang Jawa di Jorong Aur Jaya Nagari Koto Padang. Dilihat dari segi pendekatannya, penelitian ini termasuk kualitatif dengan tipe etnografi. Pemilihan informan dilakukan dengan cara purposive sampling,dan data dianalisis dengan perspektif teori Interpretatif yang dikemukakan oleh Clifford Geertz. Hasil penelitian mengungkapkan, makna ritual ngunggah beras bagi masyarakat Jorong Aur Jaya mengadopsi makna; (1) penghormatan terhadap Dewi Sri dan roh nenek moyang; (2) wahana untuk menjauhkan dan melindungi masyarakat dari bahaya; (3) menunjukkan prestise bagi orang Jawa; dan (4) wujud kebersamaan, keempat temuan tersebut mengidentifikasi bahwa singkretisme di kalangan orang Jawa di Jorong Aur Jaya.
Hak Waris Sako dan Pusako Bagi Anak Naiak di Nagari Surantih Feni Octafia Dwi Putri; Emizal Amri
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 3 No 1 (2021): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (September 2021)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v3i1.91

Abstract

Penelitian ini difokuskan pada hak waris sako dan pusako bagi anak naiak di Nagari Surantih. Sako dan pusako diwariskan kepada anak perempuan dan laki-laki sebuah keluarga di dalam kaum/ suku tertentu. Sebagai pendukung budaya Minang, masyarakat Surantih mengenal sako dan pusako yang bisa diwariskan kepada generasi penerus berdasarkan garis keturunan matrilineal. Sako dan pusako diwariskan kepada anak perempuan dan laki-laki sebuah keluarga di dalam kaum/suku tertentu. Problemnya sekarang adalah anak naiak yang dilahirkan dalam sebuah keluarga, juga mengakui dan diakui ada keluarga lamanya, serta diakui juga oleh masyarakat setempat. Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif dengan metode etnografi. Pemilihan informan dilakukan secara purposive sampling, dan data dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara, dan studi dokumen. Untuk mendapatkan keabsahan data dipilih teknik triangulasi sumber. Analisis dilakukan mengacu pada model analisis etnografi yang dikembangkan Cliffort Geertz, meliputi: hermeneutik data, menginterpretasikan data, interpretatif yang dipresentasikan. Hasil penelitian menunjukkan hak waris sako dan pusako bagi anak naiak di Nagari Surantih ditentukan berdasarkan garis keturunan matrilineal; dan sako sepersukuan berdasarkan ikatan sesuku. Untuk hak waris pusako, di keluarga lamanya anak naiak mendapatkan pusako rendah yang berasal dari hasil mata pencaharian ayah dan ibunya dahulu, pada keluarga baru ia memiliki hak waris pusako rendah dan pusako tinggi, tidak ada pembedaaan karena si anak naiak merupakan anak kandung dari keluarga baru.
Fungsi Tuor Bagi Orang Mandailing Yulia Risa; Emizal Amri
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 3 No 2 (2021): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2021)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v3i2.94

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fungsi pemberian Tuor dalam adat Mandailing di Jorong Ranto Panjang Nagari Rabi Jonggor Kecamatan Gunung Tuleh Kabupaten Pasaman Barat. Fokus dari artikel ini yaitu pemberian Tuor (maskawin) dari pihak laki-laki kepada perempuan dalam adat perkawinan orang Mandailing di Ranto Panjang. Mengingat masyarakat yang berda di Pasaman Barat memiliki suku bangsa yang beragam seperti Minang, Melayu, Mandailing dan Jawa yang memiliki kebudayaan berbeda-beda disetiap daerahnya. Akan tetapi pemeberian Tuor tetap dipertahankan dan selalu ada sebelum upacara perkawinan orang Mandailing baik yang menikah dengan sesama suku mandailing maupun tidak dengan orang Mandailing. Acara penetapan Tuor dilaksanakan pada acara Marsapa (meminang). Teori yang digunakan dalam artikel ini adalah teori fungsionalisme yang dikemukakan oleh Bronislaw Malinowski. Penelitian dilakukan dengan menerapkan pendekatan kualitatif dengan tipe Etnografi. Informan dipilih secara pusposive sampling. Data dikumpulkan melalui teknik wawancara mendalam (indepth interview), observasi, studi dokumen. Teknik analisis data mengacu pada teknik analisis etnografi yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman melipiti: data reduction (reduksi data), data displey (penyajian data), verification analysis (menarik kesimpulan). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan fungsi pemberian Tuor pada masyarakat Mandailing di Ranto Panjang adalah: (1) penguatan ikatan dua keluarga; (2) menjunjung tinggi tradisi yang diwarisi dari generasi terdahulu; (3) menghormati orang tua si gadis; (4) penghargaan terhadap status pendidikan perempuan; dan (5) mendapatkan legalitas perkawinan secara adat.
Makna Upacara Kematian Osongkapali Amia Lugita; Emizal Amri
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 3 No 2 (2021): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2021)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v3i2.95

Abstract

Penelitian ini menjelaskan makna simbol pada upacara Osongkapali di Nagari Sungai Patai, Sungayang Kabupaten Tanah Datar. Upacara Osongkapali merupakan upacara kematian Penghulu suku, tahapan prosesi yang dilaksanakan sedikit berbeda dengan upacara kematian masyarakat biasa yaitu adanya makna simbol yang digunakan pada upacara Osongkapali. Problem ini dinilai menarik untuk dikaji, mengingat budaya khas masyarakat local ini, sudah banyak yang tidak dipahami maknanya oleh generasi penerus. Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif dengan metode etnografi. Pemilihan informan dilakukan secara purposive sampling, dan data dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara, dan studi dokumen. Untuk mendapatkan keabsahan data dipilih teknik triangulasi sumber. Analisis ini didasarkan pada model analisis etnografi yang dikembangkan Cliffort Geertz, meliputi: hermeneutik data, menginterpretasikan data, interpretatif yang dipresentasikan. Hasil penelitian menunjukkan makna simbol pada upacara Osongkapali merupakan penghormatan terakhir kepada “penghulu suku” yang sudah banyak berjasa pada kaumnya, dan suatu bentuk kebesaran penghulu suku.
Jago Malam Dalam Rangkaian Upacara Sunatan Di Nagari Koto Tuo Kabupaten Tanah Datar Feronika Daely; Emizal Amri
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 1 No 1 (2019): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (September 2019)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/culture/vol1-iss1/2

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggali makna masyarakat Koto Tuo melakukan kegiatan Jago Malam setelah sunatan pada siang harinya dan bagaimana masyarakat setempat memandang kegiatan tersebut. Dilihat dari segi jenisnya, penelitian ini termasuk penelitian kualitatif dengan metode studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan studi dokumen. Analisa data yang dipakai adalah model analisa interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Jago malam ialah suatu kegiatan dalam rangkaian upacara sunatan di nagari Koto Tuo. Kegiatan ini dilakukan sekali setahun tepatnya 29 Sya’ban dan kegiatan jago malam yang yang dimulai setelah anak dari tuan rumah sudah bersunat. Pada malam itu dilakukan permainan Koa maupun Remi, dalam beberapa kasus Jago Malam dimeriahkan berupa orgen tunggal maupun saluang; (2) Permainan Koa yang dilakukan secara kelompok selama Jago Malam disebut oleh warga setempat dengan Labuan. Jumlah pemain dalam satu labuan bisa berbeda tergantung jumlah pemain yang datang untuk bermain. Dalam satu labuan pemain bisa bermain individual atau berpasangan tergantung kesepakatan bersama. Seorang pemain dikatakan menang, jika sudah melewati tiga kali putaran atau tiga kali sampai oleh para pemain.
Konflik Perebutan Harta Warisan Dalam Keluarga Pada Masyarakat Pulau Temiang Miftahul Jannah; Emizal Amri
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 1 No 1 (2019): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (September 2019)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/culture/vol1-iss1/3

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggali penyebab dan solusi konflik harta warisan dalam masyarakat Pulau Temiang. Penyelesaian konflik tersebut dilakukan dalam keluarga melalui musyawarah para ahli waris yang disaksikan oleh tokoh adat dan pemerintahan desa. Teori yang dipakai dalam penelitian ini adalah teori konflik dari Lewis A. Coser. Pendekatan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan tipe studi kasus, teknik pemilihan informan yaitu purposive sampling dengan jumlah informan sebanyak 30 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi partisipasi pasif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi yang dianalisis dengan mengacu pada teknik analisis data yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penyebab terjadinya konflik harta warisan adalah dominasi dari ahli waris tertua dan kecemburuan terhadap perempuan bungsu. Solusi konflik melalui musyawarah keluarga cenderung menyisakan konflik laten (tersembunyi). Putusan yang diberikan tidak bersifat mengikat karena tidak adanya sanksi terhadap pelanggaran terhadap hasil putusan yang diberikan. Selain itu, masyarakat enggan menaikkan kasus ini ke pengadilan negeri karena biaya yang tinggi.
Kasua Adaik di Nagari Batipuah Nourend Deona; Emizal Amri
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 1 No 2 (2019): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2019)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v1i2.22

Abstract

Artikel ini membahas tentang makna Kasua Adaik dalam masyarakat dan budaya Batipuah. Kasua Adaik merupakan sebuah atribut adat yang ada disetiap rumah penduduk di Batipuah. Kasua Adaik pada dasarnya bukan berbentuk kasur biasa, akan tetapi berbentuk seperti peti persegi panjang yang bertingkat-tingkat. Kasua Adaik dianggap sebagai simbol kedudukan Niniak Mamak dan status sosial tradisional masyarakat Batipuah. Penelitian ini dianalisis dengan menggunakan teori Interpretatif Simbolik oleh Clifford Geertz. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan tipe etnografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kasua Adaik di Nagari Batipuah mengandung makna: (1) Stratifikasi Sosial; (2) Identitas masyarakat Batipuah; dan (3) Tando kamanakan lai bamamak
Fungsi Malangge Bagi Masyarakat Nagari Koto Malintang Ningsih Sri Wahyuni; Emizal Amri
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 1 No 2 (2019): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2019)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v1i2.23

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang fungsi Malangge bagi masyarakat di Nagari Koto Malintang. Pertanyaan penelitian, apa fungsi malangge bagi masyarakat. Pendekatan penelitian ini termasuk kualitatif dengan tipe penelitian studi etnografi Teknik pemilihan informan dengan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui teknik: observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumen. Untuk mendapat keabsahan data dilakukan triangulasi yaitu: triangulasi sumber. Data dianalisis menggunakan model analisis interaktif dari Miles dan Huberman. Temuan penelitian fungsi malangge bagi masyarakat Nagari Koto Malintang adalah: Pertama, malangge sebagai fungsi ekonomi bagi masyarakat diantaranya: (1) menambah uang belanja. (2) mengisi pariuak bareh. (3) untuk membeli rokok sebatang. Kedua, malangge sebagai fungsi sosial bagi masyarakat, diantarnya: (1) untuk saling berbagi satu sama lain, (2) menjalin silaturrahmi. Ketiga, malangge ditengah-tengah masyarakat.