Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Sundanese "Kecap Anteuran" from the perspective of Japanese onomatopoeia Risagarniwa, Yuyu Yohana; Lyra, Hera Meganova; Sopian, Rahmat
Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia Vol. 26, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

One of the distinctive features of the Sundanese language is the use of Kecap Anteuran (KA), or verb intensifiers. This linguistic feature often poses challenges when translating Sundanese into foreign languages, particularly European languages. However, we argue that Sundanese KA demonstrates a higher degree of translatability into Japanese, a language that also uses verb intensifiers similar to those found in Sundanese. In Japanese, words analogous to Sundanese KA are categorized as giongo-gitaigo, although the term onomatope is more commonly used. This study aims to identify Sundanese KA based on Tamori’s classification of Japanese onomatopoeia. Using a descriptive-qualitative approach, we examine (Sound [S] and Mentality [M]) onomatopoeia. The findings reveal that Sundanese onomatopoeic and non-onomatopoeic KA align with their respective Japanese counterparts as classified by Tamori, based on their associations with sensations, perceptions, emotional states, and the descriptions of activities.
TINJAUAN KONVENSI PUISI (PUPUH DAN SYAIR) DALAM NASKAH WAWACAN RAWI MULUD: TINJAUAN KONVENSI PUISI (PUPUH DAN SYAIR) DALAM NASKAH WAWACAN RAWI MULUD Rahmat Sopian
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 6 No 2 (2024): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Juni 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v6i2.243

Abstract

Wawacan Rawi Mulud (WRM) merupakan naskah yang bernuansa keagamaan, yakni agama Islam. Secara garis besar WRM menceritakan tentang proses turun-temurunnya Nur Muhammad. Naskah ini berasal dari Tasikmalaya namun menurut kolofon naskah, naskah ini ditulis di Sumedang. WRM ini tidak seperti wawacan pada umumnya karena selain dibangun oleh pupuh juga dibangun oleh syair. Total secara keseluruhan jumlah bait dalam WRM berjumlah 773 bait yang terbagi menjadi 38 kanto. Bait-bait dalam WRM tersebar dalam 9 Syair dan 13 Pupuh. Adapun ketiga belas pupuh tersebut adalah: Sinom, Asmarandana, Dangganggula, Pangkur, Kinanti, Kumambang, Mijil, Pucung, Durma, Gambuh, Magatru, dan Wirangrong. dari syair dan pupuh yang disajikan dalam WRM beberapa di antaranya tidak sesuai dengan pola metrum yang telah baku. Pada syair secara umum jumlah suku kata adalah 10 namun ditemukan juga yang berjumlah 9. Kemudian pada pupuh untuk Mijil terjadi perubahan Guruwilangan (jumlah suku kata) padalisan (baris) empat dari 10 menjadi 9. Kemudian pola metrum Gambuh terjadi perubahan Guruwilangan (jumlah suku kata) padalisan (baris) pertama dari 7 menjadi 8.
KOMUNITAS MUDA PENCINTA SENI KOROMONG DI DUSUN CIKUBANG, DESA SUKAHAYU, RANCAKALONG, SUMEDANG, JAWA BARAT Sopian, Rahmat; Meganova Lyra, Hera; Ruhimat, Mamat
Midang Vol 2 No 3 (2024): Midang, Oktober 2024
Publisher : Unpad Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/midang.v2i3.58696

Abstract

Seni Koromong adalah sejenis kesenian tradisional dengan alat musik utama gamelan Koromong. Kesenian ini telah ada sejak lama dan masih eksis sampai dengan hari ini. Dalam perkembangannnya, seni Koromong tidak hanya dimainkan oleh para pemain senior, namun dimainkan pula oleh para generasi muda. Sebagai bentuk dukungan untuk komunitas muda pencinta seni Koromong tim PPM FIB Unpad bekerjasama dengan tim Mahasiswa KKN-PPM 2024 Universitas Padjadjaran kelompok 19 membuat program dokumentasi dalam bentuk pembuatan artikel feature dan booklet mengenai seni Koromong.
PEMANFAATAN MEDIA SOSIAL UNTUK MEMPERKENALKAN SENI KOROMONG Sopian, Rahmat; Meganova Lyra, Hera; Ruhimat, Mamat
Midang Vol 3 No 1 (2025): Midang, Februari 2025
Publisher : Unpad Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/midang.v3i1.61549

Abstract

Seni Koromong adalah sebuah seni pertunjukkan yang ada di Dusun Cikubang, Desa Sukahayu, Kecamatan Rancakalong Kabupaten Sumedang. Seni ini merupakan warisan budaya yang syarat dengan nilai-nilai luhung. Kesenian ini muncul dan tumbuh bersama masyarakat sebagai bentuk rasa syukur atas anugerah yang telah diberikan oleh Sang Maha Pencipta khususnya kepada warga Dusun Cikubang. Sebagai upaya edukasi kepada masyarakat luas dan pelestarian seni Koromong, tim PPM FIB Unpad bekerjasama dengan tim Mahasiswa KKN-PPM 2024 Universitas Padjadjaran kelompok 19 membuat program pemanfaatan media sosial untuk memperkenalkan seni Koromong. Media sosial yang digunakan adalah Instagram dan TikTok yang menampilkan video-video pendek dan poster terkait seni Koromong. Dalam waktu satu bulan, konten-konten yang ditampilkan telah ditayangkan lebih dari sembilan ribu tayangan.
REVITALISASI KESENIAN KOROMONG MELALUI PEMBUATAN BUKU ANAK Sopian, Rahmat; Ruhimat, Mamat; Meganova Lyra, Hera
Midang Vol 3 No 3 (2025): Midang, Oktober 2025
Publisher : Unpad Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/midang.v3i3.63909

Abstract

The Community Service Program (PPM) is one of the Tri Dharma (three pillars) and an integral part of education and research for lecturers. At Padjadjaran University, one effort to optimize and regenerate PMM is by collaborating PPM with Student Study Service (KKN). This project was carried out by lecturers from the Faculty of Cultural Sciences and students of Padjadjaran University in Sukahayu Village, Rancakalong District, Sumedang Regency, with a focus on revitalizing the traditional art of Koromong. As a local cultural heritage, Koromong has been facing a decline due to reduced youth interest and limited documentation. The program aimed to revive this art through an educational approach by developing a children’s book titled “Jelajah Nada Ceria Koromong” ‘Exploring the Cheerful Melody of Koromong’. The book, designed as an illustrated story, introduces the history, instruments, costumes, and cultural values of Koromong in a way that is accessible to elementary students. The results indicate an increase in students’ understanding and appreciation of local arts, along with greater community awareness of cultural preservation. Collaboration among lecturers, students, traditional artists, educators, and the village government contributed to the program’s success. The team further recommends the digitalization of the book and documentation of Koromong performances to ensure long-term accessibility and sustainability in promoting cultural literacy in the digital era.
Kisah Putra Rama dan Rawana Abad XV Masehi Rekonstruksi Teks yang Terserak Mamat Ruhimat; Rahmat Sopian
Manuskripta Vol 8 No 1 (2018): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v8i1.97

Abstract

This paper describes the research and reconstruction of Kisah Putra Rama and Rawana text in the XV Century. The research was conducted toward three manuscripts of Kisah Putra Rama and Rawana (PRR), which are collections of West Java State Museum “Sri Baduga” and Kabuyutan Ciburuy, Garut Regency. PRR is one of Old Sundanese literature which were written in the sixteenth century AD. The story tells the war between the son of Rama, King of Lengkawati and the son of Rawana, the king of Lengkapura which took place after Rawana passed away and Rama attained moksha. The PRR manuscripts of Kabuyutan Ciburuy are scattered in six kropaks which leaves (lempir) are mixed with leaves from other texts. The first groups, which are consisted of Kropak 17, Kropak 18, Kropak 22, the fourth leaf, and Kropak 26, is called Manuscript A. The second groups, which are consisted of Kropak 24, the third leaf of Kropak 26, and the fifth leaf of Kropak 29, is called Manuscript C. Moreover, the PRR text which has been initially published is called Manuscript B. === Makalah ini menguraikan penelitian dan rekonstruksi terhadap teks Kisah Putra Rama dan Rawana Abad XVI Masehi. Penelitian dilakukan terhadap tiga naskah Kisah Putra Rama dan Rawana (PRR) dari koleksi Museum Negeri Jawa Barat “Sri Baduga” dan koleksi Kabuyutan Ciburuy Kabupaten Garut. PRR merupakan salah satu karya sastra Sunda Kuno yang ditulis pada abad ke-16 Masehi. Isinya mengisahkan peperangan antara putra Rama Raja Lengkawati dengan putra Rawana Raja Lengkapura setelah Rawana gugur dan Rama moksa. Naskah koleksi Kabuyutan Ciburuy tercecer dalam enam kropak yang sebagian lempirannya bercampur dengan lempiran dari teks lain. Keenam naskah PRR yang tercecer dan berbeda bacaan kemudian dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama yang terdiri dari Kropak 17, Kropak 18, Kropak 22, lempir keempat dan kelima Kropak 26 disebut Naskah A. Kelompok kedua yaitu lempir kedua Kropak 24, lempir ketiga Kropak 26, dan lempir kelima Kropak 29 disebut Naskah C. Sedangkan teks PRR yang sudah diterbitkan lebih dahulu disebut Naskah B.