Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PENERAPAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN BUAH STROBERI MENJADI PRODUK BERNILAI EKONOMI DI DESA SEMBALUN KECAMATAN SEMBALUN KABUPATEN LOMBOK TIMUR Novia Rahayu; Zainuri Zainuri; Rini Nofrida; Dewa Nyoman Adi Paramartha; Qabul Dinanta Utama; Ines Marisya Dwi Anggraini
Jurnal Pepadu Vol 4 No 2 (2023): Jurnal Pepadu
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/pepadu.v4i2.2510

Abstract

Buah stroberi adalah salah satu komoditi hasil pertanian di desa Sembalun yang dikenal memiliki banyak manfaat bagi tubuh. Selama ini pemanfaatan komoditas ini hanya terbatas pada penjualan produk segar kepada para wisatawan yang datang ke desa Sembalun. Hasil samping dari produk segar buah stroberi adalah buah sisa sortir seperti buah kurang matang, buah kecil, dan buah yang matangnya tidak merata. Buah sisa sortir ini seringkali tidak dimanfaatkan karena tidak bernilai ekonomi di mata masyarakat dan umumnya hanya dikonsumsi pribadi ataupun dibuang karena mengalami kebusukan akibat jumlahnya yang cukup banyak dan tak jarang menimbulkan kerugian bagi petani. Hal ini tentunya sangat disayangkan mengingat buah stroberi sisa sortir masih memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi beberapa produk unggulan pasar. Salah satu teknologi pengolahan yang dapat diterapkan untuk buah stroberi sisa sortir adalah teknologi prngolahan selai. Stroberi sisa sortir dapat diolah menjadi selai stroberi dalam kemasan kemudian diberi label sehingga bernilai ekonomi lebih tinggi. Oleh karena itu telah dilaksanakan pelatihan teknologi pengolahan stroberi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat terutama petani stroberi. Kegiatan pengabdian ini telah dilaksanakan pada tanggal 3 Agustus 2022 yang berlokasi di desa Sembalun, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan melalui serangkaian tahapan kegiatan yang meliputi optimasi dan pembuatan contoh produk di laboratorium lalu dilanjutkan dengan pelatihan kepada masyarakat. Kegiatan pelatihan tersebut dilakukan dengan metode ceramah, diskusi, dan dilanjutkan dengan praktek pembuatan produk olahan stroberi yaitu selai stroberi dalam kemasan.
PENAMBAHAN TEPUNG PORANG SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI BAHAN PENGENYAL SINTETIS PADA PRODUK BAKSO IKAN KURISI: The addition of Porang Flour as an Alternative to Synthetic Gelling Agents in Kurisi Fish Balls Products Novia Rahayu; Meydia Kusuma Wardani; Agustono Prarudiyanto; Zainuri Zainuri
Pro Food Vol. 9 No. 1 (2023): Pro Food (Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan )
Publisher : Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/profood.v9i1.310

Abstract

Meatballs are a popular processed food product made primarily from beef, enjoyed by individuals across various age groups. In addition to beef, fish meat can also be used as a raw material for meatballs. However, the conventional production of meatballs often involves the utilization of synthetic gelling agents that pose potential health risks to consumers. This study aimed to assess the chemical, physical, and organoleptic attributes of kurisi fish balls fortified with porang flour (Amorphophallus oncophillus) as a substitute for synthetic gelling agents..  The research method used was a Group Randomized Design (RAK) comprising six treatment groups with varying proportions of porang flour 0%, 1%, 2%, 3%, 4%, and 5%  with  3 replication. Analysis of variance (ANOVA) at a 5% significance level was conducted using Co-stat software to evaluate the data, followed by Polynomial Orthogonal tests to assess chemical and physical quality parameters. Organoleptic quality was evaluated using the Honestly Significant Difference test (BNJ). The findings indicated that the addition of porang flour significantly influenced water content, ash content, protein content, as well as chewiness, color, and texture assessed hedonically. However, taste and aroma were not significantly affected. Based on the results of chemical and organoleptic analysis, the best treatment of kurisi fish balls in this study was the addition of porang flour concentration by 3%, having water content (70.25%), ash content (1.54%), protein content (15.27%) and organoleptic favored by panelists.
A Puding Kedelai Porang Instan dengan fortifikasi tepung daun kelor Sebagai Pangan Fungsional Pencegah Stunting: Instant Porang Soy Puding with Fortification of Moringa Leaf Flour as a Functional Food to Prevent Stunting Rini Nofrida; Novia Rahayu; Zainuri Zainuri; Indra Kurniawan Saputra
Pro Food Vol. 9 No. 1 (2023): Pro Food (Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan )
Publisher : Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/profood.v9i1.320

Abstract

Stunting adalah kondisi kronis kekurangan gizi yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu yang lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Tepung daun kelor dapat ditambahkan kedalam makanan selingan seperti puding untuk meningkatkan nilai gizi puding. Puding dibuat dengan penambahan glukomanan porang dan tepung kedelai. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung daun kelor pada formulasi pembuatan bubuk puding kedelai porang instan sebagai bahan baku pembuatan puding kedelai porang terhadap tingkat kesukaan (hedonik) dan penilaian secara organoleptic skoring serta kandungan gizi dan % Angka Kecukupan Gizi (AKG) pada formula terbaik berdasarkan uji organoleptik. Penelitian menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan penambahan tepung daun kelor, yaitu 0%, 1%, 2%, 3%, 4%, dan 5% dari jumlah tepung kedelai yang digunakan, emua perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Data yang terkumpul dianalisa menggunakan analisa keragaman dengan taraf 5%. Jika terjadi perbedaan nyata antar perlakuan diuji lanjut dengan menggunakan Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%. Berdasarkan hasil uji organoleptik skoring dan hedonik perlakuan terbaik adalah pada penambahan tepung daun kelor sebanyak 3% dengan kandungan nutrisi pada bubuk puding kedelai porang instan yaitu kadar air 6.7 %, protein 36.5%, dan kalsium 419,1 mg/100 g. Kandungan nutrisi pada puding kedelai porang adalah kadar air 87.4 %, protein 4.12 %, dan kalsium 33,03 mg/100 g, serta memenuhi 7.62 % kebutuhan kalsium dan 30,9 % kebutuhan protein harian anak usia 1-3 tahun dan 4.95% kebutuhan kalsium dan 24,72% kebutuhan protein harian anak usia 4-5 tahun.
Peningkatan Daya Saing UMKM Kopi di Desa Pakuan Kecamatan Narmada Kabupaten Lombok Barat Melalui Pelatihan Pengemasan Produk Berkualitas Dilla Afriansyah; Zainuri Zainuri; Rini Nofrida; Qabul Dinanta Utama; Ines Marisya Dwi Anggraini; Made Gendis Putri Pertiwi; Novia Rahayu; Ni Kadek Ayu Astiti Kirtiyani
Jurnal Pengabdian Masyarakat: Pemberdayaan, Inovasi dan Perubahan Vol 4, No 6 (2024): JPM: Pemberdayaan, Inovasi dan Perubahan
Publisher : Penerbit Widina, Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jpm.v4i6.982

Abstract

The role of product packaging in attracting consumers is essential, especially as consumer preferences evolve and the market demands continuous innovation. Therefore, product packaging training becomes relevant in enhancing the knowledge and skills of MSMEs to design packaging that is appealing, functional, and meets safety standards and regulatory requirements. Furthermore, this training aims to enable MSMEs to capitalize on export opportunities and penetrate global markets with highly competitive products. Enhancing packaging quality also has the potential to improve brand image, build consumer trust, and, ultimately, contribute to economic growth at both local and national levels. Consequently, the development of this product packaging training program aligns with efforts to strengthen MSME growth and competitiveness in addressing global challenges in the modern era.ABSTRAKPentingnya pengemasan produk dalam menciptakan daya tarik konsumen tidak dapat diabaikan, terutama mengingat preferensi konsumen yang semakin berkembang dan tuntutan pasar terhadap inovasi. Oleh karena itu, kegiatan pelatihan pengemasan produk menjadi relevan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan pelaku UMKM dalam merancang pengemasan yang menarik, fungsional, dan sesuai dengan standar keamanan serta regulasi yang berlaku. Selain itu, melalui kegiatan pelatihan ini, diharapkan UMKM dapat memanfaatkan peluang ekspor dan penetrasi pasar global dengan produk yang memiliki daya saing tinggi. Peningkatan kualitas pengemasan juga berpotensi meningkatkan citra merek, kepercayaan konsumen, dan akhirnya, pertumbuhan ekonomi di tingkat lokal maupun Nasional. Oleh karena itu, pengembangan program pelatihan pengemasan produk ini sejalan dengan upaya mendukung pertumbuhan dan daya saing UMKM dalam menghadapi tantangan global di era kontemporer.
Dekafeinasi Kopi Robusta Lombok Menggunakan Sari Empulur Nanas Madu dengan Alat Ultrasonic-Assisted Extraction (UAE): Decaffeination Of Lombok Robusta Coffee Using Honey Pineapple Core Extract With Ultrasonic-Assisted Extraction (UAE) Rini Nofrida; Zainuri; Rina Nazyla Amalia Bakri; Novia Rahayu; Made Gendis Putri Pertiwi; Qabul Dinanta Utama
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 9 No. 6: Juni 2026 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i6.11679

Abstract

Kopi robusta merupakan varietas kopi dengan kandungan kafein tertinggi dan menjadi salah satu faktor penting yang mempengaruhi preferensi konsumen dan aspek keamanan konsumsi. Dekafeinasi menggunakan Ultrasonic-Assisted Extraction (UAE) dianggap efisien, aman, hemat, sederhana, dan serbaguna serta dapat dikombinasikan dengan enzim dari sari empulur nanas madu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas empulur buah nanas madu dengan bantuan alat Ultrasonic-Assisted Extraction (UAE) dalam menurunkan kafein kopi robusta Lombok. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor yang terdiri dari 5 perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan terdiri atas P0 (Kontrol atau biji kopi tanpa perendaman); P1 (0%); P2 (20%); P3 (40%); dan P4 (60%) konsentrasi sari empulur nanas madu. Parameter yang diamati meliputi kadar kafein, kadar air, kadar abu, total asam tertitrasi, kadar pH, dan warna (nilai L* dan °Hue). Data dianalisis menggunakan analisis keragaman (ANOVA) pada taraf nyata 5% menggunakan software Co-Stat dan hasil yang berbeda nyata akan diuji lajut menggunakan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses dekafeinasi dengan sari empulur nanas madu memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata terhadap kadar kafein, namun memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap kadar air, kadar abu, total asam tertitrasi, kadar pH, dan warna (nilai L* dan °Hue). Perlakuan konsentrasi 60% sari empulur nanas madu menghasilkan kadar kafein kopi robusta 1,87%, kadar air 9,19%, kadar abu 4,75%, total asam tertitrasi 0,92%, kadar pH 6,08%, dan warna dengan nilai L* 75,63% serta °Hue 93,31%.
THE CHEMICAL CHARACTERISTICS OF ARABICA AND ROBUSTA GREEN COFFEE BEANS FROM GEOPARK RINJANI, INDONESIA Zainuri; Dewa Nyoman Adi Paramartha; Amira Fatinah; Rini Nofrida; Novia Rahayu; Ines Marisya Dwi Anggraini; Qabul Dinanta Utama
BIOTROPIA Vol. 30 No. 3 (2023): BIOTROPIA Vol. 30 No. 3 December 2023
Publisher : SEAMEO BIOTROP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11598/btb.2023.30.3.1940

Abstract

Green coffee beans are also called unroasted coffee beans. The chemical composition of green coffee beans plays a vital role in determining the final product’s aroma. The main objective of this research was to characterize the chemical properties of Arabica and Robusta green coffee beans grown in different regions of Geopark Rinjani, Lombok Island, Indonesia. The water, ash, protein, carbohydrate, total solids, and caffeine contents, total acidity, and pH were determined. Data were analyzed by analysis of variance. The results revealed significant differences in the moisture contents of Arabica beans from Sembalun, Sajang, and Sapit and Robusta beans from Rempek, Selelos, and Genggelang. Additionally, the ash contents of Arabica Sajang and Arabica Sapit showed notable differences compared to other samples. However, the total fat contents of Arabica Sajang, Arabica Sapit, Robusta Rempek, and Robusta Genggelang did not exhibit significant variations. On the other hand, significant differences were observed in the protein contents of all samples, particularly between Arabica Sembalun and Arabica Sapit, compared to Arabica Sajang, Robusta Rempek, Robusta Genggelang, and Robusta Selelos. Robusta coffee beans appeared to have a slightly lower pH than Arabica beans. The latter exhibited consistent acidity in the range of 0.20–0.21, whereas the former showed higher acidity levels (0.23–0.25). Arabica beans had a lower caffeine content, averaging 1.09%, whereas Robusta beans exhibited an average caffeine content of 2.09%. This research provides valuable insights into the chemical composition of green coffee beans from different species and locations within Geopark Rinjani, contributing to a better understanding of the factors influencing the aroma and quality of coffee.